Pages

Friday, November 23, 2018

Berhenti Berisik

Mengisi pensiunan itu ternyata tidak mudah. Menjalankan hobbi merenda dan macrame, merawat tanaman, bersih-bersih rumah, mendengarkan musik, menulis, baca WA, masak, mainan sama cucu, nonton TV dll.. dll. Kayaknya seabreg tapi kok ya kadang masih pingin yang lain.
Kalau kebanyakan aktivitas tahu-tahu lutut sakit, pinggang pegel. Baru ingat kalau sudah tidak lagi muda kayak dulu. Lalu muncul berbagai hal yang bikin berisik di pikiran.

Karena merasa masih banyak waktu luang, jadi iseng baca-baca primbon, primalastrology, numerolog, bahkan pernah konsultasi ke psikolog, karena katanya aku stress, padahal tidak merasa stress. Iseng banget kan kegiatannya. bener-bener kayak orang kurang kerjaan. Dan hasilnya, makin berisik di pikiran.
Kok ternyata karakterku seperti ini ya. Apa ini ya yang bikin perjalanan hidupku penuh carut marut? ternyata banyak karakter buruk yang selama ini tidak aku sadari seperti serakah, berpengharapan tinggi, suka ngatur... haduuuuhhh... tambah pusing karena makin berisik di otak yang muter terus dengan berbagai hal.

Mungkin memang saatnya untuk golek dalan padhang ( mencari pencerahan ). Bertemulah aku dengan teman anakku yang kebetulan mau mengadakan Self Coaching dengan judul Berhenti Berisik. Menarik khan?. Kalau ada pepatah jawa kebo nyusu gudel. Gudel itu nama anak kebo. Mosok induknya malah menyusu ke anaknya?
Apa salahnya berguru pada yang lebih muda. Mereka ada di jaman ini. Jaman yang mereka kuasai dengan berbagai informasi yang bisa mereka serap dengan baik. Menyadari diri sebagai generasi tua, aku ingin belajar dari mereka yang lebih muda. Maka aku memutuskan untuk mendaftarkan diri, mengikuti Self Coaching yang diadakan di Svarga Coffee & Eatery - Yogyakarta.

Dari 12 orang peseta, yang sudah berusia lanjut hanya 2. Lainnya seumuran anakku.
Oke aku ceritakan bagaimana pertemuan ini berlangsung, karena ternyata menarik sekali dan luar biasa!.

Model pertemuannya kami duduk bersama dalam sebuah meja panjang yang besar. Diawali dengan saling memperkenalkan diri dan bercerita pendapatnya tentang "berisik". Tentu saja aku sampaikan apa yang aku rasakan seperti yang aku tulis diatas.
Coaching kami adalah suami istri muda  mbak Ayu dan mas Daniel yang sangat trampil membawakan materi dan pendampingan.
Mbak Ayu mengajak kami untuk bermeditasi sebentar. Membawa kita dalam sussana yang pelan... lambat dengan menceritakan riwayat sebuah apel. Dari sejak apel itu ditanam, keluar biji, menjadi besar matang dan siap dipetik. Dibungkus di masukkan dalam peti dan kemudian dikirim ke berbagai daerah. Dijual dan pada akhirnya ada di depan kita.
Kemudian apel di potong-potong dan kami diajak untuk memegang. Merasakan kulit dan memperhatikan teksture buahnya dengan lebih seksama dan menikmatinya pelan-pelan. Merasakan setiap rasa yang dicecap di mulut.

Kemudian kami berduabelas dibagi menjadi 4 kelompok. Masing-masing kelompok berisi 3 orang yang tidak saling mengenal. Lalu kami diajak untuk memilih kartu yang sudah ditata di tengah meja dalam tatanan tiga lingkaran. Kami boleh mengambil kartu apa saja yang tertutup maupun terbuka di lingkaran paling dalam. Aku memilih yang tertutup. Berdasarkan kartu yang kami pilih, kami membagi cerita tentang kartu tersebut sesuai dengan apa yang kami rasakan.

Inilah kartu pertama yang aku pilih. Tepat sekali khan?!. Aku memang melihat diriku sudah di usia senja. Musim gugur, daun mulai berjatuhan, namun tetap memancarkan keceriaan warnanya. Pohonnya pun terlihat tua dari kulitnya. Sepeda menggambarkan sebuah perjalanan dan tiba saatnya untuk berhenti dan bersandar.
Aku merasakan keajaiban melihat kartu ini.
Berbagi perasaan berdasarkan gambar pada kartu kepada kelompok memberikan kejujuran yang sejatinya pada situasi sekarang ini.


