Pages

Thursday, January 31, 2019

Ketika Hening Diletakkan

Kisah 5 - Lukisan Cinta

ketika hati mulai bertaut
Inda memasuki dunia perguruan tinggi dengan penuh semangat. Sepenggal kata Hendra saat berpisah memberinya harapan baru, semangat baru untuk menjalani hidup ini tidak sendirian. Ruang memisahkan mereka. Tapi hati makin terpaut erat.
Seperti halnya mahasiswa baru, teman baru, sahabat baru. Inda pun memiliki geng kecil bernama Three Musketeer. Wiwik, Yayuk dan Inda menjadi tiga mahasiswi yang bersahabat kental. Menjadi penghibur dikala kesepian melanda. Merindukan Hendra yang entah sedang apa.

Hendra pun mengalami hal yang sama. Tempat dan suasana yang baru membutuhkan adaptasi yang tidak mudah. Hendra sosok yang ramah dan mudah bergaul. Sebentar saja dia berteman dengan banyak mahasiswa lain. Kehidupan baru yang menyenangkan karena jurusan yang dia pilih sangat sesuai dengan hati dan jiwa seninya. Seakan diberi keleluasaan tanpa batas untuk berkarya. Juga berkarya untuk mengungkap perasaannya ke Inda, kekasih hatinya.

Hendra tidak tahu bagaimana menjalin hubungan. Terasa kikuk dan aneh. Tidak ada kata yang keluar setiap kali dia mengambil selembar kertas untuk menulis surat.
Tangannya tidak mampu menuliskan kata-kata, tapi yang tertuang adalah gambar. Hendra menceritakan kehidupan sehari-hari melalui gambar. Dia lukiskan bagaimana dia berangkat ke kampus. Naik kendaraan. Suasana di sekitar.
Berlembar-lembar kertas berisi gambar tentang dirinya. Dikumpulkan menjadi satu, direkatkan dalam ring dan diberi cover kertas karton, kemudian dia kirim ke Inda.

Setiap bulan Hendra mengirimkan kumpulan gambarnya ke Inda. Tentu saja tidak ada balasan. Inda terlalu lugu dan lurus untuk memahami ini semua. Gambarannya indah, jadi dia kumpulkan saja menjadi satu. Fakultas Hukum mengajarinya memahami setiap kata, bukan gambar. Sangat berseberangan sehingga sulit bagi Inda untuk memahami ungkapan rasa Hendra melalui gambar. Apalagi Hendra tidak pernah mengungkapkan perasaannya dengan jelas. Andai sejelas hukum dan undang-undang yang selama ini dia geluti setiap hari.

Suatu hari adik Hendra yang waktu itu bersekolah di SMA mereka dulu menemuinya,
"sudah ketemu mas Hendra, mbak?"
"belum, apa dia lagi di Semarang?"
"Iya, sudah dua hari lalu". Inda menanti kedatangan Hendra. Tapi penantiannya sia-sia, karena Hendra tidak mampir ke rumah. Baru keesokan harinya datang ke rumah. Bukan untuk mengeratkan hubungan mereka, tapi minta antar ke pool bis Bandung Cepat. lhoh...
Dengan ketulusan dan niat baik, juga mungkin karena perasaan kasih yang mulai tumbuh setiap kali mendengar dan bertemu Hendra, membuat Inda menerima ini semua dengan hati tulus. Tanpa tuntutan. Bertemu dan berpisah...

Bertemu Inda bukan hal yang mudah buat Hendra. Bukan karena susah ditemui, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Menggambar menjadi pelariannya. Lembar-lembar yang terkirim menjadi jalinan kasih yang dia rasakan. Entah Inda paham atau tidak. Hendra juga mengirimkan ucapan ulangtahun ke geng Three Musketeer, membuat Wiwik dan Yayuk menjadi tameng kalau ada yang mendekati Inda.
"Inda sudah punya pacar, jangan dekat-dekat dia" kata mereka setiap kali ada cowok yang mendekati Inda.
Ikatan kasih Hendra sebarkan lewat orang-orang terdekat Inda. Membuat Inda ada dalam lingkaran, bak Shinta dan Rama dalam cerita Ramayana. Inda tidak menyadarinya. Tapi juga membiarkan dirinya ada dalam lingkaran yang telah dibuat Hendra.

