Pages

Tuesday, January 29, 2019

Ketika Hening Diletakkan

Kisah 3 - Sepeda


Inda sekarang gadis remaja yang manis, sederhana dan lugu, tetap seperti dulu. Memasuki dunia baru menjadi anak SMA. SMA yang mayoritas pria. Setiap kelas anak wanita rata-rata di bawah 5 orang. Mestinya mudah menjadi perhatian, tapi Inda merasa biasa saja. Seperti biasa, lurus, diam menjalani segala sesuatu seperti air mengalir.

Hingga suatu hari, pagi yang membuatnya berdegup keras. Ketika memarkir sepeda bersamaan dan bersebelahan dengan pria cinta pertamanya semasa remaja. Cinta monyet. Sosoknya sangat mirip dengan anak SMA bermobil abu-abu yang sering dia intip dibalik kaca jendela. Hanya dia merasa yang ini lebih pendek. hhhmm.. mungkin sama ya. Bukankah dulu dia masih kecil, sehingga melihat pria itu tinggi dan langsing. Sekarang mereka sama-sama se angkatan. Tapi siapakah dia? mungkinkah adiknya? kenapa wajah dan perawakannya mirip sekali?
Inda bertanya? tentu saja tidak. Dia bukan seseorang yang berani memulai suatu percakapan, walaupun tahu mereka seangkatan, tapi tidak sekelas. Jadi, setiap kali berbarengan parkir sepeda mereka hanya bertatapan sekilas. Sudah.

Inda tidak berusaha apa pun untuk mencari tahu lebih lanjut siapakah dia. Hanya tahu namanya Hendra. Itupun dari obrolan teman-teman, bukan berkenalan langsung. Semua dibiarkannya berlalu hingga mereka kelas 3 SMA dan satu kelas!. Duduknya sederet, tapi bukan sebangku. Mereka duduk bersebelahan ada jarak yang memisahkan bangku satu dan yang lain.

Hendra tidak ada hubungan sama sekali dengan cinta pertamanya dulu. Hanya karena wajah dan perawakannya mirip membuat Inda punya hubungan batin lebih di bandingkan dengan teman lainnya. Seakan sudah mengenalnya lama. Walau pun pada kenyataannya ternyata Hendra sering membuatnya jengkel.

Betapa seringnya Inda kelabakan karena pelajaran sudah mulai dan peralatan tulisnya tidak ada di tempat. Baru kemudian,
"nih...." kata Hendra sambil cengengesan. Jengkel, gemes, setiap kali ada yang hilang pasti Hendra yang menyembunyikan. Pencurian barang kecil yang Hendra buat untuk menarik perhatian Inda. Alat tulis, buku dan lain-lain. Inda yang super kalem membuat Hendra makin pintar mencari cara untuk mendekatinya.
"bahasa Inggrismu jelek khan, ayo ikut belajar bareng ada yang ngajari, gratis" kata Hendra suatu hari.
"siapa? dimana?" tanya Inda agak dongkol karena ketahuan memang nilai bahasa Inggrisnya jelek terus. Merasa tertantang juga untuk menaikkan nilainya.
"di rumahku, yang ngajar bapakku"... gubraaaak!!. Dalam hati Inda tertawa, tapi ini tawaran bagus. Maka dia pun ikut gengnya untuk kursus privat dan gratis oleh bapaknya Hendra.
Inda dan Hendra semakin mengenal satu sama lain. Tapi sebatas teman, karena memang tidak ada tanda-tanda lain selain teman. Bahkan yang ada, Hendra selalu saja ngerjain dia. Mungkin ngetes emosinya.
Suatu hari ada notes kecil di meja tulisnya. Ketemu di bioskop Gajah Mada jam 5 sore.
Dengan hati berbunga Inda menerima undangan tanpa nama. Karena mengenali tulisan tangan itu tulisan Hendra, maka sore itu dia ke bioskop Gajah Mada.
Apa yang terjadi? bioskop nya kosong. Tidak ada seorang pun disana. Inda kali ini dongkol sekali karena di kerjain. Tapi yaitulah Inda. Yang tersirat ya tetap wajahnya yang tenang dan kalem ketika keesokan harinya ketemu Hendra
"Kamu ngerjain aku ya.. aku tahu ini tulisanmu!"... dan seperti biasa Hendra cengengesan.

