Pages

Wednesday, February 6, 2019

Ketika Hening Diletakkan

Kisah 12 - Mengolah Budi

Inda tidak ingin berhenti dan menyerah. Dia mengayuh roda perkawinannya dengan penuh semangat. Memusatkan pikirannya pada pekerjaan. Menikmati hidup bersama keluarga besar Hendra dengan pikiran positif. Menghargai segala hal yang sudah tersedia di meja makan, tanpa dia harus menyiapkan, sehingga bisa langsung berangkat ke kantor.
Hendra menyapanya setiap hari lewat telpon. Inda mulai bisa menerima setiap kali bergantian menerima telpon dengan ibunya. Dia lebih memilih untuk bekerja dan mulai memikirkan diri sendiri. Terasa berat ketika harus melewati hari Sabtu dan Minggu.
Maka Inda memutuskan untuk refreshing ke rumah kakaknya di Jakarta. Setiap Jumat pagi Inda berpamitan untuk pergi ke Jakarta. Jumat itu juga pulang kantor Inda langsung naik travel ke Jakarta. Baru Minggu sore dia kembali ke Bandung karena Senin harus bekerja.

Kariernya di bank mulai merangkak naik. Semakin giat bekerja sebagai pengalih rasa sepi dan rindu, justru memberi dampak positif dalam pekerjaannya. Semakin banyak persoalan yang bisa dia atasi dengan baik. Kebiasaan menerima telpon di kantor dengan nada tanya "ada apa?" sering dikritik Hendra. Karena Hendra kalau menelpon sekedar menyapa dan ingin tahu kabarnya. Bahkan ketika sedang tidak pergi keluar kota atau ke luar negeri, Hendra selalu menelpon pada jam Inda pulang kantor.
"apa kabar hari ini? nanti mau pulang jam berapa? pingin makan malam di mana?" selalu pertanyaan yang menunjukkan perhatian, bukan persoalan.

Telpon yang diterima dari Jepang setelah kepergian Hendra hampir 6 bulan membuat Inda bertanya "ada apa?" karena yang terdengar di ujung sana adalah suara temannya.
"Hendra sakit!" jawabnya pendek.
"Sakit gimana?" nada Inda penuh kekawatiran, karena selama ini dia belum pernah menghadapi Hendra sakit.
"nggak bisa bangun, kakinya nggak bisa digerakkan" HAAH.. sekarang Inda benar-benar panik.


Ibu bercerita Hendra pernah sakit seperti itu waktu SMP sampai harus opname. Inda segera mempersiapkan diri untuk berangkat ke Jepang. Beruntung prestasinya yang bagus di kantor dan masa kerja dia yang sudah 6 th, membuat dia bisa mengambil cuti panjang. Pengajuan cuti 2 bulan disetujui kantor. Berangkatlah Inda ke Kyoto Jepang dengan diiringi doa dan harapan semoga segalanya dapat dilalui dengan baik dan Hendra kembali sehat.
Dengan penanganan dokter dan pendampingan Inda lambat laun Hendra pulih kesehatannya. Dua bulan selalu bersama memberi kesadaran baru bagi Hendra terutama, bahwa dia sangat membutuhkan kehadiran Inda di sampingnya. Namun, tugas memberi kabar ibu di Bandung harus tetap dilaksanakan. Karena sehari saja tanpa kabar akan membuat ibu kawatir.
Ketika Hendra masih sakit, Inda yang setiap hari ke telpon umum untuk mengirim kabar ke rumah. Tapi setelah Hendra sembuh, mereka berdua lah yang menjalankan kewajiban ini bersama.

Kewajiban ini mengganjal hati dan selalu membayangi hubungan  Inda dan Hendra. Karena saat Hendra berada di Bandung, dia akan menjemput ibu, mengajak jalan-jalan, menjemput Inda dan akhirnya makan malam bersama. Inda mencoba memahami situasi ini dengan hati lapang. Sepertinya Hendra sudah terjebak dalam rutinitas yang dia bangun sendiri untuk menjaga ibunya. Sehingga tidak ada keberanian untuk menghentikannya. Takut ibu kecewa dan sakit.

Dengan Hendra belajar di Jepang, mau tidak mau jarak memisahkan Hendra dari Ibunya. Inda menyadari ini dan mencoba hal baru yang akan mendekatkan dia dengan Hendra. Pengalaman 2 bulan selalu bersama membuat mereka menyadari pentingnya menjalin hubungan tanpa ada pihak ke tiga. 4 bulan setelah Inda kembali ke Bandung, mereka berjanji bertemu kembali di Singapore. Sekedar bertemu, melepas rindu dan merekatkan hubungan dengan berjalan-jalan menikmati keindahan negeri orang, walaupun hanya 3 hari sudah cukup bagi mereka. Bulan madu yang tertunda memberi energi untuk menjalani perpisahan ini dengan semangat baru.