Berbagai cara Hendra lakukan untuk terus menjalin hubungan. Minta bantuan ini dan itu sehubungan dengan kegiatan yang dilakukan. Selain kuliah, Hendra mulai belajar mencari tambahan penghasilan untuk membantu keluarganya. Membantu bapak yang mengelola bisnis lampu dan mebel dari Jepara, hingga membuat kaos untuk dijual.
Inda terlibat di dalamnya. Membantu managih dan mengirim barang.
Cinta adalah perbuatan. Mungkin ini kata yang tepat untuk hubungan mereka. Tidak dibutuhkan kata-kata untuk mengungkapkan cinta dan setia. Selalu terlibat dalam setiap kegiatan Hendra, membuat Inda semakin mengenali, memahami dan terbiasa ikut menyelesaikan persoalan hidup Hendra.

Lembar lukisan terus beterbangan. Inda menyimpannya rapi, setelah melihatnya. Begitu rapi, tak seorangpun boleh melihatnya. Serapi Inda menyimpan perasaan hatinya.

Hendra dengan berbagai kegiatan kuliah dan usahanya, akhirnya merasakan kelegaan karena orangtuanya pindah ke Bandung. Kelegaan yang luar biasa tidak berlangsung lama. Menjelang memasuki tahun ke 3 kuliah di ITB, bapaknya dipanggil Tuhan.
Bagaikan langit runtuh menjatuhkan beban berat di pundaknya. Ibu yang sangat dia cintai harus berjuang sendirian. Sebagai kakak dengan 6 adik yang masih banyak membutuhkan biaya, ada rasa tanggung jawab besar untuk menggantikan peran bapaknya. Mendampingi ibu, berjuang bersama mengentaskan adik-adiknya.
Berat, lelah, takut, kawatir mewarnai langkah Hendra. Hanya Inda, kekasih hati untuk bersandar.

In... bolehkah aku bersandar di pundakmu?

lanjuuut

Wednesday, January 30, 2019

Ketika Hening Diletakkan

Kisah 4 - Cinta Tanpa Kata



Masa yang paling indah adalah masa di SMA. Tentu saja. Diusia itulah segalanya bisa dilakukan. Pokoknya happy dan happy saja. Berkumpul dengan teman sebaya selama 3 tahun. Mengalami suka duka bersama. Tertawa dan menangis bersama. Juga melakukan kegilaan bersama. Mendekati tahun kelulusan bukan disambut sukacita tapi rasa ingin terus berkumpul.
"kita nggak usah lulus semua aja..." kata teman sekelas Inda dengan konyol, disambut tawa seluruh kelas.
"besok kalau kita reunian, kita pinjam saja klas kita ini" sahut yang lain.
Hiruk pikuk rencana ini dan itu tidak bisa menghentikan waktu. Masa SMA harus dilewati, menuju kehidupan yang lebih mendewasakan. Walaupun tidak ada yang tahu bagaimana masa depan kita, tapi harus dihadapi.

Setelah SMA kemana? tentunya ke Universitas. Bukan pilihan satu-satunya, tapi di tahun 1977 pantas untuk dicoba untuk mendaftar ke Universitas. Ada SKALU (Sekretariat Kerjasama Antar Lima Universitas) terdiri dari ITB, UI, IPB, UGM dan ITS. Untuk ke lima Universitas tersebut kita bisa mendaftar dan mengikuti test di kota terdekat. Untuk pilihan ke dua selain SKALU, harus dilakukan di tempat Universitas berada.

Inda ingin melanjutkan ke Fakultas Hukum. Pilihan pertama di UGM dan pilihan kedua di Undip. Hendra ingin masuk Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Pilihan kedua di ISI Jogyakarta.
Jogyakarta adalah kota kenangan buat Hendra yang lahir disana. Karena orangtua berpindah-pindah tugas, masa Taman Kanak-Kanak Hendra dilalui di Magelang. Kemudian kembali lagi ke Jogyakarta ketika masuk Sekolah Dasar. SMP dan SMA dilalui di Semarang.
Sedangkan Inda dari lahir tinggal di Semarang. Di Jogyakarta ada saudara yang tinggal di Pakualaman dekat dengan rumah Hendra di Jayengprawiran. Kebetulan yang menyenangkan, membuat mereka berdua bisa berangkat bersama mengikuti test di UGM dan Hendra sekaligus test di ISI Jogyakarta.

