Wednesday, March 21, 2012
Obrolan setelah sembahyangan....
Teh diedarkan
Ibu 1: mau nambah satu gelas lagi? (sambil menyorongkan 1 gelas teh lagi)
Ibu 2: oh.. satu saja cukup (sambil meletakkan gelasnya di kursi kosong)
Ibu 1: saya nambah satu, kalau satu gelas kurang, makanya nih saya sekarang gemuk (sambil menepuk perutnya dan tertawa)
Ibu 2: saya satu saja sudah cukup kok, lagi pula gak begitu suka teh manis (sambil meletakkan gelas cadangan ibu 1 di kursi)
Sup diedarkan
Ibu 1: ayo jeng,mumpung masih panas, kalau dingin nggak enak
Ibu 2: oh ya, monggo
Ibu 1: Si A (menyebutkan nama salah satu keluarga yang sedang berduka), itu kan pinter masak, kok bukan dia yang masak ya???
Ibu 2: lhah kan dia lagi bersedih karena ibunya meninggal, mestinya ya gak sempat mikir masak
Ibu 1: ooo... begitu ya? lha terus ini siapa yang masak?
Ibu 2: waduuuh... saya nggak tahu (tuiiiing...tuiiiiing.... piye maksudnya nih?)
Setelah makan ibu 1, minum teh di gelas pertama tapi cuma separoh, kemudian diletakkan lagi. Ibu 2 juga minum teh separoh gelas
Nasi rames diedarkan
Ibu 1: monggo bu dahar...
Ibu 2: monggo...
Selesai makan, Ibu 1 minta diambilkan gelas satunya yang masih utuh, kemudian minum separohnya. Ibu 2 menghabiskan teh di gelasnya.
Doos snack diedarkan
Setelah masing-masing menerima doos, mereka bersiap-siap pulang. Ibu 1 menyorongkan piring makan kosong kebawah kursi. Kemudian dua gelas teh yang hanya diminum separo diletakkan di atas piring kosongnya....
Lhoh... ngapain minta 2 gelas kalau hanya diminum separoh-separoh ya????
Tamu-tamu mulai pulang. Ketika ibu 2 mau berdiri bersiap-siap untuk pulang, ibu 1 menahannya
Ibu 1 : nanti saja... masih ramai..
Ibu 2: saya sudah ditunggu suami di luar...
Ibu 1: nanti saja... masih ramai (sambil menutupi jalan, sehingga ibu 1 tidak bisa keluar dari deretan kursinya)
Tiba-tiba seorang wanita menepuk bahunya, "mom.... ayoooo" katanya.
Ibu 1: monggo jeng, saya duluan...
Ibu 2: oh... njih monggo.... (tuiiing...tuiiiing..... melongo...gondok!)
Pikiran kecil: ibu-ibu yang ngobrol nih siapa sih? cari tahu yuuuk....
Pikiran sedang: kenapa ya... ibu 1 minta 2 gelas, tapi cuma diminum separoh-separoh... kan sama saja dengan satu gelas???
Pikiran besar: ibu 1 ini bersikap serakah, tidak percaya diri, atau... tidak tahu kalau gelas separoh ditambah gelas separoh sama dengan satu gelas??? (masak sih???)
Ibu 2 menunduk dan merenung... tuiiing...tuiiiiing... mumet dewe... gak penting ya....
ya sudah tidur saja... nite... nite
Wednesday, March 7, 2012
Benang ruwet.. bundet
Pagi ini, setelah mata lelah dan pedas karena merenda, aku berpaling ke container plastik isi benang-benangku. Aku beranjak, mengeluarkannya dari rak.. dan membukanya.... alamaaaaakkkk!!!... lha kok banyak benang yang ruwet bundet nggak karuan.
Ketika ku keluarkan, beberapa benang yang masih tergulung ikut keluar... benar-benar ruwet dengan berbagai warna dan jenis benang. Ketika kuletakkan di lantai.. aku hanya terdiam menatapnya. Ingin rasanya mengembalikan ke container plastikku. Tapi, kemudian aku ingat... bukankah dulu juga kumasukkan begitu saja ketika aku melihatnya... karena sumpah... maleess banget ngeliatnya... apalagi mengurainya... Tapi sekarang ya tetap saja bundet....
Aku jadi ingat komentar bapakku "persoalan itu seperti benang ruwet bundet... asal kamu bisa menemukan ujungnya, pasti akan mudah mengurainya..." hhhmmm... benar juga... persoalan itu kan muncul ketika sudah terjadi keruwetan, kita harus kembali mencari ujungnya dulu, baru menyelesaikannya sedikit demi sedikit dan penuh ketekunan.
Setelah menghela napas panjang, aku mulai menyusuri satu persatu benangnya. Kebetulan ada banyak warna benang yang tercampur disana.
