Pages

Friday, July 13, 2012

Ini... aku... (komentar)


Agung Adiprasetyo
Agung Adiprasetyo (CEO Kompas-Gramedia), mengatakan bahwa sebagian besar tulisan dalam buku itu sudah pernah di sharekan di milis loyola'77. Baginya, tulisanku menjadi keseimbangan bagi dia yang sehari-hari dipenuhi pemikiran tentang target, profit, efisiensi, budget dll.


Mas Totot (kakakku yang no 2)... karena dia baru menikmati ketela goreng.. dia cuma menjawab "sik... lagi nyamuk-nyamuk...".. tapi ketika di rumah di baru berkata " aku terharu... lilik cilik..kok wis bisa gawe buku.." masku ini memang selalu menganggap aku masih kecil terus. Jadi ingat ketika aku pertama kali kerja, dia datang ke kantor dan memelukku erat "cah cilik kok nyambut gawe..." hehehe....

Itut Pramono
Dik Itut (sepupu dari suamiku), teman merenda dan berbincang-bincang, mengatakan bahwa dia banyak belajar dari semua peristiwa yang aku tulis dalam buku itu.. terutama dalam hal kesabaran.

Mbak Enny
Mbak Enny (kakakku no 5)... lucu sekali karena saat mendengar aku menulis dan akan launching buku, dia hanya bisa berkomentar "oh...ah... lho... waaa...." karena dia tidak mengikuti prosesnya, tahu-tahu sudah ada kabar bukunya terbit dan mau launching...

Anak-anakku
Stella dan Tito (anak-anakku), mengaku belum membaca seluruh isi buku, karena mesti menangis. Mereka bangga dengan mamanya.... dan karena terharu mereka hanya bilang "I love you".... I love you more... sayang....

The LEO's
Hengky, Christine dan Trisiwi, adalah sahabat Leoku... yang mengaku bukan kebetulan kalau ulang tahun mereka berurutan tanggalnya. Dan juga tidak kebetulan kalau kami menjadi sahabat dalam suka dan duka. Mereka mengaku perjalanan hidup yang tertuang  dalam bukuku membuat mereka kuat "ternyata mbak Lilik lebih berat dan bisa mengatasinya". Hatilah yang menyatukan kami.

Mbak Susan (Narasumber), menambahkan bahwa "kalau mau bunuh diri, baca saja buku ini, pasti nggak jadi!"... hahaha...

bersama narasumber
Mas Kunto (Narasumber), mengingatkan dan mendorongku dengan sangat untuk menulis terus dan langsung mencatat ketika aku mengatakan buku berikut akan berjudul Kaki-Kaki.

Dan berakhirlah acara launching... ditutup dengan pemotongan kue ulangtahun ke 27 Stella, yang berulang tahun 6 Juli. Selamat nak... semoga langkah hidupmu selalu dalam lindungan Tuhan dan berkatNya berlimpah seiring bertambahnya usia yang mendewasakanmu. Amin
Selamat ulang tahun Stella Amirta

Terimakasih Tuhan acara launching berjalan lancar. Tamu kalau dijumlah ada 65 orang. Kok cukup tempatnya?? inilah karya Tuhan.... tamu ada yang pulang duluan, tapi ada juga yang datang terlambat... jadi tempat tidak pernah kosong, tapi juga tidak pernah terlalu penuh.... semua sudah di atur olehNya....



Thursday, July 12, 2012

Ini... aku... (acara)



Lilik dan Trisiwi
Dibuka oleh Trisiwi sebagai pengarah acara... launching pun dimulai....
Kesempatan diberikan padaku untuk mengucapkan selamat datang dan mengucapkan terimakasih atas perhatian dan kesediaannya semua sahabat untuk hadir di acara ini...
Kemudian aku melanjutkan bercerita tentang rumah masa kecil, dimana kita semua saat itu berada. Bersyukur rumah tersebut masih seperti dulu, hingga aku bisa mengenang tembok melengkung di ruang tamu tempat aku bermain kuda-kudaan. Ada teras kecil yang membuat aku trauma dengan ulat karena pernah tidak sengaja memegang ulat bulu disitu. Halaman luas di depan adalah tempat aku belajar naik sepeda.. kenangan yang sangat indah....


