Pages

Tuesday, January 24, 2012

Mandi... 2000 rupiah!

Menyewakan kamar mandi di pantai menjadi tambahan penghasilan bagi para nelayan yang juga bertempat tinggal disitu. Hampir semua rumah sekarang memiliki kamar mandi untuk disewakan. Setiap orang yang mandi di pantai membutuhkan air bersih untuk membilas air laut yang asin dan lengket di badan.

Untuk membangun kamar mandi dibutuhkan biaya yang cukup besar bagi para nelayan. Tahun 2005, ketika kakakku berkunjung pertama kali di Pantai Ngandong, dia langsung jatuh cinta. 4 hari tinggal di rumah Saipan, membuat dia kerepotan kalau harus ke kamar mandi. Karena saat itu belum banyak yang memiliki kamar mandi.
Akhirnya, sekalian membantu Saipan mendapatkan penghasilan tambahan, dia menyediakan dana sebesar 1,5 juta. Karena dibangun sendiri, Saipan bisa mendirikan 3 kamar mandi dan 1 kamar mandi dan WC di sebelah rumahnya.
Waktu itu, untuk mendapatkan air bersih, Saipan harus membeli 1 tanki air bersih untuk mengisi bak tampungnya yang berkapasitas 5000 liter. Untuk itu dia harus mengeluarkan biaya 75 ribu.

Untuk mengembalikan modal air bersih dia menetapkan harga sewa kamar mandi. Untuk buang air kecil 1000 rupiah, dan mandi 2000 rupiah. Ini harga yang telah disepakati untuk setiap nelayan yang menyewakan kamar mandinya. Dengan harga tersebut, belum tentu modal bisa kembali mengingat begitu banyak saingan dan air bersih juga menjadi kebutuhan mereka sehari-hari.
Ada hal yang membuat kami tertawa ketika tetangga sebelah bersitegang dengan penyewa kamar mandi yang hanya memberikan uang 2000 rupiah ketika mandi. Rupanya si pemilik kamar mandi mempersoalkan bahwa ketika mandi, orang tersebut juga bisa buang air kecil. Jadi biayanya mestinya 3000 rupiah… hahahah… bagaimana membuktikannya. Ada-ada saja!

Kini penyediaan air bersih sudah lebih mudah dilakukan. Melalui koperasi, Saipan dan juga nelayan lainnya membeli genset dan pompa air. Bisa bergabung dengan beberapa warga. Seperti halnya Saipan, bergabung dengan pakdenya dan kami.
Air bersih diambil dari sumur yang ada 2 buah di sekitar rumah warga. Cukup untuk kebutuhan seluruh warga, termasuk disewakan ke para pengunjung.
Biayanya juga lebih murah. Untuk mengisi bak tampungnya hanya dibutuhkan 2 liter bensin untuk menghidupkan genset, atau 10.000 rupiah. Biaya sewa tetap, dan ini berarti benar-benar menjadi tambahan penghasilan bagi mereka.
Hidup menjadi lebih baik dari hari ke hari….

Monday, January 23, 2012

Cacing Laut

Pagi-pagi berjalan-jalan di pantai bersama Zulu. Udara masih sejuk, angin tidak bergitu kuat bertiup. Padahal semalam angin begitu keras, sampai tiba-tiba Zulu naik ke tempat tidur karena ketakutan. Langit jernih, rupanya sudah di sapu angin yang menghalau mendung tebal dua hari ini.

Dua orang nelayan sudah bersiap turun ke laut mencari ikan. Mereka baru menunggu beberapa orang teman yang membantu mendorong kapal mereka ke air.
Kakiku menikmati pasir putih yang basah terkena sapuan ombak setiap kali menghantam tepi pantai. Zulu dengan riang berjalan di sampingku. Kadang dia menjauh kalau ada sesuatu yang menarik baginya untuk dilihat. Zulu sengaja tidak kuikat, supaya bebas bergerak kemana dia ingin pergi. Toh pantai sepi, tidak ada seorangpun.