Tidak semua tingkah Hendra mengjengkelkan. Ada baiknya juga yang membuat hati Inda tersentuh. Hendra pintar menggambar, sedangkan Inda tidak. Suatu hari Inda terkejut karena tugas gambarnya mendapat nilai 8. Ternyata gambarnya ditukar dengan milik Hendra. Namanya diganti. Alhasil Hendra yang mendapatkan nilai jelek.
Pertemanan yang aneh. Kadang Inda merasa GR Hendra punya perhatian khusus dengannya. Tapi kadang pikiran ini luntur karena Hendra malah sering menjodohkan dengan teman lain. Dia juga mendengar dari teman gengnya Hendra naksir cewek lain dari SMA yang beda. Jadi tepatnya, pertemanan yang membingungkan, menjengkelkan sekaligus menyenangkan. Jadi ya sudah. Kelas 3 hampir berlalu, setahun tidak terasa. Biarkan mengalir...

kita kayuh sepeda bersama... mengakhiri masa remaja

tunggu kelanjutannya selepas SMA....

Ketika Hening Diletakkan

Kisah 2 - Merangkai Kenangan

membuka lembar kehidupan, merangkai kenangan
Inda memutuskan untuk menghadiri 1000 hari meninggalnya teman SMA yang tinggalnya di  Purbalingga. Sekaligus bernostalgia bersama teman-teman SMA yang dulu dilalui di Semarang. Inda dan Hendra suaminya, dulu satu angkatan. Bahkan satu kelas di kelas 3 (kalau jaman sekarang disebutnya kelas 12). Pasti menyenangkan bertemu teman lama dari Jakarta, Semarang, Jogyakarta, Klaten dan Solo. Inda sendiri berangkat dini hari naik kereta api bersama dua temannya dari Bandung menuju Purwokerto kemudian dilanjutkan naik mobil ke Purbalingga.
Kereta Api ekonomi dengan tiket 60 ribu itu menjadi pilihan satu-satunya menuju Purwokerto. Tidak disangka menjadi perjalanan panjang yang melelahkan karena berhenti di setiap stasiun yang dilewati. Dan akhirnya tiba di Purwokerto jam 8 pagi dengan selamat. Ada seorang teman yang siap menjemput peserta reuni dari Jakarta, Bandung dan Semarang.

Inda yang sudah memasuki masa pensiun bisa merasakan bagaimana ditinggal suaminya Hendra 14 tahun lalu. Seandainya masih hidup, alangkah senangnya bisa bertemu teman SMA mereka. Hhhmm... Hendra setia di hatinya, jadi kemanapun dia pergi mereka selalu bersama.
14 lalu sudah terlewati bersama Sari, putri tunggalnya. Kini Inda memilih menikmati hari-harinya dengan berkumpul bersama teman-teman. Guyonan semasa SMA, membuatnya muda dan bersemangat. Hanya satu hal yang sangat tidak terduga. Pertemuan kali ini menjadikannya pusat perhatian yang membuatnya membuka kembali lembaran kenangan yang selama bertahun-tahun tersimpan rapi di hati.

Seusai acara sembahayangan 1000 hari, acara keesokan harinya adalah kunjungan ke makam. Selanjutnya menjadi acara penuh peserta reuni. Walaupun usia sudah menjelang 60 th tapi berkunjung ke kebun durian tetap menjadi pilihan.
"nggak papa... yang penting habis makan durian minum obat. Jangan kayak orang susah" Nah rupanya kesenangan menjadi no 1, resiko belakangan. Usia 60 th ternyata sama gilanya dengan usia belasan tahun semasa SMA.
Makan... makan dan makan....

