Pages

Sunday, January 22, 2012

Pasang Surut Kehidupan

Orang boleh menggambarkan hidup ini seperti roda. Kadang di atas…. Kadang di bawah. Perumpamaan ini menurutku menjadi berat di hati. Di saat berada di bawah, rasanya berat dan berangan-angan kapan bisa berada di atas. Sementara, mungkin di saat kita berada di atas kita tidak merasakannya. Tetap merasa di bawah dan berangan terus berada di atas. Itu sebabnya orang tidak mudah bersyukur untuk apa yang telah dimiliki saat ini. Karena situasi  di atas dan di bawah itu relative.

Beberapa hari tinggal di pantai… berjalan-jalan dan kemudian duduk di tepian, aku mengamati ombak yang tidak pernah berhenti bergulung.  Dan aku merasakan sebuah wujud kehidupan yang baru.
Pagi ini, sedikit terlalu pagi aku berjalan di pantai. Karena semalam, entah kenapa aku tidak bisa tidur nyenyak seperti biasa. Hingga alarm hp ku berbunyi seperti biasa jam 4.30. melihat langit sudah terang, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di pantai.

laut surut

Laut saatnya surut. Pantai menjadi sangat landai,  hingga aku bisa berjalan hingga ke karang di tengah laut. Batas ombak di tepi pantai di saat pasang laut semalam masih kelihatan. Dan pagi ini, ombak hanya sampai jauh di tengah di dekat karang. Air yang mencapai bibir pantai hanya sedikit… menggenang seperti habis hujan. Tanpa gerakan sama sekali.
Debur ombak di tengah laut terasa jauh….

Hidup lebih tepat bila dikatakan pasang dan surut. Setidaknya, aku lebih menyukainya dari pada seperti roda yang berputar... di bawah dan di atas.
Sebetulnya, kita berada di tempat yang sama. Hiduplah yang mengalami pasang surut. Ini begitu nyata. Kita akan tahu persis kapan kita sedang dalam situasi surut. Yaitu, disaat semuanya terasa jauh. Seperti ditarik mundur dan tersedot semua ketengah laut. Ada yang hilang baik materiil maupun moril. Materi yang ada menjadi tidak ada. Jiwa yang kehilangan semangat, keyakinan, harapan dan cita-cita. Kini aku sadar, bahwa ini semua hanya sementara. Ketika surut, semua seakan hilang, tapi tidak….

laut pasang
Ada saatnya, pasang tiba. Ombak di kejauhan semakin mendekat, membawa air yang lebih banyak dari sebelumnya. Deburnya semakin menggugah semangat. Membangun keyakinan dan harapan untuk meraih cita-cita. Dan cintaNya semakin nyata, ketika busa ombak menyentuh kaki kita. Pergi sebentar… dan kembali lagi hingga kaki semakin dalam terendam dan gerakannya menggoda untuk bermain denganya.
Inilah hidup yang sebenarnya. Waktu kita hanya 24 jam sehari. Tiap pukul 3 pagi laut surut dan 4 jam kemudian kembali pasang. Dan jam 3 siang kembali surut, untuk kemudian pasang hingga pukul 3 pagi hari berikutnya.
Lihatlah… betapa pasang laut lebih banyak waktunya dari pada surut…. Betapa berkah diberikanNya  lebih banyak sepanjang hari.

Apakah cintaNya juga mengalami surut dan pasang?
Pasang dan surutnya lautan adalah proses alam yang harus terjadi. Dia lah yang menciptakan ini semua. Dia ada diatas segala yang pasang dan surut.  Justru kita harus bertanya diri sendiri, surutkah kepercayaan dan cinta kita kepadaNya? Atau masih ingatkah kita kepadaNya, disaat kita mendapat kelimpahan? Dan kemudian merasa ditinggalkan ketika surut kehidupan datang…

Jiiiii.....rroooo....llluuuuuu...!!!!!

