Pages

Saturday, July 9, 2011

Naik... Turun...

Pikiran memang tidak bisa dibendung. Melanglang kemana-mana sementara tanganku menyetrika baju-baju. Untung masih cukup waspada, sehingga tangan tidak kena setrika. Kala tanganku bergeser kekiri dan kekanan, pikiranku melayang ke pemandangan puncak G. Gede yang aku lihat di milis Loyola’77. Dan laporan detail pengalaman mendaki dan turun yang begitu mengesankan dan membuatku ingin suatu kali bisa merasakannya. Walaupun sedikit pesimis mengingat usia dan selama ini tidak punya kegiatan olah raga yang memampukan badan untuk bertahan sampai puncak.

Naik
Kegairahan untuk menghadapi tantangan hidup, itulah yang aku rasakan ketika aku memiliki suatu tujuan yang ingin aku capai. Mungkin hal yang sama dirasakan teman-teman ketika mempersiapkan mendaki dan mencapai puncak  G. Gede. Sebagai ibu, keinginan besarku adalah menghantar anak-anak sampai bisa hidup mandiri. Berbagai rintangan, tekanan, cobaan dan persoalan yang muncul, justru menjadi tantangan untuk bisa diatasi dan diselesaikan. Seperti cerita temanku Tiong Sien, yang bersyukur dengan adanya akar-akar pohon yang membantu dia naik setapak demi setapak. Dalam kehidupanku aku merasakan hal sama. Begitu banyak tangan-tangan yang membantuku dan memudahkan langkahku untuk merangkak naik… pelan… menghantar anak-anak.
Ada saat juga harus berhenti dan beristirahat. Menghimpun tenaga dan semangat untuk melangkah lagi. Keinginan, harapan dan cintaku kepada anak-anak memberikan energi yang luar biasa untuk membawanya sampai ke tujuan. Hingga akhirnya, mereka harus melanjutkan hidup mereka sendiri. Dengan puncak cita-cita yang mereka canangkan untuk masa depan mereka sendiri.

Puncak kehidupan
 Walupun belum pernah naik ke puncak gunung. Rasanya aku pernah sampai ke puncak kehidupan. Dengan berbagai perjuangan dan keinginan yang kuat aku  pernah mengalami sampai di puncak kehidupan. Apa itu? Dan kapan? Ya tentunya ketika aku mencapai sesuatu yang sungguh aku inginkan. Mengapa puncak? Bagiku, ketika aku mencapai suatu tahap dimana aku mampu meraih sesuatu, saat itulah aku berada di puncak. Misalnya, anak lulus, anak mendapat pekerjaan, anak menikah, membeli rumah, membeli mobil, pergi ke luar negeri, naik pangkat, mendapatkan order yang luar biasa, atau apalah… yang membuat kita merasa bahagia, puas, bangga, tersanjung, melayang-layang …. Sayangnya perasaan seperti ini tidaklah lama. Mungkin sama seperti kalau seseorang berada di puncak gunung, pasti juga tidak akan tinggal lama disana.  Ada saatnya harus turun.
Ketika aku mencapai puncak kehidupan, seharusnya saat itu aku melihat pemandangan hidup yang  dikaruniakan kepadaku. Ketika di puncak gunung, jelas sekali alam ciptaanNya pasti luar biasa indah. Sayangnya, sering aku lupa bahwa ketika aku berada dipuncak kehidupan, bukan karena kuasaNya, melainkan aku pikir itu berkat usaha kerasku. Itulah yang membuatku terlena, ketika rasa puas dan bangga merasuki hati. Apalagi menerima sanjungan, kehormatan, puja-puji dan kekaguman yang melenakan. Semuanya membuatku lupa, bahwa ada saatnya turun.  Turun untuk menyadari bahwa aku bukan apa- apa dan juga bukan siapa-siapa tanpaNya.

