Pages

Showing posts with label kehidupan. Show all posts
Showing posts with label kehidupan. Show all posts

Friday, March 23, 2012

All is Well

Mas Totok minta tanda tangan dibuku
All is well... adalah judul seminar Ajahn Bram yang diselenggarakan di Hotel Paragon, Solo. Seorang sahabat membelikan kami tiket yang sudah bernomor 1176 dan 1177... jadi bisa dipastikan yang hadir malam itu lebih dari angka tersebut.
Tulisan Ajahn Bram di buku seri Cacing dan Kotorannya, memang memukau. Mengubah cara pandang kita terhadap hidup ini. Membuat hidup terasa baik-baik saja... all is well...
Caranya...
Tidak sekedar berpikiran positif, tapi dengan pendekatan psikologis Ajahn Bram mengajak kita semua memandang hidup ini dengan enteng.
Kalau berat ya diletakkan
Kalau sakit, tertawalah...
Kita bisa saja berkata "enak di ngomong, tapi susah menjalaninya"
Ajahn Bram tidak tiba-tiba menjadi sosok yang dikagumi karena bibirnya yang selalu tersenyum, yang bisa tertawa ketika kepalanya yang gundul terbentur atap truk, yang dongkol karena dikerubutin nyamuk sementara dia dilarang membunuh apapun mahluk bumi.
Butuh latihan dan proses panjang...dan lama...
latihan yang terus menerus... hingga dia bisa membagikan pengalamannya kepada kita.
Tantangannya... ya marilah kita berlatih.
Berlatih melihat dan menjalani hidup ini dengan ringan. Berlatih melepaskan diri dari keterikatan duniawi yang menjadi sumber segala persoalan, sementara kita masih tinggal di bumi ini. Dan berlatih menjadi seseorang yang mampu berbagi pengalaman tapi tidak pernah kekurangan. Karena setiap pengalaman adalah kekayaan yang harus dibagikan.

Beliau tidak boleh disentuh
Hhhhmmmm.... ketiga buku cacingku sudah ditanda tangani olehnya. Walaupun dibukunya sudah ada tanda tangannya yang dicetak. tapi belum puas kalau belum ditanda tangani secara langsung, walaupun harus antri dan berdesakan.
Masih belum puas... pingin foto di dekatnya. Hanya foto, tidak boleh disentuh.... terutama oleh wanita. Kenapa ya?? takut dia tergoda kah? atau takut kotor? emang wanita bikin dosa ya? menurutku akan lebih baik Ajahn Bram kalau bisa mengatasi semua godaan termasuk bersinggungan dengan wanita...
Bukankah kita semua sama dihadapan Tuhan?

Larangan untuk tidak boleh menyentuh Ajahn Bram mengusik rasa kewanitaannku. Bagaimana menurutmu para wanita di seluruh dunia??

Thursday, January 19, 2012

Bapak.. dalam kenangan



Akhirnya aku melihat bapak menangis. Bapak duduk di tempat tidur dalam kamar, setelah melihat jenazah ibu di kamar tamu. Bapak yang tegar, kuat, pelindung bagi seluruh keluarga luruh dalam kesedihan. Separoh jiwanya hilang, mimpi di hari tua bersama ibu sirna, terbangun dalam kenyataan yang tak terduga. Ketika kami, anak-anaknya mendekapnya bersama-sama, semakin membuat hatinya terluka.
Bapak hanya berguman lirih “seharusnya, aku yang pergi lebih dahulu”. Dan di makam, beliau langsung memesan tanah di sebelah ibu untuknya kelak. Kelak?? Kapan??

Ibu tidak mungkin tergantikan. Walaupun aku dan mbakku berusaha semampu kami untuk memberikan yang terbaik, tak mungkin menandingi kehadiran ibu 40 tahun bersamanya. Aku mencoba menyiapkan sarapan pagi, diet khusus untuk diabetesnya. Yang kudapat adalah sarapan pagiku, berupa pesan yang menggores hati “kamu harus siap, karena bapak juga tidak akan lama lagi pergi” duuuuh…
Seminggu setelah ibu meninggal, bapak sudah kembali masuk kantor. Penghiburan dan pengalihan kesedihan yang paling mungkin bapak lakukan, dari pada larut dalam kesedihan. Tapi hati tidak mungkin berbohong. Tercermin dari kesehatan bapak yang semakin turun dari hari kehari-kehari. Kesehatan yang tidak mungkin dipulihkan lagi. Walaupun bapak ingin, walaupun kami semua berusaha keras untuk menjaga kesehatannya. 

Setelah setahun kepergian ibu, semua seperti berjalan normal. Tapi tidak baginya. Apalagi tiga bulan setelah bapak pensiun. Tinggal di rumah tanpa ibu, semakin membuatnya kehilangan semangat hidup. Hingga suatu hari bapak pingsan dan mengalami prakoma. Ternyata gula darahnya mencapai 550. Dalam sehari, entah berapa insuline yang disuntikkan ke dalam tubuhnya untuk mengembalikan kesadarannya. Beberapa hari di rumah sakit, tidak membuat bapak sehat. Ketika pulang, selain diabetes, bapak menderita liver. Dua hal yang bertentangan. Aku kuwalahan memberikan diet yang seimbang. Ketika gula darahnya membaik, livernya memburuk. Demikian sebaliknya.
Hingga, tiga bulan kemudian, bapak pingsan. Aku tahu, kali ini harapanku semakin tipis. Di saat menunggu ambulance datang. Aku tidur di sampingnya, mendekapnya, menghantarnya dalam doa, dan berbisik… “bapak, maafkan semua kesalahanku selama ini”. Dalam kelemahannya dia mengangguk. Dan ketika kakakku datang bersama istrinya, beliau berpesan untuk menggantikan peran bapak dan ibu bagi adik-adiknya dan “nggak usah menangis…” mungkinkah???
Bapak pergi malam itu juga, hanya beberapa jam setelah tiba di rumah sakit.

Selama ini, aku hidup dalam gelembung yang diciptakan bapak. Perlindungan dan pendampingan yang membuat hidupku terasa nyaman dan tenteram, tak tersentuh berbagai persoalan. Karena semua persoalan sudah bapak selesaikan. Kami, terutama aku yang semasa kecil sakit-sakitan, bab hidup dalam karantika bebas virus.
Ketika bapak pergi… gelembungpun pecah. Serta merta kehidupan nyata terbentang luas dalam kehidupanku. Kehidupan yang harus aku jalani walaupun dengan terseok-seok, tanpa tangan kuat dan kukuh yang selama ini menggenggamku. Namun, bapak ternyata tidak pernah meninggalkan aku. Gelembung kasihnya yang besar melindungi hatiku. Hingga tetap kuat bertahan dalam menjalani hidupku. Aku mampu menangkis berbagai persoalan yang melukai hati. Dan aku mampu menjalani hidup ini dengan perlindungan kasihnya yang tetap kukuh dan kuat mendekap hatiku.
Terimakasih bapak, untuk semua yang bapak lakukan untukku. Tahun-tahun sudah berlalu, tapi aku tidak pernah merasa ditinggalkan. Bapak selalu ada dan tetap ada di hatiku selamanya. Semoga Tuhan juga memberikan hidup damai yang kekal bersama ibu, adik dan kakak yang sudah bersatu di surga. Amin.

Thursday, December 22, 2011

Hari Ibu

Seorang anak bertanya kepada Tuhan: "Tuhan, mengapa ibuku menangis?"
Tuhan menjawab:
"Karena ibumu seorang wanita.
Aku ciptakan dia sebagai mahluk yang istimewa.
Aku kuatkan bahunya untuk menjaga anak-anakku.
Aku lembutkan hatinya untuk memberi rasa aman.
Aku kuatkan rahimnya untuk menyimpan benih manusia.
Aku teguhkan pribadinya untuk terus berjuang saat yang lain menyerah.
Aku berikan rasa sensitif untuk mencinta anak-anakku dalam keadaan apa pun.
Aku kuatkan batinnya untuk tetap menyayangi, meski dikhianati oleh kawan, dan meski disakiti oleh suami dan anak-anaknya.
Ibumu adalah mahluk yang kuat.
Tetapi jika suatu saat, kamu melihatnya menangis, itu karena Aku memberinya airmata yang bisa digunakan sewaktu-waktu untuk membasuh luka batinnya, sekaligus untuk memberinya kekuatan baru..."

Happy Mother's Day
God Bless You forever...