Kalau Saipan tidak kelihatan, aku selalu bertanya,
“saipan nang endi mbak Parmi… kok ra ketok?” saipan mana kok nggak kelihatan? Tanyaku
“pun mandap bu…” sudah turun bu… maksudnya turun ke laut bersama kapalnya. Kapal yang bernama Fortune, itu milik Saipan. Kapal itu dia dapatkan dari seorang bapak, pemilik pabrik tekstil dari Salatiga. Beliau membelikannya karena Saipan membantunya membeli tanah disini. Karena Saipan tidak mau diberi uang, maka dia dibelikan kapal, juga tanah dan rumah yang sekarang dia tempati.

siap melaut
Turun ke laut, mencari ikan biasanya cukup berdua. Tapi untuk mendorong kapal ke laut butuh bantuan 2 atau 3 orang lagi. Ketika kapal menyentuh laut yang sedang pasang, beban para pendorong menjadi ringan. Kapal diputar menghadap laut, mesin dinyalakan dan mereka siap berlaga di laut lepas.
Ini lah penghidupan utama para nelayan. Melaut, menjadi bagian dari hidup mereka. Menerjang ombak ketengah laut. Mengadu untung atau buntung. Mereka bisa datang dengan berkilo-kilo ikan berbagai jenis. Atau tidak sama sekali.
Apa pun yang mereka peroleh di tengah laut, menjadi hak mereka berdua. Orang-orang yang membatunya mendorong kapal turun ke laut, hanya sedang membantu.

Demikian pula ketika kapal kembali pulang.
Deru mesin kapal sudah terbiasa bagi telinga mereka.
“ayo tarik… kapale teka”…. Aku bahkan tidak mendengar sedikitpun suara mesin kapal yang datang, karena berbaur dengan debur ombak yang keras. Tapi mereka tahu….
Butuh banyak orang untuk menarik kapal. Sekitar 10 orang berlarian kelaut menyambut setiap kapal yang datang.
Aku dan zulu ikut berlari ke tepi pantai. Tidak ikut membatu karena tidak boleh. Bukan pekerjaan wanita, katanya… hahaha….
jiii....rroooo....luuuuu!!!!
“ji….ro….luuuuuu” tuuu….wa….gaaaa…. aba-aba diteriakkan dan mereka serempak menarik kapal. Berkali-kali aba-aba diteriakkan… kapal bergeser naik sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya aman terparkir di pinggir pantai.
Saatnya melihat hasil…. Beruntung atau buntung?

Yang aku kagumi di sini, nelayan kental persaudaraannya. Mendorong dan menarik kapal membutuhkan tenaga yang luar biasa. Mereka tidak mendapatkan bayaran apa pun. Selain di saat mereka turun atau naik laut… pasti ada yang membantunya. Saling tolong menolong dan bergotong royong menjadi kekuatan dalam hidup bersama.  Tidak perlu ada surat perjanjian, atau tertulis hitam di atas putih. Semua sudah tercatat dalam hati dan jiwa mereka sejak mereka lahir. Tak akan mungkin terhapuskan hingga kapan pun.

Offline, ATM dan facebook

Ternyata kemajuan teknologi komunikasi dan perbankan sudah meluas sampai ke Pantai Ngandong. Walaupun nampaknya terpencil, tapi warga yang tinggal di sekitar pantai Sundak dan Ngandong sudah maju dalam hal komunikasi, terutama Hp. Hampir semua orang memiliki HP. Model lama tidak masalah, yang penting bisa dipakai. Bahkan Hp mereka lebih mudah menerima sinyal dari pada HP ku, entah kenapa…

hp ditempel dan diikat pakai karet gelang, sinyal full!!
Setelah melihat aku beberapa kali menerima telpon di tengah parkir, dibawah pohon dekat TPI, atau bahkan harus naik ke bukit tempat resort de Crabs berada, pak Jiman menawarkan sesuatu yang menakjubkan.
“di rumah saya saja bu, tinggal di tempel di antena saja kok…” Ternyata di rumahnya, yang bersebelahan dengan rumah Saipan ada antena yang memudahkan aku untuk mendapatkan sinyal. Lucunya, alat tersebut hanya sebuah kotak tipis sebesar Hp yang dibungkus lakban (isolasi dari kertas). Entah isinya apa. Kotak tersebut disambungkan ke kabel tebal yang dihubungkan dengan antenna di atas rumahnya. Hpku tinggal di tempel dengan karet gelang. Dan sinyal langsung full….. ajaib!! …. Langsung tawarannya untuk menggunakan kapan saja aku sambut dengan gembira.