Turun
Baru sekarang aku tahu, kalau kita turun gunung sebaiknya menggunakan sepatu yang longgar. Setidaknya satu nomor di atas ukuran sebenarnya. Gunanya supaya ketika kaki mendesak ke depan, masih ada ruang yang cukup sehingga tidak sakit. Apalagi beban orang yang turun, katanya sampai 7 kali berat badan kita. Waduuuh… pasti berat sekali..
Seberat ketika aku sadar saatnya turun sudah tiba. Saatnya melepas, meninggalkan berbagai perasaan indah ketika kemarin mencapai puncak cita-citaku, yang kuperjuangkan habis-habisan. Melepaskan perasaan bangga, tersanjung, bahagia, melayang-layang akan berbagai puja dan puji…. Ternyata berat. Ingin berlama-lama dalam perasaan seperti itu. Tapi aku harus turun. Kembali menyadari kepapan yang kumiliki. TanpaNya, semua tidak mungkin bisa kuraih. Sama seperti butuh sepatu yang longgar ketika turun supaya tidak sakit. Ternyata akupun membutuhkan kelonggaran hati untuk menerima ini semua dan kerendahan hati untuk bisa menghayati kuasaNya. Mensyukuri segala sesuatu yang telah dicapai selama ini. Hati yang longgar dan lapang, akan mengurangi beban hidup, rasa sakit yang mendesak… dan membantuku menikmati perjalanan turun dengan kedamaian.


Tidak ada suatupun yang lebih baik bagi jiwa daripada kerendahan hati.
Dalam kerendahan hatilah terletak rahasia kebahagiaan,
Yakni, ketika jiwa mengetahui bahwa dari dirinya sendiri,
Kita hanyalah kepapan dan kehampaan,
Dan bahwa apapun juga harta yang kita miliki
Semua itu adalah anugerah dari Allah.
(BHSF. No 593)

(Thanks untuk cerita pengalaman naik G.Gede yang ditulis Tiong Sien… dan juga BHSF-Bacaan Harian St. Faustina yang selalu dikirim sahabatku Helena Winarti se tiap pagi)