Tapi, kemudian aku melihat seseorang sedang mengaduk-aduk pasir di tepi laut. Bekas adukannya sudah cukup panjang. Aku mendekat, dan mengamati apa yang dia lakukan. Disebelahnya ada bola plastic yang dibelah dua. Ada sesuatu yang dia ambil dan dia letakkan dalam bola plastic. Semula aku tidak tahu apa itu.
‘pados nopo mas?” cari apa mas?... karena dia masih muda, jadi kupanggil mas.
‘cacing bu… ngge mancing” cacing buat umpan pancing rupanya.
cacing campur pasir
“mbok cobi dicuci mas… ben ketok cacinge”.. aku minta dia mencuci dengan air laut biar kelihatan cacingnya. Karena sepintas dalam bola plastik separo yang kelihatan hanya pasir dan sesuatu yang bergerak-gerak. Dia diam saja tidak menyahut. Karena merasa diacuhkan, aku potret saja apa adanya. Dan pelan-pelan aku ngeloyor pergi melanjutkan perjalanan menyusuri pantai hingga ke ujung.

Aku ingat, 27 tahun lalu, saat pertama kali mengenal Saipan. Bocah kecil itu baru berusia 10 tahun. Dia mengais pasir, mencari cacing dan menjualnya ke kami untuk umpan pancing. Saipan hanyalah bocah nelayan yang menghidupi dirinya sendiri. Orangtuanya sudah bercerai, ibunya menikah lagi. Dia sebetulnya diminta tinggal dengan mbahnya, tapi nggak mau. Akhirnya dia menjalani hidup sendirian. Pantai menjadi lahannya. Tempat Pelelangan Ikan menjadi rumahnya. Saipan kecil, mencuri hati kami. Dan inilah yang membuatku tertarik untuk menggali lagi kehidupan nelayan di Pantai Ngandong. Pantai kecil bagian dari Pantai Sundak.
27 tahun kemudian, pantai ini semakin dikenal. Dan kehidupan nelayan tidak lagi bergantung pada ikan dan cacing. Banyak wisatawan datang di hari libur. Dan ini menjadi penghasilan yang lumayan bagi mereka.

Perjalanan kembali setelah sampai di ujung pantai, aku masih bertemu dengan pria yang mencari cacing. Ketika zulu mendekatinya, barulah dia memberikan respon yang ramah.
“oooo… niki kagungane ibu to?” ini miliknya ibu to… dan aku mengiyakan. Tidak putus asa, aku kembali minta dia mencuci cacingnya supaya bisa kuambil fotonya. Barulah dia menjawab,
“nek dicuci air laut pejah sedaya bu..”…. oooo jadi ternyata cacing itu kalau dicuci air laut malah mati semua, karena dia hidupnya di pasir. Lhah..coba dia bilang dari tadi…
Walaupun aku sudah mengenal banyak nelayan di sini. Masih banyak yang belum mengenalku, terutama yang muda-muda. Mungkin dia heran juga dengan permintaanku untuk mencuci cacing laut. Yaaah… namanya juga nggak tahu mas….
Banyak hal di dunia yang tidak aku ketahui. Dan pasti tidak mungkin aku ketahui semuanya. Semoga dengan tinggal disini 10 hari aku bisa mendapatkan pengetahuan baru. Pasti bukan sesuatu yang baru bagi mereka. Tapi jelas baru buatku.

Pon, Wage, Pahing, Legi, Kliwon....

Pon, Wage, Pahing, Legi, Kliwon adalah hari Jawa. Kalau hari nasional kita kenal dengan Senin sampai Minggu yang disebut satu minggu. Sedangkan hari Jawa di sebut sepasaran.
Disini lebih akrab orang menggunakan hari Jawa.

Siang ini, di saat langit begitu terang dan matahari terik menyengat, setelah dua hari hujan dan mendung terus sepanjang hari, datanglah tukang kredit keliling. Parmi membeli tikar dan jas hujan dengan sistem kredit sebesar 170 ribu. Pinjaman ini harus dibayar setiap Legi, itu berarti seminggu sekali, atau bisa 5 kali sebulan. Tiap Legi, Parmi membayar 10.000, atau berapapun yang mampu dia bayarkan. Tidak ada batasan. Yang penting tiap kali dia datang ada pembayaran sesuai kemampuan. Bahkan kalau kebetulan belum ada uang, juga tidak mengapa. Juga tidak ada larangan, pinjaman harus lunas dulu baru boleh mengambil yang  baru. Parmi harus mengatur sendiri kemampuannya. Ada dua orang yang berjualan kebutuhan rumah tangga dengan cara kredit seperti ini. Yang satu akan datang tiap Legi dan satunya Kliwon.

