Pages

Friday, February 17, 2012

Kuat bertahan

Orang menyebutnya “wingit”… angker
Dan mereka takut mendekat
Aku menyebutnya “kokoh”
Bahkan ranting-rantingnya pun masih bercabang utuh
Akarnya, bagai cakar raksasa menancap kuat
tak tergoyahkan…
Panasnya lahar dan debu
Menghempas keras semua kehidupan.
Dia tetap tegak, tanpa hijau daun
Megah… tak ingin menyerah!
Aku menyebutnya “inspirasi”
Dan aku ingin sepertimu…
Kuat… bertahan…

Rumah Malam Hari

Aku bisa merasakan bagaimana kehilangan rumah. Sebulan sebelum Merapi meletus rumahku laku terjual. Aku berencana untuk tinggal di daerah Pakem. Tapi karena gunung Merapi meletus, semua mimpi hanyut terbawa lahar dan debu. Demikian juga dengan mereka. Tidak mudah untuk tinggal di tempat yang baru. Apalagi semua itu bukan sesuatu yang kita harapkan. Tapi apa mau dikata….

kandang ayam
Bersyukur, bahwa begitu banyak uluran tangan untuk para korban gunung Merapi. Banyak didirikan shelter bambu yang bisa menjadi tempat tinggal sementara bagi mereka. Dari pada tinggal di pengungsian terus. Mereka membutuhkan kehidupan yang wajar bagi satu keluarga. Memulai kehidupan lagi sambil menunggu kesempatan untuk bisa memperbaiki rumah mereka kembali.  Mereka juga diberi fasilitas untuk memelihara ternak, seperti kambing, sapi, ayam dan ikan.

Banyak orang bertanya, “mengapa harus kembali? Mengapa tidak pindah di tempat yang lebih aman?” Adakah pilihan yang baik untuk mereka? Atau mereka memang ingin kembali, karena merasa disinilah tempatnya. Dan mereka tidak peduli lagi bagaimana kalau terjadi letusan lagi. Bagaimana dengan masa depan anak-anak mereka? Kalau pertanyaan ini aku lontarkan, mereka tidak mampu menjawab. Seakan-akan memang di depan sana, tidak ada yang pasti untuk bisa dipilih.

kolam ikan
Shelter home, menjadi hunian lenggang di siang hari. Mereka hanya menempatinya malam hari. Dari pagi hingga malam, mereka kembali ke lereng merapi. Berjualan berbagai souvenir dan makanan. Menjadi ojek yang menawarkan jasa untuk mengantar pengunjung kemanapun mereka ingin pergi. Menyewakan motor trail untuk melewat medan yang keras dan terjal. Dan untuk rombongan ada jeep yang siap menjalani off road bersama pengunjung ke Lava Tour.
kandang sapi

Dan malam hari… mereka kembali ke rumah. Rumah untuk beristirahat, menatap hari esok yang tak pasti. Cukuplah hari ini saja untuk di syukuri. Hari esok menjadi rancangan Tuhan Yang Mahakuasa. Tempat berlindung dan mengadu segala resah dan lara hati.

Tuhan, semoga hujan yang turun tidak terlalu deras dan berangin. Sehingga air tidak masuk kerumah kami… melalui dinding-dinding bambu yang menjadi satu-satunya pelindung tubuh kami. Dan semoga esok hari Engkau memberi kelimpahan berkah sehingga kami bisa menjalani hari-hari kami dengan gembira dan penuh suka cita…

I like... and I don't like...

