Pages

Monday, April 16, 2012

Bandara Komodo di Labuan Bajo

Jam 6 pagi, putri bapak sudah menunggu kami di Bandara H. Hasan Aboesoesman, untuk check in. Karena dia masih harus melanjutkan aktivitas mengajar di Universitas Flores, maka setelah memastikan kami semua masuk ke ruang tunggu, maka kami berpisah. Pesawat yang semestinya berangkat pk. 7.45, delayed 1 jam. Di sekitar kami, cukup banyak tourist yang bertujuan sama ke Labuan Bajo, atau sekedar transit untuk tujuan  Denpasar Bali.
Ke Labuan Bajo, berarti aku harus terbang kembali ke Barat, dekat dengan pulau Komodo. Baru kemudian dengan menyewa mobil kami kembali ke Ende melalui Ruteng, Bajawa, dan Riung. Total perjalanan 465 km.
Pk 8.45, pesawat baling-baling kami terbang menuju Labuan Bajo. Sepanjang berjalanan pemandangan dari jendela pesawat menggambarkan kekayaan pulau Flores akan pegunungan dan kepulauan. 45 menit kemudian kami mendarat di Bandara Komodo, Labuan Bajo. Tidak kusangka, aku bisa mengikuti perjalanan ini. Bandara Komodo itu kecil. Bahkan tempat pengambilan barang (baggage claim), cukup langsung diambil dari troly bandara.
Kami disambut taxi dengan driver muda berambut kribo. Rupanya tante  Win sudah mempersiapkan semuanya hingga, ketika kami datang, ada taxi yang mengantar kami untuk mencari hotel. Hotel tidak perlu mewah, yang penting bersih, AC, cukuplah untuk beristirahat. Kami memilih hotel Waringin Puncak… benar-benar di puncak bukit, dengan pemandangan pelabukan …. Yang cantik sekali!.
pemandangan di depan hotel
Karena masih ada waktu, kami berkeliling melihat tempat-tempat indah di sekitar kota Labuan Bajo. Paradise adalah café dimana kita bisa melihat pemandangan bak lukisan. Nanti sore kami berencana akan melihat matahari tenggelam di sini.
Selesai minum di Paradise, barulah perut terasa lapar. Selain mencari makan siang, tante Win mencari celana pendek untuk snorkeling di pantai Bidadari besok siang. Makan siang di restoran Bengkalang ternyata lezat!. Soto, gulai dan sate ayamnya lezat sekali!.

Kami beristirahat sebentar untuk nanti sore bisa menikmati sunset in Paradise.

Petualangan Lansia....

siap terbang ke Labuan Bajo
 Minggu pertama tinggal di Ende, bagiku… sudah penuh dengan cerita. Banyak hal baru dan penuh inspirasi, terutama di usiaku yang sudah lebih dari setengah abad. Tapi bertemu Om Roy, Tante Yani dan Tante Win justru membuatku lebih muda. Usiaku lebih muda dari mereka. Om Roy, 72 th, Tante Yani dan Tante Win, 68 tahun. Tapi, semangatnya… luar biasa muda!.