Kartu kedua mengambarkan apa yang sudah dicapai hingga saat ini. Gambar bunga yang mekar sempurna mengingatkanku pada pencapaian diri yang memang sudah maksimal. Saatnya menikmati keindahannya dengan rasa syukur setiap hari.
Bunga yang mekar melalui proses dari pertumbuhan pohon, keluar sebagai kuncup hingga akhirnya mekar.




Kartu ini benar-benar ajaib. Menggambarkan apa yang ingin aku lakukan untuk mengisi hari-hariku.
Merenda dan membuat macrame menjadi kegiatanku sehari-hari. Sekedar hobbi dan dilakukan dengan cinta.

Pertemuan Self Coaching ini memang benar-benar luar biasa. Aku merasa disadarkan untuk menyadari apa dan siapa aku ini. Belajar melihat segala hal yang sudah dicapai dan mensyukurinya. Dan akhirnya bersemangat untuk melakukan kegiatan yang disukainya.

Aku bersyukur berhenti berisik mendengarkan berbagai kekawatiran ketika mau mengikuti pertemuan ini. Pokoknya dijalanin saja, dan ternyata sangat membahagiakan. Berkumpul dan berbagi cerita dengan anak-anak muda menjadi ikut bersemangat karena menyadari bahwa masing-masing orang tidak memandang usia, memiliki persoalannya sendiri. Tapi dengan menyukuri segala hal yang sudah dicapai membuat kami lebih bersemangat lagi untuk melangkah.


Terimakasih mbak Ayu dan mas Daniel yang sudah membagikan pengetahuannya dan memberikan pendampingan sehingga kami bisa mengenali diri sendiri, mengurangi keberisikan pikiran yang tidak perlu. Memang tidak mungkin berhenti berisik. Tapi dengan semangat untuk melakukan sesuatu itu sudah sebuah langkah untuk mengatasi "berisik". Fokus pada diri sendiri, bersyukur atas hari ini dan menikmati hidup.

Note:
Kalau berminat bisa menghubungi mbak Ayu dan Mas Daniel

Sunday, November 18, 2018

Tongkat Estafet

Sebuah obrolan konyol di sore hari, setelah semua karyawan pulang. Ngopi dan sepiring gorengan menjadi teman asik diantara kami. Tiba-tiba anakku yang tepat 2 bulan kembali pulang dan berjuang mengembangkan usaha yang sudah kami rintis bertahun-tahun bertanya dengan lugunya.
"sebenarnya... orangtua seneng nggak sih anaknya pulang??"
"ya iyalah....!" jawabku keras...spontan.. tapi malah membuatnya tertawa.
"konyol ya pertanyaanku...??" katanya sambil tertawa....

Ketika tahun lalu kedua anakku berkeras mau resign, dan kembali pulang, kami sebagai orangtua tentu saja senang, tapi juga sedikit kawatir. Seberapa kuat keinginannya, dan bisakah di melewati masa sulit membenahi perusahaan ini dengan tegar dan kuat. Sebetulnya sebagai orangtua kami berkeinginan untuk membereskan semuanya dulu, dan baru mengijinkan mereka pulang tahun depan. Tapi dia malah berkeras tahun inilah saatnya yang tepat.

****************************************************

Pembicaraan di atas itu terjadi 4 tahun yang lalu. Dalam waktu 3 tahun dengan kehadiran kedua anakku perusahaan pelan-pelan bisa bangkit kembali. Ber 4 sebagai tim yang solid sekaligus profesional kami berhasil menyelesaikan satu persatu persoalan hingga pada akhirnya di tahun 2016 semua hutang terbayar. 
Tangisan kelegaan dan penuh syukur. 
Dan pada awal tahun 2017 mereka siap dilepas. Menjalankan, meneruskan dan mengembangkan perusahaan ini 100% di tangan mereka. Kami berdua pensiun.
"Biarkan kami menjalankannya, kalaupun ada kesalahan biarkan kami belajar dari kesalahan" begitu tekad mereka.

Maka kami undur diri. Pelan-pelan namun pasti. Dan mereka berjuang kembali demi masa depan mereka sendiri yang paling utama. Kami hanya bisa mendampingi, membantu bila diperlukan. Sudah saatnya semua dilepas ke generasi yang lebih muda. Cara mereka menjalankan perusahaan ini sudah pasti berbeda dengan yang kami lakuan. Namun dunia juga ikut berkembang bersama mereka. Sedangkan kami sudah mulai bertambah usia. Makin kesulitan memahami dan mengikuti perkembangan jaman yang begitu cepat.