Aku mulai dari benang yang paling pendek dulu. Setelah kutemukan ujungnya, sedikit demi sedikit ku keluarkan dari tumpukan keruwetan yang besar. Kalau berbagai persoalan muncul bersamaan, memang lebih baik kita mulai menyelesaikan yang paling mudah dulu, yang paling mungkin bisa kita selesaikan. Barulah kita mengambil persoalan lain yang lebih sulit dari sebelumnya.
Satu persatu benang akhirnya berhasil kuurai, dan kugulung lagi hingga terpisah satu dengan yang lain. Ternyata bermacam warna benang justru memudahkanku untuk mengambil keputusan, mana yang harus kudahulukan. Karena kelihatan sekali, mana benang yang pendek dan panjang.
Persoalan hidup kita memang bermacam-macam. Kadang kita sudah pusing sendiri dengan keanekaragamannya... tapi cobalah berdiam diri sebentar, dan melihat setiap persoalan dengan kepala dingin. Terlihat dengan jelas, berbagai persoalan tersebut, justru memudahkan kita untuk membuat prioritas, mana yang harus kita selesaikan terlebih dahulu.
Traalalaaaa... lihatlah... benangku sudah tergulung dengan rapi....
Hidup kita juga harus kembali dirapikan, ditata, disusun dengan indah.... Tuhan Sang Pencipta, akan senang memandangnya...
Ketika ku keluarkan, beberapa benang yang masih tergulung ikut keluar... benar-benar ruwet dengan berbagai warna dan jenis benang. Ketika kuletakkan di lantai.. aku hanya terdiam menatapnya. Ingin rasanya mengembalikan ke container plastikku. Tapi, kemudian aku ingat... bukankah dulu juga kumasukkan begitu saja ketika aku melihatnya... karena sumpah... maleess banget ngeliatnya... apalagi mengurainya... Tapi sekarang ya tetap saja bundet....
Aku jadi ingat komentar bapakku "persoalan itu seperti benang ruwet bundet... asal kamu bisa menemukan ujungnya, pasti akan mudah mengurainya..." hhhmmm... benar juga... persoalan itu kan muncul ketika sudah terjadi keruwetan, kita harus kembali mencari ujungnya dulu, baru menyelesaikannya sedikit demi sedikit dan penuh ketekunan.
Setelah menghela napas panjang, aku mulai menyusuri satu persatu benangnya. Kebetulan ada banyak warna benang yang tercampur disana.
Aku mulai dari benang yang paling pendek dulu. Setelah kutemukan ujungnya, sedikit demi sedikit ku keluarkan dari tumpukan keruwetan yang besar. Kalau berbagai persoalan muncul bersamaan, memang lebih baik kita mulai menyelesaikan yang paling mudah dulu, yang paling mungkin bisa kita selesaikan. Barulah kita mengambil persoalan lain yang lebih sulit dari sebelumnya.
Satu persatu benang akhirnya berhasil kuurai, dan kugulung lagi hingga terpisah satu dengan yang lain. Ternyata bermacam warna benang justru memudahkanku untuk mengambil keputusan, mana yang harus kudahulukan. Karena kelihatan sekali, mana benang yang pendek dan panjang.
Persoalan hidup kita memang bermacam-macam. Kadang kita sudah pusing sendiri dengan keanekaragamannya... tapi cobalah berdiam diri sebentar, dan melihat setiap persoalan dengan kepala dingin. Terlihat dengan jelas, berbagai persoalan tersebut, justru memudahkan kita untuk membuat prioritas, mana yang harus kita selesaikan terlebih dahulu.
Traalalaaaa... lihatlah... benangku sudah tergulung dengan rapi....
Hidup kita juga harus kembali dirapikan, ditata, disusun dengan indah.... Tuhan Sang Pencipta, akan senang memandangnya...
Saturday, February 18, 2012
Kunyanyikan untukMU…
Kalau suster yang bernyanyi, pasti bukan lagu rock, lagu cinta yang mendayu, atau lagu goyang dangdut ala Ayu Ting Ting. Tapi sebuah lagu untuk mengiringi misa. Lagu yang syairnya penuh cinta dan syukur kepada Tuhan.
Dua hari ini suster-suster asik berlatih musik dan bernyanyi. Ada frater yang melatih mereka bermain gitar dan orgen. Mendadak, susteran yang biasanya sunyi senyap, mengumandangkan lagu-lagu merdu dengan iringan gitar dan orgen. Ada apa gerangan?
