Pages

Wednesday, February 15, 2012

Goresan di wajah Sang Putri



wajah yang terkoyak
Sisa lahar di puncak gunung merapi, seperti goresan luka di wajah putri gunung. Menghapus kesegaran yang dipercantik dengan semburan rona merah di pipinya. Luka lebar di puncak menggambarkan kesedihan yang menjadi tontonan banyak orang, termasuk aku…
Aku hanyalah penonton… memandang dari jauh, tidak cukup bagiku. Mendekatinya, hingga tempat yang paling mungkin kutempuh. Tempat dimana Mbah Marijan, juru kunci merapi tinggal. Menjaga dan mencintai sang Putri hingga ajal direngutnya. Menatap keganasan api yang meninggalkan karat di seluruh tubuh mobil yang seharusnya menghantarnya ke tempat aman. Rumahnya tinggal kenangan. Tak bersisa sedikitpun.
mobil yang seharusnya menyelamatkan mbah Marijan



Apa yang aku lihat sekarang? Batang-batang pohon yang hangus. Ada yang tegak, juga yang tergeletak tak berdaya. Meninggalkan kenangan pahit, diantara hijaunya kehidupan baru yang tumbuh di sekitarnya.



Gerahkah sang Putri dengan kehidupan di sekitarnya? Kehidupan sosial yang menjauhkan diri dari norma hidup manusia yang benar. Lerengnya menjadi tempat bercengkarama orang tua maupun muda. Kesejukan udaranya, justru menggoda ketaatan dan kesetiaan. Kesucian tercabik tanpa perasaan dosa lagi.
“jangan kaget bu… disini, banyak perkawinan yang berkali-kali, mungkin karena udaranya dingin” kata salah seorang anak Mbah Jo, sambil tertawa terkekeh-kekeh. Mbah Jo sendiri menikah dua kali. Aku tidak berani bertanya, berapa kali anak mbah Jo menikah. Ketika melihat aku hanya tersenyum saja, dia menambahkan.
“semoga anak-anak mudanya nggak meniru yang tua”… lho bukannya terbalik?
Banyak penginapan di sepanjang jalan menuju ke atas. Udara dingin selalu menjadi alasan perselingkungan atau hubungan yang melebihi norma agama bagi anak-anak remaja. Kalau orang berpacaran sampai ke daerah atas merapi selalu di anggap negative. Tapi mungkin benar juga…. Bahkan jalan sebelum menuju ke susteran juga banyak penginapan.
Mungkinkah ini semua yang membuat gunung Merapi memuntahkan uneg-unegnya? Menjadi tangisan yang membawa banyak korban. Menyemburkan kemarahan dan kejengkelan atas kehidupan penduduk di sekitarnya. Seandainya aku boleh tahu, sayangnya aku tidak pernah tahu….
Aku hanyalah penonton….

Sulitkah berkomunikasi??



Sulitkah berkomunikasi? Kalau bahasa kita berbeda, jelas sulit. Tapi kalau kita memiliki bahasa dan budaya yang sama… mengapa masih terjadi salah paham dalam berkomunikasi??
Ketika aku datang ke susteran ini¸aku sudah jelas mengatakan bahwa aku ingin tinggal disini dari Kamis sampai dengan Senin. Suster mengatakan, dia harus konfirmasi dulu dengan suster kepala, maka aku harus menelpon lagi sore nanti.
Sore hari aku mencoba menelpon, tapi suster kepala sedang pergi. Aku bertemu dengan wakilnya. Sekali lagi aku mengatakan akan datang Kamis dan tinggal sampai dengan Senin. Aku diminta menelpon lagi besok sore. Baiklah…
Esok sorenya, kutepati janjiku. Karena tidak bisa bertemu suster kepala maupun wakilnya, aku meninggalkan pesan untuk datang hari Kamis. Untuk memastikan sekali lagi, aku mengirim sms. Bagiku sudah cukup jelas!.
Ketika Kamis aku tiba, mereka terkejut. Merasa aku belum memastikan kedatanganku sehingga kamar belum siap!. Lhoh….????

