Pages

Monday, June 24, 2013

Menuju hidup baru...(awal mula)

Entah kenapa, untuk berkisah tentang aku mantu rasanya sulit sekali. Ada beberapa tulisan yang berhenti ditengah-tengah dan aku tidak bisa menyelesaikan. Mungkin karena begitu banyak yang ingin aku ceritakan sehingga tidak satupun bisa tertulis dengan baik.

Mungkin harus aku tulis sejak awal mula.... yaitu sejak anakku mengatakan bahwa ada seseorang yang mengajaknya menikah. Seorang teman lama yang sudah dikenalnya 8 tahun lalu, yang kemudian menghilang. Baru kemudian mereka bertemu kembali. Rupanya sudah saatnya mereka dipertemukan dan bersepakat untuk mengikat janji. Namanya Gideon Widyatmoko, dan kami memanggilnya Dion.

Keseriusan mereka ditanggapi sukacita oleh kami dan juga orangtua Dion, hingga pada 2 Februari mereka datang ke tempat tinggal kami untuk berkenalan.... (lihat kisah tentang Ruang Tamu knock down).

Kami mengadakan kunjungan balik, sebulan setelahnya, menunggu anak ragilku pulang "for good". 2 Maret kami datang kerumah mereka di jalan Kaliurang Jogjakarta. Mengingat keseriusan anak-anak kami Stella dan Dion, maka kami sudah membuat rancangan untuk mantu. Berbagai tempat kami cari melalui internet. Karena kami tidak memiliki rumah di Klaten, maka kami merencanakan untuk mencari tempat yang tepat untuk melangsungkan seluruh acara pernikahan anak kami. Hari itu juga, kami jatuh cinta dengan Sambi Resort n Spa, di jalan Kaliurang km 19,2 Jogjakarta.


Dan gereja paling dekat untuk permberkatan nikah kami pilih di Gereja Maria Assumpta, tempat Sumur Kitiran Mas yang ditemukan Rm. Sindhunata dan warga Pakem berada.

Gereja Maria Assumpta Pakem

Sumur Kitiran Mas

Tempat sudah ada, tinggal merencanakan seluruh acara. Semula Stella dan Dion menginginkan sekitar bulan Agustus, setelah lebaran. Namun, hari baik bagi mereka hanya ada 2 yang tepat jatuh pada hari Sabtu Pon, yaitu 8 Juni dan 17 Agustus. Mengingat 17 Agustus adalah hari Kemerdekaan Indonesia, pasti sangat ramai, maka kami sepakat untuk memilih 8 Juni. Kami tinggal punya waktu 3 bulan untuk mempersiapkannya... tapi kami optimis bisa... dan Tuhan melancarkannya.

Friday, May 24, 2013

Fix you.....


Makasar, 24 Mei 2013.... lantai 18 (Tito)

This what make me feel good..
Seeing God's painting from the 18th floor..
And this song makes me believe that i'll be just fine.. :)

I miss you already mommy..

Untuk anak lanangku... I will fix you!
miss u too
mom

Monday, May 13, 2013

Hadiah di Hari Ibu...


Selamat hari ibu...

Baru saja aku menulis tentang "hadiah untuk papa", dan sore ini aku merasa mendapat hadiah sebagai seorang ibu.
Tidak sengaja... bahkan iseng, aku menuliskan namaku dan google menelusuri hingga menunjukkan dimana namaku bisa ditemukan. Ada yang menarik ketika aku melihat Lilik Soekoer/AA. Kunto. Begitu di klik.. aku masuk ke blog AA. Kunto... dan disana ada tulisan dia tentang bukuku yang berjudul "Tangan-Tangan", yang dia hadiahkan dalam rangka hari Ibu... 22 Desember 2012.



Tulisannya membuatku terharu... membuat mataku berkaca-kaca... seperti potongan-potongan film yang kembali diputar... tentang banyak cerita di masa lalu.

Ternyata Kunto tidak pernah melupakan permintaanku untuk menulis resensi tentang bukuku. Dia menuliskannya di blog. Sayangnya dia tidak pernah bercerita bahwa dia memberikan tulisannya sebagai hadiah di hari ibu untukku. Tapi anehnya, aku sekarang membacanya di Hari Ibu juga... aneh tapi nyata....

Kunto, terimakasih untuk hadiah indah di hari ibu ini...
masih banyak cerita yang tersimpan, dan tidak akan habis selagi aku masih menikmati setiap detik kehidupanku dan menuliskannya... 
Semoga masih ada waktu luang untuk bertemu, bercerita tentang apa saja....

AA. Kunto dan aku... lauching buku, 7 Juli 2012

Sunday, May 12, 2013

"Hadiah untuk papa..."

Stella Amirta, Tribun Jogja, 12 Mei 2013
Hadiah untuk papanya.... kami terima pagi ini. Satu halaman penuh di rubrik Smart Women... Tribun Jogja, Minggu, 12 Mei 2013,  foto anakku terpampang jelas. Dengan kisah tentang kariernya sebagai manager PR di Hotel Tentrem Jogja.