Tiga bulan sebelum tugas belajar berakhir, Inda dan Hendra kembali bertemu di Bangkok. Menikmati pantai Pattaya dan kebersamaan mereka yang sangat langka. Betapa mahalnya bergandengan tangan dan berpelukan dengan bebas bahkan dihadapan banyak orang. Di depan keluarga, mereka tidak leluasa melakukannya.

2 tahun meninggalkan Inda. 2 bulan di dampingi di Kyoto Jepang, juga pertemuan di Singapore dan Bangkok membuka mata Hendra. Kekawatiran Hendra meninggalkan Inda sendirian dan membuatnya tinggal bersama keluarganya bukan keputusan yang bijaksana. Bahkan kalau diteruskan bisa menjauhkan hubungan mereka.

Hendra menyadari pentingnya rumah. Tempat mereka menjalin kasih sayang dan bisa mengenal lebih dalam. Rumah yang sudah mereka beli dan terbengkalai lebih dari 2 tahun menjadi tujuan kepulangan Hendra kali ini.



Harapan baru...



Tuesday, February 5, 2019

Ketika Hening Diletakkan

Kisah 11 - Belajar Ikhlas

Inda juga manusia. Hatinya bukan terbuat dari batu. Kadang pertanyaannya berisi ketidaktahuan, kadang bernada protes yang selama ini diendapnya.

Ikhlas adalah memberi dan melupakan
"Hen, aku ini mesti bersikap bagaimana di rumah ini. Hidup bersama ibu, adik-adik bahkan juga adik iparmu. Sementara aku juga harus bekerja dari pagi sampai malam" tanya Inda suatu hari.
"Bersikap biasa aja. Nggak ada aturan yang ketat kok" jawab Hendra santai.
"Masa? terus kalau ibu mengeluh ini itu, masak aku diam saja. Kalau aku turuti semuanya, aku jadi nggak bisa apa-apa. Jujur saja aku jadi mikir, setiap bulan aku tidak punya sisa gaji buat diriku sendiri. Sementara aku melihat ibu membeli baju baru, membeli perabotan baru. Dan aku juga melihat adikmu pergi kemana-mana sesuka hati, sementara aku selalu yang mengisi bensin".. tiba-tiba semua meluncur keluar dari bibir Inda, dengan nada jengkel dan protes.
"wow... wow... ini rupanya yang membuatmu gelisah sejak aku pulang" tatap Hendra dengan sabar.
"pikiranmu banyak dipenuhi hal-hal yang sebetulnya tidak perlu kamu pikirkan. Pekerjaanmu sudah menyita waktu dan energi. Sebaiknya mulai sekarang harus merubah cara berpikirmu" kata Hendra sambil mengecup keningnya.
"Maksudmu?" tanya Inda mulai luluh.
"Keluarga seperti inilah tempat aku tumbuh dan dibesarkan. Kami memang berantakan. Suka-suka sendiri. Kalau tidak di tegur ya tidak paham. Ibu membeli baju dan perabotan bisa jadi dari uang pensiunnya atau pemberian adik-adikku yang sudah bekerja. Jadi sebaiknya, mulai sekarang kamu mulai memberi sesuai kemampuan dan keinginanmu saja. Jangan semua kamu selesaikan persoalan di rumah ini, tapi kemudian kamu mengeluh" kata Hendra sambil menatapnya lekat.
"Keikhlasanmu lebih memberi berkah dibandingkan jumlah yang kamu berikan" lanjutnya.

Inda malu tapi paham. Selama ini dia berkutat dalam pikirannya sendiri. Menyampaikan isi hatinya ke Hendra membuatnya nyaman. Inda jadi lebih bisa mengatur hidupnya. Memberi sesuai kemampuan. Ikhlas dan lupakan.

Percakapan singkat ini menjadi bekal berharga bagi Inda  ketika Hendra harus kembali lagi ke Jepang. Kali ini lebih lama lagi. Dengan sponsor dari Japan Foundation, Hendra belajar keramik di Kyoto Sheika University dan Shigaraki dengan Prof. Chitaru Kawasaki selama 2 th. Inda harus bersiap untuk lebih lama lagi tinggal bersama keluarga besar Hendra, sendirian.

Hendra menguatkan Inda dengan cara yang luar biasa. Selama tinggal di Jepang, tak sehari pun Hendra melewatkan satu hari tanpa menelpon Inda juga ibunya. Ibu adalah pemain tunggal dalam kehidupan ana-anaknya. Kondisi kesehatan menjadikannya pusat perhatian seluruh keluarga.
Kalau Hendra tidak sedang bepergian, dia akan mengajak ibu jalan-jalan, makan di luar sambil menjemput Inda pulang kantor, setiap hari. Ibu ada dalam bayang-bayang hubungan mereka. Inda belajar menerima kondisi ini dengan ikhlas. Walaupun ada rasa cemburu. Pantaskah cemburu dengan ibunya sendiri?