Tuesday, July 5, 2011

TabunganNya

Sebagai orang tua, hal yang paling menyedihkan adalah ketika aku tidak bisa memenuhi kebutuhan anakku terutama dalam pendidikan. Kalau dalam hal kebutuhan primer, masih bisa di toleransi, tapi dalam pendidikan rasanya nggak ada toleransi. Setidaknya itulah pendapatku.
Bulan Juli 2009, saat yang menyedihkan buatku ketika aku harus membayar biaya semesteran anakku dan aku tidak memiliki dana sama sekali.
Dengan sedih aku membuka amplop laporan rekening yang tergeletak di atas meja riasku, yang sudah kubiarkan beberapa hari di sana karena memang sudah tidak ada dana disana. Tapi entah kenapa saat itu, aku ingin sekali membukanya. Padahal sejak Maret lalu, di sana sudah tidak ada dana aku tidak pernah membuka amplopnya karena aku pikir sia-sia saja, toh yang akan kudapati hanya angka 0.
Dengan sembarangan aku membuka amplop. Tiba-tiba aku melihat angka aneh!...$ 500 di kolom balance!.. kuamati... dengan seksama... bener nggak??? lalu kuletakkan lagi. Ah paling salah lihat!
Tapi tanganku akhirnya meraihnya lagi. kok aneh.. kok ada $ 500 disana?? dari mana?? kenapa kalau ambil lewat ATM selalu dibilang dana sudah kosong?? tapi kok masih ada.
Penasaran.. aku membongkar-bongkar lagi amplop-amplop laporan dari bank, yang sejak Maret tidak pernah kubuka. Cuma kulempar saja ke kotak surat-surat, tanpa keinginan membukanya sama sekali. Dengan penasaran aku urutkan dari Maret sampai dengan Juni.
Ya Tuhan... sejak Maret.. ternyata di tabunganku masih ada $ 500... dan tetap utuh sampai dengan bulan Juli ini. Kok bisa???
Dengan berdebar-debar, aku telpon ke Bank, memastikan apakah saldoku benar seperti yang tertera dalam laporannya. Jawabnya, BENAR... piye ki???
Bergegas aku ditemani anakku ke Bank. Kami disambut dengan ramah oleh CS yang sudah sangat kami kenal.
Butuh beberapa waktu untuk mencari tahu kenapa dana tersebut tidak bisa aku ambil lewat ATM. Jawabnya sederhana... "karena kami blokir bu".. kenapa??? aneh sekali...
Setelah beberapa saat kami menunggu, akhirnya data ditemukan. "ibu pernah mengadakan transaksi menggunakan dollar di Semarang sekitar bulan Februari?" lama aku mengingat... maklum pikiran jadi ruwet sendiri dengan pengalaman yang tak terduga ini. Untung ada anakku dan dia ingat... "iya ma... kan waktu itu beli tiket Singapore nya di Semarang, pakai dollar..." nah ketemu sudah... trus kenapa di blokir???
Pihak bank bingung juga, tapi kemudian memberikan alasan yang lumayan masuk akal " mungkin waktu itu, ada kerusakan di komputer bu, kemudian dana ibu di blokir sejumlah dana yang dipakai untuk membeli tiket, supaya tidak ikut kepakai untuk belanja. Ya maksudnya demi keamanan Bank. Cuma kami mohon maaf karena lupa mengaktifkan lagi..." Saat itu juga, danaku diaktifkan lagi, dan aku bisa menyelesaikan pembayaran semesteran anakku.... Terimakasih Tuhan...
Haruskah aku marah pada Bank? haruskah aku menyesali kemalasanku membuka amplop? Bukankah dana yang di blokir tersebut justru menyelamatkan anakku dan memperlancarkan pendidikannya. Kemalasanku membuka amplop laporan bank sejak bulan Maret, justru menyelamatkan dana tersebut. Coba aku tahu sejak bulan Maret, mungkin sudah langsung aku urus ke Bank dan mungkin sudah habis...
Danaku ditabung olehNya. Diberikan disaat aku sangat membutuhkannya... tepat waktu... dan indah pada waktunya.
Tidak ada yang sia-sia. Bahkan kesalahan Bank, kemalasanku, semua indah bagiku.... aku serahkan seluruh hidupku kepadaNya. Biarlah Dia yang menuntunku.. menguasaiku dan menggerakan hidupku.... karena bersamaNya tidak ada yang sia-sia.

Monday, July 4, 2011

Masterchef Kehidupan

Kalau nonton acara Materchef di TV, banyak yang tergila-gila dengan chef Juna yang katanya "yummy and sexy".. terutama gadis remaja dan ibu-ibu. Tapi aku malah ngefans si gadis manis Rahmi. Wajahnya yang manis, selain enak dilihat dan gak mbosenin, juga aku melihat perjuangannya dari setiap kompetisi yang dia jalani. Penuh semangat dan tidak putus asa.
Acara kemarin dia dapat pin masterchef.. yang diberikan dengan tidak simpati oleh chef Juna.. mbok ya di sematkan di bajunya gitu lho.. mosok cuma diberikan begitu saja. Rasanya kok kurang menghargai dia...
Kenapa aku lebih tertarik ke Rahmi??
Justru karena dia sering banget nyaris-nyaris keluar dari pertarungan adu masak ini. Tapi dia tetap tegar dan selalu lolos. Bahkan ketika di melawan tim hitam berwajah sangar, kalau gak salah namanya Marcella... waduh tegang banget ngeliatnya. Sementara Marcella nampaknya udah pingin banget mendepak dia dan menggantikan posisinya... eeee ternyata Rahmi yang menang.
Ikut sedih juga ketika dia bilang "aku lagi... aku lagi"... ketika harus menjalani pressure test.. rasanya kasihan banget..
Tapi hingga saat ini dia masih bertahan bersama 7 orang lainnya. Aku salut banget dengan dia...