Stanley, Penerbit Shining Rose
Giliran Stanley, dari Penerbit Shining Rose, bercerita pada awalnya memang dia lebih focus pada penulis lokal. Tapi, dua penulis yang awalnya ingin diajak bekerja sama ternyata tidak dapat mencapai kata sepakat, hingga akhirnya bertemu denganku. Semua berjalan lancar hingga akhirnya terbitlah buku ini. Stanley yang masih muda mampu memukau hadirin, mengingat di usia muda dia mampu merintis usaha miliknya sendiri.

Acara ini dimulai, dan kami, mbak Susan, aku dan Tiwi duduk di meja depan. Mbak Susan mulai dengan ulasannya tentang isi buku yang dinilainya punya gaya bercerita yang tidak biasa. "sangat jujur dan apa adanya". Proses pergolakan batin penulis, membuahkan ide untuk menjadikan buku tersebut sebagai pembelajaran bagi mahasiswanya dan beberapa cerita di dalam  bisa dijadikan studi kasus...

Trisiwi, Lilik dan mbak Susan

mas Kunto dan Lilik
Beberapa saat kemudian AA.Kunto sebagai narasumber ke dua datang. Terengah-engah dan langsung minta air putih. Rupanya terhambat macet hingga membuatnya terlambat datang.
Obrolan tentang buku menjadi lebih hidup, karena mas Kunto banyak mengutip cerita-cerita lucu dan konyol. Seperti misalnya cerita tentang bagaimana mas Totok (suamiku) mewakili anjingku Zulu, menulis surat kepada kami. Baik mbak Susan maupun mas Kunto menilai mas Totok berbakat juga menulis.
Sebagai penulis dan juga orang yang berkecimpung di dunia penerbitan, mas Kunto memberi masukan untuk buku berikutnya hendaknya lebih detail dalam bercerita. Mungkin untuk beberapa istilah perlu di beri penjelasan arti katanya dengan menggunakan beberapa referensi buku lain.

Launching dengan suasana kekeluargaan yang kental, membuat semua pihak merasa santai.. bahkan aku bisa saja meninggalkan kursi untuk menyambut tamu yang datang belakangan. Teman-teman Loyola yang terkena macet, akhirnya bermunculan. Dan suasana menjadi lebih hangat lagi ketika yang hadir dimintai komentar atas buku tersebut.

Apa saja komentar mereka?

ini... aku.. (persiapan)

Menyiapkan buku
Dari keluarga untuk keluarga...
Kami sekeluarga mengundang semua keluarga. Rasanya ini membuat semua ingin terlibat. Mbakku langsung menempatkan diri sebagai penjual buku. Mereka berdua sibuk menata segala sesuatu. Dari menata buku, menyiapkan tempat uang dan juga menyiapkan uang untuk kembalian.

buku tamu
Dan.. untuk buku tamu, aku menyediakan satu bukuku untuk ditandatangai semua tamu yang hadir... bukankah mereka semua sahabat istimewa buatku.. kehadiarannya harus di kenang, tidak hanya di hati, tapi juga dalam tanda tangan yang tertera di buku... yang akan tersimpan selamanya....

Maklum, anakku tidak bisa mempersiapkan semuanya sendirian. Dan uluran tangan semua pihak, sungguh mengharukan. Bahkan host yang sudah berdandan cantik, ikut merangkai bunga, menata kembali meja, bahkan mengatur sound system.... mengharukan.

Semua menjadi kabur.. siapa tamu, siapa panitia. Semua terlibat...
goody bag untuk media
Yang datang lebih dulu ikut membantu ini itu, termasuk menyiapkan goody bag untuk souvenir media yang nanti datang. Tangan-tangan... sekali lagi bersatu saling membantu....