Dua minggu lalu dia telpon... "ada hadiah untuk papa tuh dua minggu lagi di Tribun Jogya..." apa? dan dia melanjutkan "kan papa pingin aku suatu hari di muat di sosialita Kompas... ini anaknya Kompas aja ya..." katanya sambil ketawa-ketiwi...

Sejak dia meniti karier sebagai PR hotel Hyatt... papanya pingin banget suatu ketika anaknya dimuat di Kompas rubrik sosialita. Tiap koran minggu Kompas datang, pasti papanya bilang... "kamu suatu saat pasti ada disini juga..."

Perjalanan hidup memang tidak bisa diduga. Setelah bekerja sebagai PR di Hotel Hyatt Jogja, Holiday Inn Bandung, dan terakhir di hotel Tentrem.. sepertinya dia sudah merasa cukup untuk berkelanan mencari pengalaman dan pengetahuan.

Hingga, akhirnya dia memutuskan untuk pulang, menemani adiknya yang sudah lebih dulu pulang untuk mengembangkan usaha bapaknya.

Ketika beberapa hari lalu, seorang sahabat dalam sebuah acara reuni Loyola'77 bertanya "doamu apa kok anak-anakmu pulang?"...aku bingung... karena rasanya aku kok tidak pernah berdoa supaya mereka meninggalkan pekerjaanya dan pulang. Bahkan kami sempat panik ketika mereka berkeras mau pulang, sementara rumah saja kami tidak punya. Walaupun jauh di lubuk hati, kehangatan mengalir.. dan hati bersorak gembira. Semangat mereka menjadi semangat kami... bagaikan darah segar yang dialirkan di perusahaan ini.....

Selamat datang anak-anakku tersayang.... selamat bergabung di perusahaan ini.... selamat meniti karier di ladang sendiri. Menjadi pilar-pilar kuat yang menjadi fondasi kokoh yang nantinya menjadi dasar bangunan karya kalian sendiri....

Mama akan dengan senang hati menyapa kalian setiap pagi.... "pingin dimasakin apa?"

Terimakasih Tuhan untuk berkah berlimpah yang kami terima setiap waktu. Berkatilah perjalanan hidup kami dan lindungi kami dari segala yang jahat... juga dampingi kami semua agar  bisa mengisi hidup kami lebih baik dari hari ke hari....amin.

Tuesday, April 30, 2013

Ketika...



Ketika...
mata meratapi malam, yang menelan senja tanpa perasaan...
meninggalkan bayangan gelap menutup segala angan
kurapikan hariku dalam desahan panjang
sehari bakal tinggal kenangan...

Ketika...
kepalaku bersandar letih diantara jemari...
menatap... menembus langit-langit mencari mimpi...
hingga aku berserah pada ibu bumi yang hangat
malam panjang akan merengkuhku dalam dekapannya

Ketika...
hari esok tak mampu kutuang dalam tulisan maupun harapan
bolehkah aku mengintip di celah hatiMu ?
masihkah aku ada tertulis dalam lembar buku harianMu?
dan...
namaku Kau hias dengan goresan cinta penuh warna


(Foto: Sofian Tatang)

Wednesday, April 17, 2013

Teman kecil Zulu...

Chico beranak lagi.... mengherankan...
setelah 13 tahun sepertinya rahimnya menjadi subur. Pertama chico hanya melahirkan 1 anak, kemudian karena kegenitannya, dia melahirkan 4 anak, sekarang tinggal 1. 2 diantaranya mati, sedangkan yang satu hilang. Katanya pergi bermain ke kampung dan lupa jalan pulang.... ada-ada saja!.
Sekarang dia melahirkan 3 anak lagi....
Masih kecil dan menjadi mainan Zulu. Awalnya zulu mengira itu kucing, sehingga pernah ribut dengan chico, induknya. Rame sekali......
Ah... jadi cerita anjing nih...
kebetulan mereka yang lagi seru dibicarakan... bukankah lebih baik dari pada membicarakan keburukan orang lain.... hihihi....



Saturday, April 13, 2013

Mengasah Budi

Mengikuti misa pagi dengan bersepeda menjadi kegiatanku setiap pagi. Ada kegembiraan hati, setiap kali alarm berbunyi... mandi dan mengayuh sepeda, dengan keranjang berisi  dompet dan buku doa. Jam 5.15 di pagi hari, langit masih sedikit gelap, angin semilir dingin menerpa wajah, sementara roda menggeliding dengan desisnya yang lembut.
Gereja pagi cukup banyak peminatnya. Kebanyakan orangtua dan beberapa anak sekolah yang rajin dikala musim ulangan dan ujian. Doa memang menjanjikan banyak hal....
Aku senang dengan suasana tenang di pagi hari. Kalau aku datang lebih awal, bisa sambil melamun mendengarkan musik instrumen lembut yang membuai pikiran hingga tertata dalam ketenangan.

Hanya inikah yang aku dapat selama mengikuti misa pagi? ternyata tidak...