Setelah sehari tinggal di susteran, aku tertarik untuk ikut para suster berjalan ke atas untuk melihat matahari terbit, sekalian berolah raga. Untuk itu, aku berpesan untuk dibangunkan pagi-pagi benar. Aku terbangun, ketika matahari sudah memancarkan sinar terangnya, dan para suster sudah kembali dari berolah raga. Aku tidak dibangunkan. Kenapa?? “Karena kamar ibu masih gelap, ibu masih tidur…”  ya iyalah.. kalau aku sudah bangun, ngapain minta dibangunkan?? OMG…

Pagi ini, aku kembali dibuat jengkel berkaitan dengan komunikasi. Hari kamis, sebelum berangkat, aku minta ke taxi yang mengantarku, bahwa Sabtu aku minta mereka menjemput Leah temanku di kostnya, kemudian di antar ke susteran. Minta di jemput jam 9 pagi.
Hampir jam 10, aku menunggu kedatangannya kok tidak muncul juga. Aku telpon Leah… katanya taxi belum datang. “why don’t you call me?” tapi, ya sudahlah, dia orang bule, dari pada berantem di telpon. Aku telpon taxinya,
“ kok temanku belum dijemput?” tanyaku
“sudah dijemput nggak ada bu, katanya pergi ke Klaten naik sepeda”  lhoh… masak? Dia barusan tak telpon masih nunggu sejak jam 9 pagi.
“jemputnya kemarin toh bu??” OMG…OMG… gimana nih?? Kan aku bilangnya Sabtu??!!...
Kok ya kemarin nggak telpon, gak ngabari?? Susahkah…. Kan ada HP?? Buat apa HP kalau nggak dipakai? Akhirnya taxi diusahakan dan Leah  baru dijemput jam 10 lebih….
Konyolnya…. Taxi datang, hampir jam 11 siang… tanpa Leah!!... lhoh kok bisa?? Dengan heran sopirnya berkata,
“saya diminta menjemput ibu disini?”  ya Tuhan… apa yang terjadi hari ini. Mencoba tidak marah¸ dan masih dengan suara ramah, aku menelpon pemilik taxinya.
“lhoh bu, saya sudah minta dia untuk menjemput teman ibu, bukan ibu”… ya sudahlah…
Aku menelpon Leah, dia hanya bisa berteriak dengan surat berat…”Nooooooo…!!!”… tapi dia masih bersemangat untuk datang, dan mau bersabar untuk menunggu taxi yang kembali ke Jogja untuk menjemputnya dan membawanya ke susteran. Satu jam lebih terbuang dengan sia-sia, belum lagi bensinnya!.

Hhhhmmm… apa yang salah??
Lupa? Mengapa tidak dicatat?
Ada yang tidak beres atau ragu-ragu? Mengapa tidak bertanya?
Tidak ada gunanya saling menyalahkan dan menunggu dengan sia-sia…
Mengapa harus menduga-duga… dan berhenti sebelum semuanya menjadi jelas dan tuntas!.
Bertanya…. dan bertanyalah terus… jangan berhenti sampai kamu mendapatkan informasi yang benar dan tuntaskan pekerjaan!!! 
aku dan Leah... akhirnya bertemu!!

Mbah Jo

Gara-gara nyamuk, aku terlambat bangun. Dan aku kehilangan moment berjalan-jalan dengan suster, olah raga sambil melihat matahari terbit. Nyesel… tapi ya sudahlah… masih banyak waktu.
Ketika makan pagi, suster bercerita kalau tadi bertemu Mbah Jo yang hari ini mau membuat “ameng-ameng”…. “apa itu bu?” Tanya suster yang kebanyakan datang luar jawa. Wah… aku sendiri tidak tahu. Dan aku jadi ingin tahu!.
“bagaimana saya bisa sampai ke sana Suster? Mungkin saya bisa membantu mbah Jo mempersiapkan “ameng-ameng”, yang menurut penangkapan suster semacam selamatan. Akhirnya, suster Avila yang manis dan murah senyum mengantarku kesana naik sepeda motor. Agak ngeri juga, karena sepertinya suster belum mahir mengendarai sepeda motor, apalagi jalannya naik terus. Pokoknya selamat sampai di tempat aja deh!.