Dameria & Ryan siap menyanyi
Penyanyi dan gitaris, adalah sahabat kami... siap dengan list lagu-lagu yang sudah kami minta beberapa hari sebelumnya.... siap melantunkan suara indahnya sore ini dengan iringan petikan gitar yang merdu.







Hidangan kecil, sekedar untuk teman ngobrol di sore hari...
Macaroon

Ice lemon tea

Martabak & Singkong

Baiklah.... rasanya kami sudah siap menyambut kedatangan semua sahabat....
Dan mereka pun mulai berdatangan... satu persatu.. sepasang... sepasang....
Nella, sahabat anakku

Stella dan marcom Kopitiam Oey

Iput, di Itut .... Keponakan dan sepupuku

Pasangan Agung Adiprasetyo & Nakamura

Narasumber: Tjipto Susana Psi dan Host: Trisiwi

Dik Lilik dam mas Mugi

Pasangan pak Hexa

Yuni dkk...
Dan acarapun dimulai, meskipun AA.Kunto, narasumber ke 2 belum datang karena terkena macet. Begitu pula dengan teman-teman Loyola yang berangkat dari Semarang dan terkena macet dalam perjalanan. Toh ke 35 kursi sudah terisi...

Ini... aku... (rencana)

Buku Tangan-Tangan
7 Juni 2012 bukuku selesai dicetak. 9 pagi paket sampai di rumahku. Terharu.... akhirnya jadi juga... tidak menyangka perjalanan naskahku ternyata diolah oleh tangan anak muda, Stanley yang masih seusia anakku. Ini buku pertama bagi penerbit Shining Rose.
Keterlibatan anak-anak berkesinambungan dengan sambutan antusias anak-anakku Stella dan Tito untuk mengadakan launching buku.

Dulu, jl. Cemorojajar 19
Pilihan lokasi yang tepat di cafe Kopitiam Oey di jalan Wolter Monginsidi, Jogjakarta. Mengapa? karena cafe ini dulu rumah tempat aku lahir hingga klas 1 SD.
Rumah ini dulu rumah dinas bapak ketika menjabat sebagai kepala PLN Jogjakarta periode, 1958-1963. Bapak kemudian pindah ke Semarang, tapi keluarga masih di Jogja, hingga  1965 kami sekeluarga pindah ke Semarang.
Rumah ini kemudian menjadi pilihan tempat launching bukuku, karena ada ikatan emosional dengannya. Juga bangunannya dilestarikan, sehingga setiap sudut masih seperti dulu... 52 tahun lalu. Rasanya seperti mengundang semua sahabat ke rumah sendiri. Terasa hangat dan kekeluargaan..... Sayangnya, kapasitas tempat duduk di halaman samping hanya 40... bagaimana ini?? yang diundang harus benar-benar terpilih dan harus dipastikan datang.


Sugeng rawuh ke rumahku
Sabtu, 7 Juli menjadi pilihan hari yang tepat, karena Minggu ada undangan perkawinan salah seorang teman Loyola'77. Saya berharap teman-teman bisa sekalian datang di acara ini.
Mengingat tempat yang terbatas, teman-teman Loyola'77 menjadi prioritas, karena semua datang dari luar kota. Selain itu, saudara, para sahabat, tidak mungkin kami tinggalkan...

Aku sangat terharu karena sebetulnya 6 Juli adalah hari ulang tahun Stella. Namun dia rela melupakan ulang tahunnya dan menggunakan semua waktunya untuk mempersiapkan launching ini supaya berjalan dengan lancar dan indah.... terimakasih sayang....

Hingga beberapa hari sebelum hari H, dia mulai berteriak-teriak.... "mamaaaa... gawat!!... temen-temanku pada tahu... ini pada ngotot datang... tak list jumlahnya jadi 60 an.... *ketua panitia jambak-jambak rambut*... paniiiiiikkk " begitu katanya....