(I love you, mommy.... forever.... miss you sooo much)

Tuesday, November 8, 2011

Ibu, dalam kenangan

Tiba-tiba aku kangen ibu. Rindu menyusup dibawah ketiaknya. Membaui aroma yang segar dan sedap, karena ibu seorang vegetarian. Kehangatan yang wangi, terbawa hingga kini. Aku seorang ibu, dengan dua anak dewasa yang sudah tidak tinggal lagi serumah. Apa yang akan anak-anakku kenang tentang aku nantinya??

Ibuku meninggal dalam usia yang masih cukup muda, 56 tahun. Beliau seorang yang berhati lembut, rendah hati namun penuh semangat. Sayangnya, ibu tidak suka pergi ke dokter. Menjelang usia 50 tahun, sering di bujuk untuk check up, tapi selalu ditolak. Alasannya aneh "nanti ketahuan penyakitnya...". Dan tidak ada seorangpun yang berhasil membujuk beliau.

Pagi itu, 8 Agustus 1981. Seperti biasa pagi-pagi ibu sudah berencana pergi dengan temannya. Kegiatan ibu-ibu Dharma Wanita. Kebetulan aku masih di rumah dengan mbakku, ketika tiba-tiba aku mendengar ibu berteriak "aku kok nggak merasa apa-apa..". Waktu aku dan mbakku berlari mendekat, ibu sedang duduk lemas di kursi dekat meja telpon. Beliau baru saja meletakkan telpon, setelah mengadakan janji dengan temannya untuk pergi.
Berdua kami menidurkan ibu di sofa. Dan aku langsung menghubungi bapak yang sudah berada di kantor. Aku melihat kondisi ibu semakin lemah. Ketika aku melihat bibirnya mulai miring, aku sadar ibu pasti terserang stroke. Aku cuma bisa berbisik di telinganya "ibu berdoa ya... berdoa terus... jangan putus... bapak sudah dalam perjalanan". Ibu cuma mengangguk, itulah terakhir kali aku bisa berkomunikasi dengan ibu dalam keadaan sadar.
Tak lama kemudian bapak datang, dan ibu segera di bawa ke rumah sakit. Ketika di mobil, aku melihat wajah ibu tidak bereaksi ketika terkena sinar matahari, aku semakin kawatir melihat tubuhnya yang pasif.
Ibu terkena stroke. Sayang pendarahan ada di otak kecil. Maka setelah 38 jam berjuang, beliau pergi. 9 Agustus 1981, aku menjadi anak yatim. Hanya dua bulan setelah kami mengadakan selamatan 1000 hari meninggalnya adikku...

Aku ingat, setelah peringatan 1000 hari meninggalnya adik, ibu bercerita kalau mimpi bertemu adikku di pantai. Adik kelihatan masih kecil. Dia mendekati ibu sambil membawa balon. Tiba-tiba adik terbang bersama balon yang bertuliskan "berdoa". Tidak disangka ibu akhirnya pergi menemani adikku. Walaupun aku begitu kehilangan, tapi aku merasa senang ibu bersatu dengan adikku. Aku masih memiliki bapak yang dalam tekadku, ingin aku temani sampai akhir hayatnya....

Hari ini aku cuma ingin berbisik... ibu.. aku kangen....

Wednesday, October 19, 2011

Menunduk

Di depan pintu "aparteman lucuku", selalu tersedia 2 sandal jepit. Yang kecil berwarna hitam, milikku. Yang bersar berwarna merah, milik suamiku. Pagi itu, aku tergesa ke pasar, karena harus berbelanja sayuran untuk hidangan makan siang karyawan. Ketika sampai jalan besar, aku menunduk, dan baru sadar kalau kaki kiri dan kananku menggunakan sandal jepit yang berbeda. Satu hitam, satu merah. Dengan malu, sambil celingukan...... kawatir ada yang melihat, aku kembali pulang. Setelah menukar sandal, baru aku berangkat lagi ke pasar.

Beruntung aku menunduk, jadi tahu kalau sandalku beda. Coba aku berjalan tegak, tanpa tengok kanan kiri, apalagi menunduk. Bisa jadi aku jadi bahan tertawaan orang di sepanjang jalan... atau di dalam pasar... maluuuuunnyaaaa....
Sering kita terlalu cepat protes ketika seseorang menegur kita, mengingatkan, mengkritik, atau menggunjingkan kita. Bawel banget nih orang.... Emang gue pikirin??? atau it's not your bussiness.. OK!!....  
Emang sebel sih, kalau jadi gunjingan orang... apalagi orang tersebut tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Belum lagi bumbunya semakin gurih sekali buat di cicipi sana sini.....
Apa salahnya kita menunduk sebentar... jangan-jangan emang bener omongan orang itu. Jangan-jangan masukan mereka pas buat kita.... baru deh.. kalau pendapat mereka salah dan sudah berbumbu sedaaaap... kita abaikan saja... EGP!!....

Sunday, October 16, 2011

Hari Minggunya Zulu

Setiap dua minggu sekali Zulu mandi. Dulu, biasanya dimandikan sendiri. Ternyata butuh waktu 2 jam memandikannya dan harus ditangani 2 orang. Memandikannya pun ternyata ada cara yang khusus. Akhirnya kami memilih memanggil orang yang kerjanya memandikan anjing, namanya pak Mardi dan istrinya.

potong rambut yang gimbal dulu
Minggu ini, Zulu sudah kucel dan waktunya mandi. Pak Mardi yang sudah biasa datang tetap saja di gonggong, karena Zulu nggak suka mandi. Tapi, pak Mardi pinter merayu, hingga akhirnya Zulu mau juga digiring keluar dapur dan dirantai diluar.
ayo merem, biar ga kemasukan shampoo
Pertama-tama pak Mardi menyisir dan memotong rambutnya yang gimbal, terutama di belakang telinga. Setelah acara potong rambut selesai, telinga Zulu ditutup dengan kapas, dia siap dimandikan. Lihat, berapa banyak shampoo yang dibutuhkan untuknya. Selain di shampoo, Zulu juga dibersihkan kutunya, kemudian diberi obat. Tapi kalau kutunya sudah terlalu banyak, kami biasanya memanggil dokter. Nanti sore Zulu akan disuntik obat kutu. Dokter keliling ini juga mudah dihubungi. Tinggal di sms, dokternya akan datang.

di blow dulu.....
Selesai acara mandi, Zulu di keringkan dengan handuk, kemudian di hair dryer. Perlu waktu lama dan harus benar-benar kering. Kalau nggak , bulunya cepat bau. Acara mengeringkan ini paling tidak disukainya. Selain lama, juga mungkin terlalu panas buat dia. Zulu menggongong terus. Bayangkan suaranya yang barito mengumandang sampai kemana-mana.

Zulu yang ganteng dan wangi.. siap berpose
Akhirnya.... selesainya sudah. Zulu yang ganteng dan wangi... siap bergaya untuk di foto.

Tuesday, October 4, 2011

Ulang tahun ke 52

Rumah di jln cemorojajar 19-Jogja
Sekali lagi, aku mengunjungi rumah masa kecilku. Rumah dinas bapak ketika bertugas di Jogjakarta. Tahun 1966 kami pindah ke Semarang. Kali ini yang datang lebih lengkap. Keluarga Soekoer berkumpul, walaupun tidak semua. Yang jelas, bagiku ini sebuah kado ulang tahun yang indah. Kalau ingatan kanak-kanakku hanya mampu merekam 6 tahun tinggal disana. Kakak-kakakku memiliki banyak cerita tentang rumah itu. Sekarang rumah ini menjadi cafe Kopitiam.

Kami berkeliling, dan setiap sudut rumah itu masih dilestarikan. Tidak banyak perubahan yang berarti. Cerita yang muncul adalah ingatan yang paling berkesan ketika kami tinggal disana.

lantai tempat kami prosotan dengan air sabun
Kakakku masih ingat, bagaimana kami berempat (anak-anak yang paling kecil waktu itu), paling senang meluncur di depan kamar mandi. Lantainya sengaja diberi air sabun biar licin. Ketika aku kemarin melihat tempat itu lagi... ternyata memang cukup luas untuk empat anak kecil bermain disitu.

Ada lantai, yang mbakku masih ingat dengan jelas, kami berdua suka main bekelan di situ. Lantai itu istimewa, karena kalau kami melempar bola, suaranya aneh. Lucu banget!.

Kami mengenang setiap sudut rumah
Kami juga ingat kenakalan kecil yang sering kami lakukan pada pembantu ibu yang bisu. Dia kalau makan cabe banyak banget. Nah, kami suka banget usil, dengan menancapkan cabe di sanggulnya ketika dia makan.