Melihat perjalanan Rami di masterchef ini, aku jadi ingat materi khotbah kakakku, ketika aku tinggal di Ungaran beberapa bulan lalu... yaitu tentang ikan dan penggorengan.

Ikan akan matang dengan sempurna kalau digoreng di penggorengan (wajan) yang tepat, dengan ukuran yang sesuai. Ya iyalah... ikan besar di penggorengan kecil.. mesti di potong-potong dulu pasti gak utuh hasilnya... dan mungkin juga kematangannya kurang sempurna.
Ikan gambaran dari berkah yang diberikan kepada kita, dan kita adalah penggorengannya. Untuk menjadi penggorengan yang lebih besar.. kita mesti rela di pukul-pukul... dibentuk...
Pasti sakit... dan juga buatnya lebih lama dibandingkan penggorengan yang kecil. Berarti butuh kesabaran dan kerelaan untuk dibentuk lebih lama.
Tapi lihat... setelah penggorengan menjadi besar.. pasti ikan (berkah) yang besar pun bisa dimasak dengan sempurna... dan hasilnya... pasti yummmyy...
Rahmi yang sering banget kena pressure test.. menurutku, justru membuat dia semakin ahli. Bayangkan, dia menjadi lebih sering masak dibandingkan dengan yang lain. Artinya, dia jadi semakin ahli kan?? trus dalam keadaan tegang dan waktu yang terbatas, dia harus memenangkan lomba.. jadi makin lama, dia makin tegar dan kuat... pastilah dia lebih punya pengalaman dibandingkan peserta lainnya... ini luar biasa..
Rahmi membuat aku melihat ke dalam diri sendiri. Apa pun yang terjadi dalam kehidupanku, ini semua latihan hidup yang diberikan Tuhan padaku. Emang susah dipahami, karena aku tidak tahu sedang mengikuti perlombaan apa, dan harus memenangkan apa...??
Tapi menikmati diri sedang dibentuk olehNya, membuat aku bisa menikmati hari-hariku dengan lebih baik. Menikmati segalanya dengan rasa syukur.
Perlahan, Tuhan membukakan mataku... Ikan besar tersedia bagiku. Anak-anaku yang sudah lulus dan bekerja, kesehatan, dan juga kegembiraan setiap hari. Walaupun, tidak disangkal pasti berat pada awalnya... namun akhirnya menjadi biasa ketika aku dengan ikhlas menjalaninya.
Hhhhmmm... bagi yang lagi merasa ditempa.. nikmati diri Anda sedang dibentuk menjadi penggorengan yang lebih besar... pasti ada ikan besar yang akan dimasak olehNya... Masterchef Kehidupan.