rumah mbah Jo
Rumah mbah Jo dipinggir jalan, menuju terminal terakhir bagi para wisata yang ingin melihat desa mbah Marijan. Erupsi merapi yang meninggalkan kegetiran bagi penduduk di sekitar, kini menjadi arena wisata yang memberi penghasilan bagi mereka. Ada ojek yang bisa membawa mereka ke tempat paling atas. Mereka juga menjual makanan dan souvenir, seperti layaknya tempat wisata.

Mbah Jo menyambut kami dengan gembira. Semula mbah Jo memanggilku “sus”… maksudnya suster. Setelah dijelaskan suster Avila, mereka memanggilku “bu lilik”. Mbah Jo yang biasa hidup sendiri, kini rumahnya ramai dikunjungi saudara, anak, menantu, cucu, dan adiknya, untuk mempersiapkan “ameng-ameng”.
mbah Jo membuat ogol-ogol
Ameng-ameng, adalah selamatan untuk mohon keselamatan. Mirip ulang tahun, tapi dengan hitungan Jawa. Mbah Jo lahir 12 Januari 1933. Tahun ini usianya 79. Lahir di hari Sabtu kliwon. Sabtu kliwon menurut hitungan jawa dimulai jam 18.00 di hari sebelumnya. Itulah sebabnya, ameng-ameng dipersiapkan hari ini, hari Jumat Wage dan selamatan dilaksanakan jam 19.00, berarti sudah masuk ke Sabtu kliwon.

Rumah mbah Jo yang hanya ruangan tanpa sekat, menjadi dapur tempat kami mempersiapkan masakan khusus untuk selamatan. Aku membantu yang aku bisa, seperti memotong kentang, tempe, kobis, memarut kelapa. Hhhmmm… sudah puluhan tahun aku tidak memarut kelapa… akibatnya jariku ikut keparut… hehehe.. memalukan!

Masakan yang dipersiapkan untuk ameng-ameng adalah
Sayur gori yang dimasak dengan kelapa sampai kering.
Sambel goreng kering yang terdiri dari tempe, tahu, kentang, kerecek.
Tempe goreng, ayam goreng, dan telur rebus.
Rempeyek kacang, kerupuk udang dan ogol-ogol. Ogol-ogol ini enak sekali. Dari semua makanan, ini yang paling aku suka. Ketela dan kelapa diparut dan diberi bumbu bawang, brambang, ketumbar, kencur dan daun jeruk. Rasanya gurih dan sedap. Hhhmmm... sayang aku cuma bisa mencomot 3 biji kecil-kecil. Karena semua sudah dihitung pas untuk 65 besek yang nanti akan dibagikan kepada para undangan yang datang untuk berdoa.
tumpeng

tumpeng sayur
besek yang dibagikan
bunga sesajen
Selain itu, ada tumpeng,  bunga mawar dan segelas air putih, dan bubur merah dan putih. Mereka yang membuat sudah tidak mengerti apa artinya, tapi mereka tahu bahwa semua itu harus ada untuk melengkapi ameng-ameng. Semua adalah doa demi keselamatan Mbah Jo yang ingin hidup 200 tahun.“kesuwen mbah… mboten penak urip ngantos 200 th” kataku, mbah Jo tertawa terkekeh...

Semoga Tuhan selalu melindungi Mbah Jo, dan memberinya kemurahan rejeki setiap hari.
Hari yang melelahkan, tapi menyenangkan.

mbah Jo dan aku
Malam ini, kebetulan suamiku ada pekerjaan di Jogja. Langsung deh aku ingat… aku harus membalas dendam pada nyamuk-nyamuk lanang yang ganas!.  “Bawakan aku obat nyamuk semprot!” pesanku. Dan malam itu, sebelum pergi menemaninya makan malam, mie jawa yang enak di daerah Pakem, aku kembali dulu ke susteran khusus membunuh armada nyamuk yang menyerangku semalam!.
Sepulang dari makan malam, ketika masuk ke kamar, para armada nyamuk sudah mati semua!! Hahaha…. Masak sih kalah sama nyamuk!!
Selamat datang malam… aku ingin tidur nyenyak sekali malam ini.