Ibu Inda pun mendapat perhatian dengan porsi yang sama. Hendra tahu apa kesukaan ibu. Karena ibu suka menjahit, oleh-oleh dari Jepang berupa peralatan menjahit. Kadang membelikan kain. Semua tidak terduga. Inda baru tahu ketika ibunya berkata,
"ibu bisa merasakan cinta Hendra ke ibu" katanya suatu hari.

Inda sering merenung sendirian, di saat Hendra tidak ada. Begitu mudahnya orang lain merasa dicintai Hendra. Kenapa aku tidak? Inda selalu merasa menjadi no sekian dalam kehidupan Hendra. Yang utama adalah ibu Hendra, bapak ibunya sendiri. Lalu keluarga besarnya, kariernya, karya keramiknya. Dimana aku? Atau mungkin harapannya ke Hendra terlalu tinggi sehingga kenyataan yang ada membuatnya kecewa. Inda semakin menarik diri.

Awalnya berat, karena pekerjaan Inda di bank membuatnya berpikir seperti neraca. Rugi laba yang tercatat dengan jelas. Dalam relasi kehidupan semuanya menjadi kabur. Bisa gila kalau setiap hari harus berada di dunia yang bertolak belakang. Perhitungan yang ketat di kantor dan keikhlasan di rumah. Inda mulai memikirkan diri sendiri. Membeli keperluan pribadi yang sewajarnya. Membagi semampunya untuk keluarga dan menyisakan gaji untuk ditabung. Namun Inda tetap butuh keseimbangan hidup. Kalau tidak, membayangkan 2 tahun ditinggal Hendra ke Jepang sudah membuatnya tak berdaya.


Keseimbangan hidup yang bagaimanakah?

Monday, February 4, 2019

Ketika Hening Diletakkan

Kisah 10 - Hidup bersama

Hendra ini seperti punya kepekaan indra ke enam, pikir Inda. Jelas-jelas sudah punya rumah sendiri, malah ngajak tinggal serumah dengan ibu dan adik-adiknya. Mereka ber delapan dalam satu rumah. Ada Hendra di dekatnya yang mendampingi untuk mengenal keluarganya lebih dekat
Pagi itu Inda gelisah menunggu giliran ke kamar mandi yang hanya satu-satunya di rumah itu. Berkali-kali melirik jam. Gawat, bisa terlambat dia ke kantor. Ketika akhirnya gilirannya tiba dan keluar kamar mandi, ibu Hendra menyapanya dengan ramah,
"sudah sana bersiaplah, bibi sudah menyiapkan sarapan kalian" Inda kikuk, dan hanya mampu berucap.
"terima kasih ibu" dan segera lari ke kamar untuk bersiap diri. Pagi-pagi bibi sudah belanja atas instruksi ibu. Menu andalan yang gampang disajikan untuk seluruh anggota keluarga adalah tahu penyet sambal kecap dan telur dadar.

Sejak hari itu, Inda bangun pagi untuk bisa mendapat antrian lebih awal di kamar mandi. Tidak perlu terburu dan bisa menikmati sarapan yang disediakan bibi dengan tenang. Inda tidak pernah memasak atau menyediakan minuman untuk Hendra. Rasanya seperti masa kuliah dulu. Tidak pernah memikirkan urusan rumah tangga. Inda berangkat ke kantor pagi dan pulang sudah malam. Hendra pun menghabiskan waktu seharian di kampus. Mengajar di jurusan keramik, mengerjakan proyek bersama teman-temannya, dan masih punya waktu untuk menciptakan karya seni murni miliknya.

Baru dua bulan tinggal bersama, Hendra harus berangkat ke Tajimi-Nagoya Jepang untuk mengikuti program Japan International Cooperation Agency (JICA) selama 6 bulan. Sebuah program yang menyediakan training khusus untuk negara berkembang dalam hal kesehatan, industri dan pertanian. Hendra masuk bagian industri pembuatan keramik.
Sendiri lagi, batin Inda.
"aku percaya kamu bisa melewati masa ini, In. Itu sebabnya aku mengajakmu tinggal disini bersama ibu dan adik-adik supaya kamu nggak sendirian" kata Hendra sambil memeluknya erat.
"iya, kita sudah berlatih 12 tahun kalau nggak salah, bertemu dan berpisah" sahut Inda santai. Baiklah, mari kita jalani bersama.

Ibu Hendra sangat baik dan menyayangi Inda. Tidak ada yang berubah selama Hendra pergi. Sarapan tetap tersedia. Dan dihari Minggu bisa mengobrol. Ibu yang menderita ashma banyak memiliki waktu untuk dinikmati. Kesehatannya harus dijaga. Tidak boleh terlalu lelah dan hatinya dijaga supaya tidak kecewa. Seluruh anggota keluarga memanjakannya. Ibu juga suka bercerita,
"Inda jangan kaget dengan keluarga barumu ini. Kalau ibu lihat, Inda orang yang tertib dengan keseharian yang tertata rapi. Kami biasa hidup tanpa aturan yang jelas. Hanya ibu yang dulu bekerja seperti kamu. Pagi berangkat, sore pulang. Kalau bapak dengan usaha lampu dan mebel waktunya tidak tentu. Bebas. Sepertinya anak-anak banyak yang mengikuti bapaknya. Ada jiwa seni mengalir di darah mereka. Bebas berekspresi. Kadang ya jadi suka aneh sikapnya" cerita ibu sambil tertawa mengingat sesuatu.
"maksud ibu?" tanya Inda ikutan tertawa walaupun belum tahu apa.
"nah bapak almarhum itu, pernah lho mau antar ibu ke pasar naik motor. Belum lagi ibu naik ke boncengan dia sudah tancap gas.. hahaha.. baru sadar setelah sampai di pasar, ibu nggak ada" Mereka tertawa bersama.
"entah apa yang ada di pikirannya, sampai nggak tahu apa yang ada di sekitar." lanjut ibu sambil tertawa.

