Pages

Friday, March 22, 2013

Lerem, Leres, Laras, Laris.....



Temanku, tiba-tiba berat badannya turun drastis. 15 kg dalam tiga bulan. Wajahnya layu dan semakin tua. Dulu dia sosok yang sangat ceria dan ceriwis, sekarang jadi pendiam dengan pandangan kosong, seperti mayat hidup. Kehidupan sehari-hari dijalani tanpa gairah... sebuah raut wajah depressi yang tidak mungkin disembunyikan lagi.
Aku menawarkan diri untuk mengajaknya jalan-jalan "pergi yuk... tak antar.. aku yang setir deh.. kita berdua saja... mungkin bisa menghiburmu"... dia mengiyakan... tapi lamaaaa... aku tidak mendengar ajakanku disambutnya.
Hingga suatu hari dia menelpon dan mengajakku pergi. Langsung semua rencana hari itu aku batalkan dan aku dengan penuh semangat menanggapi ajakannya. "kita ke Solo ya...."
Ok... dengan senang hati aku bersiap diri.
Segera aku mengambil buku karyaku, yang diterbitkan tahun lalu. Rencana ingin aku berikan ke seorang Romo di Solo, dan barangkali pertemuan dengan Romo akan memberikan pencerahan hati temanku.
Mobil mungilnya, enak dikendarai dengan lancar ke Solo. Dalam perjalanan, aku biarkan dia bercerita tentang suasana hatinya yang galau, frustrasi, mudah kawatir, dan tanpa gairah hidup. Dia tidak bercerita sebabnya, dan aku tidak memaksa.
Aku hanya punya telinga... dan aku yakin itu saja yang dia butuhkan....

Perjalanan lancar....
Setelah mengantarnya ke suatu tempat yang berkaitan dengan bisnisnya, aku mengajaknya ke gereja tempat Romo bertugas, untuk memberikan bukuku...

Gereja yang besar itu, sedang disibukkan dengan persiapan misa Imlek. Kami bertanya ke kantor sekretariat untuk menemui Romo. Ternyata Romo ada di rumah Paroki. Setelah memencet bel 1x... kami menunggu....
Seorang pria muda keluar. Ketika aku menyampaikan keinginan untuk bertemu Romo, ternyata beliau sedang sakit. "baiklah... saya titip buku untuk beliau saja"... dan aku duduk di kursi untuk menuliskan pesan di buku tersebut... tiba-tiba aku mendengar suara....
"tukang pijet e wis teka...." di susul sosok Romo yang hanya berkaos oblong.... rupanya Romo sedang menunggu tukang pijet, dan kami dikiranya tukang pijet yang dia pesan.
Ketika aku menyapa ternyata beliau sudah melupakanku. dan ketika aku memperkenalkan diri juga temanku.... beliau mengajak kami duduk... baru berucap,
"dulu rambutnya panjang dan hitam...kok sekarang pendek dan putih..." aku meringis
"sudah tua Romo..."

Percakapan bergulir santai.... entah mengapa... pembicaraaan membuahkan sebuah nasehat hidup yang indah... yang dengan segera dicatat temanku, karena takut lupa. Kata-kata tersebut adalah Lerem, Leres, Laras, Laris..... apa itu Romo??

ketenangan
Lerem.... dalam menghadapi persoalan hidup kita harus berusaha untuk Lerem... tenang... gejolak emosi harus dikuasai dulu... baik emosi yang positif maupun yang negatif. Kita tidak boleh membuat keputusan dalam keadaan sangat sedih maupun sangat senang.... karena bisa keliru.... kalau situasi hati sudah lerem.... maka kita bisa mengambil keputusan dengan leres.

lurus menuju tujuan
Leres.... yaitu benar.... walaupun kebenaran ini relatif. Tapi setidaknya keputusan yang diambil bukan dalam suasana hati yang sedang bergolak. Hal ini bisa dilihat dari hasil yang dicapai dari keputusan tersebut... apakah menimbulkan laras....
selaras....
Laras... selaras... harmonis, seimbang... pas... sesuai dengan yang kita harapkan. Laras... juga membuat kita kembali pada posisi semula, tepat dimana seharusnya kita berada... keselarasan hidup nantinya akan menghasilkan laris...

