Pages

Showing posts with label ke Bajawa. Show all posts
Showing posts with label ke Bajawa. Show all posts

Friday, April 20, 2012

Manise Gunung Inerie dan Moke


gunung Inerie yang manis

proses fermentasi sederhana
 Perjalanan masih panjang. Setelah menikmati makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju Bajawa yang berjarak 139 km. Kami berangkat dari restoran pukul 14.20. Satu setengah jam kemudian, kami memasuki daerah Bhorong, kemudian Aimere, menikmati indahnya pantai dengan lautnya yang tenang membiru. Di kejauhan tampaklah Gunung Inerie yang manis sekali bentuknya¸walupun termasuk gunung yang masih aktif. Andy, pengendara mobil sewaan kami, minta ijin untuk membeli Moke. Moke adalah arak khas Flores yang diolah dari fermentasi sadapan pohon lontar. Cara pengolahannya sangat tradisional. Menjualnyapun dengan cara yang bebas, bahkan kalau di Jawa seperti menjual bensin dipinggir jalan. Moke hanya dimasukkan ke dalam botol air mineral bekas. Harganya… 50.000 per botol. Setiap pesta di Pulau Flores kurang sempurna tanpa Moke. Mau coba? Silahkan datang ke daerah Flores. Saya sendiri tidak ingin membeli dan membawanya ke tanah Jawa. Karena pasti di larang di bandara.
moke siap dijual
hasil fermentasi
Baiklah… gunung Inerie semakin dekat… berarti kita juga sudah semakin dekat ke Bajawa. Pukul 18.18 kami tiba di hotel Edelweis di Bajawa. Dari kamar atas, gunung Inerie mengundang untuk di dekati.

Di tempat yang benar… di waktu yang salah…


Ruteng, suasana sepi, toko-toko tutup
Setelah puas menikmati sawah laba-laba¸menghirup kopi Arabica, pukul 12.30 kami melanjutkan perjalananke Ruteng, yang hanya 16 km dari tempat ini. Jalan naik berkelok tidak terasa, hingga tepat pukul 13.00 kami tiba di Ruteng, dengan perut kelaparan. Andy, pengendara mobil sewaan kami menyarankan untuk makan babi kecap di jalan utama Ruteng.
Untung restoran tersebut buka. Karena kami melihat banyak sekali toko yang tutup. Barulah kami menyadari sesuatu… Hari ini Sabtu Paskah. Ya Tuhan… saking asiknya berkelana, lupa kalau ternyata kami bepergian bertepatan dengan Tri Hari Suci. Dan pulau Flores yang mayoritas Katolik, pasti merayakannya, sehingga banyak toko yang tutup.
Pengalaman buat semua pengelana yang ingin menikmati keindahan pulau Flores. Jangan datang di hari Natal dan Paskah. Pulau Flores memang cantik untuk dikenali, tempat yang tepat untuk dikunjungi… asal jangan di waktu yang salah.

Wednesday, April 18, 2012

Sawah Laba-Laba


padang padi
Setelah menempuh perjalanan 110 km ke arah Timur, selama 2 jam, kami sampai di kecamatan Lembor. Sejauh mata memandang hingga di kaki bukit, adalah padang padi yang siap dituai. Ini adalah lumbung padinya pulau Flores. Jarang sekali melihat pemandangan seperti ini di Jawa, setelah banyak gedung dan perumahan di bangun.




sawah laba-laba
Di tempat ini, terkenal dengan sawah laba-laba. Untuk melihatnya, kami harus sedikit berbelok menuju bukit Cara, kecamatan Cancar, kira-kira 5 km. Baik kecamatan Lembor maupun kecamatan Cancar termasuk wilayah Kabupaten Manggarai. Bagi yang biasa berolah raga, naik ke bukit Cara pasti hal mudah. Tante Yani dan Tante Win, memutuskan untuk tidak naik. “nanti lihat fotonya saja!” kata mereka. Dengan dipandu Narti, gadis kecil, aku ada Om Roy naik ke bukit!..... alamaaaakk! Tinggi banget…. Lutut sampai gemetar. Sebentar-sebentar aku berhenti. Tapi, tetap dengan penuh semangat harus sampai atas. Sayang sekali kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri.