Selama Hendra pergi, Inda semakin mengenal keluarganya. Benar kata ibu. Suatu malam, masih ada kesempatan ngobrol dengan ibu di teras rumah, tiba-tiba adiknya datang.
"dari mana saja kamu, Den?" tanya ibu
"habis nonton film di bioskop" jawabnya
"kok tumben jalan kaki, nggak naik motor?" tanya ibu sedikit heran.
"astagaaaa!!, motorku ketinggalan di bioskop!" Hahahaha pecahlah tawa mereka... aneh tapi nyata dan benar-benar terjadi. Rasanya Inda harus bersiap diri. Bisa jadi suatu hari keberadaannya bisa terlupakan.

Inda mulai terbiasa hidup bersama keluarga besar Hendra. Ikut berbagi untuk kelangsungan hidup sehari-hari. Kadang lupa memikirkan diri sendiri. Lupa kapan terakhir dia membeli baju, sepatu dan tas yang diperlukan untuk bekerja. Suatu saat ingin dia sampaikan ke Hendra, seberapa besar yang seyogyanya dia berbagi, supaya dia juga bisa menikmati jerih payahnya untuk diri sendiri.

Walaupun sudah terbiasa berpisah, kali ini Inda sering merasa kesepian. Merindukan Hendra. Ingin berbagi kegalauan hati sambil bertanya-tanya, kapan mereka disatukan seperti layaknya kehidupan berkeluarga?
Hendra pulang dengan membawa aneka assesories unik. Bukan emas berlian tentunya. Tapi oleh-oleh yang sudah cukup membuatnya diperhatikan dan selalu diingat. Hendra juga tidak melupakan adik-adik dan iparnya. Terutama ibu.
Keluarga besarnya sangat antusias menyambut kehadirannya. Hiruk pikuk membongkar oleh-oleh. Hendra bukan sosok yang suka memamerkan kemesraan. Hanya dengan bertatapan Inda tahu mereka saling merindukan. Dan di saat yang sama Inda menyadari sesuatu. Betapa banyak pembelajaran yang dia dapat dalam hidup bersama keluarga besarnya kali ini. Belajar dengan ikhlas menerima bahwa ternyata Hendra bukan miliknya sepenuhnya.

Hendra milik keluarga besarnya, miliknya fakultasnya, milik jiwa seninya, milik teman bisnisnya, milik lingkungannya, bahkan sepertinya milik semua orang. Sedangkan Inda 100% hanya milik Hendra.
menghancur leburkan kepentingan diri sendiri

Lanjut belajar ilmu kehidupan...

Sunday, February 3, 2019

Ketika Hening Diletakkan

Kisah 9 - Kelegaan


Air mata Inda tumpah tak terbendung lagi, ketika melihat ibu duduk di ruang keluarga. Tangisnya meledak histeris tak tertahankan. Semua berhamburan menjadi air mata, jeritan dan rintihan kepedihan yang menyakitkan. Ibu memeluknya erat dengan penuh kasih dan pengertian.
"lepaskan... lepaskan... lepaskan semua In. Ibu sudah siap mendengar semuanya" bisik ibu ditelinganya. Hanya samar terdengar. Antara sadar dan tidak Inda juga tidak paham kenapa airmatanya tidak bisa berhenti mengalir.
Gelombang penyesalan membayangkan semua gambar Hendra menjadi debu, memporakporandakan pertahanan harga dirinya. Menghancurkan keangkuhannya untuk tidak menghargai karya Hendra dengan baik. Disaat yang sama Hendra baru saja menegaskan hubungan mereka. Sementara kekawatiran akan restu orangtua juga menghantui pikirannya.
Campur aduk, kacau balau, seakan masuk dalam pusar lingkaran tak berujung. Separuh jiwanya menjadi debu, dan habislah sudah.

Ibu masih memeluknya ketika dia masih dengan sesenggukan mengeluarkan isi hati dan pikiran setelah beberapa lama tangisnya mereda. Ibu memeluknya semakin erat,
"sudahlah, Hendra sudah menyampaikan semua ke bapak ibu. Selama kamu di Jakarta, Hendra tetap sering berkunjung. Kami merestui hubungan kalian. Kalau Hendra bisa mencintai kami, pasti dia juga mencintaimu" Inda diam. Lama tak bisa berkata-kata sehingga ibu melanjutkan lagi.
"Perbedaan kalian sudah disatukan dalam cinta yang diajarkan setiap agama. Bagaimana kalian berdua menjalaninya, itu terserah kalian" ploooong... kelegaan yang luar biasa merasuki hatinya. Semakin erat Inda memeluk ibunya yang bijaksana.