Bukan hal biasa sebenarnya. Hanya sebuah tantangan yang di lontarkan kepada suster-suster untuk mengiringi misa dengan lagu dan musik yang mereka bawakan sendiri. Tantangan yang indah, dan suster-suster menyambutnya dengan sukacita. Menyenangkan berada diantara mereka yang penuh semangat belajar memetik gitar sambil bernyanyi…
Betapa hatiku
Berterimakasih... Yesus
Kau mengasihiku
Kau memiliki
Berterimakasih... Yesus
Kau mengasihiku
Kau memiliki
Hanya ini Tuhan persembahanku
Segenap hidupku, jiwa dan ragaku
S'bab tak kumiliki harta kekayaan
Yang cukup berarti 'tuk ku persembahakan
Hanya ini Tuhan permohonanku
Terimalah Tuhan persembahanku
Pakailah hidupku, sebagai alatMu
Seumur hidupku
Segenap hidupku, jiwa dan ragaku
S'bab tak kumiliki harta kekayaan
Yang cukup berarti 'tuk ku persembahakan
Hanya ini Tuhan permohonanku
Terimalah Tuhan persembahanku
Pakailah hidupku, sebagai alatMu
Seumur hidupku
Pertobatan Suster Santi
Kalau anak berseteru dengan orangtuanya, itu biasa. Yang luar biasa adalah anak dan orangtua bisa seiya sekata, kompak dan bersatu! Adakah yang seperti ini?? Rasanya lebih sulit menemukannya, dari pada menemukan kasus perseteruan anak dan orangtua.
Masih ingat lagu…. “rokerrrr… juga manusiaaaa…”… aku akan senang menyanyikannya dengan… “susteeeerrr juga manusiaaaa…”. Mengapa? Karena aku mendengar cerita suster Santi yang berseteru dengan ibunya. Tidak penting apa permasalahannya, karena memang hal ini wajar terjadi pada siapa saja. Komunikasi yang amburadul. Ibu merasa sudah pernah muda, sedang anak belum pernah menjadi orangtua, atau ibu khususnya.
Tuhan tidak tinggal diam. Suster Santi disempurnakan melalui pengalaman yang luar biasa. Suatu hari, ada bayi 4 bulan yang ditinggalkan di susteran begitu saja oleh ibunya. Suster Santi mendadak menjadi ibu. Segala upaya dia lakukan untuk merawat bayi tersebut. Panik melanda ketika bayi tersebut tidak mau berhenti menangis. Semalaman dia tidak bisa tidur…
“dede… kenapa??? Jangan menangis terus… suster tidak tahu harus bagaimana…” tapi si bayi tidak peduli. Dalam keputusasaan, suster membujuk si kecil “ayolah de… berhentilah menangis sebentar saja, supaya suster bisa berdoa di kapel”. Dan si kecil diam… tapi setelah doa di Kapel selesai… si kecil menangis lagi… tanpa henti hingga keesokan harinya…
Akhirnya, suster membawanya ke Puskesmas. Suster bahkan tidak tahu bagaimana menggendong bayi. Dia membawanya seperti membawa bendera pusaka saat upacara bendera!! Sungguh menegangkan!. Ternyata bayi ini kembung perutnya. Yang waktu itu dikira suster bayi ini gemuk…. Yah… suster bahkan tidak tahu sama sekali bahwa bayi 4 bulan mesti diberi susu tiap 2 jam sekali. Dia memberinya susu sehari hanya 3 kali seperti orang dewasa.
Pengalaman merawat bayi, membuat Suster sadar bagaimana dulu ibu merawatnya. Pengalaman ini membuatnya bersimpuh di kaki ibu untuk minta maaf. Titik pertobatan yang merubah semua pandangan suster tentang ibunya. Dan suster juga disempurnakan sebagai seorang ibu, bagi 60 anak asuhnya kini.
Di akhir cerita Suster berkata dengan penuh kebanggaan “akhirnya saya berhasil membedakan tangisnya. Tangis karena lapar, haus, pipis atau berak, atau tangis manja….” Dan dia melanjutkan “anak itu sekarang sudah 5 tahun, setiap saya datang, baru turun dari sepeda motor, dia akan berlari bersama anak-anak kecil lainnya…… oma dataaaaaaang… dan mereka memelukku dari belakang, dari depan, samping… menyenangkan sekali..”
Kisah suster Santi membuat mataku berkaca-kaca.
Melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar
Papan di depan susteran bertuliskan:
Susteran PPYK
Putri-Putri Yesus Kristus
Komunitas
St. Theresia Kanak-Kanak Yesus
Bangunan susteran terkesan sederhana. Suster Santi, adalah wakil kepala, mengatakan bahwa memang susteran tidak boleh dibangun bagus dan mewah. Ini pesan pendiri Susteran PPYK, yaitu Suster Melanie, yang sudah meninggal. Mengapa sederhana? Supaya menyatu dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya, dan supaya mereka tidak sungkan untuk berkunjung ke susteran.