Hari Jawa juga digunakan untuk hari pasar. Pasar di desa Tepus, hanya buka dua kali sepasaran yaitu Wage dan Pahing. Itu sebabnya, pasarnya disebut Pasar Wage dan Pasar Pahing.
Ketika aku mengusulkan ke Parmi,


“gimana kalau jualan gorengan?” usulku, karena  nampaknya gorengan,seperti pisang goreng, mendoan, bakwan, belum ada yang jual di pantai Ngandong. Kebetulan aku ada resep adonan gorengan yang enak, renyah dan mudah dibuat. Semula, Parmi bersemangat. Setiap Sabtu dan Minggu, ada yang menjual rempeyek udang kecil-kecil. Larisnya bukan main. Belum sampai sore, dagangan sudah habis. Tapi, sayangnya bahan-bahan seperti tahu, tempe dan sayuran hanya di jual di Pasar Wage dan Pahing.
 
Ketika dilihat di tanggalan, ternyata Pasar Wage yang paling dekat dengan hari ini, jatuhnya hari Senin.  Itu berarti kesempatan menjual gorengan di hari Sabtu dan Minggu bisa terlewati, karena hanya dua hari inilah yang ramai pengunjung. Sayang sekali…
Resep adonan gorengan tetap aku berikan. Setidaknya dia bisa mencoba ketika pasar wage atau pahing bisa jatuh di hari Jumat. Itu berarti Sabtu dan Minggu warung gorengan bisa dibuka…

Sambal Parmi

menu harian
Menu makanan sehari-hari yang disedikan Parmi di sini cukup sederhana. Selalu ada sayur, tempe, tahu dan telur. Ikan hanya kalau kebetulan Saipan berhasil melaut dan pulang membawa hasil. Ayam termasuk makanan mahal dibandingkan ikan tentu saja. Kalau di kota sekilo 20 ribu, disini ayam mentah sekilo bisa mencapai 24 ribu.



ibu-ibu berbelanja
Penjual sayur datang setiap pagi. Memudahkan ibu-ibu mendapatkan bahan makanan untuk dimasak, tanpa harus ke desa terdekat yang jaraknya 6 km.
Ada 2 orang penjual sayur. Paling pagi seorang ibu yang langsung mangkal di sebelah rumahku. Ibu-ibu berdatangan untuk berbelanja. Semua dagangan di letakkan di meja bambu, sehingga pembeli bebas memilih. Seperti warung “tiban” (datang tiba-tiba, kemudian hilang lagi), istilah disini. Penjual sayur yang datangnya lebih siang, adalah seorang bapak. Walaupun pagi sudah berbelanja, tapi ada saja yang membuat ibu-ibu tergoda untuk membeli ini itu lagi. Seperti pagi ini, Parmi membawa pulang 2 ikat rambutan. Katanya murah. Hanya 5000, dua ikat.

Jam 9.00 pagi, Parmi sudah selesai memasak. Dia orang sibuk yang pernah kulihat. Tidak pernah berhenti bergerak. Selesai masak, dia akan membersihkan rumah dan mencuci baju. Motor di siapkan untuk pergi ke desa. Ada saja keperluannya. Dari membeli bahan makanan yang sudah habis, yang tidak bisa diperoleh di penjual sayur, sampai membeli bahan bangunan untuk memperlancar pembangunan kamar di rumahku.
Kalau semua sudah tersedia, dia akan menunggu warung atau persewaan kamar mandi disaat pantai banyak dikunjungi orang. Kalau dirasa sepi, dia akan pergi ke desa, mengirim makan untuk anaknya, atau apa lah… sepertinya ada saja yang dia lakukan.
Ketika aku ada disini, kalau dia tiba-tiba menghilang tanpa pamit, aku lah yang menjadi penjaga warung dan kamar mandi. Akibatnya, dua kali memberi harga yang salah ke pengunjung yang membeli Aqua. Parmi ngotot tidak mau memberikan daftar harga barang-barang dan makanan yang dia jual di warungnya.  Ketika aku salah memberi harga, dia tetap dengan tenang menjawab,
“mboten napa-napa…” nggak papa…. Yaah… gimana mau untung kalau seperti ini ya???

