Pages

Sunday, January 29, 2012

Mesin cuci dua tabung

sahabat setia... dulu hingga kini

Kalau tidak ada sms masuk dan bertanya "alamat mbak Lilik dimana? mau kirim undangan ulang tahun Kanisius..", aku tidak ingat kalau Penerbit Kanisius mau berulang tahun. Karena waktu sudah mendesak, aku membalas sms dengan "kirim saja lewat email".
Dan undangan kuterima, untuk mengikuti misa akbar ulang tahun Penerbit Kanisius ke 90.... wooow... nggak terasa sudah sampai 90 th usianya. Makin mantabkah... atau malah renta??
Harapanku... haruslah mantab... kalau tidak... hhhmmm... gimana dong uang pensiunku hahahaha....

Walaupun sudah berdandan rapi... toh selalu merasa tidak pede untuk bertemu dengan teman-teman lama... tapi rasa kangen mengalahkan segalanya. Dan pagi itu, aku berangkat ke Jogja untuk menghadiri pesta ulang tahun.
Begitu tiba, bersamaan dengan dimulainya misa yang dipimpin 9 romo.... bener-bener misa akbar...
Tempatnya di halaman yang rindang dan luas, cukup untuk menampung 400 lebih karyawan dan pesiunan.
Suasana sudah hikmat, ketika aku datang, tapi tetap saja disambut teman-teman dengan pelukan kangen, cipika-cipiki... lambaian tangan dan senyum di kejauhan....
Agak grogi juga karena menjadi perhatian banyak orang... terlambat lagi....

Setelah misa... barulah bisa bertegur sapa, bersalaman, sekali lagi dihujani dengan pelukan dan cipika-cipiki.Sudah 6 tahun sejak aku mengajukan pensiun dini. Kehadiaranku masih disambut dengan antusias.. komentarnya selalu sama "kok tambah muda...." kalau aku bilang "kalau setiap tahun dibilang tambah muda... sekarang umurku berapa jadinya...." dan mereka tertawa " ABG mbak..." Anak Baru Gede  maksudnya..... hahaha....
Acara dilanjutkan dengan berbagai sambutan, tari-tarian, dan pembagian hadiah bagi karyawan yang telah berkarya 25 tahun...
Aku memilih untuk menunggu di showroom Kanisius, tempat aku dulu berkarya. Ngobrol dan bercanda dengan teman-teman sambil melayani tamu. Setiap tamu mendapat hadiah satu buku, dan kue ulang tahun...

Tiba-tiba seorang temanku berlari tergopoh-gopoh....
"mbaaaaakkkk... ayooo cepet... setor muka.... mbak Lilik dapat doorprize mesin cuci... kalau dihitung 3 kali nggak muncul bisa hilang...." HAAAH.....
Ikut tergopoh-gopoh aku berlari ke lapangan... masih dengan heran dan tidak percaya.... masak???
Tapi belum sampai setor muka... aku sudah dihujani selamat, dan juga peluk cium lagi......

Aku terharu. Mesin cuci, hadiah besar kedua, setelah TV 29 inci. Luar biasa!!... aku masih keheranan dengan keberuntungan ini... hingga benar-benar nggak bisa komentar. Hanya bisa ketawa-ketiwi... nggak jelas!.

Dua tahun lalu, aku juga mendapat doorprize berupa Salib. Entah mengapa selama dua tahun berikutnya, aku harus menyandang salib yang berat. Walaupun berat... akhirnya bisa juga kubawa dan kuhantarkan di puncak bukit Golgota. Dan semua penderitaaku di lebur bersama penderitaan Yesus yang teramat memilukan.
Kini, hadiah yang kudapat adalah mesin cuci. Perjalanan hidupku masih terbentang luas di hadapan, yang tidak mungkin aku ramalkan apa yang akan terjadi....
Tapi, bagaimana kalau aku mengartikannya begini...
Sebuah mesin cuci... pastilah maksudnya untuk membersihkan pakaian yang kotor. Bukankah ini sebuah pesan yang indah. Membersihkan diri... dari segala kotoran.
Kebetulan mesin cuci ini memiliki 2 tabung. Artinya, walaupun dengan mesin yang pasti lebih mudah dan ringan, toh tetap dibutuhkan kewaspadaan, kapan airnya harus dimatikan dan dinyalakan. Kapan pakaian harus dipindahkan untuk di keringkan di tabung kedua. Berbeda dengan mesin cuci satu tabung. Yang semua serba otomatis. Asal detergen dan cairan pewangi sudah dimasukkan di tempat yang sudah disediakan, tinggal pencet tombol. Semua akan berjalan otomatis... tahu-tahu sudah selesai.

Mesin cuci 2 tabung, justru mengingatkanku bahwa pemurnian diri, tidak bisa otomatis terjadi. Harus disertai kewaspadaan, dan tindakan yang benar. Kalau baju dibersihkan dengan detergen... maka untuk menyucikan diri, detergennya adalah doa. Dan... doa saja tidak cukup. Harus diikuti dengan tindakan yang positif.
Sebuah pesan dan tantangan yang indah buatku untuk melangkah ke depan, semoga Tuhan mendampingi dan membimbing tanganku untuk dapat melaksanakannya dengan benar dan sesuai dengan kehendakNya.

Selamat ulang tahun ke 90 Penerbit Kanisius... semoga doa kami semua menyatu, menghantar permohonan supaya kapal layarnya semakin kokoh dan kuat mengarungi laut lepas.. dan selalu dilindungi Tuhan saat menghadapi badai dalam menjalankan misi mulia bagi gereja dan dunia pendidikan. Amin.

PF. 26 Januari 1922 - 26 Januari 2012

Monday, January 23, 2012

Mandi... 2000 rupiah!

Menyewakan kamar mandi di pantai menjadi tambahan penghasilan bagi para nelayan yang juga bertempat tinggal disitu. Hampir semua rumah sekarang memiliki kamar mandi untuk disewakan. Setiap orang yang mandi di pantai membutuhkan air bersih untuk membilas air laut yang asin dan lengket di badan.

Untuk membangun kamar mandi dibutuhkan biaya yang cukup besar bagi para nelayan. Tahun 2005, ketika kakakku berkunjung pertama kali di Pantai Ngandong, dia langsung jatuh cinta. 4 hari tinggal di rumah Saipan, membuat dia kerepotan kalau harus ke kamar mandi. Karena saat itu belum banyak yang memiliki kamar mandi.
Akhirnya, sekalian membantu Saipan mendapatkan penghasilan tambahan, dia menyediakan dana sebesar 1,5 juta. Karena dibangun sendiri, Saipan bisa mendirikan 3 kamar mandi dan 1 kamar mandi dan WC di sebelah rumahnya.
Waktu itu, untuk mendapatkan air bersih, Saipan harus membeli 1 tanki air bersih untuk mengisi bak tampungnya yang berkapasitas 5000 liter. Untuk itu dia harus mengeluarkan biaya 75 ribu.