Sunday, February 12, 2012

Lanang tur ganas...!!!

Tinggal di susteran kok ngomongin lanangan… ganas lagi…                
Jangan salah sangka dulu. Aku sedang bercerita tentang nyamuk.
Tadi pagi, ketika masuk ke kamarku, yang ternyata kamar untuk Romo kalau menginap, semua tertata rapi. Termasuk bedcover yang menutupi kasur springbed.
Ketika aku melemparkan task u di atas kasur… langsung … buuuullll….. nyamuk!!!...nyamuknya banyak banget. Memang semua jendela terbuka, maksudnya supaya udara segar masuk ke kamar. Ternyata nyamuk ikut bersarang di semua tempat di kamar….

Susteran ini terletak 6 km dari gunung Merapi. Dulu pasti dingin sekali. Menurut suster, kalau menjemur pakaian, 3 hari baru kering. Setelah erupsi merapi, diperkirakan panas lahar yang memporak porandakan desa sekitar bisa mencapai 600 derajat. Sampai sekarang, tempat ini tidak lagi dingin. Tidak cukup dingin untuk mengusir nyamuk yang banyak banget di kamarku!.

Sore hari, sebelum menutup semua jendela, aku sudah berusaha mengusirnya keluar. Dan sebelum makan malam, aku sudah bercerita ke suster bahwa kamarku banyak banget nyamuknya…
“oya nanti kami ambilkan obat nyamuk elektrik”… baiklah suster….       
Ketika aku kembali ke kamar setelah makan malam, suster mengantarkan  obat nyamuk.
Begitu kupasang ke stop kontak, beberapa saat kemudian nyamuk terbang dan menempel di eternit di sekitar lampu. Gila banyak banget…!!!
Repotnya, satu-satunya stop kontak yang ada di kamar, letaknya di atas tempat tidurku. Dengan begitu, obat nyamuk hanya bisa diletakkan dekat tempat tidur. Tidak ada pilihan lain… dikeributin nyamuk… atau pusing kepala karena menghirup obat nyamuk… haaadeeewww… pilihan yang sulit.
Cukup lama aku bertahan dengan obat nyamuk disampingku. Apalagi ketika aku melihat ke lantai, banyak nyamuk bertebaran, sementara yang lain masih bertahan di langit-langit kamar. Iseng… bener-bener iseng… kuhitung yang ada di lantai…. 68!!! Hahaha…. Armada besar yang menyerangku malam ini… temanku bilang, itu pasti “nyamuk lanang!”… dan aku membalasnya “nyamuk lanang tur ganas!...” kami tertawa bersama…

Karena kepala semakin pusing… dan aku tidak mau bernasib sama seperti nyamuk yang bertebaran di lantai, maka dengan berat hati kumatikan obat nyamuknya. Siap bergulat dengan rasa pusing dan serangan nyamuk lanang yang ganas!!!....
Kututup mukaku dengan selendang tipis  hadiah natal dari anakku, dan mencoba tidur… terakhir aku  melihat jam di HP menunjuk angka 2….
Bangun pagi dengan kepala nyut-nyutan, aku mengumpat dalam hati… 68 nyamuk yang semalam terkapar di lantai… sudah hilang semua!!!.... rupanya mereka cuma pingsan!.
Kuterima kekalahanku dengan hati dongkol. Sudah bikin kepala kliyengan, mereka kabur semua¸meninggalkan tanda cintanya berupa totol-totol merah di lengan dan pipiku…. Hiks…. Dasar nyamuk lanang ganas!!... awas kubalas nanti malam!!.

Secangkir susu kedelai

Pukul 12 siang, ada doa di kapel. Sedikit mirip doa di Susteran Gedono, tapi tanpa musik. Semua duduk bersimpuh di lantai dengan bantal. Selesai doa, aku diundang ke ruang makan untuk menikmati makan siang bersama. 