Pohon sawo, di halaman belakang sudah tidak ada. Dulu, kalau malam ada suara "gedebug"... sawo jatuh.. keesokannya, kami berebut untuk mengambilnya.

Bahagianya aku, di hari ulangtahunku, bisa berkumpul bersama keluarga. Ada kehangatan merayap di hati, menikmati kemanjaan yang mereka berikan ke aku. Di usia, semuanya di atas tengah baya, sikap sayang mereka ke aku, adik terkecilnya masih terasa hingga kini.

Dan hadiah terindah lainnya adalah ketika ternyata ini semua... yang mentraktir adalah anak-anakku. Woow.... hadiah terindah dari hasil keringat mereka.

Terimakasih Tuhan.. untuk perasaan bahagia yang tertumpah di hari ini.

Saturday, October 1, 2011

Secangkir teh dengan senyum

Cangkir lucu ini hadiah natal dari anak perempuanku beberapa tahun lalu. Sudah lupa tepatnya kapan, tapi yang jelas dari 6 set sekarang tinggal 3 karena pecah. Jadi pasti sudah lama sekali cangkir ini menemani pagi hariku dengan senyumnya yang cerah.

Setiap kali melihatnya, aku pasti ikutan tersenyum. Betapa mudahnya, membuat orang lain tersenyum. Tinggal membuat kopi atau teh... dan senyum kita ikut merekah bersama cangkir lucu ini.
Tapi kalau hati sedang galau, sedih, marah, kecewa.... tidak ada istimewanya memandang cangkir ini. Semua bagai tertutup mendung. Hati tidak mampu melihat sinar yang sebetulnya selalu ada, tapi tidak terlihat.

Doa pagi, membawa suasana damai, menghatar ketenangan untuk menyambut hari ini dengan gembira. Dan senyum di cangkir tehku, mengajakku untuk tersenyum untuk orang-orang yang aku sayangi.

Selamat pagi semua, keep Smile....
Have a nice weekend

Monday, September 26, 2011

Sepotong Mangga

Sekarang lagi musim buah mangga. Buah yang manis dan segar untuk di santap setelah makan siang. Seperti biasa, setelah makan, aku mengambil satu buah mangga dari kulkas. Cukup satu untuk berdua. Dan aku mulai mengupasnya di satu sisi bagian mangga kemudian aku membaginya 2. Pasti potonganku tidaklah sempurna, karena yang satu kecil dan satunya lagi besar. Aku menawarkannya ke suami, dan dia mengambil bagian yang kecil dan aku diberinya bagian yang besar.
Pasti sudah ribuan kali dalam perkawinanku yang berusia 27 tahun, aku mengupas mangga untuk kami berdua maupun untuk seluruh keluarga. Tapi kenapa kali ini lain??

Perbedaan pendapat dalam kehidupan suami-istri adalah biasa. Banyak yang bilang, suami-istri harus beradaptasi seumur hidup. Tidak boleh berhenti, tidak boleh putus asa, harus terus berupaya supaya perkawinan menjadi langgeng sampai kaken-ninen.
Kenyataannya, memang tidak mudah mengerti dan memahami pasangan masing-masing.

Sepotong mangga, membuatku mengerti dan memahami. Mengapa suamiku mengambil bagian yang kecil, dan memberiku bagian yang besar?? pasti bukan sekedar mengalah, tapi memang karena dia ingin memberikan yang terbaik dan terbesar untukku.
Aku sering melakukan hal yang sama, ketika suamiku yang mengupas mangga. Aku juga selalu mengambil bagian yang kecil, dan menyisihkan yang besar. Sekedar ungkapan terimakasih karena sudah mengupaskan mangga untukku. Kami melakukan hal yang sama, ingin memberikan yang terbaik dan terbesar yang mampu kami berikan.

Peristiwa kecil ini membuat aku sadar. Aku lebih sering melihat, bagaimana aku rela mengambil yang kecil, untuk memberikannya yang besar. Sementara aku tidak memperhatikan bahwa dia juga melakukan hal yang sama untukku. Memberiku yang besar, dan mengambil bagian kecil untuk dirinya sendiri.
Aku selalu berkutat pada perasaan bahwa aku sudah melakukan yang terbaik terus menerus, hingga membutakan mataku untuk melihat apa yang dia lakukan untukku. Sikap seperti ini berkembang menjadi lebih buruk lagi, ketika aku mengharapkan dia melakukan hal yang sama kepadaku, dengan ukuran yang aku tentukan. Pasti tidak mudah bagi dia untuk melakukan hal yang sama persis seperti yang aku lakukan. Hingga rasanya harapanku tidak pernah terpenuhi. Lama-lama pengorbanan yang semula dilakukan dengan tulus hati, menjadi beban yang semakin berat setiap hari. Bertumpuk-tumpuk, dan semakin membutakan mata dan juga hatiku untuk melihat apa yang dilakukannya untukku.

Kini aku memilih untuk menikmati potongan besar yang diberikan suamiku kepadaku. Menikmati setiap hal yang dilakukan untukku, sebagai bagian terbesar yang dia berikan untukku. Berterimakasih untuk semangat kerjanya, untuk membangun mimpi ke depan, untuk mendampingi setiap peristiwa dalam perjalanan perkawinan kami, dan untuk setiap ucapan terimakasih atas semua yang aku lakukan untuknya. Dan tindakan sekecil apapun yang dia lakukan ... menjadi berkah yang besar untukku.

Terimakasih Tuhan, untuk membuka mata dan hatiku hingga mampu menikmati kelimpahan berkahmu, dalam setiap langkahku. Amin.

Sunday, September 25, 2011

Andai besok aku mati....

Dua bulan lalu aku ikut kunjungan ke sebuah panti asuhan anak-anak cacat ganda di Kalasan. Tempat itu SLB Ganda Daya Ananda, Yayasan cabang Sayap Ibu DIY-Jogjakarta, yang berlokasi di Kalasan. Kunjungan tersebut dalam rangka ulang tahun adik iparku. Beserta rombongan karyawannya dalam bis kecil, dan 3 kendaraan pribadi untuk keluarga, kami datang dengan hadiah ulang tahun yang berbentuk berbagai sumbangan untuk mereka.


Suci
Kesan pertama melihat mereka, adalah trenyuh... dan gak bisa bicara. Mereka sudah dibuang oleh orangtuanya, cacat... ganda lagi. Ada bayi 1, lainnya anak-anak hingga remaja. Jumlahnya kurang lebih 35 anak. 35 anak yang terbuang... tidak mengenal kasih sayang orangtuanya, kecuali pengasuhnya yang berjumlah 12 orang.
Ketika mereka menyanyikan lagi "selamat ulang tahun"... aku kaget.. karena lagu tersebut dinyanyikan dengan nada yang tidak jelas. Barulah aku sadar... mereka bahkan tidak tahu bagaimana indahnya irama. Ada 2 anak kecil yang bisa "bergaya" ketika kami memotretnya. Gayanya, tetap membuat kami trenyuh. Betapa menderitanya mereka.... benarkah demikian?

Aku bertanya pada diri sendiri... benarkah mereka menderita? sakit? kesepian? sedih?... Ada anak yang terpaksa harus diikat tangannya, karena tangannya akan memukul kepalanya terus kalau bebas bergerak. Ada yang tiba-tiba memukulkan kepalanya di tembok. Dan, ada yang hanya terbaring lunglai... hingga ajal menjemput. Sudah ada 4 anak yang meninggal di panti asuhan tersebut, karena memang cacat tubuh dan mentalnya tidak bisa membuat mereka berusia panjang.
Bagiku, mereka adalah ciptaan Tuhan yang paling suci. Sejak lahir mereka tidak pernah berbuat dosa. Apalagi dengan kesadaran melakukan dosa. Mereka adalah anak-anak yang suci tempat kita berkaca untuk melihat kedalam diri kita sendiri.
 "Tuhan tidak akan mencobai umatNya di luar kemampuan" ........tidak berlaku untuk mereka. Kitalah yang sedang dicoba olehNya. Seberapa jauh kita sudah berbuat untuk mereka?? seberapa jauh kita menggunakan kemampuan kita untuk membantu mereka hingga kita benar-benar bisa berkata "aku tidak mampu lagi..."... sudahkah kita mencoba???