Untuk mengembalikan modal air bersih dia menetapkan harga sewa kamar mandi. Untuk buang air kecil 1000 rupiah, dan mandi 2000 rupiah. Ini harga yang telah disepakati untuk setiap nelayan yang menyewakan kamar mandinya. Dengan harga tersebut, belum tentu modal bisa kembali mengingat begitu banyak saingan dan air bersih juga menjadi kebutuhan mereka sehari-hari.
Ada hal yang membuat kami tertawa ketika tetangga sebelah bersitegang dengan penyewa kamar mandi yang hanya memberikan uang 2000 rupiah ketika mandi. Rupanya si pemilik kamar mandi mempersoalkan bahwa ketika mandi, orang tersebut juga bisa buang air kecil. Jadi biayanya mestinya 3000 rupiah… hahahah… bagaimana membuktikannya. Ada-ada saja!

Kini penyediaan air bersih sudah lebih mudah dilakukan. Melalui koperasi, Saipan dan juga nelayan lainnya membeli genset dan pompa air. Bisa bergabung dengan beberapa warga. Seperti halnya Saipan, bergabung dengan pakdenya dan kami.
Air bersih diambil dari sumur yang ada 2 buah di sekitar rumah warga. Cukup untuk kebutuhan seluruh warga, termasuk disewakan ke para pengunjung.
Biayanya juga lebih murah. Untuk mengisi bak tampungnya hanya dibutuhkan 2 liter bensin untuk menghidupkan genset, atau 10.000 rupiah. Biaya sewa tetap, dan ini berarti benar-benar menjadi tambahan penghasilan bagi mereka.
Hidup menjadi lebih baik dari hari ke hari….

Sunday, January 22, 2012

Cacing Laut

Pagi-pagi berjalan-jalan di pantai bersama Zulu. Udara masih sejuk, angin tidak bergitu kuat bertiup. Padahal semalam angin begitu keras, sampai tiba-tiba Zulu naik ke tempat tidur karena ketakutan. Langit jernih, rupanya sudah di sapu angin yang menghalau mendung tebal dua hari ini.

Dua orang nelayan sudah bersiap turun ke laut mencari ikan. Mereka baru menunggu beberapa orang teman yang membantu mendorong kapal mereka ke air.
Kakiku menikmati pasir putih yang basah terkena sapuan ombak setiap kali menghantam tepi pantai. Zulu dengan riang berjalan di sampingku. Kadang dia menjauh kalau ada sesuatu yang menarik baginya untuk dilihat. Zulu sengaja tidak kuikat, supaya bebas bergerak kemana dia ingin pergi. Toh pantai sepi, tidak ada seorangpun.

Tapi, kemudian aku melihat seseorang sedang mengaduk-aduk pasir di tepi laut. Bekas adukannya sudah cukup panjang. Aku mendekat, dan mengamati apa yang dia lakukan. Disebelahnya ada bola plastic yang dibelah dua. Ada sesuatu yang dia ambil dan dia letakkan dalam bola plastic. Semula aku tidak tahu apa itu.
‘pados nopo mas?” cari apa mas?... karena dia masih muda, jadi kupanggil mas.
‘cacing bu… ngge mancing” cacing buat umpan pancing rupanya.
cacing campur pasir
“mbok cobi dicuci mas… ben ketok cacinge”.. aku minta dia mencuci dengan air laut biar kelihatan cacingnya. Karena sepintas dalam bola plastik separo yang kelihatan hanya pasir dan sesuatu yang bergerak-gerak. Dia diam saja tidak menyahut. Karena merasa diacuhkan, aku potret saja apa adanya. Dan pelan-pelan aku ngeloyor pergi melanjutkan perjalanan menyusuri pantai hingga ke ujung.

Aku ingat, 27 tahun lalu, saat pertama kali mengenal Saipan. Bocah kecil itu baru berusia 10 tahun. Dia mengais pasir, mencari cacing dan menjualnya ke kami untuk umpan pancing. Saipan hanyalah bocah nelayan yang menghidupi dirinya sendiri. Orangtuanya sudah bercerai, ibunya menikah lagi. Dia sebetulnya diminta tinggal dengan mbahnya, tapi nggak mau. Akhirnya dia menjalani hidup sendirian. Pantai menjadi lahannya. Tempat Pelelangan Ikan menjadi rumahnya. Saipan kecil, mencuri hati kami. Dan inilah yang membuatku tertarik untuk menggali lagi kehidupan nelayan di Pantai Ngandong. Pantai kecil bagian dari Pantai Sundak.
27 tahun kemudian, pantai ini semakin dikenal. Dan kehidupan nelayan tidak lagi bergantung pada ikan dan cacing. Banyak wisatawan datang di hari libur. Dan ini menjadi penghasilan yang lumayan bagi mereka.

Perjalanan kembali setelah sampai di ujung pantai, aku masih bertemu dengan pria yang mencari cacing. Ketika zulu mendekatinya, barulah dia memberikan respon yang ramah.
“oooo… niki kagungane ibu to?” ini miliknya ibu to… dan aku mengiyakan. Tidak putus asa, aku kembali minta dia mencuci cacingnya supaya bisa kuambil fotonya. Barulah dia menjawab,
“nek dicuci air laut pejah sedaya bu..”…. oooo jadi ternyata cacing itu kalau dicuci air laut malah mati semua, karena dia hidupnya di pasir. Lhah..coba dia bilang dari tadi…
Walaupun aku sudah mengenal banyak nelayan di sini. Masih banyak yang belum mengenalku, terutama yang muda-muda. Mungkin dia heran juga dengan permintaanku untuk mencuci cacing laut. Yaaah… namanya juga nggak tahu mas….
Banyak hal di dunia yang tidak aku ketahui. Dan pasti tidak mungkin aku ketahui semuanya. Semoga dengan tinggal disini 10 hari aku bisa mendapatkan pengetahuan baru. Pasti bukan sesuatu yang baru bagi mereka. Tapi jelas baru buatku.

Pon, Wage, Pahing, Legi, Kliwon....

Pon, Wage, Pahing, Legi, Kliwon adalah hari Jawa. Kalau hari nasional kita kenal dengan Senin sampai Minggu yang disebut satu minggu. Sedangkan hari Jawa di sebut sepasaran.
Disini lebih akrab orang menggunakan hari Jawa.

Siang ini, di saat langit begitu terang dan matahari terik menyengat, setelah dua hari hujan dan mendung terus sepanjang hari, datanglah tukang kredit keliling. Parmi membeli tikar dan jas hujan dengan sistem kredit sebesar 170 ribu. Pinjaman ini harus dibayar setiap Legi, itu berarti seminggu sekali, atau bisa 5 kali sebulan. Tiap Legi, Parmi membayar 10.000, atau berapapun yang mampu dia bayarkan. Tidak ada batasan. Yang penting tiap kali dia datang ada pembayaran sesuai kemampuan. Bahkan kalau kebetulan belum ada uang, juga tidak mengapa. Juga tidak ada larangan, pinjaman harus lunas dulu baru boleh mengambil yang  baru. Parmi harus mengatur sendiri kemampuannya. Ada dua orang yang berjualan kebutuhan rumah tangga dengan cara kredit seperti ini. Yang satu akan datang tiap Legi dan satunya Kliwon.