Itulah yang membuatku spontan ingin ikutan mereka melakukan jalan darat dari Labuan Bajo ke Ende. Tante Win, menyemangatiku.” Ayo ikut aja, mereka sewa mobil kok.. kamu bisa ikut aja, kan tante mesti sekamar sendirian, dan mobil yang disewa, cukuplah kalau ditambah kamu… Cuma tiket pesawat Ende ke Labuan Bajo, mesti kamu beli sendiri”.
Hah… menantang sekali!... kalau dihitung-hitung, bolehlah nekad beli tiket ke Labuan Bajo. Bukankah ini petualangan yang sangat langka buatku. Sayangnya, begitu aku bersemangat ternyata, tiket pesawat lebih mahal 200 ribu dari budgetku….. hhhmmm ya sudahlah… mungkin belum saatnya. Lagi pula kan aku ke Ende, bukan untuk berpetualang, tapi untuk menghadiri ulang tahun bapak. Baiklah…. Lupakan!
Ketika makan malam di rumah bapak, dua hari sebelum keberangkatan Om dan tante untuk berpetualang, tiba-tiba Tante Win berkata sambil mencuci tangan,
“kamu ikut lho, dan mesti berterima kasih ke aku” aku heran, kok bisa?
“bapak beliin kamu tiket!!” HAAAH!!!.... YES!!!... WOOOW!!!... aku tertawa gembira… kalau tidak malu pasti aku sudah melompat. Langsung aku ke ruang makan. Dan dengan tangan mengatup aku berkata “bapak, mama…. Terimakasih…” mereka berdua hanya tersenyum dan tertawa ringan.
Sehari sebelum kami berangkat, tiba-tiba bapak dengan suara halilintarnya memanggilku ke meja makan. Ketika tamu sudah mulai banyak berdatangan, aku tidak lagi makan semeja dengan bapak. Kami yang lebih muda, ada di ruang makan sebelah.
“besok kau berangkat ya??”
“Iya, bapak” kataku sambil berdiri memegang kursi makan di sebelah bapak.
“besok kalau pulang jangan kembali ke sini ya…” heh… bapak ini bercanda... Dan aku menanggapi gurauannya dengan tertawa ringan.
“baik bapak, besok kalau saya datang saya kirim foto saya ke ruang makan ini ya…”… kali ini bapak tertawa lebar…
Terimakasih bapak dan mama… tanpa kemurahan hati kalian, mana mungkin aku bisa berpetualang melewati udara, darat , dan laut… dan kami para Lansia… siap bertualang.. 4 malam 5 hari. Di Labuan Bajo, kami menginap 2 malam karena ingin ke Pulau Rinca untuk melihat Komodo, Ke pulau Bidadari untuk snorkeling. Kemudian melakukan perjalanan darat menuju Ruteng, menginap di Bajawa. Keesokan harinya kami menuju Riung. Menginap sehari di Riung, dan akhirnya kembali ke Ende.

Selanjutnya, silahkan ikuti petualangan kami... membelah pulau Flores melalui darat...

Hadiah yang tak seberapa.....




Hari ini tepatnya hari ulang tahun bapak. 4 April. Pesta akbar akan diadakan di Universitas Flores 11 April mendatang. Semalam kami membuat kejutan dengan menghias rumah dengan balon dan hiasan gantung bertuliskan 75. Meniup balon 75 buah. Semua baru berakhir tengah malam, karena menunggu bapak tidur dulu.
Pagi ini acaranya, kami pergi bersama misa pagi di Gereja. Misa dimulai jm 5.30. Itu berarti kami harus bangun jam 4.30. Karena lelah semalam menghias rumah, alarm yang jam 4.30 kumatikan dan aku terlelap lagi. Untung alarm berbunyi lagi pkl 5. Kali ini aku langsung bergegas mandi. Begitu selesai mandi, klakson sudah berbunyi, mereka sudah menungguku untuk berangkat ke gereja. Alhasil, alas bedak, bedak dan lisptik kubawa, untuk berdandan di mobil.
Hadeeew… lupa kalau masih pagi, langit masih gelap, jadi nggak bisa berdandan di mobil. Akhirnya aku menyusup ke kursi paling belakang di gereja, dan hanya dengan berkaca di HP, aku memoles sedikit lipstick di bibir supaya tidak pucat.
Misa berjalan lancar, hanya 30 menit. Seluruh keluarga beriringan kembali ke rumah. Sarapan pagi sudah tersedia dimeja. Sebuah tart ulang tahun. Nasi Kuning lengkap dengan lauknya dan Nasi goreng. Masih ditambah bakmi ayam. 