Aku hanya tertawa... "ya sudah... biar saja.. silahkan datang... yang penting siapkan snack untuk 60 orang... soal tempat bisa diatur... lebih baik panik karena banyak yang mau datang, dari pada panik karena nggak ada yang mau datang..."

Lalu... apa yang terjadi?? Tuhan yang mengatur segalanya....

Friday, June 15, 2012

If you worry, you did not pray, if you pray, you did not worry.

Sometimes I feel that praying does not work at all. I pray every day at 3:00 o’clock in the afternoon, and in the middle of the night, but why I am so worry about something that has not happened.

The last two weeks, I was not feeling good at all, especially when I woke up in the morning. There was
something heavy in my heart. My Heart was beating too rapidly. I wanted to let it go, but I did not
know how.

First, I was thinking about my children, so I call them up. Last week my daughter was sick, and I stayed
in her place for one night, just to make sure that she was getting well when I left her. Thank God, she
got better soon. But I was still worry sick, so I called my son, but he was fine. Of course he has his own problem, but talking with him for an hour made him stronger and ready to face and solve his problem.

My husband was busy with his jobs. Good for him…

But, I am still worry, and praying. What’s wrong with me?

And I am talking to myself.

Yes, there are too much uneasy feeling; it’s up and down. Two weeks ago I lost my older brother. It was good for him; he did not suffer too long. But there’s still anger in me, because his wife didn’t treat him well. At the same time, my first book was already printed, ready to be published. But, I am worry. What will it be? Good or bad?

When I write this blog, I know that God is in me, and now I know that I have to forgive my brother’s wife and I also have to forgive to myself for not treating him well either.

For my book, I don’t need to worry at all. It’s already printed. I don’t need to worry what will people think about my book. I don’t need to worry that will be good or bad. At least I have something to give for my children and my husband as a memento and legacy of my life and other people who inspired me.

Suddenly I cry….I don't know why….

Maybe it is tears for my brother, to say good bye forever in this mundane world, we will meet someday
again in God’s presence.

And for the love that God always put in my heart, to forgive, and to forget and not to worry at all.

I always love my day that is given to me, and everyone around me.

Thank God for being in my heart, and I will never stop praying.



PS: Thank you Yongkie Hurd.. for your support to write in English.

Monday, June 11, 2012

Aku anak siapa??

Mumu: aku anak siapa??
Kalau berdasarkan usia manusia, Chico, anjing tetangga umurnya sekitar 75 tahun. Anjing bentina yang mestinya berbulu indah ini, mesti menyerah pada pengasuhnya, yang selalu memandikannya dengan detergen. Hasilnya, bulu rontok semua... bisa dibayangkan.. pastilah kecantikannya sirna!.
Mungkin itu pula sebabnya, tidak ada yang naksir dia, hingga Chico tidak pernah punya anak.
Hingga suatu hari Chico menghilang. Semua sudah pasrah... toh dia sudah tua...
Dua hari setelah dia menghilang... baru ketahuan kalau Chico melahirkan!. Dia bersembunyi di balik tumpukan kayu. Anaknya cuma satu... dan tersebarlah gossip.... siapa bapaknya???


Si kecil Mumu, anak Chico mulai keluar dari persembunyian ibunya. Sangat hiperaktif... berlari kesana kemari. Lucu tapi juga menjengkelkan... kembali gossip bergulir... siapa bapaknya??
Melihat wajah dan bentuk badannya yang sedikit kekar.. tuduhan langsung ke Zulu, anjingku....
"kayaknya, Mumu anaknya Zulu...."
Tuduhan yang tidak berdasar.. dan aku pun protes... masak Zulu naksir Chico... nggak trima !!... hahaha...
Gosiip segera berhenti karena alasan yang sangat kuat. Zulu tidak punya testis, jadi dia nggak bisa kawin, apalagi punya anak.... nah... Zulu pun bebas dari tuduhan....
Lalu Mumu anak siapa?? tetap menjadi misteri...