Hari Jawa juga digunakan untuk hari pasar. Pasar di desa Tepus, hanya buka dua kali sepasaran yaitu Wage dan Pahing. Itu sebabnya, pasarnya disebut Pasar Wage dan Pasar Pahing.
Ketika aku mengusulkan ke Parmi,


“gimana kalau jualan gorengan?” usulku, karena  nampaknya gorengan,seperti pisang goreng, mendoan, bakwan, belum ada yang jual di pantai Ngandong. Kebetulan aku ada resep adonan gorengan yang enak, renyah dan mudah dibuat. Semula, Parmi bersemangat. Setiap Sabtu dan Minggu, ada yang menjual rempeyek udang kecil-kecil. Larisnya bukan main. Belum sampai sore, dagangan sudah habis. Tapi, sayangnya bahan-bahan seperti tahu, tempe dan sayuran hanya di jual di Pasar Wage dan Pahing.
 
Ketika dilihat di tanggalan, ternyata Pasar Wage yang paling dekat dengan hari ini, jatuhnya hari Senin.  Itu berarti kesempatan menjual gorengan di hari Sabtu dan Minggu bisa terlewati, karena hanya dua hari inilah yang ramai pengunjung. Sayang sekali…
Resep adonan gorengan tetap aku berikan. Setidaknya dia bisa mencoba ketika pasar wage atau pahing bisa jatuh di hari Jumat. Itu berarti Sabtu dan Minggu warung gorengan bisa dibuka…

Sambal Parmi

menu harian
Menu makanan sehari-hari yang disedikan Parmi di sini cukup sederhana. Selalu ada sayur, tempe, tahu dan telur. Ikan hanya kalau kebetulan Saipan berhasil melaut dan pulang membawa hasil. Ayam termasuk makanan mahal dibandingkan ikan tentu saja. Kalau di kota sekilo 20 ribu, disini ayam mentah sekilo bisa mencapai 24 ribu.



ibu-ibu berbelanja
Penjual sayur datang setiap pagi. Memudahkan ibu-ibu mendapatkan bahan makanan untuk dimasak, tanpa harus ke desa terdekat yang jaraknya 6 km.
Ada 2 orang penjual sayur. Paling pagi seorang ibu yang langsung mangkal di sebelah rumahku. Ibu-ibu berdatangan untuk berbelanja. Semua dagangan di letakkan di meja bambu, sehingga pembeli bebas memilih. Seperti warung “tiban” (datang tiba-tiba, kemudian hilang lagi), istilah disini. Penjual sayur yang datangnya lebih siang, adalah seorang bapak. Walaupun pagi sudah berbelanja, tapi ada saja yang membuat ibu-ibu tergoda untuk membeli ini itu lagi. Seperti pagi ini, Parmi membawa pulang 2 ikat rambutan. Katanya murah. Hanya 5000, dua ikat.

Jam 9.00 pagi, Parmi sudah selesai memasak. Dia orang sibuk yang pernah kulihat. Tidak pernah berhenti bergerak. Selesai masak, dia akan membersihkan rumah dan mencuci baju. Motor di siapkan untuk pergi ke desa. Ada saja keperluannya. Dari membeli bahan makanan yang sudah habis, yang tidak bisa diperoleh di penjual sayur, sampai membeli bahan bangunan untuk memperlancar pembangunan kamar di rumahku.
Kalau semua sudah tersedia, dia akan menunggu warung atau persewaan kamar mandi disaat pantai banyak dikunjungi orang. Kalau dirasa sepi, dia akan pergi ke desa, mengirim makan untuk anaknya, atau apa lah… sepertinya ada saja yang dia lakukan.
Ketika aku ada disini, kalau dia tiba-tiba menghilang tanpa pamit, aku lah yang menjadi penjaga warung dan kamar mandi. Akibatnya, dua kali memberi harga yang salah ke pengunjung yang membeli Aqua. Parmi ngotot tidak mau memberikan daftar harga barang-barang dan makanan yang dia jual di warungnya.  Ketika aku salah memberi harga, dia tetap dengan tenang menjawab,
“mboten napa-napa…” nggak papa…. Yaah… gimana mau untung kalau seperti ini ya???

Lama-lama aku menjadi terbiasa dengan kehidupan di sini. Setiap jam makan, Parmi biasanya menyediakannya di meja makan. Tapi, aku lebih senang masuk ke dapur dan memilih sendiri makanan yang aku suka. Lagi pula aku makan ketika lapar dan hanya secukupnya.
Yang penting ada sambalnya Parmi. Sepertinya biasa saja. Cabe, brambang, bawang, sedikit trasi digoreng. Setelah itu di lembutkan di cobek dan ditambah gula jawa sedikit. Pedasnya sangat terasa. Campuran brambang, bawang, trasi dan gula yang hanya sedikit justru membuatnya enak dan lezat. Nasi panas, tempe atau ceplok telur saja sudah sangat nikmat kalau dimakan dengan mencolek sambalnya Parmi..... hhhmmm mak nyuuuss... beneran!!!


Ini bukan kami saja yang merasakan. Suatu kali ada turis asal Thailand, yang begitu senang dengan sambal Parmi. Akhirnya minta dibuatkan dan dibawa semua secobeknya!!. Katanya mau dibawa ke Thailand. Entah berhasil atau tidak melewati screening di bandara. Hhhmmm keren juga ya… kalau sambal dan cobeknya bisa terbang ke Thailand. Kisah yang sangat membanggakan bagi mereka dan sering diceritakan berulang-ulang….

50% dan 25%



Ada 8 kapal berderet rapi di tepi pantai. 2 buah kapal bantuan dari APBN 2006. 1 buah milik Saipan yang diperoleh 2005, 4 buah milik pak Jiiman. Satu buah milik pak Simin.
Kalau turun laut dan kembali ke pantai, nelayan berbondong-bondong membantu dengan sukarela. Dan setiap kali melaut biasanya si pemilik akan ditemani 1 orang. Atau kapal bisa dipinjam dan dibawa berlayar 2 orang  nelayan.

“bagaimana pembagian hasilnya?” tanyaku pada salah seorang dari mereka.
“hasilnya, setelah dikurangi biaya bensin¸50% untuk pemilik kapal. Kemudian sisanya baru dibagi 2 bagi yang pergi ke laut…”
“wah… beruntung banget buat yang punya kapal ya…, apalagi kalau dia pergi sendiri kelaut, bisa dapat 75% ya…” tidak perlu dipertanyakan lagi rupanya. Siapa pun, dimana pun, yang menjadi pemilik modal pasti akan mendapat penghasilan lebih banyak.