Ada sedikit keributan karena ada ular masuk ke dapur. Aku hanya melihat sedikit kelebatannya. Warnanya hitam, dan panjangnya kira-kira 1 m. setelah dilempari garam, kami yang semua wanita, hanya berani menunggu di depan pintu. Setelah menunggu tidak ada gerakan atau tanda-tanda ular tersebut mendekat, justru kami yang mendekat. Ternyata ular itu sudah hilang. Di lantai dekat pintu ada lobang yang rupanya cukup untuk melarikan diri. Tiba-tiba muncul dua orang pria, yang dulu menjadi anak asuh di susteran ini. Tapi terlambat, ular keburu hilang. Merasa berdosa, dia kemudian mengambil semen dan menutup lubang dimana ular tadi menghilang.
Dan kami makan siang bersama. Menu sederhana, lodeh dan tahu, menjadi nikmat kala di santap sambil bergurau, bercerita, dan saling ejek di meja makan. Suasana yang aku rasakan di susteran ini, bukan suasana sakral, tapi suasana yang penuh kekeluargaan dan keakraban yang hangat.  Aku belum hafal nama-nama mereka, juga belum bisa menjadi bagian dari pembicaraan dan guyonan mereka.  Tidak mengapa.. kan nanti lama-lama juga bisa berbaur, menyatu dengan kegiatan mereka sehari-hari.

Setelah makan siang, merasa tidak ada kerjaan, aku ikut membantu suster membuat susu kedelai. Pesanan dari seorang keluarga di Pakem. Hanya 3 botol, tapi suster membuat banyak untuk kami semua. Ada 9 suster, 10 anak asuh dan aku.
Ternyata mudah sekali membuat susu kedelai. Kedelai putih yang sudah direndam 4 jam dengan air hangat, diblender, kemudian disaring dengan kain bersih. Setelah ditambah garam sedikit dan air, kemudian dididihkan.
Setelah mendidih, aku mengambil secangkir besar, hangat dan sedap. Yang suka manis, bisa menambahkan gula sesuai dengan yang diinginkan. Aku lebih suka rasanya yang tawar, alami. Sedap dan hangat.
Secangkir susu kedelai menjadi welcome drink yang hangat di hati. Terimakasih suster!

Kamar Romo

Semoga ini bukan salah penempatan. Ketika seminggu lalu aku datang ke Susteran PPYK, Putri-Putri Yesus Kristus di Kali Kuning, lereng gunung Merapi, mereka menunjukkan kamar untuk retret pribadi dimana aku nantinya boleh tinggal, selama 5 hari. Kamar-kamar itu berderet-deret, setiap kamar bisa diisi lebih dari 3 orang. 
“Apakah aku boleh minta kamar sendiri?”, karena aku memang ingin menikmati kesendirian. Sambil tersenyum ramah, suster menunjukkan beberapa kamar yang bisa ditempati sendirian. Walaupun sederhana, aku langsung senang dan memilih satu kamar yang cukup dekat dengan ruang tamu. Tidak terlalu jauh di belakang.
Pagi ini, akhirnya aku tiba di sini. Siap untuk tinggal bersama para suster yang bersahaja. Udara cerah dan hangat menyambutku. Juga keheningan di ruang tamu, yang kosong. Aku mencoba melongok ke dapur, karena mendengar ada aktivitas di sana.
“selamat pagi Suster, saya ibu Lilik, yang tempo hari ingin menginap di sini” suster walaupun sedikit kebingungan, tapi tetap tersenyum ramah. Lalu aku melanjutkan bahwa aku sudah bertemu dengan suster Hendrik yang mengepalai rumah ini,  tempo hari. Barulah suster tersenyum riang, “kalau begitu aku panggilkan suster Hendrik”.
Aku kembali ke ruang tamu. Merasa ada sesuatu yang tidak beres. Memang benar, ketika aku datang minggu lalu untuk menyatakan ingin tinggal di sini hari Kamis sampai Senin, tidak ada pernyataan hitam di atas putih. Ketika kemudian sorenya aku menelpon suster Tris sebagai suster kepala ternyata beliau baru sibuk. Yang menerima telpon waktu itu, adalah suster Santi. Konfimasi yang aku sampaikan rupanya belum menyakinkan sehingga, aku diminta telp lagi besok sore.
Keesokan hari, aku mencoba menghubungi, tapi baik suster Tris, maupun suster Santi baru tidak ada di tempat. Hhhmmmm…. Baiklah. Upaya terakhir adalah mengirimkan sms. Aku hanya memberi kepastian saja bahwa aku akan datang hari Kamis. Dan disini lah aku sekarang. 