Tapi pergi berdua naik bis dari Semarang ke Jogyakarta bukan cerita yang indah. Hendra tidak menyangka gadis manis yang membuatnya penasaran di tahun belakangan ini ternyata tidak tahan naik kendaraan. Dari pada mabuk, Inda memilih minum antimo yang membuatnya tidur sepanjang perjalanan. Terbanglah khayalan Hendra untuk mengenal Inda lebih dekat. Atau setidaknya melukiskan isi hatinya ke Inda. Hendra bukan tipe yang bisa mengurai kata-kata indah. Dia bahkan tidak tahu bagaimana caranya.... perjalanan yang sepi tapi menyejukkan karena ada Inda di sampingnya.

Test di UGM dan ISI dilalui dengan lancar. Selancar cerita tentang kehidupan Hendra. Inda menjadi lebih mengenal kehidupan Hendra sebagai anak no 2 dengan 6 adik yang masih kecil. Karena bapak ibunya bekerja dia semasa di Jogyakarta yang merawat adik-adik. Paling tidak suka kalau adik-adiknya perempuan tidak bisa merapikan rumah. Hendra sosok yang sangat mencintai keluarganya. Inda tidak pernah menyangka bahwa pemahaman akan kehidupan Hendra ternyata menjadi fondasi yang kuat nantinya dalam menjalin hubungan dengannya.

Hasil masuk Perguruan Tinggi akhirnya diumumkan. Hendra di terima di Fakultas Seni Rupa dan Desain di ITB. Inda sebetulnya diterima di UGM maupun Undip. Tapi bapaknya menyarankan untuk masuk Fakultas Hukum Undip saja. Toh jurusan yang dipilih sama.
Inda menerima saran bapaknya. Dan harus bersiap untuk berpisah dengan Hendra yang akan pindah ke Bandung. Bersiap menerima perasaan cinta pertamanya yang dulu hilang... kali ini sosok yang nyata dalam kehidupannya harus pergi juga.

Tercekat dalam berbagai rasa Inda menerima kehadiran Hendra sore itu untuk berpamitan. Tidak banyak kata, seperti biasa. Hendra menemui bapaknya Inda untuk berpamitan. Tiba-tiba bapaknya Inda berkata,
"kamu punya kakak yang sekolah di SMA depan itu ya? kok wajahmu mirip sekali.." deeg Inda terperangah. Kok bapak tahu? jangan-jangan kegiatan dia mengintip cowok itu ketahuan bapak. Hendra mencairkan suasana dengan tawa cengengesannya,
"Bukan pak.." tapi jelas tidak menenangkan hati Inda yang bergemuruh galau. Mengenang kembali perasaan cinta pertamanya. Kali ini, sosok itu begitu nyata dihadapannya, tapi sebentar lagi berpisah.

Saat berpisahpun tiba, Inda mengantarnya ke depan pintu. Mereka bertatapan dan Hendra mengenggam tangannya sekilas dan melepaskannya sambil berkata "In, kalau jodoh kita pasti bertemu"....
Sesuatu yang sejuk mengalir dihati Inda. Melepas dengan keindahan sekaligus kegalauan. Tapi ada sebersit keyakinan Hendra memberikan hatinya untuknya.

tanpa kata... sejuta rasa
huwaaa... mewek yuuuk...
sambil nunggu sambungan ceritanya

Tuesday, January 29, 2019

Ketika Hening Diletakkan

Kisah 3 - Sepeda


Inda sekarang gadis remaja yang manis, sederhana dan lugu, tetap seperti dulu. Memasuki dunia baru menjadi anak SMA. SMA yang mayoritas pria. Setiap kelas anak wanita rata-rata di bawah 5 orang. Mestinya mudah menjadi perhatian, tapi Inda merasa biasa saja. Seperti biasa, lurus, diam menjalani segala sesuatu seperti air mengalir.

Hingga suatu hari, pagi yang membuatnya berdegup keras. Ketika memarkir sepeda bersamaan dan bersebelahan dengan pria cinta pertamanya semasa remaja. Cinta monyet. Sosoknya sangat mirip dengan anak SMA bermobil abu-abu yang sering dia intip dibalik kaca jendela. Hanya dia merasa yang ini lebih pendek. hhhmm.. mungkin sama ya. Bukankah dulu dia masih kecil, sehingga melihat pria itu tinggi dan langsing. Sekarang mereka sama-sama se angkatan. Tapi siapakah dia? mungkinkah adiknya? kenapa wajah dan perawakannya mirip sekali?
Inda bertanya? tentu saja tidak. Dia bukan seseorang yang berani memulai suatu percakapan, walaupun tahu mereka seangkatan, tapi tidak sekelas. Jadi, setiap kali berbarengan parkir sepeda mereka hanya bertatapan sekilas. Sudah.