Mr. Bubble dan temannya
Pagi ini Mr. Bubble dan temannya pergi melaut. Pulang membawa gurita 16 kg. Kalau sekilo bisa dijual di Tempat Pelelangan Ikan @ 35.000 rupiah, berarti dia bisa mendapatkan uang  560.000 ribu. Setelah dipotong bensin 50.000 sisanya menjadi 510 ribu rupiah. 50% untuk pemilik kapal jadi tinggal 255 ribu. Hasil ini dibagi 2 lagi masing-masing untuk Mr. Bubbel dan satu temannya. Jadi, pagi ini Mr. Bubble mendapat 127.500 rupiah. Sementara si pemilik kapal, yang tidak ikut melaut mendapatkan 255.000 rupiah. Kalau dia sendiri ikut melaut berarti bisa mendapatkan 382.500 rupiah…Hhhhmmm… adilkah?? Aku tidak tahu…
gurita
Toh Mr. Bubble masih tetap bernyanyi riang… menggoda Zulu yang lagi malas di ajak jalan-jalan.

Full Ventilasi



rumah tempat aku tinggal


 Kamar di rumah ini benar-benar full ventilasi. Maklum arsitek, mandor, dan tukang yang menggarap adalah Saipan, dibantu Parmi dan Febri, anaknya. Pembangunan rumah juga bertahap, sesuai dengan dana yang ada.

Awalnya, aku dan kakakku membeli tanah. Itupun, karena pak Mugiran, pemilik tanah ini sakit jempol kakinya dan harus di amputasi. Dia berhutang ke koperasi dan kesulitan untuk membayarnya. Akhirnya tanah ini dijual ke kami. Tanah di sini milik Kraton Jogjakarta yang dibagikan ke nelayan. Jadi sebetulnya tidak bisa dimiliki, selain nelayan itu sendiri. Status tanah tetap HGB (Hak Guna Bangunan). Kami tidak berkeberatan dengan status tersebut. Selain meringankan beban pak Mugiran, kami bisa memiliki tanah, yang nantinya bisa didirikan rumah sederhana. Lokasinya di balik bukit, sehingga sedikit terhindar hembusan angin laut yang kencang.  

Karena lama dibiarkan, ada ancaman akan ditarik kembali oleh Kraton Jogjakarta, apabila tidak segera didirikan rumah. Akhirnya kakakku membangun fondasi keliling, supaya kelihatan ada kepastian akan membangun rumah di atasnya. Setelah itu berhenti lagi karena belum ada dana yang bisa disisihkan.
Hingga suatu ketika, ada yang menjual rumah dengan harga murah. Tinggal di angkat dan dipasang di atas tanah. Anehnya ukurannya sesuai dengan fondasi yang sudah dibuat. Tapi belum ada dindingnya. Yaah.. bolehlah…. Dan akhirnya rumah didirikan, tapi tanpa dinding.

Munculah ide… kalau dibuat satu kamar, bagus juga nih… bisa untuk menginap.
Dana dikumpulkan lagi dan kakakku minta Saipan untuk membuat satu kamar.
Kami percayakan saja pembangunannya kepadanya. Hasilnya??? Sebuah kamar full dinding batako tanpa jendela. Kata Saipan,
“niku pun seger, mboten perlu jendela… wong nginggile selane katah” maksudnya, itu sudah segar udaranya, tidak perlu jendela.. karena atasnya ada celah atau ventilasi sudah lebar sekali. Ya betul sih… nggak cuma lebar.. tapi kamar ini  memang seperti ruangan yang atasnya di tutup atap, tapi tidak menempel di dindingnya. Nggak Cuma seger… kalau angin kencang… daun pun  bisa masuk kamar… hahaha….
Ketika kakakku ingin menambah satu kamar lagi, aku tegaskan ke Saipan, kali ini harus ada jendela. Barulah Saipan membuat pengakuan. Ternyata kamar pertama, dia sendiri yang membangun, bersama Parmi dan Febri anaknya. Karena Saipan tidak bisa membuat kosen kayu, ya sudah… semua dibuat dari batako sampai atas. Sedangnya pintunya dia beli jadi…. Dasar Saipan! Agak jengkel juga tapi ya geli sendiri mendengar penjelasannya yang polos dan lugu….

kamar kedua
Pengerjaan kamar ke dua, tidak lagi kami percayakan ke Saipan. Harus ada jendela. Dan seperti rencana semula, separoh batako dan atasnya dari gedheg. Rumah sederhana.. biarlah… yang penting bisa untuk tidur. Dan yang jelas tidak perlu AC. Hanya harus siap baju hangat dan selimut… kalau tidak…bisa masuk angin… hahaha…
Ternyata… rumah kecil di tepi pantai… jauh banget dari yang aku khayalkan dulu…. Ya sudahlah… maklum.. arsiteknya adalah Saipan!.

Saturday, January 21, 2012

Badai ketawa di tepi pantai



Beginilah gambarannya hujan badai di pantai.
Awalnya… langit diatas garis cakrawala menjadi kelabu. Membuat air laut di kejauhan juga menjadi abu-abu kelam. Semakin dekat ke garis cakrawala warnanya semakin pekat dan gelap. Pertanda hujan badai akan datang. Secara perlahan, namun pasti… kegelapan semakin mendekat kea rah pantai, dan angin mulai bertiup keras… dan semakin keras…
Turunlah hujan disertai angin kencang. Membuat semua pohon miring ke darat. Daun-daun beterbangan. Payung yang baru saja diletakkan langsung terbang entah kemana. Semua orang berlarian masuk ke dalam rumah.

Hujan semakin deras bagai tercurah dari langit. Airnya bahkan sampai masuk ke rumah Saipan. Aku bersembunyi dibalik etalase dagangan Parmi untuk menghindari hujan dan angin.
Cukup lama badai melanda tepi pantai. Gemuruhnya deru ombak semakin keras dan menakutkan.
Setelah kurang lebih 2 jam, akhirnya angin mereda demikian pula hujannya. Langit masih kelabu, tapi hujan sudah berhenti… udara dingin sekali. Perlu baju hangat dan syal untuk melindungi leherku dari hembusan angin.

Di kejauhan Mr. Bubbel dengan berkalung sarung… berlari-lari dari TPI ke rumah Saipan, sambil bernyanyi keras:

Adem- adem dik… kemulan sarung
Wis kadung gelem dik, rasah bingung-bingung
Mbang kecipir… kembange kara
Ojo kuatir  dik, rasah neka-neka
Ning magelang,  ojo lali jajane
Ojo sumelang dik…. Gage-gage didadekke…

Badai hujan pagi ini berubah menjadi badai ketawa…..
Mr. Bubble selalu gembira dalam berbagai cuaca..

Pasang Surut Kehidupan

Orang boleh menggambarkan hidup ini seperti roda. Kadang di atas…. Kadang di bawah. Perumpamaan ini menurutku menjadi berat di hati. Di saat berada di bawah, rasanya berat dan berangan-angan kapan bisa berada di atas. Sementara, mungkin di saat kita berada di atas kita tidak merasakannya. Tetap merasa di bawah dan berangan terus berada di atas. Itu sebabnya orang tidak mudah bersyukur untuk apa yang telah dimiliki saat ini. Karena situasi  di atas dan di bawah itu relative.