Beberapa hari disini, aku melihat kemajuan yang luar biasa dari masyarakat. Ketika kakakku mengirimkan uang via bank untuk membangun kamar baru, Parmi, istri Saipan langsung mengambilnya ke desa terdekat dimana bank tersebut berada. Beberapa jam kemudian dia kembali dan mengeluh:
“wah uangnya gak bisa diambil, karena offline…” katanya sambil mengelap keringat di dahinya.
“lhoh disitu ada ATM tho?” kataku terpana, karena dia mengenal juga istilah offline.
“oh enggak, ATM hanya di Wonosari. Ini banknya kok bu, katanya offline, jadi uangnya belum bisa diambil”… oooo rasanya kok aku seperti nggak di Pantai Ngandong yang nun jauh disana ya… serasa di kota saja.

Belum lagi aku heran dengan apa yang kuhadapi hari ini, teman Parmi yang bernama Desi (bahkan ini juga bukan nama anak desa), datang dengan penuh semangat. Desi punya kios pakaian di Pantai Sundak. Sudah waktunya untuk berbelanja untuk menambah dagangannya. Kabarnya, berbelanja di Solo lebih murah dari pada di Jogjakarta. Tapi, akan lebih murah lagi kalau belanjanya bersama-sama, biaya transport bisa ditanggung bersama. Terjadilah rapat kecil di rumah saipan. Beberapa pedagang berkumpul untuk merencanakan keberangkatan mereka ke Solo. Jumat  menjadi pilihan hari yang tepat, karena sepi.

Walaupun asik di depan lap top, telingaku kubuka lebar untuk mendengar pembicaraan mereka. Aku tidak bisa menangkap dengan jelas apa yang mereka bicarakan, namun aku mendengar istilah ATM, transfer, bahkan layar sentuh (touch screen)… ketika pembicaraan menyimpang perihal HP tercanggih. Aku tersenyum sendiri dalam hati…. Ternyata… oh.. tenyata… ini bukan lagi desa atau pantai tertinggal… syukurlah…

Dan ketika sore hari aku berkesempatan ngobrol dengan pak Jiman, yang tadi menawarkan antenanya untuk mendapatkkan sinyal HP, ternyata dia juga punya facebook!... alamak!!...  pantas dia adalah nelayang paling kaya dan maju disini. Aku jadi merasa bukan di tempat terpecil, tempat para nelayan tinggal. Aku tinggal di kota yang bernama Pantai Ngandong…. Hahaha…

"krasan bu...???"

Di hari kelima aku di Pantai Ngandong… sapaan yang muncul hampir sama.
“krasan bu?”
“taksih betah to bu?”
“lhoh.. taksih nginep mriki to bu?”
Wah… kok jadi mereka yang mengamati aku. Padahal mestinya aku yang mengamati kehidupan mereka selama aku disini. Tapi aku bisa menerima keheranan mereka. Hidup… jauh terpencil dari dunia luar. Listrik hanya 3 jam setiap hari. Tidak ada hiburan. Dan tidak ada teman.
Makanan, bagi mereka tidak pantas disajikan untuk orang kota seperti aku. Ini pendapat mereka. Suatu hari Parmi menyajikan lobster untukku. Tapi aku tolak, karena aku tidak berani makan lobster, udang, cumi, gurita, yang menurut mereka ini kesukaan orang kota, karena mahal harganya. Kolesterolku sudah terlalu tinggi. Lagi pula aku tidak begitu suka seafood. Aku lebih lahap makan sayur papaya ala Parmi yang tidak pahit, dengan sambal dan tempe atau tahu goreng.
Selama ada laptop, buku bacaan dan renda, aku krasan. Banyak hal baru dan menarik disini. Para nelayan, istri dan anak-anaknya sangat ramah. Mereka selalu menyapaku, juga zulu. Aku tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu.