Sunday, June 26, 2011

Kue Hermin dari Vatikan

Roti Hemin dari Vatikan

by Lilik Kardiani on Tuesday, April 28, 2009 at 10:37am

Ketika aku ditawari teman untuk membuat roti Hemin dari Vatikan, aku langsung setuju. Apalagi syaratnya aku belum pernah buat. Karena memang roti itu hanya bisa dibuat once in a lifetime, jadi aku malah jadi exciting banget. Anehnya ketika aku bilang "ok... besok tak ambil..." temanku bilang "nggak bisa mbak, harus sekarang... biar doanya nggak putus".... wah ini bener-bener unik.
Akhirnya sore itu, pulang dari Klaten aku makan dulu karena sudah kelaparan, trus langsung kerumahnya. Nggak nyangka bentuk adonan kuenya itu kental seperti susu kental manis kalengan... lhoh apa nggak bau kalau di olah selama 9 hari.. apalagi gak boleh dimasukkan ke kulkas... "yah.. ini uniknya, nyatanya punyaku juga gak bau tuh...." kemudian dia mengeluarkan kue hemin yang sudah dimasak. Rasanya lumayan enak juga...
Memasak adonan ini, harus penuh dengan ketelatenan dan doa. Begitu aku mendapatkan adonanya, malam itu juga aku harus mulai berdoa novena hati kudus pada jam yang sama. Aku pilih jam 10 malam. Bisa dipastikan jam 10 itu aku sudah ada di rumah.
Doa yang diucapakan selama 9 hari adalah doa Padre Pio dan Novena Hati Kudus Yesus.
Adonan tersebut selain hanya boleh dibuat sekali seumur hidup, tidak boleh kena tangan dan harus ditempatkan di tempat kaca ditutup plastik, diletakkan di ruangan dengan suhu ruangan yang ada dan mengaduknya dengan kayu.
Hari pertama dan kedua didiamkan saja.
Hari ketiga dan keempat diaduk pakai kayu sekali saja sehari.
Hari kelima, ditambah gula segelas, tepung 2 gelas dan susu segelas.. setelah diaduk rata didiamkan lagi.
Hari ke 6 sampai dengan ke 9 hanya diaduk sekali dengan kayu sehari sekali.
Pada hari kesepuluh, kembali adonan ditambah gula segelas, tepung 2 gelas dan susu segelas..kemudian setelah diaduk rata, dibagi 4 bagian. 3 bagian lainnya dibagikan ke kerabat atau teman yang belum pernah menerima roti hemin dan mau mengolahnya.
Yang satu bagian ditambah telur 3 butir, gula 1/2 gelas, mentega 1/4 gelas dan backing pawder 2 sendok teh.
Bakar di oven dengan panas 250 derajat selama 25 menit.... jadi deh!...

Nikmati rotiHemin yang penuh berkat ini untuk seluruh keluarga....

Yang luar biasa adalah ketika teman anakku datang, dan dia mengatakan sudah pernah mengolah roti ini ketika SMA, itu berarti sudah 7 tahun lalu... bagaimana mungkin adonan itu tidak bau??? tapi ada juga yang punya pengalaman adonan itu bau karena terlewat satu hari mengaduknya.... aneh ya....

Bagiku ini adalah berkah. Dan doa kitalah yang utama....

Saturday, June 25, 2011

kriuuuukkk....kriuuuukk

Duduk di lantai bersandar tembok,
Di depan handukku di jemur di kursi…
Garis- garis di handuk sejajar dengan bayangan
Matahari di sore hari.
Iseng…
Kuamati gerakannya naik perlahan
Ternyata cukup jelas diamati dengan kasat mata

Betapa cepatnya hari berlalu…
Usia beranjak semakin senja
Anak-anak tumbuh dewasa

Kunikmati kerupuk
Kriuuukk… kriuuukk
Sambil mendengar celoteh anakku
Tentang mimpinya untuk membalas budi
Kepada kami, orangtuanya

Dengan menjaga kesehatan kami
Dengan mendukung apa pun keinginan kami
Dan selalu memastikan bahwa kami bahagia

Airmataku mengambang
Kukatup bibirku erat
Dan air mata mengalir
Menghangati tenggorokanku..

Celotehnya semakin riang… bergairah
Memimpikan kerewelan dan kepikunan kami
Nantinya…

Kunikmati kerupuk
Kriiuuukk… kriuuuukkk
Dan tenggorokanku semakin tercekat..

24 Juni 2011
17:17
Di kamar kost anakku,
Terimakasih nak.. untuk mimpimu yang indah…
Mimpi itu saja sudah cukup

Thursday, June 16, 2011

Sepeda Kehidupan


Pagi itu, aku melakukan perjalanan ke Semarang dari Wedi-Klaten, hanya berdua dengan kakakku. Dia kakak lelaki nomor dua dan usianya sudah 65 tahun. Menduda 16 tahun dan sudah tidak berniat menikah lagi. Setiap kali ditanya, apa nggak pingin menikah lagi? Dia selalu menjawab “wah.. nanti malah repot aku ngga bisa sepedaan lagi…”. Ketiga anaknya sudah menikah, dan dia memilih untuk hidup sendiri ditemani ketiga anjingnya.