Beberapa hari tinggal di pantai… berjalan-jalan dan kemudian duduk di tepian, aku mengamati ombak yang tidak pernah berhenti bergulung.  Dan aku merasakan sebuah wujud kehidupan yang baru.
Pagi ini, sedikit terlalu pagi aku berjalan di pantai. Karena semalam, entah kenapa aku tidak bisa tidur nyenyak seperti biasa. Hingga alarm hp ku berbunyi seperti biasa jam 4.30. melihat langit sudah terang, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di pantai.

laut surut

Laut saatnya surut. Pantai menjadi sangat landai,  hingga aku bisa berjalan hingga ke karang di tengah laut. Batas ombak di tepi pantai di saat pasang laut semalam masih kelihatan. Dan pagi ini, ombak hanya sampai jauh di tengah di dekat karang. Air yang mencapai bibir pantai hanya sedikit… menggenang seperti habis hujan. Tanpa gerakan sama sekali.
Debur ombak di tengah laut terasa jauh….

Hidup lebih tepat bila dikatakan pasang dan surut. Setidaknya, aku lebih menyukainya dari pada seperti roda yang berputar... di bawah dan di atas.
Sebetulnya, kita berada di tempat yang sama. Hiduplah yang mengalami pasang surut. Ini begitu nyata. Kita akan tahu persis kapan kita sedang dalam situasi surut. Yaitu, disaat semuanya terasa jauh. Seperti ditarik mundur dan tersedot semua ketengah laut. Ada yang hilang baik materiil maupun moril. Materi yang ada menjadi tidak ada. Jiwa yang kehilangan semangat, keyakinan, harapan dan cita-cita. Kini aku sadar, bahwa ini semua hanya sementara. Ketika surut, semua seakan hilang, tapi tidak….

laut pasang
Ada saatnya, pasang tiba. Ombak di kejauhan semakin mendekat, membawa air yang lebih banyak dari sebelumnya. Deburnya semakin menggugah semangat. Membangun keyakinan dan harapan untuk meraih cita-cita. Dan cintaNya semakin nyata, ketika busa ombak menyentuh kaki kita. Pergi sebentar… dan kembali lagi hingga kaki semakin dalam terendam dan gerakannya menggoda untuk bermain denganya.
Inilah hidup yang sebenarnya. Waktu kita hanya 24 jam sehari. Tiap pukul 3 pagi laut surut dan 4 jam kemudian kembali pasang. Dan jam 3 siang kembali surut, untuk kemudian pasang hingga pukul 3 pagi hari berikutnya.
Lihatlah… betapa pasang laut lebih banyak waktunya dari pada surut…. Betapa berkah diberikanNya  lebih banyak sepanjang hari.

Apakah cintaNya juga mengalami surut dan pasang?
Pasang dan surutnya lautan adalah proses alam yang harus terjadi. Dia lah yang menciptakan ini semua. Dia ada diatas segala yang pasang dan surut.  Justru kita harus bertanya diri sendiri, surutkah kepercayaan dan cinta kita kepadaNya? Atau masih ingatkah kita kepadaNya, disaat kita mendapat kelimpahan? Dan kemudian merasa ditinggalkan ketika surut kehidupan datang…

Jiiiii.....rroooo....llluuuuuu...!!!!!

Kalau Saipan tidak kelihatan, aku selalu bertanya,
“saipan nang endi mbak Parmi… kok ra ketok?” saipan mana kok nggak kelihatan? Tanyaku
“pun mandap bu…” sudah turun bu… maksudnya turun ke laut bersama kapalnya. Kapal yang bernama Fortune, itu milik Saipan. Kapal itu dia dapatkan dari seorang bapak, pemilik pabrik tekstil dari Salatiga. Beliau membelikannya karena Saipan membantunya membeli tanah disini. Karena Saipan tidak mau diberi uang, maka dia dibelikan kapal, juga tanah dan rumah yang sekarang dia tempati.

siap melaut
Turun ke laut, mencari ikan biasanya cukup berdua. Tapi untuk mendorong kapal ke laut butuh bantuan 2 atau 3 orang lagi. Ketika kapal menyentuh laut yang sedang pasang, beban para pendorong menjadi ringan. Kapal diputar menghadap laut, mesin dinyalakan dan mereka siap berlaga di laut lepas.
Ini lah penghidupan utama para nelayan. Melaut, menjadi bagian dari hidup mereka. Menerjang ombak ketengah laut. Mengadu untung atau buntung. Mereka bisa datang dengan berkilo-kilo ikan berbagai jenis. Atau tidak sama sekali.
Apa pun yang mereka peroleh di tengah laut, menjadi hak mereka berdua. Orang-orang yang membatunya mendorong kapal turun ke laut, hanya sedang membantu.

Demikian pula ketika kapal kembali pulang.
Deru mesin kapal sudah terbiasa bagi telinga mereka.
“ayo tarik… kapale teka”…. Aku bahkan tidak mendengar sedikitpun suara mesin kapal yang datang, karena berbaur dengan debur ombak yang keras. Tapi mereka tahu….
Butuh banyak orang untuk menarik kapal. Sekitar 10 orang berlarian kelaut menyambut setiap kapal yang datang.
Aku dan zulu ikut berlari ke tepi pantai. Tidak ikut membatu karena tidak boleh. Bukan pekerjaan wanita, katanya… hahaha….
jiii....rroooo....luuuuu!!!!
“ji….ro….luuuuuu” tuuu….wa….gaaaa…. aba-aba diteriakkan dan mereka serempak menarik kapal. Berkali-kali aba-aba diteriakkan… kapal bergeser naik sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya aman terparkir di pinggir pantai.
Saatnya melihat hasil…. Beruntung atau buntung?

Yang aku kagumi di sini, nelayan kental persaudaraannya. Mendorong dan menarik kapal membutuhkan tenaga yang luar biasa. Mereka tidak mendapatkan bayaran apa pun. Selain di saat mereka turun atau naik laut… pasti ada yang membantunya. Saling tolong menolong dan bergotong royong menjadi kekuatan dalam hidup bersama.  Tidak perlu ada surat perjanjian, atau tertulis hitam di atas putih. Semua sudah tercatat dalam hati dan jiwa mereka sejak mereka lahir. Tak akan mungkin terhapuskan hingga kapan pun.