Inda mengikuti semua acara dengan santai dan sukacita. Setelah makan siang rombongan menuju ke sebuah villa di Batu Raden. Villa yang cukup besar dengan halaman yang sangat luas.
Kenyang tapi tidak biasa tidur siang, Inda bergabung dengan teman-teman yang mengobrol sambil menunggu sore hari.
Obrolan awal berpusat pada cerita hantu. Setelah itu menghitung siapa saja teman-teman seangkatan yang sudah meninggal. Ketika nama Hendra disebut, semua mata tertuju ke Inda, membuatnya gelagapan karena tidak menyangka tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Lalu diberondong dengan berbagai pertanyaan.
"Dulu meninggalnya bagaimana? kok mendadak, masih muda lagi"
"Dulu ketemuanya gimana sih, kok bisa berjodoh. Padahal waktu SMA kayaknya nggak pacaran"

Dulu... dulu... dulu...
dan kenangan indah pun berhamburan
setiap jawaban justru melahirkan pertanyaan baru. Membuat Inda membongkar kenangan masa lalu yang tidak pernah dia ceritakan. Inda sebagai pensiunan pejabat sebuah bank pemerintah tetap berpenampilan lugu, lurus dan apa adanya. Tapi dalam hal kisah pribadi dia jarang bercerita. Tapi entah, sepertinya suasana kali ini membuatnya ingin menceritakan semuanya.
Membuka buku kehidupan dan membiarkan semua kenangan berhamburan keluar hingga kembali ke masa gadis remaja 13 tahun jatuh cinta pada pemuda tanpa nama, yang kemudian hilang...



Adakah keterkaitan antara pemuda di masa kecilnya dengan Hendra suaminya?





nyambung lagi ya...

Monday, January 28, 2019

Ketika Hening Diletakkan


Kisah 1 - Diam di Sudut Hati

anangpratama.files.wordpress.com/2014/03/1350074236.jpg

Inda, gadis kecil yang sedang memasuki usia remaja itu tiba-tiba punya keasikan baru. Mengintip dibalik kaca jendela. Memandang jauh ke seberang rumahnya dimana Sekolah Menengah Atas itu berdiri. Ketertarikannya pada seorang seorang pemuda tampan yang selalu di antar naik mobil bagus berwarna abu-abu. Pasti anak orang kaya yang menjadi salah satu murid SMA itu.
Sekian menit yang indah cukup membuat hatinya berdegup. Melagukan rasa yang belum pernah dia rasakan. Tatapan mata gadis remaja usia 13 tahun, menyapu sosok tinggi langsing dan tampan yang mempesona, membawa rasa asing di hati yang indah.

Berawal dari mata, mengalir pelan ke seluruh punggung hingga akhirnya memeluk hatinya dengan hangat. Inikah cinta?
Apa yang Inda ketahui tentang cinta? Dia hanya seorang gadis manis yang lugu. Dengan hatinya yang murni menerima dan menikmati perasaan ketertarikan pada seseorang yang bahkan tidak dikenalnya.

Hanya melalui pandangan mata dari kejauhan Inda bisa melihat dengan cermat pakaian seragam yang dia pakai, sepatu, tas dan segala hal yang menjadi aktivitas dari sejak turun dari mobil hingga lenyap dari pandangan matanya.

Dari hari ke hari Inda makin hapal jam berapa si dia datang dan pulang. Pandangan mata di balik jendela juga makin jelas merekam model rambutnya, dan wajahnya makin lekat dalam ingatan dari ke ke hari.

Inda sosok yang pemalu, sehingga dia menikmati dan menyimpannya rapat-rapat di sudut hati. Begitu rapatnya sehingga tak seorang pun melihat keasikannya sekian menit mengintip dibalik kaca jendela. Karena Inda juga harus bersiap diri berangkat sekolah. Menyisihkan kenangan indahnya untuk menjalani rutinitas di sekolah.

Minggu, bulan dan tahun berlalu. Inda tidak ingin pindah ke lain hati. Baginya memandang pemuda itu dari kejauhan sudah cukup baginya. Walaupun tak disangka muncul juga rasa ingin tahu dan cemburu ketika ada gadis yang ada di dekatnya. Pacarnya kah? dan beribu pertanyaan lain tentang pemuda dan semua orang yang berada disekitarnya, hanya meninggalkan tanda tanya yang tidak pernah terjawab. Dari hari ke hari menjadi kumpulan kenangan yang tersimpan rapat di hati. Tidak terasa dua tahun berlalu hingga saatnya pemuda itu akan hilang dari pandangannya karena lulus SMA.