Hendra tidak hanya melakukan pendekatan ke orangtua Inda. Tapi dia juga menyampaikan maksud untuk melamar Inda kepada ibunya. Mereka sudah sering bertemu, tapi yang utama Hendra sudah menyampaikan semua isi hatinya kepada ibu dan ibu merestui. Jalan lapang ada di depan mereka. Tidak ada lagi penghalang, tidak ada lagi keragu-raguan dan ketidak pastian.


Sudah saatnya Inda dan Hendra dipersatukan dalam ikatan perkawinan. Bersatu dan tak terpisahkan. Inda menghargai Hendra sebagai kepala dan imam keluarga. Perbedaan disatukan dengan cinta. Dimana ada saling menghormati dan menghargai. Saling memahami dan mendukung.
Sudah terbiasa hidup terpisah, Inda kembali bekerja di Jakarta dan Hendra tetap di Bandung.
Dua tahun awal perkawinan hidup terpisah bukan masalah bagi mereka. Bukankah sudah terbiasa selama 10 th.

Setelah lulus dan menikah Hendra melepaskan semua usaha yang selama ini dikelola. Lampu dan mebel peninggalan bapaknya juga 6 angkot jurusan Buah Batu - Dago. Walaupun dengan kegiatan seabreg yang menyita seluruh energinya, ternyata Hendra juga berprestasi di fakultasnya. Setelah lulus dia diangkat menjadi dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Semua sekarang terpusat pada kariernya sebagai dosen, pelukis, pematung dari keramik dan ornamen yang sering menghiasi beberapa kantor bahkan bandara.
Bersama teman-temannya usaha yang bisa menghasilkan uang dikelola secara bisnis. Tapi jiwa senimannya tetap menghasilkan karya seni murni, yang nantinya diakui di dalam maupun di luar negeri.

Saling bertekun dalam karier, mereka berhasil membeli rumah di Bandung. Keluarga kecil nantinya akan diawali disana.
Ketika ada peluang untuk mutasi kerja di Bandung, Inda segera mendaftar. Beruntung sekali dia mendapatkan kesempatan untuk pindah ke Bandung.
Tapi bukannya menempati rumah sendiri seperti yang Inda bayangkan, tapi dia justru harus tinggal bersama mertua dan adik-adik iparnya. Sebuah pembelajaran hidup tanpa henti. Memahami Hendra seorang bukan hal yang mudah. Kini Inda harus tinggal bersama ibu mertua dan adik-adik iparnya.
Bersatu dengan Hendra berarti ikut menjadi tulang punggung keluarganya.


Kelegaan,
hanya seperti setetes air yang jatuh
meriakkan gelombang kecil
kemudian hilang...

Inda melanjutkan pembelajaran hidup.

Saturday, February 2, 2019

Ketika Hening Diletakkan

Kisah 8 - Pergumulan Batin

Mulai bekerja di ladang baru Jakarta butuh perjuangan untuk beradaptasi dengan lingkungan sekaligus dalam pekerjaan. Inda menyukai hal-hal baru yang menjadi tantangan. Maka dia bekerja dengan sepenuh hati dan penuh semangat. Menyelesaikan berbagai pesoalan dalam pekerjaan dan juga tetap menjadi pendamping Hendra yang cukup sering ke Jakarta.
Ke dua adiknya sekarang kuliah di UI. Membuat Hendra sering ke Jakarta untuk mengawasi studinya. Maklum sekarang dia menjadi tulang punggung keluarga. Dia harus memastikan pendidikan adik-adiknya berjalan lancar.

Jakarta-Bandung lebih dekat dari pada Bandung-Semarang. Sesekali Inda yang ke Bandung. Semakin sering bertemu, semakin menemukan perbedaan di antara mereka. Yang sudah pasti ada dalam hal perbedaan visual dan kata. Hendra dengan darah seni memvisualkan segala sesuatu melalui gambar, lukisan juga patung. Sementara Inda sehari-hari bergelut dalam angka dan huruf. Dalam ilmu hukum setiap kata bermakna.
Hobbi pun berbeda. Hendra suka sekali nonton film, Inda siap menemani walaupun sering tertidur di sebelahnya. Perbedaan ini walaupun sangat bertolak belakang tapi tidak menyusutkan sedikitpun cinta mereka. Hanya satu hal yang sungguh memberatkan pikiran Inda, yaitu perbedaan agama.
Inda dibesarkan dalam keluarga Kristen, sedangkan Hendra muslim.