Inda tidak berusaha apa pun untuk mencari tahu lebih lanjut siapakah dia. Hanya tahu namanya Hendra. Itupun dari obrolan teman-teman, bukan berkenalan langsung. Semua dibiarkannya berlalu hingga mereka kelas 3 SMA dan satu kelas!. Duduknya sederet, tapi bukan sebangku. Mereka duduk bersebelahan ada jarak yang memisahkan bangku satu dan yang lain.

Hendra tidak ada hubungan sama sekali dengan cinta pertamanya dulu. Hanya karena wajah dan perawakannya mirip membuat Inda punya hubungan batin lebih di bandingkan dengan teman lainnya. Seakan sudah mengenalnya lama. Walau pun pada kenyataannya ternyata Hendra sering membuatnya jengkel.

Betapa seringnya Inda kelabakan karena pelajaran sudah mulai dan peralatan tulisnya tidak ada di tempat. Baru kemudian,
"nih...." kata Hendra sambil cengengesan. Jengkel, gemes, setiap kali ada yang hilang pasti Hendra yang menyembunyikan. Pencurian barang kecil yang Hendra buat untuk menarik perhatian Inda. Alat tulis, buku dan lain-lain. Inda yang super kalem membuat Hendra makin pintar mencari cara untuk mendekatinya.
"bahasa Inggrismu jelek khan, ayo ikut belajar bareng ada yang ngajari, gratis" kata Hendra suatu hari.
"siapa? dimana?" tanya Inda agak dongkol karena ketahuan memang nilai bahasa Inggrisnya jelek terus. Merasa tertantang juga untuk menaikkan nilainya.
"di rumahku, yang ngajar bapakku"... gubraaaak!!. Dalam hati Inda tertawa, tapi ini tawaran bagus. Maka dia pun ikut gengnya untuk kursus privat dan gratis oleh bapaknya Hendra.
Inda dan Hendra semakin mengenal satu sama lain. Tapi sebatas teman, karena memang tidak ada tanda-tanda lain selain teman. Bahkan yang ada, Hendra selalu saja ngerjain dia. Mungkin ngetes emosinya.
Suatu hari ada notes kecil di meja tulisnya. Ketemu di bioskop Gajah Mada jam 5 sore.
Dengan hati berbunga Inda menerima undangan tanpa nama. Karena mengenali tulisan tangan itu tulisan Hendra, maka sore itu dia ke bioskop Gajah Mada.
Apa yang terjadi? bioskop nya kosong. Tidak ada seorang pun disana. Inda kali ini dongkol sekali karena di kerjain. Tapi yaitulah Inda. Yang tersirat ya tetap wajahnya yang tenang dan kalem ketika keesokan harinya ketemu Hendra
"Kamu ngerjain aku ya.. aku tahu ini tulisanmu!"... dan seperti biasa Hendra cengengesan.

Tidak semua tingkah Hendra mengjengkelkan. Ada baiknya juga yang membuat hati Inda tersentuh. Hendra pintar menggambar, sedangkan Inda tidak. Suatu hari Inda terkejut karena tugas gambarnya mendapat nilai 8. Ternyata gambarnya ditukar dengan milik Hendra. Namanya diganti. Alhasil Hendra yang mendapatkan nilai jelek.
Pertemanan yang aneh. Kadang Inda merasa GR Hendra punya perhatian khusus dengannya. Tapi kadang pikiran ini luntur karena Hendra malah sering menjodohkan dengan teman lain. Dia juga mendengar dari teman gengnya Hendra naksir cewek lain dari SMA yang beda. Jadi tepatnya, pertemanan yang membingungkan, menjengkelkan sekaligus menyenangkan. Jadi ya sudah. Kelas 3 hampir berlalu, setahun tidak terasa. Biarkan mengalir...

kita kayuh sepeda bersama... mengakhiri masa remaja

tunggu kelanjutannya selepas SMA....

