Jangan mengeluh... tetap tangguh, tertulis di lembar paling depan buku berjudul Katri, diatas tanda tangan beliau. Kalimat sederhana, tapi karena yang menuliskan ibu Katri jadi beda rasanya. Betapa seringnya kita mengeluhkan sesuatu yang terjadi dalam perjalanan hidup kita. Seakan akan kita orang yang paling menderita di dunia ini. Membaca buku Katri, aku sungguh menunduk, malu. Apa yang beliau alami jauh, jauh melebihi bayangan penderitaan dan kesengsaraan sebagai seorang tahanan politik PKI di tahun 1965, yang kita peringati setiap tahun sebagai G30S PKI, karena meletus pada tanggal 30 September 1965. Kala itu usianya baru 17 tahun dan sedang mengandung 7 bulan. Suaminya yang ternyata anggota dari partai tersebut, yang membuat ibu Katri terseret menjadi korban. Suaminya sendiri kemudian menghilang entah kemana.
Aku dipertemukan dengan ibu Katri melalui bukunya. Semula anakku yang membeli dan membacanya, karena Katri adalah ibu dari teman kuliahnya dulu. Dan sekarang cucunya satu sekolahan dengan cucuku. Sebetulnya kami saling mengenal dengan anak, mantu dan cucunya, tapi sungguh tindak menyangka ternyata mereka memiliki ibu, nenek yang luar biasa dan sudah dikenal lewat program "Melawan Lupa" Metro TV dan juga beliau aktif memberikan kesaksian tentang pengalaman hidupnya selama di penjara 11 tahun. Bukan untuk mencari belas kasihan atau karena menyimpan dendam terhadap penguasa saat itu, melainkan untuk membeberkan kebenaran dengan harapan peristiwa tersebut tidak akan terulang lagi di masa depan.
"mama, papa baca deh... soalnya kejadiannya ini di Klaten, jadi pasti tahu dan bisa membayangkan tempat kejadian yang disebutkan di buku" kata anakku. Kami lalu membacanya. Dan benar, tiap kali melewati tempat atau daerah yang disebutkan di buku, kami antusias meyakinkan diri kejadiannya pasti disini. Rel kereta apinya pasti yang ini. Rasanya begitu dekat dan nyata dengan kisah di buku Katri. Akhirnya aku mencoba menghubungi putri mantunya "boleh kami berkenalan dengan ibu?" dan disambut dengan antusias dan sukacita "boleh sekali, eyang Katri pasti senang (sebutan eyang untuk panggilan anak2nya)!. Nanti saya jemput dan kami antar ke rumah eyang".
Di suatu hari Minggu, kami (aku, suami, anak dan cucuku) bersama dengan anak, mantu dan kedua cucunya berkunjung ke rumah ibu Katri. Ternyata hanya sekitar 2 km dari rumahku. Kami tinggal di desa Karang Dukuh, sedang desa Trunuh tempat tinggal ibu Katri di selatan desa kami. Sore yang gerah, karena cuaca memang sedang tidak menentu. Didepan ada cukup halaman dengan pohon mangga rindang. Di depan rumah dipakai untuk Toko kecil menyediakan kebutuhan sehari-hari. Kebanyakan pelanggannya anak-anak yang biasa berteriak "Eyaaang... mau beliiii"... ibu Katri akan meladeninya dengan ramah "rapopo, ngopeni duit sewu, gakpapa mengumpulkan uang seribuan" katanya sambil tertawa.
Ibu Katri di usia 78 tahun nampak sehat dan gesit. Kesan pertama adalah ibu yang luar biasa. Tubuhnya yang mungil dibalut dress warna lembut dengan syal abu-abu melingkari lehernya. Masih tersirat wajah ayu di masa mudanya. Rambut pendeknya dia pertahankan sejak dia digunduli di penjara. Setelah keluar dari penjara model rambut cepak menjadi ciri khasnya dan disukai perempuan muda di jamannya.
Ibu Katri anak perempuan paling kecil dan satu-satunya perempuan dari 6 bersaudara. Kakak tertua terdaftar sebagai anggota PKI, yang kemudian menyeret dua kakak lainnya. Sementara 2 kakak lainnya bebas. Ibu Katri menjadi sasaran karena suaminya terlibat partai tersebut. Ibu Katri menjadi tahanan politik PKI tanpa pernah dia bayangkan sebelumnya. Di usia muda baru 17 tahun, jatuh cinta dan menikah, kemudian hamil 7 bulan tanpa memahami apa kegiatan sesungguhnya suaminya. Ketika itu 7 tentara datang ke rumahnya, mencari suaminya yang sudah pergi entah kemana. Tentara sempat menembakkan pistol ke pipinya dan menembus ke rahang bawahnya. Luka itu masih membekas berupa cekung kecil di pipi kiri dan ada bekas hitam di rahang kanan bawah. Beruntung tidak mengenai lidahnya. Beliau berhasil melarikan diri lewat rumah tetangga, dan kemudian dibantu ke Rumah Sakit Tegalyoso Klaten, sekitar 2 km dengan dibonceng sepeda. Ibunya, juga menjadi sasaran tembak tapi meleset mengenai atas almari. Ibunya berhasil selamat. Bapaknya yang waktu itu hanya berjongkok di sudut kamar tanpa baju, hanya celana kolor hitam tidak terlihat oleh mereka.
Karena luka tembakan di pipi cukup parah, ibu Katri dipindah ke Rumah Sakit Pantirapih di Jogyakarta. Kemudian dipindah lagi ke Rumah Sakit UGM yang sekarang di kenal sebagai Rumah Sakit Sarjito, karena dikawatirkan peluru masih tertanam di pipinya, tapi ternyata tidak ada sehingga kemudian di kembalikan ke Rumah Sakit Pantirapih. 11 hari di Rumah Sakit Pantirapih anak pertama laki-laki lahir prematur dengan berat 1,7 kg. Lahir pukul 11, tanggal 11, bulan 11 di tahun 1965. Seperti angka keberuntungan yang ternyata tidak.