Lukisan pemuda itu sudah siap dibingkai dan digantungkan di sudut hati. Inda tidak perlu mengintip lewat jendela. Cukup memejamkan mata, membuka lagi kenangannya dan menikmatinya.Hati Inda yang masih murni mulai belajar mengagumi tapi jauh dari keinginan untuk memiliki.
Bagaikan memandang keindahan ciptaan Tuhan dan bersyukur boleh menikmatinya. Lalu??
Akankah alam semesta menangkap ungkapan rasa gadis kecil ini dan mewujudkannya?


bersambung...

Wednesday, December 26, 2018

Kadaluarsa

Produk bahan makanan terutama, ada tanggal kadaluarsa. Kenapa? ya pasti ada batas waktu produk itu baik untuk dikonsumsi. Katanya kalau lewat tanggal tersebut bisa menjadi racun dalam tubuh kita.
Menyambut tahun baru ini aku bebenah isi rumah. Setelah mengganti warna tembok dan membuang barang-barang yang tidak perlu, yang menjadi perhatian selanjutnya adalah isi dapur. Dan aku menemukan banyak bumbu yang sudah kadaluarsa. Langsung semua masuk keranjang sampah. Takut suatu hari kelupaan menggunakannya tanpa melihat tanggal.
Sisanya yang masih jauh tanggal kadaluarsanya aku tata kembali. Ternyata jadi kelihatan rapi dan siap untuk digunakan untuk memasak.

sudah kadaluarsa
yang layak di konsumsi
Aku merasa di akhir tahun ini khususnya, banyak hal yang aku perbarui. Dari cat tembok yang membawa suasana baru dalam rumah. Membuang barang-barang yang tidak terpakai. Mengeluarkan peralatan sehari-hari yang selama ini tersimpan dalam doos. Ingin semuanya baru dan indah dilihat. Menata tanaman kembali dan bahkan dalam kegiatan masak sehari-hari juga ingin sesuatu yang baru.

Tanpa kita sadari sebetulnya hati dan pikiran kita menyimpan banyak hal yang mungkin sudah kadaluarsa juga. Selain memenuhi hati dan pikiran, kalau tersimpan lama bisa menjadi racun dalam tubuh kita. Maka selain memperbaharui segala hal yang kasat mata, aku juga ingin memperbaharui hati dan pikiran. Membuang segala hal yang sudah tidak perlu di simpan lagi karena hanya akan menggerogoti pikiran kita.
Seperti halnya ketika aku memilih mana bumbu-bumbu dapur yang masih layak digunakan dan yang sudah kadaluarsa, aku juga mulai memunculkan lagi berbagai kenangan baik dan buruk dalam kehidupanku. Kalau dirasa sudah tidak perlu ya dibuang saja. Sedikit demi sedikit lama-lama seperti iklan obat pusing  "sudah lupa tuh..."
Apa ada kenangan indah yang harus dibuang? menurutku ada. Mungkin bukan dibuang, tapi disimpan saja. Kalau di ingat terus nanti malah tidak bisa melihat keindahan sekarang ini.

Aku akhirnya melihat banyak ruang untuk diisi dengan rencana-rencana baru. Dengan semangat dan harapan baru. Bagaimana denganmu??