Ketika Hening Diletakkan

Kisah 2 - Merangkai Kenangan

membuka lembar kehidupan, merangkai kenangan
Inda memutuskan untuk menghadiri 1000 hari meninggalnya teman SMA yang tinggalnya di  Purbalingga. Sekaligus bernostalgia bersama teman-teman SMA yang dulu dilalui di Semarang. Inda dan Hendra suaminya, dulu satu angkatan. Bahkan satu kelas di kelas 3 (kalau jaman sekarang disebutnya kelas 12). Pasti menyenangkan bertemu teman lama dari Jakarta, Semarang, Jogyakarta, Klaten dan Solo. Inda sendiri berangkat dini hari naik kereta api bersama dua temannya dari Bandung menuju Purwokerto kemudian dilanjutkan naik mobil ke Purbalingga.
Kereta Api ekonomi dengan tiket 60 ribu itu menjadi pilihan satu-satunya menuju Purwokerto. Tidak disangka menjadi perjalanan panjang yang melelahkan karena berhenti di setiap stasiun yang dilewati. Dan akhirnya tiba di Purwokerto jam 8 pagi dengan selamat. Ada seorang teman yang siap menjemput peserta reuni dari Jakarta, Bandung dan Semarang.

Inda yang sudah memasuki masa pensiun bisa merasakan bagaimana ditinggal suaminya Hendra 14 tahun lalu. Seandainya masih hidup, alangkah senangnya bisa bertemu teman SMA mereka. Hhhmm... Hendra setia di hatinya, jadi kemanapun dia pergi mereka selalu bersama.
14 lalu sudah terlewati bersama Sari, putri tunggalnya. Kini Inda memilih menikmati hari-harinya dengan berkumpul bersama teman-teman. Guyonan semasa SMA, membuatnya muda dan bersemangat. Hanya satu hal yang sangat tidak terduga. Pertemuan kali ini menjadikannya pusat perhatian yang membuatnya membuka kembali lembaran kenangan yang selama bertahun-tahun tersimpan rapi di hati.

Seusai acara sembahayangan 1000 hari, acara keesokan harinya adalah kunjungan ke makam. Selanjutnya menjadi acara penuh peserta reuni. Walaupun usia sudah menjelang 60 th tapi berkunjung ke kebun durian tetap menjadi pilihan.
"nggak papa... yang penting habis makan durian minum obat. Jangan kayak orang susah" Nah rupanya kesenangan menjadi no 1, resiko belakangan. Usia 60 th ternyata sama gilanya dengan usia belasan tahun semasa SMA.
Makan... makan dan makan....

Inda mengikuti semua acara dengan santai dan sukacita. Setelah makan siang rombongan menuju ke sebuah villa di Batu Raden. Villa yang cukup besar dengan halaman yang sangat luas.
Kenyang tapi tidak biasa tidur siang, Inda bergabung dengan teman-teman yang mengobrol sambil menunggu sore hari.
Obrolan awal berpusat pada cerita hantu. Setelah itu menghitung siapa saja teman-teman seangkatan yang sudah meninggal. Ketika nama Hendra disebut, semua mata tertuju ke Inda, membuatnya gelagapan karena tidak menyangka tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Lalu diberondong dengan berbagai pertanyaan.
"Dulu meninggalnya bagaimana? kok mendadak, masih muda lagi"
"Dulu ketemuanya gimana sih, kok bisa berjodoh. Padahal waktu SMA kayaknya nggak pacaran"

Dulu... dulu... dulu...
dan kenangan indah pun berhamburan
setiap jawaban justru melahirkan pertanyaan baru. Membuat Inda membongkar kenangan masa lalu yang tidak pernah dia ceritakan. Inda sebagai pensiunan pejabat sebuah bank pemerintah tetap berpenampilan lugu, lurus dan apa adanya. Tapi dalam hal kisah pribadi dia jarang bercerita. Tapi entah, sepertinya suasana kali ini membuatnya ingin menceritakan semuanya.
Membuka buku kehidupan dan membiarkan semua kenangan berhamburan keluar hingga kembali ke masa gadis remaja 13 tahun jatuh cinta pada pemuda tanpa nama, yang kemudian hilang...



Adakah keterkaitan antara pemuda di masa kecilnya dengan Hendra suaminya?





nyambung lagi ya...