Di TPI, ada seorang karyawan bernama Deru yang HPnya selalu mendapat sinyal bagus. Setiap kali suamiku telpon, dia akan melambaikan tangan supaya aku datang ke tempatnya. Karena kalau dia beranjak dari tempatnya, sinyalnya akan hilang. Akhirnya, suamiku mengirimkan pulsa ke HPnya, sehingga akupun bisa menggunakannya untuk menghubungi suamiku.
Dan ketika tadi pagi, ada lambaian tangan Deru…. Aku tahu pasti suamiku yang menelpon… sapaan pertamanya adalah “gimana? Masih krasan?”…. hahahaha….. aku tertawa sendiri. Ternyata bukan disini saja, tapi disanapun… semua bertanya, apakah aku krasan?

Keputusanku untuk tinggal disini 10  hari, ternyata menimbulkan pertanyaan banyak orang. Sekaligus membuat mereka penasaran. Ngapain disana? Semedi?
Apalagi, melihat dan mendengar aku baik-baik saja. Semua ingin tahu, apa yang aku lakukan disini.

bantal,renda,laptop,buku


 Yah, bangun pagi, jalan-jalan di pantai. Mandi dan membawa semua peralatan ke rumah Saipan. Karena aku baru membangun satu kamar lagi di rumahku. Rumah menjadi berdebu dan kotor. Di rumah Saipan, ada kursi bambu yang sangat besar. Aku bisa memandang laut sambil tiduran dan menulis di laptop. Bosan menulis, aku merenda. Dan kalau bosan semua aku membaca, atau berjalan ke pantai kalau tidak panas. Kalau lapar, tinggal masuk ke dapur Parmi, mengambil makan dan lauk seadanya.
Di sini aku bisa melihat kehidupan mereka sehari-hari. Melihat tamu yang datang dan kegiatan mereka di pantai. Mengamati kegiatan para nelayan, juga teman-teman Saipan dan Parmi yang datang dan pergi.
Aku juga membawa bantalku ke kursi bambu Saipan. Hingga gampang terlelap, begitu mengantuk. 

Nah, saat ini Parmi baru memecah kelapa muda untukku.
Rasanya…. Kalau ada lagi yang bertanya “krasan bu??...” aku pasti akan menjawab “krasaaaannn….!”.

aku dan AKU

Setelah 3 jam, genset mati. Itu berarti kegelapan mulai menyelimuti. Sebetulnya ada satu teplok yang disiapkan suamiku untuk pengganti penerangan setelah genset mati. Tapi mudah mati karena angin yang kencang. Setiap kali mendekati jam 21.00, lap top dan Hp yang sudah terisi penuh baterainya aku masukkan ke kamar. Sebetulnya aku bisa menghidupkannya dan mendengarkan musik untuk penghantar tidur. Tapi sayang kalau baterainya habis.

Kegelapan tidak selamanya gelap. Sebentar kemudian aku melihat sinar di sela-sela atap kamar yang berlum di iternit. Biarlah… toh mataku mulai terbiasa dalam gelap. Di rumah Wedi pun, aku terbiasa tidur dalam gelap. Suara zulu yang mendengkur, debur ombak di kejauhan sayup-sayup terdengar. Inilah musik penghantar tidurku.

Apa yang bisa aku lakukan di menit-menit ketika aku masih terjaga. Terlentang tanpa bantal, aku meluruskan badan. Membiarkan tubuh dalam posisi yang lurus, datar. Sedatar kasur busa yang agak keras. Aku mulai melepaskan semuanya melalui setiap nafas yang kutarik dan kuhembuskan. Seseorang mengajariku untuk bernafas melalui perut, supaya seluruh tubuhku santai.