Sahabat dalam geng Three Musketeer pernah bertanya,
"kenapa sih diterusin kalau perbedaan itu menjadi beban banget buatmu, In?" tanya mereka.
"lha aku nerusin apa? hubungannya ngga jelas kok. Nggak ada ikatan sama sekali" kata Inda membela diri.
"nah trus kenapa kamu nggak pacaran aja sama orang lain yang se iman?" tanya mereka serempak..
"lhah kalian yang selalu nutupi cowok-cowok itu deketin aku... hayoooo" Inda menyerang balik.
"soalnya Hendra baiiiiiiiiikkk bangeeeeettt!!!" teriak mereka sambil memeluk Inda erat-erat.

Pergumulan batin Inda semakin berat sejalannya waktu membuat mereka makin dekat. Seandainya Hendra serius apakah orangtua mereka setuju? bagaimana kalau tidak?
Perasaan galau semakin menyesakkan dari hari ke hari, bulan demi bulan hingga tiba saatnya Hendra berhasil menyelesaikan kuliahnya.
Ada perasaan kehadirannya dalam hidup Hendra akan segera berakhir. Hendra sudah lulus. Setidaknya satu beban kuliah sudah terlampau. Sedikit mengurangi beban hidupnya. Mungkin ini saatnya Inda harus melepas Hendra. Merelakannya mendapatkan pendamping lain yang seiman.

Kali ini beban batinnya harus di sampaikan ke Hendra.
"Hen, aku mau ngomong nih" kata Inda dengan lembut, suatu hari di Jakarta ketika Hendra berkunjung. Hendra sedikit terpana karena tidak biasanya Inda mengajak bicara serius setelah mengenalnya hampir 10 th.
"Ngomongin apa?" tanya Hendra kawatir.
"Kamu kan udah lulus. Bebanmu sekarang sudah mulai berkurang. Kamu kan tahu kita ini berbeda, apa nggak sebaiknya kita pisah aja. Aku yakin kamu bakalan bisa bertemu wanita yang seiman, yang cocok untuk pendamping nantinya" akhirnya kalimat meluncur lancar dari bibir Inda.
"hah... enggak mau. Pokoknya aku nggak mau melepasmu. Aku mau menerimamu apa adanya dengan perbedaan ini. Pokoknya nggak mau!" suaranya Hendra terdengar panik.
"aku janji nggak akan nikah deh. Yang penting kita pisah aja, demi kebaikan kedua belah pihak" kata Inda membujuk. Karena Inda memang merasa jalan satu-satunya adalah berpisah, dari pada mereka dipisahkan oleh keluarga karena tidak setuju dengan perbedaan mereka. Kalau mereka yang memutuskan pisah berarti akan dilakukan dengan tulus ikhlas.
"enggak mau. Aku nggak mau kamu sendirian" sahut Hendra dengan tatapan nelongso.
"aku nggak papa sendirian. Udah niat nggak pingin nikah" tekad Inda sudah bulat.
"enggak mau. Kamu nanti susah sendirian" Hendra juga makin keras tekadnya mempertahankan Inda.
"kamu yang nggak mau susah sendirian, ya khan??" jawab Inda sambil tertawa mencairkan suasana.

Bagaimana ini? ketika sudah rela mau melepas, malah nggak mau dilepas. Bagaimana pun jawaban Hendra cukup membuat Inda tahu bahwa dia serius menjalin hubungannya selama ini. Bagaimana menyampaikan ini semua ke orangtua? apakah mereka merestui?
Ketika suatu hari kembali ke Semarang, Inda teringat lembaran gambar dari Hendra yang sebelum berangkat ke Jakarta dia simpan dalam doos. Tiba-tiba dia ingin melihatnya lagi, mengenang tahun-tahun yang sudah lewat.
Ketika Inda tidak menemukannya di gudang, bertanyalah dia ke adiknya,
"doosku yang aku simpan di sini dimana? kamu tahu?"
"yang di lakban itu ya? ada tulisannya jangan dibaca, jangan dilihat, lebih baik di bakar itu?"
"iya, iya, bener... mana?" tanyanya nggak sabar.
"udah tak bakar!" jawabnya polos. HHAAAHH..... leeeeemaaaaaasss...
pertanda apa ini?
bersambung... makin galau..

Friday, February 1, 2019

Ketika Hening Diletakkan

Kisah 7 - Ladang Baru

The power of YOWIS. Ya sudah. Yang penting kuliah harus diselesaikan. Ini tanggung jawab Inda kepada orangtua yang sudah berjuang untuk pendidikan sebagai bekal masa depan. Hendra dibiarkan datang dan pergi sesuka hatinya. Ada sebersit keinginan untuk bertanya, apa tujuan hubungan ini. Kalaupun memang tidak ada pasti Inda akan membuat langkah baru.
Tapi di jaman itu, tidak mudah seorang wanita mempertanyakan sebuah hubungan. Wanita dipilih, bukan memilih. Pria lah yang menyatakan cinta, yang melamar, yang mengajak untuk hidup bersama selamanya. Mungkin ada wanita yang lebih tegas dan berani mempertanyakan hal ini kapada pasangannya. Tapi bukan Inda orangnya.