Emosi

Aku tergelitik untuk ingin tahu, apa yang paling berat dalam kegiatan bersepeda? Dengan enteng dia menjawab “emosi”… maksudnya?? “emosi itu yang paling menguras energy…”. Nah apa saja yang bisa membuatnya emosi? Kakakku menjelaskan dengan penuh semangat.
Pertama, kalau tiba-tiba ada yang menyalip kita dengan sepeda yang lebih jelek kualitasnya dari milik kita… langsung emosi.. kok bisa?? Masak kalah sepedaku dengannya??
Kedua, kalau yang menyalip kita ternyata usianya lebih tua dari kita… emosi langsung memuncak… masak kalah kuat dengan orang yang lebih tua dari kita. Apalagi kalau sepedanya lebih jelek… wah emosi memuncak… hahaha… dia memang lucu kalau cerita.
Ketiga, kalau teman seperjalanan kita agak jauh di depan kita, ada rasa takut ketinggalan. Apalagi kalau kita ada ketergantungan dengan dia, misalnya teman tersebut yang paling pintar memperbaiki sepeda kalau terjadi sesuatu. Memang sih ada HP, tapi sering nggak terdengar, maklum sudah tua semua… hehehe
Keempat, kalau ada jalan naik turun yang nggak selesai-selesai… awalnya penuh semangat.. lama-lama emosi… kok nggak lurus-lurus ya  jalannya. Akhirnya bisa frustasi juga…
Lhoh… kok sepertinya menggambarkan kehidupan kita ya….??

Sepeda kehidupan

Naik sepeda seperti menjalani hidup. Ketika kita melihat orang yang lebih tua kok lebih sehat dan bersemangat… jadi emosi juga, masak sih aku kalah dengannya. Atau melihat yang usianya lebih muda sudah sukses dan makmur hidupnya. Juga ketika kita melihat orang yang lebih menderita dari kita tapi hidupnya bahagia. Aneh….
Ketergantungan dengan orang lain, juga membuat kita tergelitik emosinya. Ada perasaan takut kehilangan, takut ditinggalkan… kehilangan percaya diri.. minder dan hal ini benar-benar bisa menguras energy kita.
Menjalani kehidupan yang naik turun tajam dan nggak berhenti-henti juga membuat kita emosi dan putus harapan. Kapan sih bisa tenang dalam menjalani hidup ini. Pingin bisa menikmati hidup yang lurus, nyaman, tentram dan damai.
Aku jadi ingat di salah buku tulisan Bondan Winarno… ada cerita orang yang sering mengeluhkan berbagai persoalan yang dihadapinya. Ingin sekali  merasakan kehidupan yang tentram damai tanpa persoalan. Temannya yang bijak membawanya berjalan-jalan untuk menunjukkan tempat dimana kita bisa terbebas dari berbagai persoalan dan.. dia diajak ke suatu tempat yaitu  KUBURAN…. Hahaha….