Seharian hujan di lereng Merapi. Membuat kami tidak bisa melakukan apa-apa. Selain nongkrong di warung di parkiran Glagahsari, 3 km dari gunung Merapi, kami hanya bisa berada di dalam mobil. Glagah sari menjadi tempat yang tepat untuk memandang puncak Merapi dari dekat. Sayang tertutup kabut tebal dan hujan yang sangat deras.
Udara yang dingin membuat kami lapar. Tapi perjalanan pulang ternyata tidak mudah. Jalan yang tadi kami lalui sudah longsor terkena air hujan. Akhirnya kami harus berputar dan mencari jalan lain. Tidak terasa sudah jam 3 siang… cacing di perut mulai protes keras!! Lapeeeeeeerrrr……
“mau makan apa nih???” Tanya mas Kris, relawan yang bener-bener rela mengantar kami kesana-kemari.
“soto… atau bakso…pokoknya yang panas!” kataku…. Leah setuju. Dia seneng sekali makan soto. Tapi, memang dia senang semua masakan Indonesia. Dan mas Kris membawa kami ke sebuah warung soto, tempat teman-teman club jeep nya berkumpul.
Hujan masih turun, dan semangkok soto yang mengepul membuat cacingku bersorak gembira. Segera ludes tanpa sisa…. enak!. Leah bilang “the best soto I ever eat”…. Mungkin karena lapar dan dingin, jadi rasanya memang luar biasa enak!!.
Leah, si bule cantik ini, memang menarik perhatian. Ibu penjual soto, sampai mau duduk di depan kami untuk mencoba mengobrol, walaupun dengan bahasa Jawa kromo, dan aku menerjemahkannya untuk Leah. Datanglah kedua anaknya mendekat. Fian 6 th, da Erwina 10 th.
Mata indahnya yang berbinar ingin sekali bercakap-cakap dengan Leah, tapi malu. Aku mencairkan suasana dengan mengajarnya bernyanyi ABC… dia mengikutinya dengan cukup baik. Erwina klas 4 SD, jadi sudah ada pelajaran bahasa Inggris. Tiba-tiba Erwina menghilang. Spontan aku menggerutu “welah… diajari kok malah lunga..”
Ternyata, beberapa saat kemudian Erwina kembali membawa buku pelajaran bahasa Inggris. Dia menunjukkan ke Leah. Leah sangat antusias menanggapinya. Dan berlangsunglah kursus bahasa Inggris kilat, sambil menunggu hujan reda.
Leah melatih pengucapan…. I like…. Diikuti pengucapan setiap gambar yang ditunjuk di bukunya. Erwina mengikutinya dengan sangat baik dan lancar. Ketika Leah mengajarkan I don’t like…. Erwina selalu salah menyebutkan. Berkali-kali ditekankan pada kata don’t  tapi tetap saja lupa….
Mata Erwina yang berbinar penuh semangat, keberaniannya untuk belajar dan berbicara dengan Leah, membuat kami terkesima. Leah tergelitik untuk menjadi relawan di sekolahnya, mengajar bahasa Inggris. Bukankah bahasa Inggris sangat penting mereka kuasai, mengingat sekarang banyak turis yang berkunjung untuk memadang gunung Merapi dari dekat.
Erwina dan Fian… dua bocah cilik dengan mata binarnya dan senyum ceria, membuat kami ingin kembali… 

Thursday, February 16, 2012

A Gift List!

Leah Hendrick
Her name is Leah. Sounds like “Lia” in Bahasa Indonesia, a beautiful young lady indeed. I met her on January 16th this year, exactly a month ago. She came to my house by bicycle with my sister in-law, Shinta. After shaking hands and saying, “Nice to meet you” with a sweet big smile, our conversation seemed like we had already known each other for a very long time. She is at the same age as my daughter, that’s why I feel like I have a new daughter who came from far away. She is originally from New York, USA. She studies English, that’s why her English is clear and easy to understand.

Shinta met Leah at the train station in Jogjakarta. She didn't know how much she should pay for the taxi. The taxi asked her to pay way more  than it should be. Shinta helped her, and since then they have become friends. We helped her to get a nice place to stay. And sometimes Leah stays overnight at Shinta’s house, and gaves her a short course in English for her children. Shinta also helped her to get another place, when she realized that the first place was not suitable anymore.

Leah is interested in Javanese culture. She wants to write a theater script. She is also excited for being a model. Luckily, there is a man who offers her to be a model for sport shoes. I have no experience about being a model. As a mom sometimes I feel so worried. That’s why on the day she had to deal with the agent, I decided to accompany her. I just wanted to make sure she met a real agent, and good person. I drove her by myself to buy clothes and shoes. I brought her to the agent. It’s was a good agent indeed, and I didn’t need to worry at all.

 I did a lot of favors to her because she is just like my own daughter. And she is a nice and good woman. I know her mom would be very glad if she knew that her daughter was safe and sound.
Leah realizes that Shinta and I helped her beyond what she expected. That’s why Leah tried to do the same for us. When she knew that I wanted to cut my hair, she asked to pay for it. I agreed because she thought she had done some favor back  for the things we have done for her.

The day we made an appointment to meet in Ambarukmo Plaza I was late. On Saturday, there is always a traffic jam in Jogjakarta. When I got there, she’d already bought another pair of 13 cm high heeled shoes, for her first fashion show in Malioboro the following week. I met her at Starbucks. After having a cup of Cappuccino, we had a lot of topics to talk about. The one that I was really interested in is in her gift list!.

Leah made a list in her notebook. A gift list for every person who helped her so far. She is confused, because when someone helps her, and she gifts something back to that person, he or she will give back even more to her, so her list is growing. She always adds to her list, until she does not know what to do.

I said, “Just stop it. Accept it and say thank you… that’s all you have to do”. Leah learned something new here, in which people do something good without expecting something in return; I also learned from her too, that I must remember to give something back to the people who help or give me something in the past. Maybe not for every person, but at least I always remember that. A gift list, is not only a present list but a love list as well. Love to smile; love to say thank you, love to say HI, how are you? (edited by Yongkie Hurd and Tinneke)


Note: A big thanks to Yongkie Hurd who encouraged me to write in English, so this is my first trial to do so..

"...berjaga-jagalah..."

 "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? 26:41 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Mat 26:40-41).