Lama-lama aku menjadi terbiasa dengan kehidupan di sini. Setiap jam makan, Parmi biasanya menyediakannya di meja makan. Tapi, aku lebih senang masuk ke dapur dan memilih sendiri makanan yang aku suka. Lagi pula aku makan ketika lapar dan hanya secukupnya.
Yang penting ada sambalnya Parmi. Sepertinya biasa saja. Cabe, brambang, bawang, sedikit trasi digoreng. Setelah itu di lembutkan di cobek dan ditambah gula jawa sedikit. Pedasnya sangat terasa. Campuran brambang, bawang, trasi dan gula yang hanya sedikit justru membuatnya enak dan lezat. Nasi panas, tempe atau ceplok telur saja sudah sangat nikmat kalau dimakan dengan mencolek sambalnya Parmi..... hhhmmm mak nyuuuss... beneran!!!


Ini bukan kami saja yang merasakan. Suatu kali ada turis asal Thailand, yang begitu senang dengan sambal Parmi. Akhirnya minta dibuatkan dan dibawa semua secobeknya!!. Katanya mau dibawa ke Thailand. Entah berhasil atau tidak melewati screening di bandara. Hhhmmm keren juga ya… kalau sambal dan cobeknya bisa terbang ke Thailand. Kisah yang sangat membanggakan bagi mereka dan sering diceritakan berulang-ulang….

Sunday, January 22, 2012

50% dan 25%



Ada 8 kapal berderet rapi di tepi pantai. 2 buah kapal bantuan dari APBN 2006. 1 buah milik Saipan yang diperoleh 2005, 4 buah milik pak Jiiman. Satu buah milik pak Simin.
Kalau turun laut dan kembali ke pantai, nelayan berbondong-bondong membantu dengan sukarela. Dan setiap kali melaut biasanya si pemilik akan ditemani 1 orang. Atau kapal bisa dipinjam dan dibawa berlayar 2 orang  nelayan.

“bagaimana pembagian hasilnya?” tanyaku pada salah seorang dari mereka.
“hasilnya, setelah dikurangi biaya bensin¸50% untuk pemilik kapal. Kemudian sisanya baru dibagi 2 bagi yang pergi ke laut…”
“wah… beruntung banget buat yang punya kapal ya…, apalagi kalau dia pergi sendiri kelaut, bisa dapat 75% ya…” tidak perlu dipertanyakan lagi rupanya. Siapa pun, dimana pun, yang menjadi pemilik modal pasti akan mendapat penghasilan lebih banyak.


Mr. Bubble dan temannya
Pagi ini Mr. Bubble dan temannya pergi melaut. Pulang membawa gurita 16 kg. Kalau sekilo bisa dijual di Tempat Pelelangan Ikan @ 35.000 rupiah, berarti dia bisa mendapatkan uang  560.000 ribu. Setelah dipotong bensin 50.000 sisanya menjadi 510 ribu rupiah. 50% untuk pemilik kapal jadi tinggal 255 ribu. Hasil ini dibagi 2 lagi masing-masing untuk Mr. Bubbel dan satu temannya. Jadi, pagi ini Mr. Bubble mendapat 127.500 rupiah. Sementara si pemilik kapal, yang tidak ikut melaut mendapatkan 255.000 rupiah. Kalau dia sendiri ikut melaut berarti bisa mendapatkan 382.500 rupiah…Hhhhmmm… adilkah?? Aku tidak tahu…
gurita
Toh Mr. Bubble masih tetap bernyanyi riang… menggoda Zulu yang lagi malas di ajak jalan-jalan.

Full Ventilasi



rumah tempat aku tinggal


 Kamar di rumah ini benar-benar full ventilasi. Maklum arsitek, mandor, dan tukang yang menggarap adalah Saipan, dibantu Parmi dan Febri, anaknya. Pembangunan rumah juga bertahap, sesuai dengan dana yang ada.

Awalnya, aku dan kakakku membeli tanah. Itupun, karena pak Mugiran, pemilik tanah ini sakit jempol kakinya dan harus di amputasi. Dia berhutang ke koperasi dan kesulitan untuk membayarnya. Akhirnya tanah ini dijual ke kami. Tanah di sini milik Kraton Jogjakarta yang dibagikan ke nelayan. Jadi sebetulnya tidak bisa dimiliki, selain nelayan itu sendiri. Status tanah tetap HGB (Hak Guna Bangunan). Kami tidak berkeberatan dengan status tersebut. Selain meringankan beban pak Mugiran, kami bisa memiliki tanah, yang nantinya bisa didirikan rumah sederhana. Lokasinya di balik bukit, sehingga sedikit terhindar hembusan angin laut yang kencang.  