Wednesday, December 19, 2018

Warna Baru, Hati Baru

Warna baru dan lama
Tinggal di rumah dengan tembok yang kusam rasanya kok kurang nyaman. Tapi mau ngecat mikirnya lama banget. Membayangkan bagaimana runyamnya isi rumah dalam proses pengecatan. Kalau nggak niat banget rasanya nggak bakalan kesampaian.
Maka niat itu harus dilaksanakan. Kalau cuma jadi keinginan pasti nggak jalan.  Di akhir tahun ada waktu 3 hari yang bisa dipakai untuk ngecat rumah.
Mengingat banyak barang yang harus disingkirkan, 10 hari sebelumnya aku mulai bebenah. Barang-barang dimasukkan doos. Tibalah hari H yang penuh debu dan barang-barang berantakan walaupun sudah di packing. 3 hari benar-benar menyesakkan. Hingga akhirnya semua selesai. Bebenah kembali juga membutuhkan tenaga ekstra.
Ternyata banyak barang yang sudah tidak terpakai. Akhirnya harus merelakan membuang banyak barang. Yang ditinggal hanya yang benar-benar dipakai sehari-hari. Ternyata tidak banyak sehingga bisa kembali ditata. Puas dan senang melihat segala sesuatu kelihatan baru, bersih dan rapi.


hhhmmm... bagaimana kalau warna hati  dan pikiran yang diperbarui?
Pasti bukan sesuatu yang mudah. Bayangkan hati dan jiwa kita di amplas, pasti sakit. Karena kalau mau memberikan warna baru, warna lama harus dihilangkan dulu. Dan mampukah setelah itu membuang segala hal yang tidak penting dalam hati dan pikiran. Supaya ada ruang kosong untuk diisi dengan hal-hal baik. Ditata lagi dan dirapikan.

Dalam permenunganku di akhir tahun
1. Menyelesaikan satu persatu persatu persoalan yang mengganjal di hati berkaitan dengan orang lain. Baik itu keluarga, saudara, teman-teman dan semuanya. Hal ini memberi warna positif dan bersih di hati.
2. Memilah hal-hal yang tidak perlu dan tidak penting yang kita simpan dalam hati dan pikiran. Misalnya rasa kawatir, marah, takut, dendam dsb. kemudian menyingkirkannya satu persatu. Hal ini tidak mudah dan bisa jadi menyakitkan. Seperti hati dan pikiran kita di amplas.
3. Warnailah hati dan pikiran dengan sesuatu yang baru. Rasa syukur atas perjalanan hidup selama ini. Pengalaman baik dan buruk selalu menjadi pembelajaran yang membuat kita tumbuh. Rasa syukur atas segala yang kita miliki. Tulislah satu persatu pasti akan terkumpul banyak sekali.

Hal di atas itu pengalaman pribadi. Setiap orang memiliki cara sendiri untuk memperbaiki dan memperbarui diri. Yang penting kita bisa membuat hidup kita lebih hidup dengan warna baru.
Mari kita sambut tahun 2019  dengan warna hati dan pikiran yang baru.





Friday, November 23, 2018

Berhenti Berisik

Mengisi pensiunan itu ternyata tidak mudah. Menjalankan hobbi merenda dan macrame, merawat tanaman, bersih-bersih rumah, mendengarkan musik, menulis, baca WA, masak, mainan sama cucu, nonton TV dll.. dll. Kayaknya seabreg tapi kok ya kadang masih pingin yang lain.
Kalau kebanyakan aktivitas tahu-tahu lutut sakit, pinggang pegel. Baru ingat kalau sudah tidak lagi muda kayak dulu. Lalu muncul berbagai hal yang bikin berisik di pikiran.

Karena merasa masih banyak waktu luang, jadi iseng baca-baca primbon, primalastrology, numerolog, bahkan pernah konsultasi ke psikolog, karena katanya aku stress, padahal tidak merasa stress. Iseng banget kan kegiatannya. bener-bener kayak orang kurang kerjaan. Dan hasilnya, makin berisik di pikiran.
Kok ternyata karakterku seperti ini ya. Apa ini ya yang bikin perjalanan hidupku penuh carut marut? ternyata banyak karakter buruk yang selama ini tidak aku sadari seperti serakah, berpengharapan tinggi, suka ngatur... haduuuuhhh... tambah pusing karena makin berisik di otak yang muter terus dengan berbagai hal.