Yah, rupayanya mereka belum siap menerima kedatangan aku, sehingga kamar belum disiapkan.
“tidak apa-apa suster, saya bisa menunggu kok… “ dan aku kembali duduk di ruang tamu, sambil berkali-kali mengatakan “tidak apa-apa” menanggapi permintaan maaf yang terus menerus diucapkan suster. Beberapa saat kemudian, datanglah dua orang suster. Ternyata salah satunya adalah suster Santi, yang berperawakan tinggi dan ramah…
Setelah menyatukan komunikasi yang simpang siur, akhirnya aku dibimbing suster ke kamar yang sudah disiapkan untukku. Anehnya, aku diajak ke dalam rumah tempat suster-suster tinggal, bukan yang kemarin aku lihat. Kalau kemarin ke kanan, ini ke ke kiri. 

Kemudian ada pintu bertuliskan “Maaf dilarang masuk, kecuali para suster, terimakasih”… lhoh… gimana nih.. kok malah aku diajak masuk ke rumah suster. Aku mengikuti dengan heran, tapi ya sudahlah…. Setelah belok beberapa kali, aku ditunjukkan ke sebuah kamar, yang menurutku jauh lebih baik dan bersih dari yang kemarin. Terlalu bagus untukku…. Letaknya persis di depan kapel. 
Setelah memasukkan barang-barang, suster meninggalkanku. Tiba-tiba aku melihat keranjang plastik hijau, dan di atasnya ada tulisan dengan spidol hitam “Kamar Romo”. Hah… jadi yang kupakai ini kamar Romo??
Ketika aku bertanya ke suster, “bagaimana kalau romo datang?” beliau hanya tertawa. Ternyata ada tempat lain lagi untuk Romo yang biasa datang untuk mengadakan misa setiap sabtu sore dan senin pagi. Terimakasih suster… untuk tempat yang begitu terhormat bagiku.

Monday, January 30, 2012

Mesin cuci dua tabung

sahabat setia... dulu hingga kini

Kalau tidak ada sms masuk dan bertanya "alamat mbak Lilik dimana? mau kirim undangan ulang tahun Kanisius..", aku tidak ingat kalau Penerbit Kanisius mau berulang tahun. Karena waktu sudah mendesak, aku membalas sms dengan "kirim saja lewat email".
Dan undangan kuterima, untuk mengikuti misa akbar ulang tahun Penerbit Kanisius ke 90.... wooow... nggak terasa sudah sampai 90 th usianya. Makin mantabkah... atau malah renta??
Harapanku... haruslah mantab... kalau tidak... hhhmmm... gimana dong uang pensiunku hahahaha....

Walaupun sudah berdandan rapi... toh selalu merasa tidak pede untuk bertemu dengan teman-teman lama... tapi rasa kangen mengalahkan segalanya. Dan pagi itu, aku berangkat ke Jogja untuk menghadiri pesta ulang tahun.
Begitu tiba, bersamaan dengan dimulainya misa yang dipimpin 9 romo.... bener-bener misa akbar...
Tempatnya di halaman yang rindang dan luas, cukup untuk menampung 400 lebih karyawan dan pesiunan.
Suasana sudah hikmat, ketika aku datang, tapi tetap saja disambut teman-teman dengan pelukan kangen, cipika-cipiki... lambaian tangan dan senyum di kejauhan....
Agak grogi juga karena menjadi perhatian banyak orang... terlambat lagi....