Tujuan susteran didirikan di tempat terpencil seperti ini, untuk mendekatkan diri pada masyarakat sekitar. Bersatu dengan orang-orang kecil, sederhana, terlupakan. Siapakah mereka? Para lansia, anak-anak kecil yang terbuang, remaja yang gamang menghadapi masa depannya, dan siapa saja yang datang dengan hati yang kosong, hampa dan miskin.
Mereka memiliki 60 anak asuh, dari bayi hingga klas 3 SMA atau SMAK. Setelah mereka lulus, tidak ada kewajiban sama sekali untuk membalas jasa baik mereka.
“anggap mereka anak-anak yang kalian lahirkan, rawat dan besarkan hingga mereka mampu berdiri sendiri” itulah pesan Suster Melanie.
Cinta yang besarlah, yang membuat mereka mampu melakukan ini semua dengan penuh ketulusan dan suka cita. Tidak ada yang sulit, ketika semua dilakukan dengan cinta.
Mengasuh 60 anak dengan memberi mereka tempat, makan dan pendidikan.
Mengunjungi Mbah Jo, Mbah Sudi.. dengan berjalan kaki.
Ikut terlibat di dapur umum untuk para korban merapi. Naik truk bersama para tentara ke tempat-tempat pengungsian.
Menanam 11.000 pohon dan memeliharanya di lereng-lereng Merapi, supaya bertambah hijau. Termasuk menanam berbagai tanaman sayur dan buah untuk Mbah Sudi.
Menyediakan tempat retret untuk siapa saja yang ingin memperbaharui spiritualitasnya.
Dan… menyediakan kamar untuk orang seperti aku, yang sekedar ingin mengetahui lebih dekat kegiatan mereka dan aku disambut dengan tangan dan hati yang terbuka… Tuhan Maha Agung.
Candle Light Dinner
Hari terakhir di susteran membuatku mengemas pakaian dengan sedih. Setelah pagi tadi mengikuti misa dan mengikuti adorasi 1 jam di kapel, kini saatnya untuk pergi. Suster Hendrick datang ke kamar kami, dan bertanya “sudah pernah ke jembatan Kali Kuning?”. Aku jadi ingat, hari pertama aku disini, aku berjalan-jalan sendiri menuju jembatan Kali Kuning. Tapi, aku jadi malu sendiri ketika melihat sepasang remaja sedang berpacaran. Hingga akhirnya aku kembali pulang. Suster mentertawakanku. Memang disana tempat orang berpacaran.
“ayo kita kesana lagi… indah sekali tempatnya” aku, Leah dan Suster akhirnya berjalan kaki ke Jembatan Kali Kuning, yang hanya 500 m dari susteran. Dalam perjalanan Suster yang memegang kameraku, asik mengambil gambar apa saja yang membuat dia tertarik, dan kami berdua menjadi modelnya. Ketika Suster kawatir kalau terlalu banyak gambar yang dia ambil, aku menenangkannya “jangan kawatir, ambil saja sesuka Suster, bisa muat sampai 1000 gambar kok…” dan beliau senang sekali.
![]() |
| candle light dinner?? |
Kali Kuning yang sudah dipenuhi batu-batu besar, tetap membawa pesona dan romantisme yang membuat orang ingin berpacaran di sana. Jadi, memang sewajarnya kalau menjadi tempat para remaja memadu kasih. Sepasang remaja, akhirnya memilih menyingkir pulang ketika kami datang. Apalagi ada suster bersama kami. Takut dosa mungkin… hahaha…
Leah yang penuh ide cemerlang tiba-tiba banyak terdiam… “I’am thinking…” katanya dengan raut muka penuh senyum seperti biasa…
![]() |
| cat walk |
Ketika kami tiba di sekitar batu-batu besar, duduk diatasnya sambil menikmati gemericik suara sungai.. tiba-tiba dia berseru “we can make candle light dinner, here… it’s sooo… romantic!!”… katanya ceria… dan gagasan liarnya semakin mengembara. Sebuah acara amal untuk korban Merapi!.... Candle light dinner di atas batu, dengan sajian fashion show… dengan jembatan sebagai cat walknya…. Wooow…. Amazing!!..
Sebuah ide cemerlang untuk bisa diwujudkan!. Siapa tertarik untuk bergabung??? Tentu saja dengan catatan tidak hujan…!
Friday, February 17, 2012
Kuat bertahan
Orang menyebutnya “wingit”… angker
Dan mereka takut mendekat
Aku menyebutnya “kokoh”
Bahkan ranting-rantingnya pun masih bercabang utuh
Akarnya, bagai cakar raksasa menancap kuat
tak tergoyahkan…
tak tergoyahkan…
Panasnya lahar dan debu
Menghempas keras semua kehidupan.
Dia tetap tegak, tanpa hijau daun
Megah… tak ingin menyerah!
Aku menyebutnya “inspirasi”
Dan aku ingin sepertimu…
Kuat… bertahan…
Subscribe to:
Posts (Atom)