Beruntung sekali aku bisa mengikuti acara adorasi di susteran yang dilaksanakan setiap hari Senin. Pagi itu, pukul 6 ada misa yang dipimpin oleh Romo Kris. Misa biasa. Yang luar biasa adalah lagunya diiringi gitar yang dimainkan 2 orang suster, yang hanya berlatih selama 2 hari.
Pada hari ini, suster-suster puasa, dan baru akan berbuka puasa nanti jam 18.00. selain itu, ada adorasi untuk hening menemani Sakramen Mahakudus yang diletakkan di atas altar di Kapel. Keheningan akan berlangsung selama 24 jam hingga besok jam 6 pagi. Setiap jam ada 2 suster yang hening dalam doa dan meditasi di kapel. Jadwalnya urut bergantian setiap 1 jam. Aku dan Leah memutuskan untuk ikut mengambil jadwal hening pada jam 9 hingga 10.

Ketika giliran kami tiba, aku dan Leah memasuki kapel yang sepi. 2 orang suster keluar dan kami gantikan. Diam dalam doa. Setelah selesai satu putaran Rosario, aku hanya berdiam diri, dengan pikiran melayang kemana-mana. Aku tidak tahu apa yang dilakukan Leah. Tapi aku tahu dia berusaha pula untuk diam selama 1 jam. Satu hal yang katanya belum pernah dia lakukan.
Aku biarkan waktu berlalu… dan ternyata 1 jam tidak terasa. Ketika aku mendengar suara pintu kapel dibuka, dan 2 orang suster masuk…. Aku tahu aku sudah berhasil melewati 1 jam dalam keheningan. Hhhmmm… sebuah pengalaman yang indah.
Diam membuat kita mendengar. Mendengar suara gemericik air sungai di sebelah kapel. Merasakan angin sejuk yang kadang-kadang menerpa lembut wajahku… entah dari mana. Karena semua pintu tertutup. Aku ingin mendengar sesuatu dariNya…. Tapi aku tidak mendengar apa-apa. Tapi, diam 1 jam membuat daging berisitirahat mengumbar keinginan, dan membiarkan roh mencari ketenangan. Dan aku memperolah kedamaian yang indah.

"...aku ingin bersamamu..."


rumah mbah Sudi
Seandainya pagi itu aku bisa bertemu mbah Sudi, mungkin aku bisa ngobrol banyak dan mendapatkan jawaban yang tepat, mengapa dia mau tinggal di tempat sesunyi ini sendirian. Sedikit di atas tempat tinggal mbah Marijan, tapi kami belok ke barat, sedangkan rumah mbah Marijan ke timur. Setelah melewati jalan tanah yang sempit. Mobil bisa mencapai lokasi yang sedikit lapang.
Untuk mencapai rumah mbah Sudi, kami harus berjalan kaki lagi, melewati jalan setapak naik dan turun, kira-kira 15 menit. Di tempat yang begitu terpencil, sunyi… mbah Sudi bertekad menghabiskan sisa hidupnya disini. Konon usianya sekitar 70 tahun. Masih kuat berjalan ke desa, dan pulang membawa sekarung kayu bakar atau arang. Kami mengunjungi mbah Sudi untuk mengantarkan kasur.

Dihalaman depan rumahnya, ada kandang ayam. Kalau kami berjalan terus ke barat, di sana ada tanaman sayuran. Buah labu, tomat, kacang panjang, sawi, dan cabe. Cukup untuk lauk sehari-harinya. Kami berkeliling, sambil berteriak mencari mbah Sudi, tapi tidak bertemu. Akhirnya kami kembali kerumahnya yang tidak dikunci, sehingga kami bisa memasukkan kasur ke kamarnya yang sederhana. Karena tidak menunjukkan tanda-tanda mbah Sudi akan muncul, mungkin sedang pergi ke desa, maka kami memutuskan untuk pulang.
kacang panjang

Dalam perjalanan menuju kendaraan kami diparkir, teman kami bercerita, bahwa salah satu anak mbah Sudi, bernama Wahana menjadi korban letusan gunung Merapi. Setelah menyelamatkan ibunya, Wahana bolak-balik menyelamatkan anak-anak kecil dengan dibonceng sepeda motor. Ke tujuh kalinya dia kembali ke atas untuk menyelamatkan anak-anak lain, tapi dia tidak pernah kembali.
Mbah Sudi memilih tinggal sendiri di lereng tertinggi, dingin, sepi dan sendiri. Seandainya aku bisa bertemu dengannya dan bertanya, mengapa mau tinggal disini sendirian?.... jawaban yang aku bayangkan, sebagai seorang ibu adalah “aku ingin bersama anakku….”.
Satu setengah tahun sudah sejak gunung Merapi meletus. Kisah-kisah sedih dibalik peristiwa membuatku sesak napas dengan mata berkaca-kaca.

Puing-puing kenangan

Ketika putri gunung memuntahkan amarah
Lahar dan awan panas tidak mampu kami cegah
Melahap semua yang pernah kami miliki
Meninggalkan hanya satu warna kedukaan… kelabu

Kemana kami harus pergi?
Ketika pelindung kami tinggal kerangka batu bata
Yang bahkan tidak lagi kuat menahan atap
Mengusir badan bersimbah debu dan airmata

Tuhan,
Puing-puing yang Kau tinggalkan
Kini, hanya bisa menyimpan kenangan…