"Tuhan punya rencana indah untuk setiap orang"
Di sekitar kita, apabila kita mau membuka mata dan hati, begitu banyak orang yang miskin, terhina, disingkirkan, sedih, kesepian, terlupakan, sakit, hidup dalam ketidak adilan dll. Akhir-akhir ini juga banyak bencana alam, kematian, kehilangan harta benda, ketakutan, kekawatiran.
Dimanakah kita berada? jauuuuh... mereka ada di benua lain, negara lain, kota lain, daerah lain... apa peduliku? atau dia ada di dekat kita tapi kita tidak peduli? "emang gue pikirin.... aku juga lagi susah!"....
Tapi, mereka tetap ada untuk menguji cinta kita kepadaNya.
Bisakah kita merasakah indahnya berbagi berkah, berbagi waktu, berbagi perasaan dengan mereka?. Atau sedikit menyisipkan doa untuk mereka? Keindahan rencanaNya, bukan sebuah pertanyaan dan harapan supaya mereka mendapatkan keindahan hidup, melainkan bagaimana kita menikmati keindahan dengan memberi dan berbagi dalam bentuk apapun juga kepada mereka.
Ah.. betapa mudahnya aku bicara, betapa indahnya kalimat yang aku buat... "well said"... apa artinya?

Andai besok aku mati...
Apa yang bisa aku ceritakan kepada Tuhanku.. apabila Dia bertanya "apa yang sudah kamu lakukan untukKu??"
Dengan malu aku hanya bisa menjawab.
Aku hanya 2 kali berkunjung ke panti asuhan cacat ganda, dengan sumbangan yang ala kadarnya.
Aku lebih sering berdoa untuk diriku sendiri dari pada mereka.
Aku memang sudah menghantar anak-anakku untuk hidup mandiri, semoga saja cukup untuk mereka meniti hidupnya.
Aku meluangkan sedikit waktuku untuk memasak bagi karyawanku. Sedikit berbagai makanan dan kue untuk orang-orang di sekitarku. Kadang menghantar kue untuk ibu mertua dan saudaraku. Mengunjunginya sesekali, dan menemani ibu ketika sakit. Mengirim sms, menulis email untuk menyapa teman-teman.
Duuuh... kenapa aku semakin malu melihat jawabanku. Betapa banyak hal terlewatkan....

Pantaskah aku menghujat Tuhanku...? mengapa dia membiarkan bencana terjadi, mengapa ada anak-anak cacat ganda, mengapa ada yang terlahir di daerah miskin, yang membuat mereka tidak memiliki pilihan untuk hidup baik?
Mengapa aku tidak bertanya pada diri sendiri, menudingkan jari ini ke diri sendiri?
Bukan bertanya mengapa Tuhan tidak berbuat sesuatu kepada mereka? tapi mengapa aku tidak berbuat sesuatu untuk mereka?

Kesempatan
Kalau mereka tidak punya kesempatan untuk hidup baik, karena cacat ganda sejak lahir, karena bencana, karena terlahir di tempat yang sangat miskin.... kita PUNYA!!.
Aku terlahir utuh, tanpa cacat... dengan pikiran yang memampukanku untuk melakukan banyak hal. Seharusnya semua kulakukan tidak hanya untuk diri sendiri, tapi untuk membantu mereka yang tidak punya kesempatan untuk itu.
Semoga di usiaku yang sudah lebih dari setengah abad ini, aku diberi jalan untuk melakukan lebih dari yang sebelumnya. Menggunakan kesempatan yang ada untuk lebih banyak berbagi dengan orang lain, dalam  bentuk apapun juga.
Dan semoga aku tidak mati besok... supaya aku tidak memberikan jawaban yang memalukan karena selama ini aku belum melakukan tugasku dengan baik...

Note:
Penghormatan tertinggi aku haturkan untuk para pengasuh anak-anak cacat ganda di seluruh dunia. Selamat atas kesuksesan mereka mengisi hidupnya dengan melayani, mencintai, dan merawat orang-orang yang tidak memiliki kesempatan dan pilihan hidup.

Wednesday, September 7, 2011

Penderitaan membuat orang lebih bijaksana

Setuju tidak dengan judul di atas??? Gara-gara menulis di blog ini, beberapa tema dilontarkan teman-teman untuk dijadikan tulisan di blogku.  Butuh waktu lama untuk merenungkannya. Penderitaan yang seperti apa? dan orang yang  bijaksana itu juga seperti apa? Rasanya aku tidak punya referensi apa pun untuk bisa mengurai adakah keterkaitan erat antara penderitaan dan kebijaksanaan seseorang.
Ada yang menderita, tapi malah jadi gila. Ada yang bunuh diri, bahkan ada yang menyatakan dirinya kafir, tidak beragama dan tidak percaya adanya Tuhan. Nah... trus penderitaan macam apa yang membuat seseorang bijaksana.


Mungkin... ini cuma mungkin... karena aku sudah pasti bukan orang yang bijaksana, walaupun tidak berarti aku bebas dari penderitaan. Berdasarkan pengalaman sendiri, sebetulnya penderitaan itu adalah perasaan yang kita tanamkan dalam diri sendiri. Semakin aku merasa tidak pantas mengalami situasi yang tidak enak, menyakitkan bahkan menghancurkan hati, semakin aku merasa menderita. Tapi, disaat aku mencoba mengerti dan memahami apa yang sedang terjadi, dan mencoba dengan pengetahuan dan pemikiran sederhana, mencari tahu dimana dan bagaimana kehendak Tuhan sedang berjalan, penderitaan berangsur-angsur berkurang. Dan hilang....
Penderitaan bisa muncul dan hilang. Tergantung situasi yang sedang kita hadapi. Pada saat situasi tidak enak itu sedang berlangsung, pasti tidak ada pemikiran nalar yang bisa dimunculkan. Emosi lebih menguasai. Jalan satu-satunya adalah diam, menenangkan diri, bedoa supaya hati dan pikiran di buka untuk melihat dan merasakan kehendakNya. Proses seperti ini bisa cepat, bisa lama bahkan bisa bertahun-tahun.
Rasanya, setiap orang bisa bijaksana, asal mau belajar dari pengalaman. Setiap kali belajar melepaskan egoisme dan merendahkan diri dihadapanNya. Peristiwa yang tidak enak, lebih baik diterima dengan hati yang lapang dan legowo. Tentu saja dengan kesadaran dan keikhlasan.


Kemarin, ketika mengantar anakku kembali ke kostnya di Jogja, dalam perjalanan kami ngobrol. Tentang banyak hal, berbagai peristiwa yang telah kami lalui bersama, berkah yang diberikan Tuhan, mukjijat-mukjijat yang terjadi.... ternyata bisa kami rasakan justru ketika kami ada di titik pasrah, menerima dengan tulus ikhlas, dan kemudian "yowis....". Dan kami tertawa ketika menemukan kata "The Power of Yowis"..... bahasa apa ini????


Yah... sudahlah... aku belum cukup punya asam-garam untuk membicarakan judul tersebut.  Sebaiknya berguru saja kepada orang yang sungguh bijaksana.


“Perbedaan antara orang pintar dan orang bijaksana adalah orang pintar tahu apa yang harus dikatakan, sementara orang bijaksana tahu perlu atau tidak kalimat tersebut dikatakan” – Frank M Garafola –

Sunday, September 4, 2011

Rumah Masa Kecil

 Ketika layat bareng mbak iparku, kami ngobrol. Tiba-tiba dia bertanya "lik, rumahmu di Jogja dulu Cemorojajar no berapa?" aku jawab "19 mbak, kenapa?" dia jadi antusias " itu sekarang buat kopitiam lho, kesana yuk, tak traktir wis... kamu bisa mengenang masa kecilmu". Ganti aku yang antusias. Ayuuuuk... seneng banget. Kami jemput anak2 dulu, lalu kami berenam meluncur ke Cemorojajar 19, yang sekarang nama jalannya sudah diganti menjadi Wolter Monginsidi.

Rumah itu masih seperti dulu. Teras di depan dan samping masih ada. Bahkan lantainya masih kuno. Menurut keterangan yang ada di meja, rumah belanda itu dibangun tahun 1923. Renovasi di dalam tidak banyak. Aku masih mengenali kamar depan yang dipakai bapak, ibu dan  2kamar di sebelahnya untuk kami, anak-anaknya. Pasti berdesakan karena kami berdelapan.
Di belakang masih ada beberapa kamar untuk saudara yang ikut kami dan juga ada yang kost disitu. Ingatanku nggak banyak tentang rumah itu. Aku berada disana sejak lahir, hingga klas 1 SD. Ternyata rumah itu lumayan besar, bisa untuk parkir mobil disamping dan depan rumah. Pantas aku dulu belajar naik sepeda cukup di halaman depan rumah saja.