Inda ingat, kakak seorang temannya menanyakan hal tersebut kepada pacarnya karena usia sudah mendekati 28 tahun, tapi tidak pernah ada kepastian. Tapi ketika ditanyakan ternyata jawabannya "belum siap menikah". Hilanglah sudah penantian bertahun-tahun, dan jalinan yang menutup kemungkinan dia bertemu pria lain. Betapa rumitnya menjadi wanita di jaman itu. Tepatnya untuk sifat seperti Inda yang sangat tertutup, lugu, lurus dan berserah pada keadaan. Inda tidak ingin bertanya ke Hendra apa yang menjadi kegelisahan hatinya. Biarkan saja dan seluruh energi dia kerahkan untuk menyelesaikan kuliahnya. Namun selalu ada waktu untuk membantu kegiatan usaha Hendra dan menampung setiap lembar gambar yang dikirim.

Akhirnya Inda dengan bangga dan lega menyandang gelar Sarjana Hukum. Mempersembahkan prestasi yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh kepada orangtuanya. Langkah berikutnya adalah mencari pekerjaan. Lamaran pun di kirim ke berbagai Lembaga Pemeritah maupun swasta. Tapi, yang didapat adalah namanya tercantum untuk mengikuti Wajib Militer. Nama Wiwik juga. Mereka berdua melongo.... hah Wajib Militer? nggak ada bentuk badan yang cocok jadi militer!.

Panggilan negara harus diikuti! titik!. Kalau tidak menepati bisa dijemput paksa!. Astaga....
Berdua dengan Wiwik akhirnya mereka mengikuti test awal di Jogya. Setelah itu mereka harus melanjutkan test ke Lembang.

tanganmu melingkar di pinggang, menghangatkan hati
Lembang, Bandung menjadi saksi hubungan Inda dan Hendra yang semakin akrab. Tapi, lagi-lagi bukan hubungan yang bisa menjawab pertanyaan "mau dibawa kemana?".
Setiap kali bertemu Hendra mengajaknya berkeliling dari angkot ke angkot miliknya. Berboncengan sepeda motor sambil bekerja mengawasi ke 6 angkotnya. Kemesraan yang mereka miliki hanyalah tangan Inda yang melingkar di pinggang Hendra. Dan Inda cukup bahagia dengan bisa merasakan kehangatan tubuhnya di udara sejuk kota Bandung.
Hendra masih disibukkan dengan kuliah, meneruskan usaha lampu dan mebel peninggalan bapaknya dan 6 angkot. Sibuk sekali. Kelelahannya terbayar setiap kali dia bekerja dan ada Inda disampingnya. Kencannya pun juga sederhana. Cukup menikmati siomay, bakso dan batagor yang menjadi menu utama setiap kali bertemu.
Kadang pikiran nakal Inda muncul "Hendra ini tidak kreatif, atau nggak punya uang?". Apalah artinya semua makanan itu dan angkot-angkotnya, dibandingkan bisa duduk memeluk pinggangnya sepanjang perjalanan keliling Buah Batu dan Dago.

Wajib Militer ternyata bukan jalan hidup Inda. Ketika lamarannya di sebuah Bank Pemerintah diterima, dia memutuskan untuk meninggalkan Wamil dan meniti masa depan di Jakarta. Keputusan sudah bulat. Wiwik juga mengikuti jejaknya untuk meninggalkan Wamil. Tidak mudah, karena harus berdiskusi panjang lebar dengan pihak ABRI. Namun melihat keduanya memang benar-benar tidak tertarik untuk mengikuti Wamil, mereka berdua dilepaskan.

Kembali ke Semarang, Inda dan Wiwik duduk di bis menunggu keberangkatan. Mengobrol tak habis-habisnya tentang pengalaman di Wamil dan akhirnya berhasil bebas. Tiba-tiba Inda tertawa lepas membuat Wiwik kaget.
"kamu kenapa? kayak orang sinting" katanya heran.
"enggak... aku tiba-tiba ingat peristiwa konyol soal naik bis begini" kata Inda masih menahan tawa sambil meneruskan cerita.
"waktu jaman SMA aku mau ke Solo sama temanku Winny. trus ngobrol gitu di bis... keasikan ngobrol, baru sadar kok penumpangnya cuma kami berdua dan bis nya nggak berangkat-berangkat juga..." Inda masih menahan tawa.
"trus..." Wiwik penasaran.
"akhirnya kami nanya ke kernet bisnya... pak kok bisnya belum berangkat??" Inda menahan tawa lagi...
"gimana??" Wiwik makin penasaran.
"trus keneknya bilang gini.... maaf mbak... bannya belum dipasang!" hahahahah... pecahlah tawa mereka. Jangan-jangan bis ini juga begitu pikir mereka kawatir.
Kali ini bis yang mereka tumpangi ada bannya. Dan menggelindingkan mereka kembali ke Semarang.