Sebelum acara dimulai kami berdoa bersama dipimpin putri sulung bapak. Tiba-tiba bapak menangis, yang membuat kami ikut terharu. Pasti bukan tangisan sedih, tapi tangis penuh syukur. Betapa bersyukurnya boleh menikmati hidup hingga 75 tahun.
 Seminggu ini bapak selalu berdoa dengan khusuk “Tuhan, jangan biarkan saya mati sebelum hari ulang tahun, karena pasti semua orang akan kecewa”. Tentu saja, kalau hal itu terjadi, pasti memang kami semua kecewa. Apalagi dengan persiapan yang luar biasa untuk pesta akbar beliau. Dan tamu mulai berdatangan dari berbagai daerah.
Aku melihat ke diriku sendiri. Usiaku hampir 53 tahun. Kalau aku diberi berkah usia hingga 75 tahun, itu berarti aku masih memiliki kesempatan hidup 22 tahun lagi. Betapa besarnya berkah yang kudapat selama 22 tahun ke depan. Menit kehidupan yang kumiliki sekarang ini menjadi begitu berharga bagiku. Dan aku memohon dengan khusuk “Tuhan, ajarilah aku mengisi hidupku dengan lebih baik setiap hari, dan setiap hariku berguna bagi orang lain, sehingga aku tidak akan menyesalinya kapan pun aku harus pulang kerumahMu”.
Aku punya hadiah untuk bapak. Dua buah buku¸ yang kalau dilihat dari harganya, sudah pasti bapak bisa membeli sendiri. Maka aku hanya bisa berbisik ketika menghaturkan hadiah tersebut “hadiah yang tidak seberapa, dibandingkan apa yang bapak berikan ke saya”. Aku senang ketika bapak menerimanya dengan penuh sukacita.
Terimakasih Tuhan, karena memberi kesempatan kepada bapak untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 75. Semoga bapak boleh menikmati berkahMu setiap hari, sebagaimana dia juga memberi banyak berkah bagi orang banyak disekitarnya. Amin.

Saturday, April 14, 2012

Ngeeeeeeee……nnnnnngggg…… ke bandara yuk…!!

Aku adalah tamu pertama yang datang di Ende untuk ikut menikmati kemeriahan pesta 75 th bapak, 11 April nanti. Ketika pesawat baling-baling Wing Air mendarat di bandara H.Hasan Aboesoesman, yang pertama menarik perhatianku adalah, sebuah bandara mungil dengan para sopir taxi melambai menawarkan jasa dibalik pagar besi yang membatasi landasan pesawat.
Ketika tamu kedua, ketiga mulai datang, aku belum memperhatian sesuatu yang unik. Tapi, ketika ada rombongan tamu 6 orang datang dari Kupang. Aku mulai tertarik. Karena aku ingin ikut menjemput ke bandara. Mengingat yang datang adalah satu putri bapak yang tinggal di Belanda dan aku sangat dekat dengannya. Pesawat mereka akan tiba pukul 15.00.
Sambil santai ngobrol kami menunggu waktu. Ketika waktu sudah menunjuk pukul 14.30, aku heran karena mereka tetap santai di rumah.
“tenang mbak, kan belum ada suara sirene…., itupun nanti serene ke 3 baru kita berangkat”. Ternyata setiap pesawat akan turun ada suara sirene yang berjarak setiap 5 menit. Sirene ketiga itu berarti pesawat benar-benar sudah akan mendarat. Karena rumah dan bandara hanya cukup ditempuh 3 menit, maka kami masih bisa santai ketika mendengar suara sirene pertama dan kedua.
Ketika suara sirene ketiga berbunyi, kami langsung beranjak, dan dengan sigap dia mengendari mobil menuju bandara. Benar saja… sesaat setelah kami tiba, dan aku berdiri di deretan para sopir taxi, aku melihat kilatan lampau di cakrawala. Sesaat kemudian bentuk pesawat mulai kelihatan, makin lama makin besar. Dan pesawat landing dengan mulus….
Setelah benar-benar mendarat, pesawat menggelinding pelan menuju tempat yang telah disediakan untuk nantinya berhenti dan menurunkan seluruh penumpang. Seorang petugas berjalan cepat sambil mendorong tangga. Kemudian aku melihat putri bapak yang tadi menjemput bersamaku sudah berlari-lari di tengah lapangan menuju tangga pesawat. Putri bapak, adalah agen dari salah satu maskapai pesawat yang beroperasi di Indonesia Timur. Itu sebabnya dia bisa masuk ke landasan dan menunggu di bawah tangga pesawat.
Itu dia, mereka tiba… tawa yang meriah dan lambaian tangan… membawa keceriaan di hati. Satu persatu tamu datang. Rumah semakin penuh hingga kami harus pindah ke wisma Universitas Flores. Semakin mendekati hari perayaan ultah… tamu semakin bertambah.. hingga akhirnya nanti semua berkumpul dalam sebuah pesta akbar dengan tamu 1500 orang. Sebuah pesta penuh rasa syukur!!.