Waktu itu, ibu bilang, kalau aku sudah jatuh berkali-kali baru bisa naik sepeda. Benar saja, akhirnya aku bisa naik sepeda dan hadiahnya, aku diberi uang jajan yang bisa kubelikan kacang rebus, yang dijual ibu-ibu di bawah lampu jalan. Rupanya nasehat ibu keren juga.... learn to fall before you learn to fly.. begitu bahasa sekarang. Sayangnya, setelah pindah ke Semarang, aku tidak bisa berlatih sepeda lagi, karena jalanan di Semarang naik turun tajam, terutama di daerah candi. Sekarang aku tidak trampil lagi naik sepeda.

Aku minta ijin berjalan keliling rumah. Pohon sawo besar, dihalaman belakang sudah tidak ada. Semua halaman bahkan sudah disemen, jadi kelihatan gersang sekali. Tapi letak dapur, kamar mandi di belakang masih sama. Jadi ingat waktu kecil suka prosotan di depan kamar mandi kalau pas dibersihan dan diberi air yang banyak. Betapa sederhananya sebuah kegembiraan diraih waktu itu.

Aku bercerita ke anak-anak, TV adalah barang mewah. Kami belum mampu membelinya. Kalau pingin lihat TV, kami mesti berjalan kaki ke Hotel Mairakaca di dekat situ, bareng dengan orang-orang kampung. Hasilnya, rambut kami penuh kutu, dan ibu marah-marah. Anak-anakku heran, masak sih waktu itu bisa berkutu rambutnya. Ya tentu saja waktu itu belum ada shampoo, kami kalau keramas pakai merang (batang padi) yang dibakar.

Beranda samping yang temboknya sudah diganti dengan pagar besi yang indah, mengingatkanku pada peristiwa yang membuatku aku takut ulat hingga sekarang. Waktu itu, ketika aku duduk sendirian disitu, jariku menyentuh tembok beranda. Aku merasakan sesuatu yang kenyal, dan ketika aku lihat ternyata ulat bulu.. hhhiiiiiii... aku bahkan masih bisa merasakan hingga sekarang kalau mengingat peristiwa itu. Itu sebabnya, aku takut ulat hingga sekarang.

Kenangan lain adalah tiap kali ada pedati lewat yang membawa panen kacang tanah. Aku bertiga dengan kakakku dan temannya, langsung diam-diam lompat di belakang, nyuri kacang, langsung dimakan mentah... kalau pak pedatinya tahu kami langsung lompat dan kembali lari ke rumah. Menyenangkan sekali....

Menyenangkan sekali bisa kembali ke masa lalu, masa kecil yang indah dan hangat. Anak-anak bisa mengerti dan memahami bagaimana kehidupanku dulu secara nyata. Rasanya suatu saat kalau kakak-kakakku berkumpul di Jogja pasti akan aku ajak kesana. Pasti mereka memiliki kenangan yang lebih banyak dariku.

Saturday, August 27, 2011

Bad decisions make good stories...

Temanku ini memang unik. Ketika aku banyak merenung dibilang nanti bisa depresi... eh sekarang aku malah diberi bahan buat merenung. Walaupun dia orangnya usil, dan biasa meledek, tapi kalimat Bad decisions make good stories... menarik untuk direnungkan. Spontan aku bilang... kalau jadinya good stories.. pastilah bukan bad decisions... tapi dia belum berkomentar.... aku yakin dia punya pendapat sendiri, karena dia selalu bisa memandang dari sudut yang berbeda. Sudut pandang yang usil atau nyelelek dalam bahasa Jawa.

Bad Decisions

Kata Bad (jelek), good (bagus)... sangat relative. Kelihatannya jelek, tapi ketika diberikan argumentasi yang bagus, bisa jadi bagus. Begitu sebaliknya, yang bagus bisa jadi jelek. Sebuah keputusan yang jelek, benar-benar jelek kalau dilandasi rasa marah, iri hati, cemburu, egois dll. Dan keputusan tersebut dibuat dengan penuh kesadaran akan akibatnya. Misalnya mengadakan rencana pembunuhan, pencurian, korupsi dll. Yang sudah jelas akibatnya, tapi tetap diambil. Keputusan yang jelek tetap akan menghasilkan kisah yang jelek.

Keputusan yang bodoh dan konyol juga ada, dan pasti hasilnya adalah cerita yang konyol juga. Apa ya contohnya???? (berpikir...) ngajak mertua mabuk kali ya.... pasti konyol cerita akhirnya hahaha... atau memutuskan untuk mudik lebaran naik sepeda... dari Jakarta ke Jogja... gilaaaa... ini jelas hanya dilakukan orang yang punya nyawa cadangan... atau mau bunuh diri!!...
Keputusan yang bagus atau yang jelek, baru ketahuan kebenarannya, kalau sudah menjadi cerita. Sudah lewat dan dilihat hasilnya. Prosesnya bisa cepat tapi juga bisa bertahun-tahun. Ada cerita baguskah, atau jelek?? Kita tidak bisa meramalkannya. Karena yang kelihatannya bagus, bisa menjadi jelek. Yang kelihatannya jelek bisa menjadi bagus.

Good Stories

Rasanya, nggak ada cerita yang jelek. Biasanya cerita akan ditulis atau diceritakan ketika sudah berlalu. Entah bagus entah jelek muatan isinya, tapi pasti ada makna yang terkandung di dalamnya. Film seri CSI (Crime Scene Investigation), banyak memberikan contoh keputusan jelek/buruk yang diambil para pembunuh, dan hasilnya juga buruk, tapi menjadi kisah yang bermakna orang-orang yang berkaitan dengannya, seperti polisi, penyelidik dll. Tapi juga bisa berdampak buruk karena para penjahat  menjadi semakin ahli.

Memang bisa pusing kalau merenungkan kalimat tersebut. Jadi sebaiknya aku akhiri di sini saja. Karena keputusanku untuk menuliskannya hanya ingin merenungkan apakah keputusan itu baik atau buruk. Hasilnya??? ya tergantung motivasi apa dibalik keputusan tersebut. Bahkan yang dilandasi niat baik pun, hasilnya bisa menjadi bad stories...
Yang penting, jangan takut membuat keputusan. Sedetail dan secerdas apa pun rancangannya, setulus apa pun hati yang melandasinya... harus siap dengan kisah yang akan muncul berikutnya. Bersyukurlah kalau memang sesuai dengan harapan. Kalau tidak?? lapangkan hati selebar-lebarnya, supaya bisa melihat apa yang ada di balik kisah yang terjadi diluar kehendak kita.
Atau Anda tidak ingin mengambil keputusan apa pun? karena itu juga sebuah keputusan... dan pasti ada kisah yang mengikutinya.

Wednesday, August 24, 2011

Toples Kosong

Kosong...
Ada toples kosong di depanku.
Sudah kucuci bersih, siap diisi lagi...
Tinggal memilih...
Kalau isinya besar, pasti cuma sedikit yang bisa masuk.
Kalau mau banyak, mesti yang kecil-kecil..
Kalau satu warna, pasti membosankan.
Warna-warni pasti lebih menarik.
Apa ya???
Mungkin coklat berlapis gula warna-warni...
Menggugah kenangan masa kecil...
Penuh warna ceria...
Coklatnya membuatku bahagia,
Rasa manis dan kaya warna membuatku ceria...





note: 
ketika hidup terasa kosong dan hampa, bersyukurlah, karena kita memiliki banyak pilihan untuk mengisinya lagi (lilik)



Simbok dan Simbah

Wajah ceria para simbok dan simbah
Minggu lalu, kami teman-teman SMP Maria Goretti Semarang, reuni untuk pertama kali. Jadi, sudah 37 tahun kami tidak bertemu. Bayangkan, pastilah butuh waktu dan energy ekstra buat mengingat-ingat ini siapa ya??? dulu kamu klas berapa?? rumahmu dimana?? waduuuuh... tambah mumet...
Akhirnya, ya sudah... kita berkenalan lagi, untuk yang sama sekali tidak mampu kita ingat. Untuk yang kemudian bisa ditelusuri kenangan bersamanya, barulah pembicaraan menjadi lebih mengasikkan.
Sambil menikmati buka bersama yang beraneka, kami ngobrol. Memang dari semua yang hadir, 23 orang, menjadi terbagi dalam beberapa kelompok.
Beberapa teman yang aku kenal kemudian berkumpul menjadi satu. Materi pembicaraan, apa lagi kalau bukan soal anak, juga cucu. Diantara kami ada yang sudah punya cucu 4 orang, dan ada lagi 2 orang. 
Kalau bicara soal anak, rasanya nggak habis-habis....
Dari soal pendidikan, pergaulan, kelulusan, mencari kerja, calon mantu, dan juga kehidupan mereka setelah menikah, termasuk momong cucu...