emang gue pikirin...?!
Mumu, tidak peduli... masih nakal dan suka sekali menggigit dan membawa lari sandal, bahkan juga pakaian yang baru saja diletakkan di ember untuk dicuci. Maka dia menjadi sasaran kemarahan banyak orang. Tapi Mumu tidak peduli.... Emang gue pikirin!.
Suatu hari Mumu hilang. Walaupun dia sering menjadi biang kerok barang-barang yang hilang, tapi ketika dia hilang, semua orang mencari....
Zulu dan Mumu... bapak dan anak??
Akhirnya bisa ditemukan tidur ditempat tersembunyi. Rupanya karena dia suka berlari kesana kemari, kemudian terjatuh ke tempat yang agak dalam dan tidak bisa naik sendiri.
Sejak itu Mumu diberi kalung dengan lonceng kecil, sehingga semua tahu kemana dia pergi...
Mumu anak siapa? semua sudah tidak peduli lagi. 
Hanya Zulu yang peduli. Karena tiap kali lonceng di leher Mumu berbunyi, itu berarti dia sudah ada di depan pintu rumah kami, dan Zulu pun minta keluar untuk bermain dengannya.


Manusia sering mempertanyakan asal-usul seseorang, dan masa lalu menjadi standart penilaiannya. Mungkinkah kita sedikit belajar... untuk melihat seseorang di masa kini saja. Sehingga kita bisa saling menyayangi tanpa prasangka... cukup menggunakan hati yang bersih dan terbuka... menerima seseorang apa adanya....

Monday, June 4, 2012

Hanya debulah aku...

Joseph Hadiono Soekoer (alm)
Bicara memang lebih mudah dari pada menjalaninya. Ketika sehat, begitu mudah dan santainya kakakku berkata "kalau aku mati diperabukan aja, dari pada repot". Kenyataannya, ketika saat itu tiba, terasa berat bagi kami yang menghadapinya. Namun, amanat ini toh harus dijalankan, sebagai permintaan terakhir kakakku.
Setelah menderita stroke hampir 3 tahun lamanya, akhirnya Tuhan berkenan membebaskannya dari penderitaan 28 Mei 2012, pukul 19.30.
Semua sudah selesai. Wajahnya lebih damai dari pada ketika sakit.

Ini kali pertama aku melihat proses kremasi. Dalam hitungan jam, semua lenyap, tinggal abu yang disimpan dalam guci. Inilah tubuh yang sudah menjadi abu, dulu milik kakakku. Semua tinggal kenangan, dan tersimpan indah di hati.

Betapa rapuhnya tubuh pada akhirnya. Kita bukan apa-apa ketika semua harus dikembalikan kepada Sang Pencipta. Proses kremasi mengusik kesombonganku sebagai manusia. Betapa tidak berartinya kita ketika sudah tiada. Lalu, mengapa harus merasa lebih berkuasa, lebih suci, lebih pandai, lebih dari segalanya dari orang lain, kalau pada akhirnya kita semua sama dihadapanNya. Dari abu kembali ke abu....

Dan akupun bersimpuh di hadapanMu


Hanya debulah aku... di alas kakiMu, Tuhan
Haus akan titik embun... sabda penuh ampun

Ampun seribu ampun... hapuskan dosa-dosaku
Segunung sesal ini... kuhunjuk padaMu

Tak layak aku tengadah, menatap cahayaMu
Tak layak aku menghadap di depan altarMu

(Madah Bakti 370)

Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa kakakku, dan memberikan tempat indah bersamaNya di Surga. Dan semoga kami yang ditinggalkan belajar untuk lebih rendah hati di hadapanNya, dan mengisi hidup ini dengan perbuatan baik berdasarkan penghargaan tinggi terhadap sesama dan semua ciptaanNya. Amin.