 Dan aku menyapa AKU:
Aku : “mengapa aku disini?”
AKU: “bukankah ini yang kamu inginkan?”
Aku: “iya sih… ini keputusanku sendiri. Karena aku merasa jenuh dan kosong ”
AKU: “ya sudah, dinikmati saja. Apakah kamu merindukan rumah”
Aku: “hhhmmm… enggak juga. Aku merindukan internet dan sinyal HP yang full terus. Disini aku harus naik dulu ke de Crabs untuk bisa melihat email, facebook dan sms dengan teman-teman”
AKU: “bukankah itu bisa kamu lakukan sewaktu-waktu… tinggal naik saja ke bukitnya de Crabs.. dan kamu bisa sesukanya disana… sepuasmu”
Aku: “iya sih… ah… rasanya aku cuma cari-cari alasan ya… sebetulnya semua baik-baik saja disini. Tinggal aku yang harusnya melakukan sesuatu selama disini. Tapi apa?”
AKU: “katanya mau mencari inspirasi untuk menulis?”
Aku: “iya… hari ini bahkan aku sudah menulis 7 judul”
AKU: “nah… bagus khan… sudah dapat 7, dalam waktu 2 hari saja. Nggak usah buru-buru. Masih banyak hal baru yang akan kamu temui disini. Banyak hal bisa ditulis. Bukalah mata, telinga dan hatimu”
Aku: “hhhmmm iya… kenapa aku selalu ingin terburu-buru… ingin cepat selesai…”
AKU: “iya… kamu kurang belajar dari hidup. Lihatlah bagaimana kamu merenda. Setiap kamu sudah berniat membuat satu renda. Memulainya, pelan tapi pasti… akhirnya selesai juga kan??... coba lihat lagi semua karyamu. Sudah banyak dan bagus-bagus. Tidakkah kamu heran, bagaimana dulu prosesnya hingga akhirnya bisa selesai. Butuh niat dan ketekunan khan? Dan kamu sudah memilikinya?”
Aku: “hhhmmm… iya…”
AKU: “lihat lagi naskah bukumu yang pertama. Walaupun butuh waktu lama, akhirnya selesai juga. Tinggal menunggu terbit”
Aku: “betul…betul…ternyata aku sudah menyelesaikan banyak hal. Termasuk menghantar anak-anakku hingga lulus dan bekerja”.
AKU: “bersyukurlah… diusiamu sekarang, kamu tinggal memikirkan dirimu sendiri. Bahkan suamimu juga tidak menuntut banyak darimu. Dia memberikan dukungan penuh untuk semua yang ingin kamu lakukan. Bersyukurlah bahwa perjalanan hidup ini akhirnya bisa dilalui… rantai demi rantai… langkah demi langkah. Kamu mesti sudah bisa melihat bagaimana AKU merenda hidupmu. Indah khan?”
Aku:”hhhmmm… aku jadi malu. Kenapa mesti bertanya terus padaMu”
AKU: “itu bagus. Karena artinya kamu tidak tahu. Dan kamu tidak perlu tahu. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa AKU selalu menyertaimu, membimbingmu dan mencintaimu… percayakah kamu padaKu?”
Aku: “iya… aku percaya. Engkau sudah membuktikan semua padaku. Terimakasih untuk semua ini. tanpaMu, mana mungkin aku bisa melakukan ini semua”
AKU: “baiklah… beristirahat sajalah. Nikmatilah semua karuniaKu.. esok dan selamanya”
Aku: “terimakasih. Selamat malam”

Tiba-tiba alarmku berbunyi. Jam 4.30. tidurku nyenyak semalam. Sekali-kali aku mendengar angin keras yang menembus keras langit-langit kamarku. Tapi, aku tidak peduli. Indahnya pembicaraan semalam denganNya. Aku masih malas bangun, karena di luar masih gelap gulita. Barulah satu jam kemudian, aku benar-benar terbangun. Ayo zulu…. Jalan-jalan.. dan ekornya mengibas keras… dengan sukacita dia bangkit… ayo buuuu…..

Di pantai… laut baru surut. Pantai terlihat luas dan tenang, tanpa angin. Setelah puas berjalan kesana-kemari. Aku duduk di pasir yang masih basah. Zulu ikut berbaring di sebelahku.
Kutatap ombak yang tak pernah berhenti bergerak. Walaupun tidak ada angin, deburnya selalu sampai ke pantai. Tidak pernah bosan, tidak pernah lelah. Hanya Tuhan yang bisa menghentikan semua ini. Seperti halnya hidup kita. Kita tidak boleh berhenti… harus terus bertekun menjalani hidup. Tak ada yang berhak sedikitpun menghentikannya selain Tuhan, Sang Pencipta.
Selamat pagi Tuhan, selamat pagi hari baru.