Satu diantara temanku yang sudah memiliki cucu dua orang, berbisik:
"Lik, kalau kamu menyangka urusan orang tua bakalan selesai kalau anak-anak sudah menikah, itu salah... setelah mereka menikah pun, ternyata kita tetep mikir..."
"wah... kalau gitu, nggak bakalan selesai sampai mati ya... " kata temanku yang lain...
"ya iya lah... kan kita ini Simbok.... mesti nombok.... kalau jadi Simbah... mesti nambah..." kata temanku dan kami tertawa ngakak...

Simbok...nombok. Nombok itu bahasa Jawa, maksudnya kita membuat pengeluaran lebih besar dari yang seharusnya.... "wah tombok aku..." begini biasanya orang berkomentar. Sepintas bisa saja ini dianggap sebagai sesuatu yang negatif. berarti gak ikhlas ya membesarkan anak-anak sampai mereka menikah?? Pasti bukan begitu maksudnya. Tombok, karena memang simbok/ibu/orangtua... mengeluarkan biaya untuk kelangsungan hidup anak-anaknya sampai mereka mandiri, tanpa mengharapkan apa-apa. Sudah menjadi kewajiban. Kalau kita mengeluarkan uang untuk membeli sesuatu, sudah jelas ada barangnya. Mengeluarkan biaya untuk kelangsungan hidup anak-anak, yang ingin dicapai adalah harapan. Harapan, anak-anak bisa menyelesaikan pendidikan, mendapat pekerjaan, memiliki pendamping yang sesuai hingga berbahagia lahir dan batin. Sulit sekali di ukur bukan?? tapi ini sudah menjadi kewajiban orangtua. Hanya berharap, mereka bisa memiliki kehidupan yang lebih baik dari orangtuanya, lebih bermakna dan berbahagia lahir maupun batin. Waduuuh... tinggi sekali harapannya ya.... dan anak-anak menikah punya anak... dan kami, khususnya ibu-ibu menjadi Simbah.

Simbah...nambah. Menurut pengalaman temanku yang sudah bercucu, ternyata orang tua masih ikut memikirkan, dan menambah ini itu dalam kehidupan mereka. Bukannya ini hal yang wajar ya?? kalaupun misalnya, anak-anak kita yang sudah menikah benar-benar sudah mandiri, tidak memerlukan bantuan materiil dari orangtuanya, mereka tetap membutuhkan bantuan moril. Entah sekedar nasehat bagaimana mendidik anak-anak mereka. Atau mungkin beberapa nasehat seputar perkawinan mereka. Pastilah orangtua/Simbah menjadi pelarian paling utama. Lhah.. mau kemana lagi?? Seandainya, mereka masih membutuhkan bantuan materiil, untuk mengawali kehidupan baru mereka, ya pasti Simbah ini juga tidak akan tega melepaskan begitu saja, kalau memang mampu melakukannya.

Bagiku, menjadi simbok, maupun simbah... entah nombok, entah nambah... bukankah semuanya ini untuk orang-orang yang kita cintai. Rasanya lebih berat, kalau kita tidak bisa memenuhi kebutuhan anak-anak. Memang dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan untuk menghantarkan anak-anak... rasanya sampai tidak sempat memikirkan diri sendiri. Inilah seninya, seni hidup. Hidup tidak ada yang sempurna. Kita pernah menjadi anak. Sekarang kita menjadi orangtua, dan melakukan hal yang sama dilakukan orangtua kita kepada anak-anaknya.
Simbok nombok, simbah nambah.... sekedar celotehan ibu-ibu setengah baya, untuk saling menguatkan satu sama lain. Diluar itu, baik ibu, bapak, simbah, eyang, oma, opa... punya ketulusan luar biasa untuk anak-anak dan cucunya. Sebuah cinta tanpa syarat...

Monday, August 15, 2011

Romo vs Sopir Bis

Khotbah Romo hari Minggu kemarin lucu banget. Dia bertanya begini ke umat,
Romo : Menurut Anda, berapa kali Anda bisa membuat orang lain ingat pada Tuhan?
Umat : ... (diam ... menghitung..)
Romo : ada 10.000???
Umat : ... (diam.... dalam hati, hah apa nggak kebanyakan??)
Romo : kebanyakan ya??, ya sudah 5.000 mungkin?
Umat : ... (masih diam)
Romo : ya sudah 1000 mungkin? masih banyak? 500? atau dibawah 500??
Umat : ... (terdiam, bingung nggak berani menjawab)
Romo : ya sudah... (putus asa).. katakanlah 1000 kali. Kalau umur saya sekarang 41 tahun berarti sejak saya lahir, pertahun... (menghitung dalam hati)... hah... cuma sedikit ya... cuma 24 kali pertahun, berarti tiap bulan saya cuma bisa membuat orang ingat pada Tuhan 2 kali... dikit banget ya...??
Umat : ... ggggrrrr.... (umat ketawa)...
Romo : wah.. kalau gitu percuma ya saya jadi Romo, mending jadi sopir bus... coba... sopir bis itu kalau mau buat orang ingat pada Tuhan gampang banget.... tinggal mancal (injak) gas agak keras... pasti seluruh penumpang langsung ingat pada Tuhan....
Umat : hua...ha...ha...ha....

Terus aku merenung (ijin dulu dengan temanku... takutnya dikira depresi hehehe)...
Nah, mestinya kita ini bersyukur ya dengan adanya orang-orang yang membuat kita menderita, karena dengan menderita, kita jadi ingat pada Tuhan. Coba kalau hidup kita ini lancar, semulus jalan tol... kan malah bisa terlena... lupa... ketiduran... tahu-tahu sudah celaka. Situasi dan peristiwa yang tidak enak, yang kita alami, ternyata justru membuat kita dekat denganNya....
Jadi, besok kita mestinya bilang begini "terimakasih ya, sudah membuat aku menderita"... hehehe...

Friday, August 12, 2011

Depressi??

Agak mengejutkan bagiku ketika seorang teman mengomentari tulisanku "jangan merenung terus, nanti bisa depressi..." lhoh??
Mungkin tulisanku akhir-akhir ini berkisar tentang permenunganku selama bulan puasa. Bukannya berhenti merenung, aku malah tambah merenung. Benarkah aku depressi?? dan aku menemukan artikel ini di internet, yang kalau disimpulkan... merenung bukannya membuat kita depressi, tapi justru salah satu cara untuk mencegah depressi. Coba baca artikel di bawah ini.

Depresi atau stress dapat menimpa siapa saja. Depresi merupakan respons mental seseorang dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Depresi muncul disaat semua masalah menumpuk di otak dan tak tahu bagaimana cara mengatasinya. Sebagian besar orang tak merasakan gejala depresi, namun bila memuncak akan timbul perasaan yang tak bisa kita hindari.

Berikut gejala depresi, dan bagaimana cara untuk mencegah munculnya depresi dalam diri kita berdasarkan sumber yang ahli di bidang Psikiatri.
Gejala Depresi:
  1. Tak bergairah
  2. Mood Depresif
  3. Rasa bersalah dan tidak berguna
  4. Rasa Gelisah
  5. Pikiran Bunuh Diri
  6. Perubahan Pola Tidur
  7. Perubahan Berat Badan
  8. Tidak Bisa Konsentrasi
  9. Rasa lelah tak Berdaya
Dampak Depresi terhadap kesehatan fisik:
1. Cemas Berlebihan
Kondisi ini akan memacu hormon tertentu didalam tubuh yang menyebabkan denyut jantung meningkat dan tekanan darah berlebihan.
2. Menurunkan daya tahan tubuh.
Penderita depresi akan lebih gampang terkena penyakit karena kondisi tubuh menurun.
3. Seksual Menurun
Kondisi seperti ini akan menurunkan seksualitas si penderita.
4. Mempengaruhi Metabolisme Gula Tubuh