40 hari di rawat di RS Pantirapih hingga akhirnya ibu Katri diperbolehkan pulang. Yudi nama anaknya baru satu bulan. Kekacauan di masa itu, membuat dia kawatir dan was was akan nasibnya. Tidak ada orang yang bisa dipercaya, dan begitu banyak pengkhianatan terjadi sehingga orang yang tidak tahu apa-apa bisa ditangkap dan dianggap anggota PKI hanya berdasarkan laporan seseorang. Naluri ibu yang ingin melindungi anaknya mengharapkan bantuan RS untuk bisa menitipkan Yudi disana supaya aman, namun ditolak.
Baru semalam tinggal di rumah, tentara datang untuk menangkap mereka yaitu bapak, ibu Katri dan bayinya dan salah satu kakak laki-lakinya. Mereka akan dibawa ke gedung Cendrawasih Klaten sebagai tapol (tahanan politik). Dalam perjalanan, kakak laki-laki disuruh turun dari mobil, disuruh pulang dengan alasan keluarga ini sudah kehilangan semua anak lelakinya, jadi sisakan satu saja.
Gedung Cendrawasih menjadi tempat berkumpulnya para tapol dan tempat dimana penyiksaan dimulai untuk membuka mulut mereka, siapa saja yang terlibat dalam partai PKI. Ketakutan dan penderitaan membuat mereka asal saja menyebut nama. Walaupun pada akhirnya tidak mengurangi penyiksaan. Bayi Yudi yang sudah ikut menderita sejak dalam kandungan, ikut merasakan siksaan selama 3 tahun di Wisma Cendrawasih, hingga akhirnya dibebaskan.
Menikmati kebebasan digunakan untuk mencari tahu dimana suaminya, tapi tidak berhasil ditemukan keberadaannya. Kemudian bersama dua sahabat kakak tertuanya mereka mendapat kabar kalau kakaknya masih hidup dalam persembunyian. Sayang sekali pertemuan singkat dengan kakaknya ini menjadikan kisah panjang dalam penjara terulang lagi. Hanya satu tahun menikmati kebebasan Katri kembali di tangkap. Yudi di usia 4 tahun kembali diajak, namun akhirnya dipaksa berpisah dan Yudi di antar pulang dan hanya di letakkan di depan rumah tetangganya. Sejak itu Katri berpisah dengan anaknya yang kemudian dipelihara ibunya.
Dari wisma Cendrawasih dipindahkan ke gedung Universitas Cokroaminoto Klaten, dimana penyiksaan semakin keras tanpa henti. Dan ketika kemudian dipindah ke Denpom Solo, Katri sudah seperti mayat hidup. Dua tahun dalam ketidak pastian ini kemudian membawa Katri ke Jakarta untuk menjadi saksi kedua teman kakaknya (dulu ikut menemukan tempat persembunyian kakaknya) yang akan diadili. Katri menjadi saksi bagi mereka yang kemudian diputuskan 15 tahun penjara. Sedangkan dia tetap di penjara tanpa pengadilan sehingga tidak ada kepastian sampai kapan dia dipenjara.
Dalam proses persidangan Katri di tempatkan di Detasemen Militer Polisi Angkatan Laut Jakarta Pusat. Disini Katri diperlakukan lebih manusiawi hingga persidangan selesai. Karena sakit kepala yang luar biasa dia dipindah ke RSJ KKO. Walaupun tidak sakit jiwa, namun lebih baik berada di tempat ini dari pada menerima siksaan seperti di Klaten dan Solo. Di tempat ini pula ibu Katri bertemu seseorang yang kemudian berpisah dan 8 tahun kemudian dipersatukan dalam perkawinan. Kisah cinta sesaat sesama tapol yang sunyi dan sepi, jauh dari gejolak dan gelora. Mereka menyamarkan hubungan dengan kata Deru dan Syahdu. Kesadaran bahwa mereka bisa dipisahkan oleh kematian atau penjara yang tak berujung membuat mereka berdua menyimpan rasa, sangat jauh di lubuk hati. Dan memang benar, Deru dan Syahdu harus berpisah. Perpisahan tanpa kata, hanya genggaman tangan erat yang tidak ingin berpisah tapi tak berdaya.
Setelah perpisahan, Katri seperti kehilangan pelindung sehingga seorang marinir yang seharusnya menjaga dan melindunginya di penjara, justru melecehkannya. Lorong gelap kembali harus dilaluinya beserta benih yang tumbuh di rahimnya. Hal ini menimbukan kekacaukan sehingga menginjak kehamilan ke tiga Katri segera di kembalikan ke Klaten, tapi sebentar kemudian dipindahkan ke Solo. Saat itu tapol semua sudah dipindah ke Pulau Buru, Bulu Semarang, Plantungan Kendal atau dibebaskan. Agustus 1972 anak keduanya lahir. Karena secara batin Katri belum bisa menerima kehadirannya, bayi kemudian dirawat ibunya. Sebulan kemudian Katri dibawa ke Jakarta kembali untuk menjadi saksi pelecehan yang menimpanya dan pelaku kemudian dipenjara. Setelah persidangan selesai Katri dipindah ke penjara Bulu Semarang. Disini hanya ada dua kemungkinan dibebaskan atau dipindah ke Kamp Plantungan, Kendal, Jawa Tengah.
![]() |
| Satu hasil sulaman di penjara yang masih tersimpan |
![]() |
| Ibu Katri dan aku |


.jpeg)
.jpeg)



.jpeg)


