Karena lama dibiarkan, ada ancaman akan ditarik kembali oleh Kraton Jogjakarta, apabila tidak segera didirikan rumah. Akhirnya kakakku membangun fondasi keliling, supaya kelihatan ada kepastian akan membangun rumah di atasnya. Setelah itu berhenti lagi karena belum ada dana yang bisa disisihkan.
Hingga suatu ketika, ada yang menjual rumah dengan harga murah. Tinggal di angkat dan dipasang di atas tanah. Anehnya ukurannya sesuai dengan fondasi yang sudah dibuat. Tapi belum ada dindingnya. Yaah.. bolehlah…. Dan akhirnya rumah didirikan, tapi tanpa dinding.

Munculah ide… kalau dibuat satu kamar, bagus juga nih… bisa untuk menginap.
Dana dikumpulkan lagi dan kakakku minta Saipan untuk membuat satu kamar.
Kami percayakan saja pembangunannya kepadanya. Hasilnya??? Sebuah kamar full dinding batako tanpa jendela. Kata Saipan,
“niku pun seger, mboten perlu jendela… wong nginggile selane katah” maksudnya, itu sudah segar udaranya, tidak perlu jendela.. karena atasnya ada celah atau ventilasi sudah lebar sekali. Ya betul sih… nggak cuma lebar.. tapi kamar ini  memang seperti ruangan yang atasnya di tutup atap, tapi tidak menempel di dindingnya. Nggak Cuma seger… kalau angin kencang… daun pun  bisa masuk kamar… hahaha….
Ketika kakakku ingin menambah satu kamar lagi, aku tegaskan ke Saipan, kali ini harus ada jendela. Barulah Saipan membuat pengakuan. Ternyata kamar pertama, dia sendiri yang membangun, bersama Parmi dan Febri anaknya. Karena Saipan tidak bisa membuat kosen kayu, ya sudah… semua dibuat dari batako sampai atas. Sedangnya pintunya dia beli jadi…. Dasar Saipan! Agak jengkel juga tapi ya geli sendiri mendengar penjelasannya yang polos dan lugu….

kamar kedua
Pengerjaan kamar ke dua, tidak lagi kami percayakan ke Saipan. Harus ada jendela. Dan seperti rencana semula, separoh batako dan atasnya dari gedheg. Rumah sederhana.. biarlah… yang penting bisa untuk tidur. Dan yang jelas tidak perlu AC. Hanya harus siap baju hangat dan selimut… kalau tidak…bisa masuk angin… hahaha…
Ternyata… rumah kecil di tepi pantai… jauh banget dari yang aku khayalkan dulu…. Ya sudahlah… maklum.. arsiteknya adalah Saipan!.

Badai ketawa di tepi pantai



Beginilah gambarannya hujan badai di pantai.
Awalnya… langit diatas garis cakrawala menjadi kelabu. Membuat air laut di kejauhan juga menjadi abu-abu kelam. Semakin dekat ke garis cakrawala warnanya semakin pekat dan gelap. Pertanda hujan badai akan datang. Secara perlahan, namun pasti… kegelapan semakin mendekat kea rah pantai, dan angin mulai bertiup keras… dan semakin keras…
Turunlah hujan disertai angin kencang. Membuat semua pohon miring ke darat. Daun-daun beterbangan. Payung yang baru saja diletakkan langsung terbang entah kemana. Semua orang berlarian masuk ke dalam rumah.

Hujan semakin deras bagai tercurah dari langit. Airnya bahkan sampai masuk ke rumah Saipan. Aku bersembunyi dibalik etalase dagangan Parmi untuk menghindari hujan dan angin.
Cukup lama badai melanda tepi pantai. Gemuruhnya deru ombak semakin keras dan menakutkan.
Setelah kurang lebih 2 jam, akhirnya angin mereda demikian pula hujannya. Langit masih kelabu, tapi hujan sudah berhenti… udara dingin sekali. Perlu baju hangat dan syal untuk melindungi leherku dari hembusan angin.

Di kejauhan Mr. Bubbel dengan berkalung sarung… berlari-lari dari TPI ke rumah Saipan, sambil bernyanyi keras:

Adem- adem dik… kemulan sarung
Wis kadung gelem dik, rasah bingung-bingung
Mbang kecipir… kembange kara
Ojo kuatir  dik, rasah neka-neka
Ning magelang,  ojo lali jajane
Ojo sumelang dik…. Gage-gage didadekke…

Badai hujan pagi ini berubah menjadi badai ketawa…..
Mr. Bubble selalu gembira dalam berbagai cuaca..