Mungkin memang saatnya untuk golek dalan padhang ( mencari pencerahan ). Bertemulah aku dengan teman anakku yang kebetulan mau mengadakan Self Coaching dengan judul Berhenti Berisik. Menarik khan?. Kalau ada pepatah jawa kebo nyusu gudel. Gudel itu nama anak kebo. Mosok induknya malah menyusu ke anaknya?
Apa salahnya berguru pada yang lebih muda. Mereka ada di jaman ini. Jaman yang mereka kuasai dengan berbagai informasi yang bisa mereka serap dengan baik. Menyadari diri sebagai generasi tua, aku ingin belajar dari mereka yang lebih muda. Maka aku memutuskan untuk mendaftarkan diri, mengikuti Self Coaching yang diadakan di Svarga Coffee & Eatery - Yogyakarta.

Dari 12 orang peseta, yang sudah berusia lanjut hanya 2. Lainnya seumuran anakku.
Oke aku ceritakan bagaimana pertemuan ini berlangsung, karena ternyata menarik sekali dan luar biasa!.

Model pertemuannya kami duduk bersama dalam sebuah meja panjang yang besar. Diawali dengan saling memperkenalkan diri dan bercerita pendapatnya tentang "berisik". Tentu saja aku sampaikan apa yang aku rasakan seperti yang aku tulis diatas.
Coaching kami adalah suami istri muda  mbak Ayu dan mas Daniel yang sangat trampil membawakan materi dan pendampingan.
Mbak Ayu mengajak kami untuk bermeditasi sebentar. Membawa kita dalam sussana yang pelan... lambat dengan menceritakan riwayat sebuah apel. Dari sejak apel itu ditanam, keluar biji, menjadi besar matang dan siap dipetik. Dibungkus di masukkan dalam peti dan kemudian dikirim ke berbagai daerah. Dijual dan pada akhirnya ada di depan kita.
Kemudian apel di potong-potong dan kami diajak untuk memegang. Merasakan kulit dan memperhatikan teksture buahnya dengan lebih seksama dan menikmatinya pelan-pelan. Merasakan setiap rasa yang dicecap di mulut.

Kemudian kami berduabelas dibagi menjadi 4 kelompok. Masing-masing kelompok berisi 3 orang yang tidak saling mengenal. Lalu kami diajak untuk memilih kartu yang sudah ditata di tengah meja dalam tatanan tiga lingkaran. Kami boleh mengambil kartu apa saja yang tertutup maupun terbuka di lingkaran paling dalam. Aku memilih yang tertutup. Berdasarkan kartu yang kami pilih, kami membagi cerita tentang kartu tersebut sesuai dengan apa yang kami rasakan.

Inilah kartu pertama yang aku pilih. Tepat sekali khan?!. Aku memang melihat diriku sudah di usia senja. Musim gugur, daun mulai berjatuhan, namun tetap memancarkan keceriaan warnanya. Pohonnya pun terlihat tua dari kulitnya. Sepeda menggambarkan sebuah perjalanan dan tiba saatnya untuk berhenti dan bersandar.
Aku merasakan keajaiban melihat kartu ini.
Berbagi perasaan berdasarkan gambar pada kartu kepada kelompok memberikan kejujuran yang sejatinya pada situasi sekarang ini.


Kartu kedua mengambarkan apa yang sudah dicapai hingga saat ini. Gambar bunga yang mekar sempurna mengingatkanku pada pencapaian diri yang memang sudah maksimal. Saatnya menikmati keindahannya dengan rasa syukur setiap hari.
Bunga yang mekar melalui proses dari pertumbuhan pohon, keluar sebagai kuncup hingga akhirnya mekar.




Kartu ini benar-benar ajaib. Menggambarkan apa yang ingin aku lakukan untuk mengisi hari-hariku.
Merenda dan membuat macrame menjadi kegiatanku sehari-hari. Sekedar hobbi dan dilakukan dengan cinta.

Pertemuan Self Coaching ini memang benar-benar luar biasa. Aku merasa disadarkan untuk menyadari apa dan siapa aku ini. Belajar melihat segala hal yang sudah dicapai dan mensyukurinya. Dan akhirnya bersemangat untuk melakukan kegiatan yang disukainya.