Kaki berbalut sapu tangan.
Aku selalu duduk di kursi setelah pintu masuk. Supaya bisa cepat keluar begitu misa selesai. Mendahului semua umat, supaya bisa mengayuh sepeda ketika jalanan masih sepi. Maklum belum mahir sekali bersepeda.
Karena duduk di baris depan , aku selalu mendapatkan pembagian hosti pertama kali. Biasanya dalam doa singkat, aku menunduk dan memandangi kaki-kaki umat yang lewat di depanku setelah mereka menerima hosti.
Pagi ini ada satu hal yang menyentuh hati. Ada sepasang kaki tua tanpa alas. Lebih menyedihkan lagi salah satunya dibalut sapu tangan. Pasti kaki ini sedang sakit. Spontan aku mendongakkan kepala melihat siapa pemiliknya. Ibu sepuh itu, sering aku lihat setiap pagi. Sangat sepuh dan mungil. Tidak biasanya beliau tanpa alas kaki. Aku bertanya-tanya dalam hati... apa yang terjadi? dan tumbuh rasa belas kasihan....
Misa selesai dan aku bergegas keluar... seperti biasa.... tapi.... kali ini gerak kaki di hantui sepasang kaki tua yang dibalut sapu tangan. Setelah mencoba menuntun sepeda separoh halaman gereja, aku berhenti. Aku ingin bertemu ibu sepuh itu. Di dompetku hanya ada satu lembar uang 20 ribu. Aku ingin memberikannya kepada beliau. Entah untuk membeli sandal atau berobat.
Dan aku menanti beliau, diantara umat yang sudah mulai berhamburan keluar gereja. Setelah menunggu beberapa saat... kok beliau belum kelihatan. Sementara gereja mulai sepi. Penasaran, aku kembali ke gereja, mengintip di antara jendela... dan aku melihat beliau masih duduk dalam khusuknya doa. Setelah menanti sesaat, aku memutuskan untuk masuk dan duduk di sampingnya. Aku menunggu sampai beliau  membuat tanda salib, tanda doanya selesai....
"kenging menapa bu?" tanyaku sambil menunjuk ke kakinya. Dia tersenyum lembut "kenging minyak panas, sampun sae kok jeng...sampun garing".... Aku bukan seseorang yang bisa berbasa-basi, maka dengan cepat ku sisipkan uang ke dalam genggaman tangannya yang keriput.... "kagem berobat bu.." ada siratan terkejut di wajahnya yang tua dan sederhana... tapi kemudian berganti wajah penuh syukur "maturnuwun sanget"..... kemudian aku bergegas keluar.... dan kukayuh sepedaku dengan hati ringan... ada sebersit kebahagiaan yang nilainya lebih dari 20 ribu. Kelegaan karena berbagi... dan kebahagiaan karena sudah menuruti suara hati....

Beras 5 kg...
Misa pagi kali ini, sedikit terusik oleh seorang umat yang rupanya sedikit terganggu jiwanya. Kebetulan dia duduk di depanku. Dia kadang bergerak-gerak gelisah sambil merentangkan tangannya, meregangkan tubuh. Kadang berkomentar agak keras tanpa jelas apa yang dikatakannya. Karena dia ada di depanku, aku jadi sedikit terganggu mengikuti misa. Hingga akhirnya misa selesai, dan Romo menutup dengan sebuah pengumuman. Bahwa pada waktu paskah, terkumpul banyak beras di pastoran. Mereka sudah membagikan ke orang-orang yang kurang beruntung, tapi ternyata masih sisa. Maka kami diminta bantuannya untuk membagikan ke orang-orang di sekitar kita yang pantas untuk mendapatkannya.
Aku teringat Srintil yang baik hati. Maka menjadi penghiburan bagiku setelah gagal mengikuti misa dengan baik, untuk ikut membagikan rejeki bagi orang lain yang membutuhkan.
Beras sudah di timbang, 5 kg setiap kantong plastik. Karena aku naik sepeda, maka aku hanya mengambil satu kantong.
Dengan pede, aku letakkan beras sekantong di keranjang depan sepedaku, Dan dengan pede pula kukayuh sepeda pulang. Ternyata lumayan berat juga, sehingga sepedaku sering meliuk kekiri dan kekanan.
Beberapa meter sebelum sampai ke gerbang rumah, aku melihat Srintil baru mengantar kue entah  kemana.
Dengan helaan nafas lega aku tiba dengan selamat sampai di rumah. Srintil menyusul beberapa saat kemudian. Ketika aku mengantarkan beras ke rumahnya, dia kaget "ooo... pantes bu Lilik naik sepedanya miring kekanan... kekiri..." katanya tertawa, dengan wajah tersirat rasa terimakasih dan haru. Segera disusul dengan ucapan terimakasih berkali-kali.

hhhhmmm... andai aku bisa melakukan hal-hal kecil seperti ini setiap hari.... seperti doa yang didaraskan bersama setelah kami semua menerima komuni....

Tuhan, semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur, memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai. Sebab dengan memberi aku menerima, dengan mengampuni aku diampuni, dengan mati suci, aku akan bangkit lagi untuk hidup selama-lamanya. Amin (PS.221)