Mencegah atau mengatasi Dperesi
1. Pola Hidup teratur
  • Istirahat cukup 6-8 jam sehari akan menurunkan tingkat depresi.
  • Selain itu pola makan yang seimbang karena dengan makan teratur kondisi tubuh kita akan stabil
  • Olah Raga dan Rekreasi juga salah satu cara untuk mencegah terjadinya depresi  pada diri kita
2. Sikap Hidup Poositif
  • Berfikir rasional dan obyektif akan mencegah gejala depresi
  • Merencanakan kehidupan
  • Menerima yang tak dapat diubah
3. Meluangkan Waktu untuk diri Sendiri
  • Luangkan waktu untuk diri sendiri minimal 30 menit selama satu hari
  • Lakukanlah kegiatan seperti Spa, Meditasi, Yoga dan Relaksasi
4. Mengembangkan Kehidupan Spiritual
  • Belajar Lebih memahami diri sendiri
  • Belajar Lebih mengerti orang lain
  • Belajar lebih mengenal Sang Pencipta
Jika anda melakukan empat hal diatas maka kita akan terhindar dari depresi yang kapan pun dapat menimpa diri kita.
Sumber: Dr. Suryo Darmono. SpKj
Staff Departemen Psikiatri RSCM

Menarik juga untuk kembali melihat ke dalam diri sendiri. Jangan-jangan memang iya aku depresi... Tapi merasa lega juga, karena permenunganku adalah salah satu upaya untuk mengembangkan kehidupan spiritual, mengenali diri sendiri dan memahami orang lain. Dan memang benar, dengan belajar lebih mengenal Sang Pencipta... ada kekuatan lebih untuk memandang hidup ini dengan hati dan pikiran jernih, dan mensyukuri karunianya.

Salah satu cara mensyukuri karunianya.... pergi ke Jogja nonton Transformers.... yuuukkk!!! 

Tuesday, August 9, 2011

Senyum... untukmu

Terinspirasi email seorang teman di milis. Mengisahkan tentang "kentang". Kentang yang disimbolkan sebagai orang yang kita benci. Kemudian dimasukkan dalam kantung plastik. Harus dibawa kemana-mana selama seminggu. Selain berat (1 kentang, satu orang yang dibenci), bagi yang banyak membenci orang, lama-lama kentang juga bau... intinya.. membenci seseorang berarti membawa beban berat kemana-mana. Di sinilah pentingnya sebuat pengampunan... memaafkan.

Kemudian aku membayangkan. Bagaimanan kalau bukan "kentang"... tapi daging. Sedikit atau banyak yang kita benci, tetap menjadi beban dan baunya kemana-mana. Tidak hanya mengganggu kita yang membawanya, tapi juga mengganggu orang lain.
Selama hidupku, maksudku... hingga detik ini. Aku baru merasakan bagaimana membenci seseorang dengan sangat, sampai sakit. Satu orang saja, tapi sakitnya minta ampun. Baru kali ini aku bertemu dengan seseorang yang tidak berperasaan dan tidak memilki empati sama sekali. Setidaknya inilah yang aku rasakan pada awalnya. itu sebabnya aku merasakan sakit yang luar biasa.
Walaupun hanya melihat bayangannya sekelebat saja. Rasanya darah mulai mendidih, panas, jantung berdegup keras... entah bagaimana wajahku... mungkin sudah merah padam seperti setan. Lhoh... kok malah aku yang berwajah mirip setan ya.... seharusnya dia kan... yang sudah menyakiti aku dengan hebat.
Aku melihat dia baik-baik saja. Masih bisa tersenyum kesana-kemari. Sementara aku "blingsatan" sendiri.... membawa daging busuk kemana-mana. Mencari dukungan dan pembelaan diri..... bahwa dia yang jahat dan aku yang baik... yang benar. Tapi mengapa wajahku justru malah mirip setan, sementara dia seperti malaikat???...

Litani dua kata
Lama-lama aku menderita sendiri. Ternyata membenci justru membuatku sakit. Lebih sakit dari pada penyebab kebencian itu sendiri. Sakitnya menjadi semakin nyata, seperti sebuah piring tertancap di hatiku. Hatiku beku. Keras... dan benar-benar menyakitkan. Orang akan spontan bilang " mbok dimaafkan...."... ini mudah sekali diucapkan... tapi susah sekali di lakukan. Apalagi memaafkan dengan tulus. Bisa saja mulutnya dengan ringan bilang "sudah kok... aku sudah memaafkan dia". Tapi hati siapa yang tahu... siapa yang tahu hatiku begitu beku sampai sakit.
Maka aku berdoa. Sebuah litani dua kata untuk diriku sendiri "lembutkanlah hatiku". Doa dua kata yang kuulang ribuan kali, ketika hati masih terasa beku dan sakit. Waktu akhirnya menyembuhkan hatiku.... sedikit demi sedikit, hatiku melembut dan tidak sakit lagi. Barulah aku bisa belajar memahami. Kenapa toh dia berbuat seperti itu? apakah benar dia sengaja menyakiti aku? apakah benar dia bermaksud menjatuhkan aku? bukannya dia sudah minta maaf.... menyesal. Kenapa aku masih membawanya kemana-mana.... membawa kebusukan, menyebar bau yang mengganggu.

Doa
Barulah aku bisa berdoa... berdoa supaya aku bisa menjaga hatiku dari rasa benci. Berdoa supaya aku mudah memahami dan memaafkan orang lain.... dan berdoa supaya aku selalu bisa memilih mencintai dari pada membenci. Dengan mencintai aku bisa mendoakan orang-orang yang menyakitiku, dan meyakinkan diri bahwa mereka pasti tidak sengaja, tidak bermaksud menyakiti, dan ingin berbuat baik kepada orang lain. Mungkin caranya saja yang tidak tepat, di saat yang tidak tepat pula. Aku juga bukan orang yang suci. Yang terbebas dari dosa menyakiti orang lain. Mungkin ada juga yang sakit hati denganku, hanya tidak pernah dikatakan. Mungkin aku sudah melakukan hal-hal yang tidak pantas bagi orang lain, tapi biasa buatku. Mungkin ada orang lain yang begitu sakit terhadap sikapku tanpa aku menyadarinya.

Semua sama, kalau orang lain bisa menyakitiku, akupun juga bisa menyakiti orang lain. Entah sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja... hal itu sangat mungkin bisa terjadi. Karena kita semua masih manusia. Kita hanya bisa memilih, mau menyimpan daging busuk dan membawanya kemana-mana dengan wajah seperti setan. Atau membawa bunga yang harum, dan membagikannya kepada setiap orang yang kita temui. hhhhmmmm... terlalu repot ya... senyum aja deh... yang tulus dan murni dari dalam lubuk yang paling dalam...

Dan... bagi siapa saja... yang membaca tulisanku ini, yang mengenalku, dan yang pernah sakit hati karena aku....saat ini, dari lubuk hatiku yang paling dalam, setulusnya aku minta maaf... dan aku berdoa, semoga Tuhan memberkati kita semua dengan kasihNya yang indah.



Note:
kemarin kulkasku rusak. Perlu 2 hari untuk memperbaikinya. Semua isi kulkas terpaksa kukeluarkan. Luarbiasa!!... ternyata banyak yang harus dibuang!. sudah kadaluarsa... bahkan ada yang sudah busuk.... Semua langsung masuk ke kantong plastik hitam.. dan masuk bak sampah. Kulkasku, kosong, bersih, dingin dan segar.... siap kuisi sayur dan buah yang baru... good feelings..!!



Monday, August 8, 2011

kukuruyuuuuuukkkk....... have a nice monday....

Yang khas hidup di desa adalah suara kokok ayam jantan. Dulu, ketika tinggal di perumahan, jarang sekali mendengar kokok ayam jantan di pagi hari. Karena memang sudah jarang orang yang memelihara. Nah, depan huntara (hunian sementara) ku adalah peternakan ayam. Jelas saja suara kokok ayam begitu jelas terdengar. Cukup keras hingga bisa membangunkanku dari tidur. Disitu ada 70 ekor ayam jantan. Kalau yang satu berkokok, yang lain ikutan. Anehnya, ayam jago sekarang tidak hanya berkokok di pagi hari. Yang jelas pagi jam 4.30 an, kemudian dengan tidak tentu mereka berkokok... suka-suka mereka rupanya... karena mereka bisa berkokok sore, malam.... bahkan jam 23.00 an... menjelang tengah malam.
Gejala alam apakah ini??? aku tidak tahu...
Yang jelas bagiku, bagaimana mereka saling menyahut melalui kokoknya, dan kemudian disambut pula oleh kokok ayam di kejauhan, entah milik siapa.... siapa yang mendengar, kemudian menghatarnya ke teman-temannya.... sesama ayam jago...