Offline, ATM dan facebook

Ternyata kemajuan teknologi komunikasi dan perbankan sudah meluas sampai ke Pantai Ngandong. Walaupun nampaknya terpencil, tapi warga yang tinggal di sekitar pantai Sundak dan Ngandong sudah maju dalam hal komunikasi, terutama Hp. Hampir semua orang memiliki HP. Model lama tidak masalah, yang penting bisa dipakai. Bahkan Hp mereka lebih mudah menerima sinyal dari pada HP ku, entah kenapa…

hp ditempel dan diikat pakai karet gelang, sinyal full!!
Setelah melihat aku beberapa kali menerima telpon di tengah parkir, dibawah pohon dekat TPI, atau bahkan harus naik ke bukit tempat resort de Crabs berada, pak Jiman menawarkan sesuatu yang menakjubkan.
“di rumah saya saja bu, tinggal di tempel di antena saja kok…” Ternyata di rumahnya, yang bersebelahan dengan rumah Saipan ada antena yang memudahkan aku untuk mendapatkan sinyal. Lucunya, alat tersebut hanya sebuah kotak tipis sebesar Hp yang dibungkus lakban (isolasi dari kertas). Entah isinya apa. Kotak tersebut disambungkan ke kabel tebal yang dihubungkan dengan antenna di atas rumahnya. Hpku tinggal di tempel dengan karet gelang. Dan sinyal langsung full….. ajaib!! …. Langsung tawarannya untuk menggunakan kapan saja aku sambut dengan gembira.

Beberapa hari disini, aku melihat kemajuan yang luar biasa dari masyarakat. Ketika kakakku mengirimkan uang via bank untuk membangun kamar baru, Parmi, istri Saipan langsung mengambilnya ke desa terdekat dimana bank tersebut berada. Beberapa jam kemudian dia kembali dan mengeluh:
“wah uangnya gak bisa diambil, karena offline…” katanya sambil mengelap keringat di dahinya.
“lhoh disitu ada ATM tho?” kataku terpana, karena dia mengenal juga istilah offline.
“oh enggak, ATM hanya di Wonosari. Ini banknya kok bu, katanya offline, jadi uangnya belum bisa diambil”… oooo rasanya kok aku seperti nggak di Pantai Ngandong yang nun jauh disana ya… serasa di kota saja.

Belum lagi aku heran dengan apa yang kuhadapi hari ini, teman Parmi yang bernama Desi (bahkan ini juga bukan nama anak desa), datang dengan penuh semangat. Desi punya kios pakaian di Pantai Sundak. Sudah waktunya untuk berbelanja untuk menambah dagangannya. Kabarnya, berbelanja di Solo lebih murah dari pada di Jogjakarta. Tapi, akan lebih murah lagi kalau belanjanya bersama-sama, biaya transport bisa ditanggung bersama. Terjadilah rapat kecil di rumah saipan. Beberapa pedagang berkumpul untuk merencanakan keberangkatan mereka ke Solo. Jumat  menjadi pilihan hari yang tepat, karena sepi.

Walaupun asik di depan lap top, telingaku kubuka lebar untuk mendengar pembicaraan mereka. Aku tidak bisa menangkap dengan jelas apa yang mereka bicarakan, namun aku mendengar istilah ATM, transfer, bahkan layar sentuh (touch screen)… ketika pembicaraan menyimpang perihal HP tercanggih. Aku tersenyum sendiri dalam hati…. Ternyata… oh.. tenyata… ini bukan lagi desa atau pantai tertinggal… syukurlah…

Dan ketika sore hari aku berkesempatan ngobrol dengan pak Jiman, yang tadi menawarkan antenanya untuk mendapatkkan sinyal HP, ternyata dia juga punya facebook!... alamak!!...  pantas dia adalah nelayang paling kaya dan maju disini. Aku jadi merasa bukan di tempat terpecil, tempat para nelayan tinggal. Aku tinggal di kota yang bernama Pantai Ngandong…. Hahaha…

"krasan bu...???"

Di hari kelima aku di Pantai Ngandong… sapaan yang muncul hampir sama.
“krasan bu?”
“taksih betah to bu?”
“lhoh.. taksih nginep mriki to bu?”
Wah… kok jadi mereka yang mengamati aku. Padahal mestinya aku yang mengamati kehidupan mereka selama aku disini. Tapi aku bisa menerima keheranan mereka. Hidup… jauh terpencil dari dunia luar. Listrik hanya 3 jam setiap hari. Tidak ada hiburan. Dan tidak ada teman.
Makanan, bagi mereka tidak pantas disajikan untuk orang kota seperti aku. Ini pendapat mereka. Suatu hari Parmi menyajikan lobster untukku. Tapi aku tolak, karena aku tidak berani makan lobster, udang, cumi, gurita, yang menurut mereka ini kesukaan orang kota, karena mahal harganya. Kolesterolku sudah terlalu tinggi. Lagi pula aku tidak begitu suka seafood. Aku lebih lahap makan sayur papaya ala Parmi yang tidak pahit, dengan sambal dan tempe atau tahu goreng.
Selama ada laptop, buku bacaan dan renda, aku krasan. Banyak hal baru dan menarik disini. Para nelayan, istri dan anak-anaknya sangat ramah. Mereka selalu menyapaku, juga zulu. Aku tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu.

Di TPI, ada seorang karyawan bernama Deru yang HPnya selalu mendapat sinyal bagus. Setiap kali suamiku telpon, dia akan melambaikan tangan supaya aku datang ke tempatnya. Karena kalau dia beranjak dari tempatnya, sinyalnya akan hilang. Akhirnya, suamiku mengirimkan pulsa ke HPnya, sehingga akupun bisa menggunakannya untuk menghubungi suamiku.
Dan ketika tadi pagi, ada lambaian tangan Deru…. Aku tahu pasti suamiku yang menelpon… sapaan pertamanya adalah “gimana? Masih krasan?”…. hahahaha….. aku tertawa sendiri. Ternyata bukan disini saja, tapi disanapun… semua bertanya, apakah aku krasan?

Keputusanku untuk tinggal disini 10  hari, ternyata menimbulkan pertanyaan banyak orang. Sekaligus membuat mereka penasaran. Ngapain disana? Semedi?
Apalagi, melihat dan mendengar aku baik-baik saja. Semua ingin tahu, apa yang aku lakukan disini.

bantal,renda,laptop,buku


 Yah, bangun pagi, jalan-jalan di pantai. Mandi dan membawa semua peralatan ke rumah Saipan. Karena aku baru membangun satu kamar lagi di rumahku. Rumah menjadi berdebu dan kotor. Di rumah Saipan, ada kursi bambu yang sangat besar. Aku bisa memandang laut sambil tiduran dan menulis di laptop. Bosan menulis, aku merenda. Dan kalau bosan semua aku membaca, atau berjalan ke pantai kalau tidak panas. Kalau lapar, tinggal masuk ke dapur Parmi, mengambil makan dan lauk seadanya.
Di sini aku bisa melihat kehidupan mereka sehari-hari. Melihat tamu yang datang dan kegiatan mereka di pantai. Mengamati kegiatan para nelayan, juga teman-teman Saipan dan Parmi yang datang dan pergi.
Aku juga membawa bantalku ke kursi bambu Saipan. Hingga gampang terlelap, begitu mengantuk. 