Hiruk pikuk di meja makan


Kalau aku sudah asik di kamar, memang lupa waktu. Apalagi waktu di Jogja lebih lambat satu jam dibandingkan di Ende. Tiap kali aku melirik jam di laptop, aku merasa masih di Jogja. Tapi, tiba-tiba ada yang melongok di pintu kalau pintu kamar tidak kututup. Atau mengetuk pintu sambil berkata pelan,
“tante, ditunggu makan”… itu berarti aku harus melepaskan semua aktivitasku dikamar, dan turun ke bawah untuk makan bersama, walaupun belum lapar.
Aku selalu duduk di kursi yang sama. Didepanku mama. Bapak di kursi ujung meja, sebelah kiriku. Sebelah kananku tante. Sisa kursi lain bisa dipakai siapa saja yang ikut makan pada saat itu.
Di depanku berbagai sajian berjajar di atas meja. Selalu ada sayur, sup, tahu-tempe, ikan dan ayam. Nasi ada di magic jar di meja belakangku.
Selalu ada seseorang berdiri di samping bapak. Dan beliau memberi instruksi sambil menyorongkan piring untuk diambilkan nasi merah di magic jar. Bisa sesendok, dua sendok, sesuai keinginan bapak. Mama juga memberikan instruksi untuk diambilkan nasi merah. Kecuali saat sarapan, bubur nasi merah selalu tersedia di atas meja.
Setelah itu, bapak akan meminta lauk yang dia inginkan. Setelah bapak mengambil, piring lauk diletakkan di meja dekat magic jar. Demikian satu persatu piring lauk melewati bapak kemudian berakhir di meja.
Mama lauknya special karena harus diet. Sedikit konsumsi garam dan segala sesuatu yang mengandung kolesterol.
Aku beranjak mengambil nasi dan lauk setelah bapak selesai dilayani dan siap menyantap hidangan di depannya. Setelah nasi dan lauk siap di piring, baru aku kembali ke kursiku untuk makan.
Memang benar, meja makan bisa menjadi sarana untuk berkomunikasi yang sangat efektif. Setelah seminggu di sini, aku baru mengerti. Bahwa setiap makan, mereka selalu berbicara tentang banyak hal. Dari pembahasan ringan, berdebat, salah paham, saling berteriak, saling tuduh, tertawa, panas hati, bahkan bisa saling tuding. Dan itu semua dilakukan sambil makan.
Awalnya, aku kikuk dan bingung. Aku masih bingung dan belum bisa menangkap dengan benar bahasa mereka. Walaupun dengan bahasa Indonesia, tapi ada kata-kata yang tidak biasa aku dengar. Apalagi kalau mereka berbicara full speed… hadeeeeeh… nggak tahu sama sekali. Atau mereka sedang membicarakan tema atau seseorang yang belum aku kenal.
Hebatnya, apapun yang terjadi di meja makan, akan selesai setelah kami meninggalkan meja. Tidak ada ganjelan. Semua seperti selesai saat itu juga. Biarpun kadang harus bersitegang, saling tuding, berteriak, tapi toh akhirnya semua saling memahami.
Sehari tiga kali, kami bertemu di meja makan. Dan tiga kali pula suasana tersebut berlangsung dalam keseharian kami. Aku merasakan perbedaan suasana di meja makan dalam keluargaku, layaknya orang Jawa.
Kami makan dalam diam, pelan, sopan. Komunikasi berlangsung datar, biasa, tidak ada gejolak, dan tenang-tenang saja. Ada waktu tersendiri untuk bertengkar. Suara keras, dan spontan kadang tersimpan untuk nantinya dibicarakan tersendiri. Kelemahannya adalah lupa. Banyak kemudian, keputusan diambil tanpa kompromi. Rame belakangan menjadi pilihan orang-orang Jawa.
Awalnya, aku rasanya mau tersedak, setiap mendengar mereka seperti bertengkar di meja makan. Tapi toh acara makan berjalan lancar. Dan setelah ketemu ujung pangkalnya, begitu mudahnya mereka tertawa dan saling menggoda… hebat!.
Sekarang aku sudah biasa. Tidak takut lagi dengan acara makan. Atau mungkin aku justru bersyukur, karena sajian lauk pauk setiap hari tidak akan menambah berat badanku. Karena aku makan dengan rasa khawatir… takut ada piring, gelas, garpu melayang… hahaha…
Dan aku tahu… walaupun suara mereka keras, lantang, menggelegar…. Hati mereka bersih. Siapa pun yang datang, harus makan!! Dan harus mau…! Hati mereka dekat dan penuh kasih satu dengan yang lain. Mungkin karena setiap ada ketidak cocokan langsung terlontar… jadi hati tetap terjaga, bersih dari segala prasangka….
Dalam hiruk pikuknya komunikasi… aku selalu  merasakan adanya kejujuran, ketulusan, niat baik, bahkan juga kasih sayang di antara mereka.