Begitu banyak sarana media yang sekarang semakin canggih untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dalam hitungan detik semua informasi bisa tersebar, terdengar kemana-mana... dan diteruskan entah berita baik... maupun yang buruk. Kita tinggal membuat pilihan... bebas..
Setiap kali aku tergoda untuk melihat statistik, berapa banyak orang yang membuka blogku. Kalau seharian nggak ada yang membuka, rasanya sedih. Sebaliknya, kalau sehari bisa ada 30 orang lebih, wah senang sekali.

Setiap meng up load sebuah tulisan, aku hanya berharap ada yang membacanya. Lebih bahagia lagi, bila berguna bagi orang lain. Aku hanya punya pengalaman kecil, setiap hari yang ingin kubagikan... ku-kokok-kan setiap pagi... seperti ayam jantan yang sampai saat ini belum berhenti berkokok.. bahkan semakin seru saja... saling bersahutan...
Ini hanyalah sebuah tulisan... seandainya sebuah perbuatan kasih juga bisa tersebar cepat dan ditiru oleh banyak orang... betapa indahnya. Tidak hanya MLM (Multi Level Marketing).. tapi MLK (Multi Level Kasih)... Semakin banyak perbuatan kasih dilakukan... dan semakin banyak berkat berlimpah bagi banyak orang.
Hhhhhmmmm... aku suka dengan acara Mario Teguh semalam.... dia berkokok terus tentang perbuatan baik dan selalu berpikir positif.. supaya jiwa kita tidak mati... walaupun raga kita mati... dan satu hal yang tertanam dalam pikiranku adalah kata iri hati. Jelekkah sikap iri hati??? enggak.. kalau kita iri pada perbuatan baik orang lain, pada semangatnya yang luar biasa, pada spiritualnya yang jernih....

Pagi sudah merekah... mari kita berkokok... tentang indahnya hari ini, tentang segarnya udara pagi, tentang lahirnya hari baru....

Have a nice monday.....


"... may I have a love that springs from and is rooted in Your love. May I listen to others, show Your compassion, and speak Your truth today." - David Roper

Friday, August 5, 2011

I Love You

Rasa-rasanya, aku belum pernah sekalipun mendengar bapak atau ibuku mengatakan kata “I love you…”, “aku tresno karo kowe, bu…” atau “aku mencintaimu, bu..”. Mungkin tidak biasa mengungkapkan perasaan masing-masing. Atau itu cukup diucapkan sekali saja, untuk menyakinkan mereka berdua siap mengarungi hidup bersama sepanjang hayat. Setelah itu, kata “cinta” mewujud dalam perbuatan dan tindakan setiap hari dalam kehidupan perkawinan mereka, hingga kematian memisahkan dan mempersatukan mereka kembali.

Cinta dan Benci
Kata “cinta” sekarang sering diobral. Mudah sekali diucapkan, tapi jauh dari wujud cinta itu sendiri. Jadian, putus…. Jadian, putus…. Menjadi hal biasa. Panggilan sayang yang lebay… “cinta…”, “yayang…”, “honey bunny…” (yang dengan lucu-lucuan bisa diterjemahkan dengan panggilan “kelinci madu…” hahaha…. Ada-ada saja…). Sesungguhnya, semua ini menunjukkan kemajuan dalam hal komunikasi. Mengungkapkan perasaan dengan leluasa tanpa beban. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Semua begitu mudah lepas begitu saja dalam ungkapan kata-kata. Sayangnya, manusia tidak hanya punya perasaan cinta, tapi juga benci. Begitu cintanya habis di obral… tinggal benci yang tersisa. Nah, yang ini juga mudah sekali diobral. Ketika mau menikah… waduh… ungkapannya semua indah. Tapi begitu mau cerai… semua perasaan benci, jengkel, marah… membludag tak terbendung….
Kalau melihat atau membaca berita-berita selebriti yang baru pacaran, mau menikah, menikah dan kemudian cerai… itu gambaran umum yang terjadi dewasa ini. Hanya karena mereka selebriti, kisahnya bisa dijual dan menjadi tontonan orang banyak. Tapi, juga bisa ditiru orang banyak. Kata cinta, tidak lagi sakral. Kata benci bukan lagi tabu diucapkan. Orang Jawa khususnya, dulu lebih suka menyimpan segala sesuatu dalam hati, diungkapkan dalam perbuatan. Bisa positif tapi juga bisa negative. Kalau yang dilakukan adalah perbuatan karena cinta, pasti menyenangkan dan indah, penuh kejutan. Tapi kalau yang diungkapkan dalam perbuatan adalah ungkapan perasaan benci… ini yang merepotkan. Pasti banyak kejadian yang mengejutkan dan menyesalkan. Repot sekali…. Terlalu diobral… maknanya luntur. Terlalu disimpan… bisa menjadi bom waktu…
Kebenaran dan Ketulusan
Ketika ada sms masuk dari anak lelakiku “suddenly, I miss you mommy…” aku terharu.. dan air mataku mengalir begitu saja. Atau ketika aku sakit, anak perempuanku sms ke tantenya yang seorang dokter, kemudian pergi berjalan kaki ke apotik membeli obat, aku juga terharu… dan menangis. Sederhana, tapi mampu menyentuh hatiku.

Hati, memiliki kelembutan yang mampu menangkap kebenaran dan ketulusan sebuah ungkapan perasaan. Ketika seseorang mengatakan “cinta…” dan reaksi kita justru “masak??.., gombaaal…, yang bener??...”ada keraguan dan ketidak percayaan yang tersirat. Benarkah cinta itu ungkapan yang benar dan tulus?? Perlu pembuktian dalam perbuatan. Kalau kata cinta yang kita ungkapkan masih diragukan, ya buktikanlah dalam perbuatan. Kalau kita tidak mampu membuktikannya, tanyakan pada diri sendiri “benarkah aku mencintainya??”… jangan-jangan tidak, atau mungkin belum cukup disebut cinta. Atau mungkin, hati kita kurang peka terhadap perasaan cinta… karena mungkin kita tumbuh dalam lingkungan yang tanpa cinta. Sehingga hati menjadi beku, tidak mudah tersentuh.
CintaNya
“Kalau Tuhan mencintaiku, mengapa aku menderita?.., mengapa Dia tidak mengabulkan doaku, mengapa Dia meninggalkan aku..??”. Tuhan, Allah kita tidak mengobral cintaNya lewat sms, telpon, email atau alat komunikasi apapun yang kita miliki. Dan Dia juga tidak  mengungkapkannya dengan kata-kata. CintaNya adalah perbuatan. CintaNya tulus, dan murni sehingga hanya bisa dirasakan hati yang lemah lembut. Lalu mengapa kita menderita? Pertanyaan ini harus dikembalikan kepada diri kita sendiri. Ya.. mengapa aku merasa menderita? Karena keinginanku tidak tercapai. Keinginannya apa? Mudah atau tidak dikabulkan? Jangan-jangan keinginan kita kurang sesuai, atau mungkin memang butuh waktu sehingga butuh kesabaran… “sudah sabar… menthok!” aku sering protes begitu. Masak? Masih kurang kayaknya…. Butuh kesabaran untuk menjadi sabar (ini ungkapan Indra Herlambang).
Cara Dia mencitai kita, sungguh luar biasa. Kita hanya bisa memahami cintaNya, ketika kita mampu menyangkal diri. Mengabaikan keinginan diri, dan memberikan porsi yang lebih besar pada kehendakNya. Menerima segala sesuatu dengan ikhlas akan membebaskan diri kita dari penderitaan. Penderitaan akan membuahkan rasa syukur yang membawa kedamaian dalam hati. Dan dalam hati yang damai kita merasakan cintaNya yang luar biasa… indah.
Tuhan, Allah kita mengajarkan kepada kita untuk mengobral cinta dengan perbuatan. Mulailah dengan melakukan perbuatan cinta melalui hal-hal kecil dan sederhana. Melayani orang-orang yang kita cintai dengan suka cita dan rela. Nikmati semuanya dengan gembira, seperti orang yang sedang jatuh cinta. Jatuh cinta kepadaNya, jatuh cinta pada kebenaran, hidup dan cinta itu sendiri. Hhhhmmm… rasanya sudah lama aku tidak bersenandung… bernyanyi… maka ku klik winamp… dan yang mengalun lagunya Matt Wertz…. Everything’s Right…


Selamat pagi…
Semoga Tuhan melembutkan hatimu,
merekahkan senyummu,
dan menggerakkankan bibirmu untuk bernyanyi…