Ternyata, sangat sebanding dengan perjuanganku naik ke bukit Cara. Sawah laba-laba cantik sekali!!. Entah... bagaimana mereka membuatnya. Sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan hati!.

Setelah kembali turun, ternyata nenek Narti sudah menyediakan kopi untuk kami. Kopi Arabica, dia tanam didepan rumah, dan dimasak sendiri. Tempat ini, sebetulnya bisa menjadi daerah pariwisata yang menguntungkan apabila di kelola dengan baik. Kepada anaknya, aku hanya bisa memberi masukan, supaya bubuk kopi buatan ibunya bisa dikemas, dan dijual kepada pengunjung. Semoga memberi inspirasi kepada mereka untuk meningkatkan penghasilan dan taraf hidup mereka.


Langit Biru Penyelamat


 Jalan mulai jelek dan berliku tapi tidak banyak. Kalau di daerah Wonosari ada jalan yang sangat tajam tikungannya sampai disebut “Irung Petruk”…. Nah disini banyak banget Irung Petruknya. Naik… turun… sangat tajam.. dan nggak berhenti-henti.
 
Aku duduk di kursi paling belakang. Lama-lama pusing juga dengan perjalanan yang naik, turun meliuk-liuk.. hingga perut mual. Aku tidak ingin membuat kerepotan orang lain. Karena itu aku mencari cara, bagaimana mengatasi rasa pusing dan mual… akhirnya, aku memilih memandang langit biru. Tidak peduli lagi dengan jalan yang berliku… aku hanya menatap langit biru. Bahkan aku bisa menikmati keindahannya.



Beruntung sekali… Banyak tempat yang begitu indah untuk dilihat. Sehingga kami harus berhenti, dan mengambil gambar…

Thank You Mister.... Daaaag....

mobil dan driver yang membawa kami membelah pulau Flores


Om Roy dan Tante Yani yang tinggal di Belanda ini, ternyata sudah menyiapkan banyak hadiah untuk anak-anak. Antara lain, alat tulis, dan bola plastik yang harus ditiup. Semua hadiah tersebut sudah disiapkan untuk dapat diberikan kepada anak-anak yang ditemui sepanjang perjalanan nanti.
Kami meninggalkan hotel pada pukul 8.53, brenti dulu sebentar untuk membeli bensin. Terasa sekali jalan mulai menanjak dan berliku. Beberapa kali kami berhenti untuk membagikan bola plastik dan alat tulis kepada anak-anak yang kami temui di jalan. Om Roy dan tante Yani, tertawa terbahak ketika anak-anak dengan lancar berteriak “thank you mister… daag”.. daag adalah bahasa Belanda. Mereka heran mendengar anak-anak berbahasa Belanda.
Berbagi adalah pekerjaan mulia. Lihatlah… betapa gembiranya anak-anak. Mereka berlari kencang mengejar mobil kami… seakan tidak ingin ditinggalkan… Beruntunglah anak-anak yang kami temui di  awal perjalanan, karena mereka bisa mendapatkan alat tulis dan bola plastik masing-masing satu.
Namun, anak-anak yang kami temui berikutnya, akhirnya hanya bisa mendapat bola atau alat tulis, karena persediaan mulai menipis….

Terlepas dari niat baik untuk berbagi… manusia memang tidak bisa berbuat adil dengan sempurna. Hanya Tuhan yang adil dengan sempurna. Kita, manusia yang tidak menyadarinya… dan berteriak “Tuhan tidak adil!”… bagaimana kalau Tuhan menjawab “emang kamu adil?”… hehehe… jari emang mesti ditudingkan ke diri sendiri dulu… sebelum kemana-mana.