Setelah misa... barulah bisa bertegur sapa, bersalaman, sekali lagi dihujani dengan pelukan dan cipika-cipiki.Sudah 6 tahun sejak aku mengajukan pensiun dini. Kehadiaranku masih disambut dengan antusias.. komentarnya selalu sama "kok tambah muda...." kalau aku bilang "kalau setiap tahun dibilang tambah muda... sekarang umurku berapa jadinya...." dan mereka tertawa " ABG mbak..." Anak Baru Gede  maksudnya..... hahaha....
Acara dilanjutkan dengan berbagai sambutan, tari-tarian, dan pembagian hadiah bagi karyawan yang telah berkarya 25 tahun...
Aku memilih untuk menunggu di showroom Kanisius, tempat aku dulu berkarya. Ngobrol dan bercanda dengan teman-teman sambil melayani tamu. Setiap tamu mendapat hadiah satu buku, dan kue ulang tahun...

Tiba-tiba seorang temanku berlari tergopoh-gopoh....
"mbaaaaakkkk... ayooo cepet... setor muka.... mbak Lilik dapat doorprize mesin cuci... kalau dihitung 3 kali nggak muncul bisa hilang...." HAAAH.....
Ikut tergopoh-gopoh aku berlari ke lapangan... masih dengan heran dan tidak percaya.... masak???
Tapi belum sampai setor muka... aku sudah dihujani selamat, dan juga peluk cium lagi......

Aku terharu. Mesin cuci, hadiah besar kedua, setelah TV 29 inci. Luar biasa!!... aku masih keheranan dengan keberuntungan ini... hingga benar-benar nggak bisa komentar. Hanya bisa ketawa-ketiwi... nggak jelas!.

Dua tahun lalu, aku juga mendapat doorprize berupa Salib. Entah mengapa selama dua tahun berikutnya, aku harus menyandang salib yang berat. Walaupun berat... akhirnya bisa juga kubawa dan kuhantarkan di puncak bukit Golgota. Dan semua penderitaaku di lebur bersama penderitaan Yesus yang teramat memilukan.
Kini, hadiah yang kudapat adalah mesin cuci. Perjalanan hidupku masih terbentang luas di hadapan, yang tidak mungkin aku ramalkan apa yang akan terjadi....
Tapi, bagaimana kalau aku mengartikannya begini...
Sebuah mesin cuci... pastilah maksudnya untuk membersihkan pakaian yang kotor. Bukankah ini sebuah pesan yang indah. Membersihkan diri... dari segala kotoran.
Kebetulan mesin cuci ini memiliki 2 tabung. Artinya, walaupun dengan mesin yang pasti lebih mudah dan ringan, toh tetap dibutuhkan kewaspadaan, kapan airnya harus dimatikan dan dinyalakan. Kapan pakaian harus dipindahkan untuk di keringkan di tabung kedua. Berbeda dengan mesin cuci satu tabung. Yang semua serba otomatis. Asal detergen dan cairan pewangi sudah dimasukkan di tempat yang sudah disediakan, tinggal pencet tombol. Semua akan berjalan otomatis... tahu-tahu sudah selesai.

Mesin cuci 2 tabung, justru mengingatkanku bahwa pemurnian diri, tidak bisa otomatis terjadi. Harus disertai kewaspadaan, dan tindakan yang benar. Kalau baju dibersihkan dengan detergen... maka untuk menyucikan diri, detergennya adalah doa. Dan... doa saja tidak cukup. Harus diikuti dengan tindakan yang positif.
Sebuah pesan dan tantangan yang indah buatku untuk melangkah ke depan, semoga Tuhan mendampingi dan membimbing tanganku untuk dapat melaksanakannya dengan benar dan sesuai dengan kehendakNya.

Selamat ulang tahun ke 90 Penerbit Kanisius... semoga doa kami semua menyatu, menghantar permohonan supaya kapal layarnya semakin kokoh dan kuat mengarungi laut lepas.. dan selalu dilindungi Tuhan saat menghadapi badai dalam menjalankan misi mulia bagi gereja dan dunia pendidikan. Amin.

PF. 26 Januari 1922 - 26 Januari 2012