3 Jam saja



Langit semakin gelap. Keyboard laptopku sudah tidak kelihatan hurufnya. Aku mengetik mengandalkan kemampuan jari-jariku menghapal letak setiap huruf. Sambil menunggu Saipan menyalakan gensetnya. Semua sudah aku siapkan untuk menunggu saat berharga ini. Yang jelas persiapan untuk mengisi baterai lap top dan hp. Memastikannya penuh sehingga besok pagi bisa kupakai dengan leluasa.
Saipan hanya menyalakan lampu selama 3 jam. Ada beberapa rumah yang ikut penerangan darinya, termasuk rumahku. 3 jam sudah cukup bagi mereka untuk beraktivitas sebelum beristirahat. Aku tidak ingin merubah kebiasaan ini, walaupun aku bisa memintanya lebih dengan menambah uang bensin. Biarlah seperti biasa saja. Aku ingin menikmati kehidupan seperti mereka dalam kesehariannya.

Nah.. lampu mulai berkedip-kedip, tanda Saipan baru berusaha menyalakan gensetnya. Aku membawa stabilizer dari rumah supaya aliran genset yang naik turun tidak menggangu laptopku. Rumah di depan dan juga mesjid sudah menyala beberapa waktu lalu. Mereka memiliki aliran listrik dari genset yang berbeda. Aku masih bersabar menunggu lampu benar-benar menyala…..
Nah… akhirnya… menyala juga.

Tiba-tiba Saipan datang.. tergopoh-gopoh  minta maaf. Ternyata dia tidak tahu kalau rumahku masih gelap. Padahal dia mengaku sudah menyalakan genset sejak tadi. Kebetulan dia akan mengambil sepeda motor yang dititipkan disini, dan baru sadar kalau rumahku masih gelap. Barulah dia menyusuri kabel, mencari letak kesalahannya ada dimana. Ternyata ada satu kabel yang berhubungan dengan rumah sebelah yang putus. Aku sendiri bahkan tidak menyadari kalau ada masalah tersebut. Aku hanya berpikir, Saipan memang sedikit terlambat menyalakan gensetnya.

Saipan dan Parmi berpamitan pergi ke dusun, menengok ibu temannya yang sakit. Dusun terdekat dari sini tempat orangtua Parmi tinggal jaraknya sekitar 6 km. Aku kembali sendiri, seperti hari-hari kemarin. Tinggal menunggu lap topku dan hp terisi penuh baterainya. Dan aku akan masuk kamar… membaca atau merenda sampai lampu mati dengan sendirinya karena kehabisan bensin, atau 3 jam setelah genset dinyalakan.

Kehidupan baruku di sini benar-benar unik. Betapa aku bersyukur, di Wedi-Klaten listrik bukan masalah. 24 jam penuh dan bisa dimanfaatkan untuk apa saja. Betapa banyak orang masih mengeluhkan ini itu dengan berbagai fasilitas yang sudah dimiliki, sedangkan disini 3 jam dalam terang adalah sebuah karunia. Di kota, begitu banyak hiburan bisa dilihat. Tidak hanya TV, tapi ada juga TV cable, internet dan berbagai hiburan yang begitu mudah didapat. Merasakan kehidupan yang serba terbatas, membuat aku malu terhadap diri sendiri, karena kurang bersyukur dengan apa yang sudah aku miliki.

Walapun hanya berdua dengan zulu, hari-hariku terasa indah disini. Dan aku yakin akan semakin indah ketika aku sudah kembali. Karena aku melihat keindahan hidup warga pantai Ngandong, yang dalam keterbatasan masih memiliki hati untuk berbagi, untuk saling berkunjung dan saling membantu. Dan lihatlah… mereka menyapaku ramah…. “dereng sare bu?...” belum tidur bu?