Sunday, April 1, 2012

The value of smile

It costs nothing, but creates much good. 
It enriches those who receive it without impoverishing those who give it away. 
It happens in a flash but the memory of it can last forever. 
No one is so rich that he can get along without it. 
No one is too poor to feel rich when receiving it. 
It creates happiness in the home, 
fosters good will in business, 
and is the countersign of friends. 
It is rest to the weary, daylight to the discouraged, 
sunshine to the sad, and nature's best antidote for trouble.
Yet it cannot be bought, begged, borrowed, or stolen 
for it is something of no earthly good to anybody 
until it is given away willingly.

-Anonymous-

Tulisan di atas aku lihat terpigura di atas wastafel di rumah bapak. Ada tertulis  4 April 1982, berarti 30 tahun lalu, pas hari ulang tahun bapak. Menurut ibu, tulisan tersebut dibeli di sebuah toko di Kupang.
Walaupun tersenyum itu sungguh sangat bernilai bagi diri sendiri maupun orang lain, tapi kalau hati baru suntuk, sedih, marah... betapa sulitnya menarik bibir ini keatas untuk menyunggingkan senyum.
Senyum mungkin bisa dipaksakan, namun senyum yang terpaksa, sungguh berbeda dengan senyum yang juga dipancarkan oleh mata dan hati kita.
Ketika hati kita damai, gembira, bahagia, tentram... betapa mudahnya semua terpancar melalui mata dan bibir kita. 
Dan senyuman yang manis akan membuat siapa pun yang melihat akan ikut tersenyum.

Kapal Nelayan di laut biru

Pasar ikan di tepi pantai menyajikan ikan yang segar kepada pembeli.
Lihatlah betapa indahnya pemandangan di tepi pantai, dimana hasil tangkapan bisa langsung diperdagangkan.