Kompetisi

Aku berkomentar..” lha ngapain emosi toh mas… kan bersepedaan gitu  bukan kompetisi toh”… dia ketawa… “ya iya… Cuma kok ya masih sering emosi juga kalau pas di jalan”. Rasanya, pengalaman bersepeda kakakku, seperti halnya pengalaman menjalani kehidupan. Hidup juga bukan kompetisi. Seperti halnya bersepeda. Tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Kalau hidup dinilai dari materi duniawi. Mudah sekali ditemukan siapa orang terkaya di dunia. Tapi, benarkah dia pemenang dalam kehidupan ini???
Setiap kali kita bersepeda, pasti ada tempat yang dituju. Apapun cara yang ditempuh. Apapun rintangan yang kita hadapi di perjalanan, yang penting sampai ke tujuan dengan selamat.
Lalu, tujuan hidup kita apa?? Aku pernah tidak bisa menjawab ketika seseorang menanyakan pertanyaan ini ke aku. Kemudian dia mengatakan bahwa tujuan hidup kita ya “kematian”. Maksudnya, bukan terus kita mati saja, bunuh diri… selesai!!... bukan itu…
Kita semua pasti akan mati. Kapan, bagaimana…??? Tidak ada yang tahu. Yang jelas pasti akan sampai kesana juga. Tidak bisa dihindari, dan tidak bisa ditawar..
Yang penting, bagaimana kita mempertanggung jawabkan hidup kita ini kepadaNya??.. mungkin… (karena aku belum pernah mati.. jadi ya ini kemungkinan saja)… Tuhan akan bertanya “Lik… kamu ngapain aja di dunia?? Sudah jadi ibu yang baik?? Sudah jadi istri yang baik? Sudah menjadi seseorang yang baik?? Sudahkah talenta yang kuberikan kamu kembangkan dengan baik dan berlipat hasilnya??”… mungkin begitu..
Setiap manusia memiliki peran sendiri dalam hidupnya. Bukankah hidup seperti panggung sandiwara. Kita tidak perlu memusingkan kenapa mereka begini, begitu… yang penting apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain dengan peran yang sedang kita lakonkan. Mungkin itu maksudnya kata “dilakoni”, yang bisa diartikan “dijalani”… tapi juga bisa diartikan “di lakon (peran)kan”.

Di lakon(peran ) kan dan dijalani

Aku minta tips ke kakakku… bagaimana menghadapi rasa frustasi ketika meniti jalan yang naik-turun nggak brenti-brenti… pasti melelahkan dan menguras energy yang luar biasa. Dia menjawab… “ya dijalani saja… kalau melihat ke depan masih naik turun dan melelahkan, ya menunduk saja…” Menunduk dalam kehidupan kita bisa menggambarkan bagaimana kita berdoa, merefleksi diri dan berserah kepadaNya.  Tiba-tiba dia tertawa ngakak… lhoh….kenapa???
Ternyata dia ingat.. ketika dia menunduk sambil bersepeda, ada mobil berhenti ditabrak… hahahaha….
Menunduk ya menunduk… tapi harus tetap waspada. Walaupun kita sudah berdoa, kita juga tetap harus waspada. Dengan berdoa kita melatih kesabaran, mempertajam naluri, bersikap rendah hati terhadap sesama dan kepadaNya. Begitu banyak tantangan dan godaan di sekitar kita yang membuat kita lalai. Kewaspadaan diperlukan supaya kita bisa ke tujuan dengan selamat. Hingga tiba saatnya,mempertanggungjawabkan hidup kita kepadaNya.