Saturday, January 21, 2012

Debur Ombak Tepi Pantai



debur ombak tanpa henti


mendung mulai datang
 Debur ombak menjadi musik tanpa henti. Bergemuruh, memecah menerjang karang di tengah laut. Busanya terus bergulir hingga tepi pantai. Menipis dan hilang, ditarik kembali ke laut lepas. Musik alam yang indah penuh semangat. Deburnya yang keras menyamarkan suara halilintar di kejauhan. Yang terlihat hanya kilatan petir di ujung caklawala. Menghiasi langit yang semakin kelabu menebal.

 
“hujan…hujan…” teriak beberapa orang berlarian. Aku menengadahkan kepala, diantara keasikan jari-jariku merenda. Hujan seperti berjalan dari tengah laut ke tepi pantai. Memberi kesempatan bagi siapapun untuk menyelamatkan barang-barang yang ada di luar. Jemuran, kursi-kursi pantai yang semua dipajang di luar untuk para pengunjung. Dan semua berlarian menyelamatkan diri. Memenuhi rumah Saipan tempat aku berada.
Sebagian pengunjung tidak menyadari ada Zulu yang lalu berdiri ketika melihat banyak orang berdatangan. Sebagian terkejut dan takut. Sebagian lagi datang membelai kepalanya. Zulu tenang-tenang saja, cenderung acuh tak acuh. Sudah biasa kaleee…. Batinnya. Melihat Zulu yang dengan tenang menerima sapaan mereka. Jadilah dia foto model dadakan. Banyak yang minta foto dengannya.

Angin semakin kencang berhembus, berlomba dengan suara ombak. Apalagi ketika hujan turun dengan sangat deras. Bagaikan ditumpahkan dari langit. Berdiri di teras rumah Saipan tidak membuat mereka terbebas dari hujan. Maka mereka semakin masuk berdesak-desakan ke dalam. Genangan air mucul di beberapa tempat. Udara semakin dingin dan lembab.
Cukup lama hujan menyiram pantai Ngandong. Hingga akhirnya reda, dan semua bernapas lega. Kesempatan bagi mereka yang menggunakan sepeda motor segera berkemas pulang. Beberapa mobil masih tinggal. Air dengan cepat menyusut ke dalam pasir, seperti menghapus hujan badai yang baru saja terjadi. Dan debur ombak kembali terdengar…. Indah.

Pantai Ngandong 27 tahun lalu hanyalah semak belukar. Tidak ada rumah satu pun, bahkan kapal nelayan pun belum ada. Hanya pantai dan debur ombaknya yang tidak berubah hingga kini. Semak belukar sudah menjadi taman parkir yang rindang dan bersih. Ditepinya terjajar rapi kapal para nelayan. Di sekitarnya banyak rumah penduduk yang menyediakan makanan, minuman juga kamar mandi. Bahkan sudah ada penginapan sederhana. Di perbukitan di atas pantai didirikan resort. Penginapan yang indah dengan pemandangan laut di atas bukit. Di lengkapi taman dan perabot kayu yang artistic.
tempat pelelangan ikan

Di sebelah taman parkir ada Tempat Pelelangan Ikan. Hasil para nelayan melaut bisa langsung ditampung di tempat pelelangan. Dulu mereka harus membawanya ke pantai Baron.
Tahun demi tahun kehidupun semakin baik. Kebetulan sekali, ketika aku berada disini, aku melihat ada survey dari sebuah Biro Teknik Listrik yang mendata rumah penduduk yang akan diberi aliran listrik. Saat ini, penerangan listrik menggunakan genset yang dinyalakan hanya dari pukul 18.00 sampai dengan 21.00. 

di atas bukit buat nyari sinyal

Walaupun sinyal belum bagus, tapi hampir semua orang memiliki Hp. Untuk mendapatkan sinyal aku harus naik ke bukit. Cukup sehari sekali dan aku bisa menjalin hubungan dengan dunia luar. Selanjutnya, hari-hariku kuisi bersama para nelayan dan keluarganya.




Debur ombak tetap bernyanyi. Hujan tinggal sisanya. Pantai Ngandong kembali pada kehidupannya yang sunyi dan sederhana. Minggu segera berlalu, para pengunjung pun pergi satu persatu. Aku bersama zulu mengisi hari esok. Dalam diam kubiarkan debur ombak menjadi symphony yang abadi.