Laris... laku keras... pasti untungnya banyak. Keuntungan yang didapat bukan melulu dari sisi materi, tapi juga spiritual. Keuntungan seorang Romo misalnya, pasti bukan dari sisi materi, tapi dalam pelayanan spiritual. Bagi yang berbisnis... keputusan yang leres, karena diambil dalam situasi yang lerem, akan menimbulkan keselarasan dan ke"laris"an dalam usahanya, dan pastilah keuntungan secara materi akan diperoleh....

Tiba-tiba temanku mengambil tissue "saya tak nangis dulu ya Romo...."
Kami terdiam, dan membiarkan dia terisak sebentar....

Aku memecah kesunyian, mengalihkan pembicaraan dengan bertanya... "berapa lama Romo bertugas di Papua...." pembicaraan menjadi santai kembali dan Romo bercerita bahwa dia merasa aneh karena dalam tugasnya selalu dipindah setelah 4 tahun. 4 tahun di Seminari Mertoyudan, 4 tahun di Kolese de Britto, 4 tahun di Wonogiri, dan di Papua 4,5 tahun.
"sebagai manusia biasa... saya kadang merasa frustrasi, karena 4 tahun tidak cukup untuk berkarya yang sungguh-sungguh memberikan hasil. Bukankah manusia membutuhkan pencapaian dalam setiap langkah hidupnya....."
Lalu... bagaimana Romo mengatasi hal ini.....?
"yaaaah.... Tuhan tidak menilai kita dari apa yang kita capai... Tuhan hanya ingin melihat bagaimana kita mencintaiNya..."....... dan semua terdiam... sunyi...

Pembiacaraan yang singkat dan penuh makna ini, membuat aku dan temanku terpana....
Banyak hal yang harus direnungkan nantinya.... terutama dalam menjawab pertanyaan "sejauhmana kita membalas cintaNya?"
Betapa seringnya kita berkutat dengan persoalan diri kita sendiri. Sibuk dengan persoalan, harapan, galau, kawatir, kecewa, sedih, marah...dsb.... hingga lupa satu hal yang sangat diinginkan Sang Pencipta.... sudahkah kita mencintaiNya??

sudahkah aku mencintaiMu
Mat 25:36 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

Friday, March 15, 2013

Naik sepeda keliling desa...

sepedaku dengan keranjang di depan
Aku belum ahli naik sepeda. Mungkin karena dulu waktu kecil rumah kami sedikit naik ke bukit di daerah candi Semarang. Sehingga aku tidak mungkin naik sepeda. Karena lama tidak latihan, sudah terlanjur tua mau naik sepeda lagi jadi nggak pede.

Setelah tinggal di Wedi-Klaten, aku tertarik naik sepeda. Sebelumnya aku lebih suka jalan kaki kesana kemari. Ada sepeda kecil milik keponakanku ketika dia SD dipinjamkan ke aku untuk belajar... memalukan juga, karena sering dilihatin orang di jalan.... anakku meledek "iya ma.. kayak pertunjukan ledek kethek...." asyeeem... itu pertunjukan keliling dimana moyetnya suka disuruh naik sepeda kecil... hahahaha.....

Setelah sedikit bisa, aku ingin memiliki sepeda yang lebih besar.. dengan keranjang kecil di depan. Saat menonton film... ada yang naik sepeda, sepertinya asik sekali bersepeda dengan ada keranjang kecil di depan, bisa untuk meletakkan bawaan.

Dan Tuhan mengabulkannya. Anakku mendapat hibahan sepeda dari bossnya. Sepeda kecil dengan keranjang di depan. Langsung sepeda itu diberikan ke aku....

Kemarin sore... ditemani anakku, kami keliling desa... walaupun dia kawatir melihat aku mengayuh sepeda kekiri dan kekanan... tapi dia tetap setia menjagaku dari belakang...

Sore yang cerah, matahari mulai malas bersinar, meninggalkan sinar ceria di balik bukit-bukit nan jauh.... sawah masih terbentang luas.. bagai hamparan karpet hijau yang empuk dan lembut... jalan-jalan desa, walaupun sempit namun sudah halus beraspal... membuat roda-roda sepeda kami berputar tanpa suara....

Sore yang indah... akhirnya menghantar kami pulang.... terengah.. tapi senang....
"bahagia itu sederhana..."

rumah untuk mengeringkan tembakau

bukit dikejauhan dan anak-anak bersepeda

sepeda petani di tengah sawah

jalan keci beraspal di desa