Aku bersyukur berhenti berisik mendengarkan berbagai kekawatiran ketika mau mengikuti pertemuan ini. Pokoknya dijalanin saja, dan ternyata sangat membahagiakan. Berkumpul dan berbagi cerita dengan anak-anak muda menjadi ikut bersemangat karena menyadari bahwa masing-masing orang tidak memandang usia, memiliki persoalannya sendiri. Tapi dengan menyukuri segala hal yang sudah dicapai membuat kami lebih bersemangat lagi untuk melangkah.


Terimakasih mbak Ayu dan mas Daniel yang sudah membagikan pengetahuannya dan memberikan pendampingan sehingga kami bisa mengenali diri sendiri, mengurangi keberisikan pikiran yang tidak perlu. Memang tidak mungkin berhenti berisik. Tapi dengan semangat untuk melakukan sesuatu itu sudah sebuah langkah untuk mengatasi "berisik". Fokus pada diri sendiri, bersyukur atas hari ini dan menikmati hidup.

Note:
Kalau berminat bisa menghubungi mbak Ayu dan Mas Daniel

Monday, November 19, 2018

Tongkat Estafet

Sebuah obrolan konyol di sore hari, setelah semua karyawan pulang. Ngopi dan sepiring gorengan menjadi teman asik diantara kami. Tiba-tiba anakku yang tepat 2 bulan kembali pulang dan berjuang mengembangkan usaha yang sudah kami rintis bertahun-tahun bertanya dengan lugunya.
"sebenarnya... orangtua seneng nggak sih anaknya pulang??"
"ya iyalah....!" jawabku keras...spontan.. tapi malah membuatnya tertawa.
"konyol ya pertanyaanku...??" katanya sambil tertawa....

Ketika tahun lalu kedua anakku berkeras mau resign, dan kembali pulang, kami sebagai orangtua tentu saja senang, tapi juga sedikit kawatir. Seberapa kuat keinginannya, dan bisakah di melewati masa sulit membenahi perusahaan ini dengan tegar dan kuat. Sebetulnya sebagai orangtua kami berkeinginan untuk membereskan semuanya dulu, dan baru mengijinkan mereka pulang tahun depan. Tapi dia malah berkeras tahun inilah saatnya yang tepat.

****************************************************

Pembicaraan di atas itu terjadi 4 tahun yang lalu. Dalam waktu 3 tahun dengan kehadiran kedua anakku perusahaan pelan-pelan bisa bangkit kembali. Ber 4 sebagai tim yang solid sekaligus profesional kami berhasil menyelesaikan satu persatu persoalan hingga pada akhirnya di tahun 2016 semua hutang terbayar. 
Tangisan kelegaan dan penuh syukur. 
Dan pada awal tahun 2017 mereka siap dilepas. Menjalankan, meneruskan dan mengembangkan perusahaan ini 100% di tangan mereka. Kami berdua pensiun.
"Biarkan kami menjalankannya, kalaupun ada kesalahan biarkan kami belajar dari kesalahan" begitu tekad mereka.

Maka kami undur diri. Pelan-pelan namun pasti. Dan mereka berjuang kembali demi masa depan mereka sendiri yang paling utama. Kami hanya bisa mendampingi, membantu bila diperlukan. Sudah saatnya semua dilepas ke generasi yang lebih muda. Cara mereka menjalankan perusahaan ini sudah pasti berbeda dengan yang kami lakuan. Namun dunia juga ikut berkembang bersama mereka. Sedangkan kami sudah mulai bertambah usia. Makin kesulitan memahami dan mengikuti perkembangan jaman yang begitu cepat.


Tongkat estafet kami ulurkan, dan mereka berlari meneruskan perjalanan hidup melalui usaha yang kami rintis dengan perjuangan. Dengan berbagai kekurangan yang menjadi pengalaman berharga bagi mereka. Selamat jalan anak-anakku.. semoga Tuhan mendampingi dan melindungi perjalanan hidup kalian hingga sampai ketujuan.

kami hanya bisa meletakkan satu bata, selanjutnya mereka
yang membangunnya. Selamat berjuang anak-anakku!!