Monday, January 28, 2019

Ketika Hening Diletakkan


Kisah 1 - Diam di Sudut Hati

anangpratama.files.wordpress.com/2014/03/1350074236.jpg

Inda, gadis kecil yang sedang memasuki usia remaja itu tiba-tiba punya keasikan baru. Mengintip dibalik kaca jendela. Memandang jauh ke seberang rumahnya dimana Sekolah Menengah Atas itu berdiri. Ketertarikannya pada seorang seorang pemuda tampan yang selalu di antar naik mobil bagus berwarna abu-abu. Pasti anak orang kaya yang menjadi salah satu murid SMA itu.
Sekian menit yang indah cukup membuat hatinya berdegup. Melagukan rasa yang belum pernah dia rasakan. Tatapan mata gadis remaja usia 13 tahun, menyapu sosok tinggi langsing dan tampan yang mempesona, membawa rasa asing di hati yang indah.

Berawal dari mata, mengalir pelan ke seluruh punggung hingga akhirnya memeluk hatinya dengan hangat. Inikah cinta?
Apa yang Inda ketahui tentang cinta? Dia hanya seorang gadis manis yang lugu. Dengan hatinya yang murni menerima dan menikmati perasaan ketertarikan pada seseorang yang bahkan tidak dikenalnya.

Hanya melalui pandangan mata dari kejauhan Inda bisa melihat dengan cermat pakaian seragam yang dia pakai, sepatu, tas dan segala hal yang menjadi aktivitas dari sejak turun dari mobil hingga lenyap dari pandangan matanya.

Dari hari ke hari Inda makin hapal jam berapa si dia datang dan pulang. Pandangan mata di balik jendela juga makin jelas merekam model rambutnya, dan wajahnya makin lekat dalam ingatan dari ke ke hari.

Inda sosok yang pemalu, sehingga dia menikmati dan menyimpannya rapat-rapat di sudut hati. Begitu rapatnya sehingga tak seorang pun melihat keasikannya sekian menit mengintip dibalik kaca jendela. Karena Inda juga harus bersiap diri berangkat sekolah. Menyisihkan kenangan indahnya untuk menjalani rutinitas di sekolah.

Minggu, bulan dan tahun berlalu. Inda tidak ingin pindah ke lain hati. Baginya memandang pemuda itu dari kejauhan sudah cukup baginya. Walaupun tak disangka muncul juga rasa ingin tahu dan cemburu ketika ada gadis yang ada di dekatnya. Pacarnya kah? dan beribu pertanyaan lain tentang pemuda dan semua orang yang berada disekitarnya, hanya meninggalkan tanda tanya yang tidak pernah terjawab. Dari hari ke hari menjadi kumpulan kenangan yang tersimpan rapat di hati. Tidak terasa dua tahun berlalu hingga saatnya pemuda itu akan hilang dari pandangannya karena lulus SMA.

Lukisan pemuda itu sudah siap dibingkai dan digantungkan di sudut hati. Inda tidak perlu mengintip lewat jendela. Cukup memejamkan mata, membuka lagi kenangannya dan menikmatinya.Hati Inda yang masih murni mulai belajar mengagumi tapi jauh dari keinginan untuk memiliki.
Bagaikan memandang keindahan ciptaan Tuhan dan bersyukur boleh menikmatinya. Lalu??
Akankah alam semesta menangkap ungkapan rasa gadis kecil ini dan mewujudkannya?


bersambung...

Wednesday, December 26, 2018

Kadaluarsa

Produk bahan makanan terutama, ada tanggal kadaluarsa. Kenapa? ya pasti ada batas waktu produk itu baik untuk dikonsumsi. Katanya kalau lewat tanggal tersebut bisa menjadi racun dalam tubuh kita.
Menyambut tahun baru ini aku bebenah isi rumah. Setelah mengganti warna tembok dan membuang barang-barang yang tidak perlu, yang menjadi perhatian selanjutnya adalah isi dapur. Dan aku menemukan banyak bumbu yang sudah kadaluarsa. Langsung semua masuk keranjang sampah. Takut suatu hari kelupaan menggunakannya tanpa melihat tanggal.
Sisanya yang masih jauh tanggal kadaluarsanya aku tata kembali. Ternyata jadi kelihatan rapi dan siap untuk digunakan untuk memasak.

sudah kadaluarsa
yang layak di konsumsi
Aku merasa di akhir tahun ini khususnya, banyak hal yang aku perbarui. Dari cat tembok yang membawa suasana baru dalam rumah. Membuang barang-barang yang tidak terpakai. Mengeluarkan peralatan sehari-hari yang selama ini tersimpan dalam doos. Ingin semuanya baru dan indah dilihat. Menata tanaman kembali dan bahkan dalam kegiatan masak sehari-hari juga ingin sesuatu yang baru.