Nah, saat ini Parmi baru memecah kelapa muda untukku.
Rasanya…. Kalau ada lagi yang bertanya “krasan bu??...” aku pasti akan menjawab “krasaaaannn….!”.

aku dan AKU

Setelah 3 jam, genset mati. Itu berarti kegelapan mulai menyelimuti. Sebetulnya ada satu teplok yang disiapkan suamiku untuk pengganti penerangan setelah genset mati. Tapi mudah mati karena angin yang kencang. Setiap kali mendekati jam 21.00, lap top dan Hp yang sudah terisi penuh baterainya aku masukkan ke kamar. Sebetulnya aku bisa menghidupkannya dan mendengarkan musik untuk penghantar tidur. Tapi sayang kalau baterainya habis.

Kegelapan tidak selamanya gelap. Sebentar kemudian aku melihat sinar di sela-sela atap kamar yang berlum di iternit. Biarlah… toh mataku mulai terbiasa dalam gelap. Di rumah Wedi pun, aku terbiasa tidur dalam gelap. Suara zulu yang mendengkur, debur ombak di kejauhan sayup-sayup terdengar. Inilah musik penghantar tidurku.

Apa yang bisa aku lakukan di menit-menit ketika aku masih terjaga. Terlentang tanpa bantal, aku meluruskan badan. Membiarkan tubuh dalam posisi yang lurus, datar. Sedatar kasur busa yang agak keras. Aku mulai melepaskan semuanya melalui setiap nafas yang kutarik dan kuhembuskan. Seseorang mengajariku untuk bernafas melalui perut, supaya seluruh tubuhku santai.

 Dan aku menyapa AKU:
Aku : “mengapa aku disini?”
AKU: “bukankah ini yang kamu inginkan?”
Aku: “iya sih… ini keputusanku sendiri. Karena aku merasa jenuh dan kosong ”
AKU: “ya sudah, dinikmati saja. Apakah kamu merindukan rumah”
Aku: “hhhmmm… enggak juga. Aku merindukan internet dan sinyal HP yang full terus. Disini aku harus naik dulu ke de Crabs untuk bisa melihat email, facebook dan sms dengan teman-teman”
AKU: “bukankah itu bisa kamu lakukan sewaktu-waktu… tinggal naik saja ke bukitnya de Crabs.. dan kamu bisa sesukanya disana… sepuasmu”
Aku: “iya sih… ah… rasanya aku cuma cari-cari alasan ya… sebetulnya semua baik-baik saja disini. Tinggal aku yang harusnya melakukan sesuatu selama disini. Tapi apa?”
AKU: “katanya mau mencari inspirasi untuk menulis?”
Aku: “iya… hari ini bahkan aku sudah menulis 7 judul”
AKU: “nah… bagus khan… sudah dapat 7, dalam waktu 2 hari saja. Nggak usah buru-buru. Masih banyak hal baru yang akan kamu temui disini. Banyak hal bisa ditulis. Bukalah mata, telinga dan hatimu”
Aku: “hhhmmm iya… kenapa aku selalu ingin terburu-buru… ingin cepat selesai…”
AKU: “iya… kamu kurang belajar dari hidup. Lihatlah bagaimana kamu merenda. Setiap kamu sudah berniat membuat satu renda. Memulainya, pelan tapi pasti… akhirnya selesai juga kan??... coba lihat lagi semua karyamu. Sudah banyak dan bagus-bagus. Tidakkah kamu heran, bagaimana dulu prosesnya hingga akhirnya bisa selesai. Butuh niat dan ketekunan khan? Dan kamu sudah memilikinya?”
Aku: “hhhmmm… iya…”
AKU: “lihat lagi naskah bukumu yang pertama. Walaupun butuh waktu lama, akhirnya selesai juga. Tinggal menunggu terbit”
Aku: “betul…betul…ternyata aku sudah menyelesaikan banyak hal. Termasuk menghantar anak-anakku hingga lulus dan bekerja”.
AKU: “bersyukurlah… diusiamu sekarang, kamu tinggal memikirkan dirimu sendiri. Bahkan suamimu juga tidak menuntut banyak darimu. Dia memberikan dukungan penuh untuk semua yang ingin kamu lakukan. Bersyukurlah bahwa perjalanan hidup ini akhirnya bisa dilalui… rantai demi rantai… langkah demi langkah. Kamu mesti sudah bisa melihat bagaimana AKU merenda hidupmu. Indah khan?”
Aku:”hhhmmm… aku jadi malu. Kenapa mesti bertanya terus padaMu”
AKU: “itu bagus. Karena artinya kamu tidak tahu. Dan kamu tidak perlu tahu. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa AKU selalu menyertaimu, membimbingmu dan mencintaimu… percayakah kamu padaKu?”
Aku: “iya… aku percaya. Engkau sudah membuktikan semua padaku. Terimakasih untuk semua ini. tanpaMu, mana mungkin aku bisa melakukan ini semua”
AKU: “baiklah… beristirahat sajalah. Nikmatilah semua karuniaKu.. esok dan selamanya”
Aku: “terimakasih. Selamat malam”

Tiba-tiba alarmku berbunyi. Jam 4.30. tidurku nyenyak semalam. Sekali-kali aku mendengar angin keras yang menembus keras langit-langit kamarku. Tapi, aku tidak peduli. Indahnya pembicaraan semalam denganNya. Aku masih malas bangun, karena di luar masih gelap gulita. Barulah satu jam kemudian, aku benar-benar terbangun. Ayo zulu…. Jalan-jalan.. dan ekornya mengibas keras… dengan sukacita dia bangkit… ayo buuuu…..

Di pantai… laut baru surut. Pantai terlihat luas dan tenang, tanpa angin. Setelah puas berjalan kesana-kemari. Aku duduk di pasir yang masih basah. Zulu ikut berbaring di sebelahku.
Kutatap ombak yang tak pernah berhenti bergerak. Walaupun tidak ada angin, deburnya selalu sampai ke pantai. Tidak pernah bosan, tidak pernah lelah. Hanya Tuhan yang bisa menghentikan semua ini. Seperti halnya hidup kita. Kita tidak boleh berhenti… harus terus bertekun menjalani hidup. Tak ada yang berhak sedikitpun menghentikannya selain Tuhan, Sang Pencipta.
Selamat pagi Tuhan, selamat pagi hari baru.

3 Jam saja



Langit semakin gelap. Keyboard laptopku sudah tidak kelihatan hurufnya. Aku mengetik mengandalkan kemampuan jari-jariku menghapal letak setiap huruf. Sambil menunggu Saipan menyalakan gensetnya. Semua sudah aku siapkan untuk menunggu saat berharga ini. Yang jelas persiapan untuk mengisi baterai lap top dan hp. Memastikannya penuh sehingga besok pagi bisa kupakai dengan leluasa.
Saipan hanya menyalakan lampu selama 3 jam. Ada beberapa rumah yang ikut penerangan darinya, termasuk rumahku. 3 jam sudah cukup bagi mereka untuk beraktivitas sebelum beristirahat. Aku tidak ingin merubah kebiasaan ini, walaupun aku bisa memintanya lebih dengan menambah uang bensin. Biarlah seperti biasa saja. Aku ingin menikmati kehidupan seperti mereka dalam kesehariannya.