Monday, June 13, 2011

Error Day

masa depanku
Hari Minggu... seharian aku error...
Pagi-pagi ketika aku buat 3 cangkir kopi, buatku, mas Totok dan Mirta.. tiba-tiba Mirta komentar " itu emang ngaduknya berkali-kali toh ma..." lho kenapa?? ternyata aku ngaduknya bolak-balik dari satu cangkir ke cangkir satunya dan diulangi lagi. Masak sik??? isih ngenyel... Mirta cuma mesam mesem...
Selesai masak dan bersih-bersih.. aku dan Mirta ke Jogja, mau nyari kost untuk dia. Mirta kembali ke Jogja, karena dia dapat pekerjaan di Jogja sebagai PR... jadi dia sudah kembali lagi ke pekerjaan yang sangat dia sukai.
Beruntung sekali, semua berjalan lancar... kayaknya lancar-lancar aja... gak ada yang error...
Karena pagi gak sempat ke gereja. aku mau ikut misa di Gereja Wedi. katanya kalau sore jam 4. karena berangkatnya cuma jalan kaki aku biasanya berangkat 20 menit sebelumnya. Mas Totok masih menyelesaikan pekerjaan, sementara Mirta pusing karena kecapekan dan kepanasan di Jogja. Yowes aku berangkat sendiri aja.
jam 3.30 aku sudah selesai mandi. mestinya jam 3.40 aku sudah berangkat ke Gereja... tapi entah kenapa..kok diotakku yang tak ingat, aku nanti berangkat jam 4.10. jadi setelah selesai dandan, aku malah ngerenda sambil nunggu waktu...
Mirta nanya.... "lho gak jadi ke gereja to ma??" aku ya jawab santai... nanti jam 4.10.. trus ngerenda lagi...
Tiba-tiba mas Totok masuk... setelah hampir jam 4.10.... 'lho gak sido mangkat to???" aku masih nyantai juga.... bentar lagi... mas Totok tambah heran..lha kan gerejanya jam 4..??!! hah... aku kaget, malu, nyesel.... campur aduk... piye tho???? kok bisa di otak yang nyantel berangkat jam 4.10, sementara gereja mulai jam 4.... error tenan!!... yah telat dah... gak jadi ke Gereja... padahal wis terlanjur dandan...
ya sudah nonton TV aja. waktu itu yang dilihat Trans... ada iklan Big Movie yang main Angelina Jolie.. gak tahu judulnya. Tiba-tiba aku ingat sesuatu trus nyeletuk "coba lihat Trans TV.."... Mirta ngelihat aku sambil heran terus ngakak... "mama ki piye toh... lha ya ini trans TV....' masih dodol lagi aku nanya ..."nah yang satunya apa???"... ya ampuuun ternyata trans 7... hahaha....
haduuuh... kok error terus ki kenapa ya???
aku jadi ingat ibuku... dulu kami sering mentertawakan ibu, karena komentarnya yang aneh dan lucu... kalau gak salah ya usianya waktu itu 50 an lebih lah. Panggil nama suka salah-salah. Pernah suatu kali ibu menerima telpon dari temannya.... komentarnya cuma "oya... ho oh... begitu... trus... " kata-kata pendek.. gak jelas gitu. kami yang ada di dekatnya penasaran ibu ini telpon sama siapa?? otomatis kami focus ke ibu yang baru telpon... tiba-tiba ibu berkata menutup pembicaraan... "ya sudah bu mujaher... terimakasih..." langsung kami sponton cekakakan.... ibu ini telpon sama siapa?? kok bilangnya bu mujaher (nama jenis ikan).... ibu dengan polosnya bilang..."bu Jumahir.." kami tambah cekakakan sampai sakit perut. ibu dengan polosnya cuma bilang waduuuuh... tersinggung ga ya.....???

Masih cerita tentang ibuku. Suatu hari beliau minta antar ke dokter mata, karena sudah mulai kesulitan membaca. Setelah tahu ukuran mata ibu ternyata sudah plus, maka beliau kami antar ke optik untuk mencari kaca mata yang cocok. Akhirnya dipilih satu frame kaca mata yang cocok, setelah mantap dicoba ibu komentar " kok podo wae... gak ono bedane..." hahaha... ya ampuuun ibuuu... lha wong belum ada kacanya... kan cuma frame tok.... hahaha...

Sekarang, rasanya aku sudah sampai juga di masa itu... salah sebut, salah panggil, dan sering melakukan hal-hal yang bikin ketawa anak-anak. harus punya kerendahan hati untuk menjadi bahan tertawaan anak-anak. lha wis gimana lagi.... sampun ngunduri sepuh... hehehe...
malam hari.. masih nekad ngerenda.... walaaaah... salah satu deret.. jadi mesti di dedel lagi...
langsung mirta komentar " udah ma tidur aja... seharian ini udah error terus..."

Oya.. Mirta sempat kawatir lihat aku, trus telpon Tito... malah komentarnya "itu biasa kok mbak... ibu temenku malah lebih parah... ceritanya, ibu temennya lihat foto anaknya trus komentar "dik, ini kamu foto dimana??" anakknya heran... "lho ma... itu kan foto di rumah kita??".. ibunya dengan kalem menjawab "oooo... pantes kok tempatnya familiar..." hahahaha... ternyata ada juga yang error.....
yowes... kumatikan lampu dan tidur aja...