Tongkat estafet kami ulurkan, dan mereka berlari meneruskan perjalanan hidup melalui usaha yang kami rintis dengan perjuangan. Dengan berbagai kekurangan yang menjadi pengalaman berharga bagi mereka. Selamat jalan anak-anakku.. semoga Tuhan mendampingi dan melindungi perjalanan hidup kalian hingga sampai ketujuan.

kami hanya bisa meletakkan satu bata, selanjutnya mereka
yang membangunnya. Selamat berjuang anak-anakku!!

Monday, November 5, 2018

Luka Batin

Duh.. serem ya judulnya. Tapi coba siapa yang dalam hidupnya belum pernah terluka hatinya? luka batin dialami setiap manusia. Bohong kalau ada yang bilang tidak pernah. Karena luka batin bahkan ada yang tidak kita sadari tapi sebetulnya kita terluka oleh sesuatu, seseorang, situasi, suasana dsb.

Akupun mengalamai luka batin. Mungkin sudah ada sejak aku lahir dan terus bertambah bersama berjalannya hidup ini. Akan menjadi bertumpuk-tumpuk kalau tidak diobati. Seperti luka fisik. Kalau tidak diobati ya tidak sembuh. Atau sembuhnya lama dan meninggalkan bekas.

Aku menulis ini karena kebetulan di instagram ada yang menulis seperti ini


Tiga hal yang berkekuatan luar biasa untuk menyembuhkan diri dari berbagai luka batin. Benarkah? Aku mencoba dengan musik. Dengan spotify aku bisa memilih lagu sesukaku dan membuatnya menjadi albun. Aku menamai albumku Me and me. Berisi lagu dari jaman th 70an hingga lagunya Michael Bubble yang terbaru Love You Anymore.
Lalu apa yang kurasakan dengan mendengarkan lagu-lagu pilihanku sendiri ini. Bahagia. Ya itulah yang aku rasakan. Bahagia. Kalau sudah bahagia, luka-luka jadi tersamar bahkan terlupakan. Melihat hidup dengan gembira penuh nada.


Weekend kemarin kami sekeluarga mengantar karyawan piknik ke Pantai Klayar, Pacitan. Kami juga berlum pernah kesana. Jadi ini pengalaman baru melihat pantai indah milik kita Indonesia. Setelah karyawan pulang kami lanjutkan menginap di Limasan Watu Karung dengan pemandangan Pantai Pasir Putih.

Pantai Pasir Putih, Pacitan Jawa Timur
Memandang ombak tanpa henti. Nggak bosan-bosannya menerjang pantai dengan buihnya yang putih dan meninggalkan karang dan kerang kecil bercampur pasir putih. Memandang ciptaan Tuhan yang begitu indah dan luar biasa luas, sejauh mata memandang hingga cakrawala. Lalu siapakah aku ini kok sibuk dengan hal-hal kecil yang bukan apa-apa dibandingkan dengan pemandangan yang luar biasa di depanku. Luka batin hanya merusak pandangan kita tentang kehidupan. Keindahan alam yang luar biasa membuatku menyisihkan perasaan yang tidak menyenangkan. Dan syukur atas ciptaanNya membuatku bahagia.

Bagaimana dengan Bintang? Tentu saja aku melihat bintang di malam hari. Saat duduk santai di teras sambil ngopi. Kecil berkelap-kelip. Keindahannya justru nampak ketika dalam kegelapan. Bagaikan mendapatkan mukjijat. Disini, ketika kami menginap di pinggir pantai pasir putih. Limasan Watu Karung Retreat. Aku melihat bintang, bukan di langit karena sore itu hujan deras.
Menjelang tidur, kami biasa doa bersama dengan semua lampu dimatikan. Kami siap berdoa dan lampu dipadamkan, tiba-tiba.. dilangit-langit kamar muncul bintang-bintang kecil glow in the dark.

sebetulnya ada banyak bintang glow in the dark di langit kamar. Tapi aku kurang ahli mengambil gambarnya.
Ya ampuuuun.. aku tidak menyangka sama sekali. Terpana beberapa saat. Bahkan membaringkan tubuh sambil memandangi bintang-bintang kecil di langit kamar. Baru kembali ke posisi doa.
Terimakasih Tuhan.
Dalam waktu singkat Tuhan menghadiahkan tiga hal yang berkekuatan besar untuk menyembuhkan jiwa. Dalam doa aku hanya bisa berucap "Terimakasih Tuhan".