Tanpa kita sadari sebetulnya hati dan pikiran kita menyimpan banyak hal yang mungkin sudah kadaluarsa juga. Selain memenuhi hati dan pikiran, kalau tersimpan lama bisa menjadi racun dalam tubuh kita. Maka selain memperbaharui segala hal yang kasat mata, aku juga ingin memperbaharui hati dan pikiran. Membuang segala hal yang sudah tidak perlu di simpan lagi karena hanya akan menggerogoti pikiran kita.
Seperti halnya ketika aku memilih mana bumbu-bumbu dapur yang masih layak digunakan dan yang sudah kadaluarsa, aku juga mulai memunculkan lagi berbagai kenangan baik dan buruk dalam kehidupanku. Kalau dirasa sudah tidak perlu ya dibuang saja. Sedikit demi sedikit lama-lama seperti iklan obat pusing  "sudah lupa tuh..."
Apa ada kenangan indah yang harus dibuang? menurutku ada. Mungkin bukan dibuang, tapi disimpan saja. Kalau di ingat terus nanti malah tidak bisa melihat keindahan sekarang ini.

Aku akhirnya melihat banyak ruang untuk diisi dengan rencana-rencana baru. Dengan semangat dan harapan baru. Bagaimana denganmu??




Wednesday, December 19, 2018

Warna Baru, Hati Baru

Warna baru dan lama
Tinggal di rumah dengan tembok yang kusam rasanya kok kurang nyaman. Tapi mau ngecat mikirnya lama banget. Membayangkan bagaimana runyamnya isi rumah dalam proses pengecatan. Kalau nggak niat banget rasanya nggak bakalan kesampaian.
Maka niat itu harus dilaksanakan. Kalau cuma jadi keinginan pasti nggak jalan.  Di akhir tahun ada waktu 3 hari yang bisa dipakai untuk ngecat rumah.
Mengingat banyak barang yang harus disingkirkan, 10 hari sebelumnya aku mulai bebenah. Barang-barang dimasukkan doos. Tibalah hari H yang penuh debu dan barang-barang berantakan walaupun sudah di packing. 3 hari benar-benar menyesakkan. Hingga akhirnya semua selesai. Bebenah kembali juga membutuhkan tenaga ekstra.
Ternyata banyak barang yang sudah tidak terpakai. Akhirnya harus merelakan membuang banyak barang. Yang ditinggal hanya yang benar-benar dipakai sehari-hari. Ternyata tidak banyak sehingga bisa kembali ditata. Puas dan senang melihat segala sesuatu kelihatan baru, bersih dan rapi.


hhhmmm... bagaimana kalau warna hati  dan pikiran yang diperbarui?
Pasti bukan sesuatu yang mudah. Bayangkan hati dan jiwa kita di amplas, pasti sakit. Karena kalau mau memberikan warna baru, warna lama harus dihilangkan dulu. Dan mampukah setelah itu membuang segala hal yang tidak penting dalam hati dan pikiran. Supaya ada ruang kosong untuk diisi dengan hal-hal baik. Ditata lagi dan dirapikan.

Dalam permenunganku di akhir tahun
1. Menyelesaikan satu persatu persatu persoalan yang mengganjal di hati berkaitan dengan orang lain. Baik itu keluarga, saudara, teman-teman dan semuanya. Hal ini memberi warna positif dan bersih di hati.
2. Memilah hal-hal yang tidak perlu dan tidak penting yang kita simpan dalam hati dan pikiran. Misalnya rasa kawatir, marah, takut, dendam dsb. kemudian menyingkirkannya satu persatu. Hal ini tidak mudah dan bisa jadi menyakitkan. Seperti hati dan pikiran kita di amplas.
3. Warnailah hati dan pikiran dengan sesuatu yang baru. Rasa syukur atas perjalanan hidup selama ini. Pengalaman baik dan buruk selalu menjadi pembelajaran yang membuat kita tumbuh. Rasa syukur atas segala yang kita miliki. Tulislah satu persatu pasti akan terkumpul banyak sekali.

Hal di atas itu pengalaman pribadi. Setiap orang memiliki cara sendiri untuk memperbaiki dan memperbarui diri. Yang penting kita bisa membuat hidup kita lebih hidup dengan warna baru.
Mari kita sambut tahun 2019  dengan warna hati dan pikiran yang baru.