Nah.. lampu mulai berkedip-kedip, tanda Saipan baru berusaha menyalakan gensetnya. Aku membawa stabilizer dari rumah supaya aliran genset yang naik turun tidak menggangu laptopku. Rumah di depan dan juga mesjid sudah menyala beberapa waktu lalu. Mereka memiliki aliran listrik dari genset yang berbeda. Aku masih bersabar menunggu lampu benar-benar menyala…..
Nah… akhirnya… menyala juga.

Tiba-tiba Saipan datang.. tergopoh-gopoh  minta maaf. Ternyata dia tidak tahu kalau rumahku masih gelap. Padahal dia mengaku sudah menyalakan genset sejak tadi. Kebetulan dia akan mengambil sepeda motor yang dititipkan disini, dan baru sadar kalau rumahku masih gelap. Barulah dia menyusuri kabel, mencari letak kesalahannya ada dimana. Ternyata ada satu kabel yang berhubungan dengan rumah sebelah yang putus. Aku sendiri bahkan tidak menyadari kalau ada masalah tersebut. Aku hanya berpikir, Saipan memang sedikit terlambat menyalakan gensetnya.

Saipan dan Parmi berpamitan pergi ke dusun, menengok ibu temannya yang sakit. Dusun terdekat dari sini tempat orangtua Parmi tinggal jaraknya sekitar 6 km. Aku kembali sendiri, seperti hari-hari kemarin. Tinggal menunggu lap topku dan hp terisi penuh baterainya. Dan aku akan masuk kamar… membaca atau merenda sampai lampu mati dengan sendirinya karena kehabisan bensin, atau 3 jam setelah genset dinyalakan.

Kehidupan baruku di sini benar-benar unik. Betapa aku bersyukur, di Wedi-Klaten listrik bukan masalah. 24 jam penuh dan bisa dimanfaatkan untuk apa saja. Betapa banyak orang masih mengeluhkan ini itu dengan berbagai fasilitas yang sudah dimiliki, sedangkan disini 3 jam dalam terang adalah sebuah karunia. Di kota, begitu banyak hiburan bisa dilihat. Tidak hanya TV, tapi ada juga TV cable, internet dan berbagai hiburan yang begitu mudah didapat. Merasakan kehidupan yang serba terbatas, membuat aku malu terhadap diri sendiri, karena kurang bersyukur dengan apa yang sudah aku miliki.

Walapun hanya berdua dengan zulu, hari-hariku terasa indah disini. Dan aku yakin akan semakin indah ketika aku sudah kembali. Karena aku melihat keindahan hidup warga pantai Ngandong, yang dalam keterbatasan masih memiliki hati untuk berbagi, untuk saling berkunjung dan saling membantu. Dan lihatlah… mereka menyapaku ramah…. “dereng sare bu?...” belum tidur bu?

Debur Ombak Tepi Pantai



debur ombak tanpa henti


mendung mulai datang
 Debur ombak menjadi musik tanpa henti. Bergemuruh, memecah menerjang karang di tengah laut. Busanya terus bergulir hingga tepi pantai. Menipis dan hilang, ditarik kembali ke laut lepas. Musik alam yang indah penuh semangat. Deburnya yang keras menyamarkan suara halilintar di kejauhan. Yang terlihat hanya kilatan petir di ujung caklawala. Menghiasi langit yang semakin kelabu menebal.

 
“hujan…hujan…” teriak beberapa orang berlarian. Aku menengadahkan kepala, diantara keasikan jari-jariku merenda. Hujan seperti berjalan dari tengah laut ke tepi pantai. Memberi kesempatan bagi siapapun untuk menyelamatkan barang-barang yang ada di luar. Jemuran, kursi-kursi pantai yang semua dipajang di luar untuk para pengunjung. Dan semua berlarian menyelamatkan diri. Memenuhi rumah Saipan tempat aku berada.
Sebagian pengunjung tidak menyadari ada Zulu yang lalu berdiri ketika melihat banyak orang berdatangan. Sebagian terkejut dan takut. Sebagian lagi datang membelai kepalanya. Zulu tenang-tenang saja, cenderung acuh tak acuh. Sudah biasa kaleee…. Batinnya. Melihat Zulu yang dengan tenang menerima sapaan mereka. Jadilah dia foto model dadakan. Banyak yang minta foto dengannya.

Angin semakin kencang berhembus, berlomba dengan suara ombak. Apalagi ketika hujan turun dengan sangat deras. Bagaikan ditumpahkan dari langit. Berdiri di teras rumah Saipan tidak membuat mereka terbebas dari hujan. Maka mereka semakin masuk berdesak-desakan ke dalam. Genangan air mucul di beberapa tempat. Udara semakin dingin dan lembab.
Cukup lama hujan menyiram pantai Ngandong. Hingga akhirnya reda, dan semua bernapas lega. Kesempatan bagi mereka yang menggunakan sepeda motor segera berkemas pulang. Beberapa mobil masih tinggal. Air dengan cepat menyusut ke dalam pasir, seperti menghapus hujan badai yang baru saja terjadi. Dan debur ombak kembali terdengar…. Indah.

Pantai Ngandong 27 tahun lalu hanyalah semak belukar. Tidak ada rumah satu pun, bahkan kapal nelayan pun belum ada. Hanya pantai dan debur ombaknya yang tidak berubah hingga kini. Semak belukar sudah menjadi taman parkir yang rindang dan bersih. Ditepinya terjajar rapi kapal para nelayan. Di sekitarnya banyak rumah penduduk yang menyediakan makanan, minuman juga kamar mandi. Bahkan sudah ada penginapan sederhana. Di perbukitan di atas pantai didirikan resort. Penginapan yang indah dengan pemandangan laut di atas bukit. Di lengkapi taman dan perabot kayu yang artistic.
tempat pelelangan ikan

Di sebelah taman parkir ada Tempat Pelelangan Ikan. Hasil para nelayan melaut bisa langsung ditampung di tempat pelelangan. Dulu mereka harus membawanya ke pantai Baron.
Tahun demi tahun kehidupun semakin baik. Kebetulan sekali, ketika aku berada disini, aku melihat ada survey dari sebuah Biro Teknik Listrik yang mendata rumah penduduk yang akan diberi aliran listrik. Saat ini, penerangan listrik menggunakan genset yang dinyalakan hanya dari pukul 18.00 sampai dengan 21.00. 

di atas bukit buat nyari sinyal

Walaupun sinyal belum bagus, tapi hampir semua orang memiliki Hp. Untuk mendapatkan sinyal aku harus naik ke bukit. Cukup sehari sekali dan aku bisa menjalin hubungan dengan dunia luar. Selanjutnya, hari-hariku kuisi bersama para nelayan dan keluarganya.




Debur ombak tetap bernyanyi. Hujan tinggal sisanya. Pantai Ngandong kembali pada kehidupannya yang sunyi dan sederhana. Minggu segera berlalu, para pengunjung pun pergi satu persatu. Aku bersama zulu mengisi hari esok. Dalam diam kubiarkan debur ombak menjadi symphony yang abadi.