Keterlibatan Inda di Semarang untuk membantu Hendra dalam hal pengiriman barang penagihan dan lain lain mulai berkurang, karena kemajuan sistem pos dan giro.
Saatnya menuju kehidupan baru yang sama sekali buta buat Inda. Tapi hati dan jiwanya yang kuat dan berani membuat langkahnya ringan menuju Jakarta.

Ketika mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa ke Jakarta, Inda melihat tumpukan lembaran  gambar lukisan tangan Hendra. Masih tersusun dan tersimpan rapi di kamarnya. Ternyata banyak sekali sehingga harus dia masukkan dalam doos besar.
Inda terhenyak melihat begitu banyak gambar yang dikirim Hendra. Tapi sudah saatnya dia harus pergi. Ada kekawatiran lembaran gambar itu di lihat orang lain. Terbiasa menyimpan segala sesuatu sendirian, menjadi rahasia hati yang tersimpan rapat.
Setelah berpikir sejenak, di kumpulkan semua gambar dalam doos besar. Menutup dan merekatkan setiap sisinya dengan lakban. Rapat merekat, tidak mudah dibuka. Masih ada kekawatiran ada orang yang membukanya, maka dia mengambil spidol besar dan menulis di sisi doos,
JANGAN DI BUKA, JANGAN DI LIHAT, LEBIH BAIK DIBAKAR!
doos tersimpan di gudang, amankah??

bersambung...

Thursday, January 31, 2019

Ketika Hening Diletakkan

Kisah 6 - Mau dibawa kemana?


Mengikuti perjalanan hidup Hendra, membuat Inda merasa berjalan di gurun. Hamparan luas dengan tujuan yang masih samar. Namun toh dia jalani tanpa henti. Tetap bersiap sedia membantu dikala harus mengirim barang, memesan juga menagih. Tanpa pamrih. Dijalani saja, mengalir...
Semakin dalam mengenal Hendra, semakin paham bahwa perbedaan mereka sangat besar. Hendra yang selama ini tidak berhenti mengirim gambar, tetap membuat Inda tidak paham maksud dan perasaan hatinya.

Hendra dengan tanggung jawab besar untuk keluarganya, semakin sibuk dengan kuliah dan bekerja. Seluruh energi dan pikirannya dia pusatkan untuk bisa membantu ibu menghantar adik-adiknya hingga selesai pendidikan. Salah satunya bahkan sudah mulai kuliah di Universitas Indonesia Jakarta. Tak terbanyangkan betapa sibuknya dia. Sedikit energi tersisa untuk Inda. Menggambar kegiatan sehari-hari dan mengumpulkannya dan mengirimkannya ke Inda.
Menggambar seperti menuang beban hidup. Sungguh bersyukur ada seseorang tempat dia mengirim beban hati dan hidupnya.

Dimasa itu, komunikasi adalah waktu. Menunggu waktu untuk surat, paket dan gambar datang adalah belajar sabar. Telpon sebuah kemewahan yang tidak bisa dinikmati setiap orang. Hari, bulan dan tahun pun berganti dan berlalu.
Inda yang manis dengan senyumnya yang menawan tentu saja menarik beberapa pria teman kuliah atau dari fakultas lain. Ada yang mencoba mendekatinya. Sesekali Inda mau diajak nonton atau sekedar makan di luar. Inda mulai mundur ketika pendekatannya semakin serius. Inda tidak mampu melangkah melampaui batas. Entah siapa yang membuat batas begitu kuat. Inda atau Hendra, atau keduanya. Hubungan mereka datar, tanpa tuntutan, tanpa keluhan. Kalau pun sesekali Hendra bisa datang berkunjung ke Semarang, semata-mata tidak untuk Inda. Waktunya bisa habis untuk teman-teman Hendra maupun geng kecil Three Musketeer. Apalagi anggota geng kecil Wiwik dan Yayuk berasal dari Magelang dan Jogyakarta. Tempat yang sangat dikenal Hendra di masa kecil. Inda mulai terbiasa menjadi bagian terkecil dalam hidup Hendra. Kerendahan hati yang bahkan tidak disadarinya.

Suatu hari Hendra datang dan berkata,
"sekarang ibu sudah pensiun. Beliau membeli 6 angkot yang beroperasi dari Buah Batu ke Dago. Aku harus membantu mengelolanya untuk tambahan biaya adik-adik".
Semakin tak terbayangkan betapa sibuknya dia dengan beban yang semakin berat. Ada 2 adik yang kuliah di UI. Dan masih ada 4 lagi yang semuanya membutuhkan biaya pendidikan.
Terbiasa dengan hubungan yang tidak jelas bersama Hendra membuat Inda lebih menekuni kuliahnya. Yang penting dia ada ketika Hendra membutuhkan. Dia ada ketika lembar-lembar gambaran kehidupan sehari-hari Hendra dikirimkan. Dan dia tetap ada, bahkan selalu ada buat Hendra.

Ketika tiba-tiba ada seseorang datang mengajaknya menikah, itu seperti petir di siang bolong. Mereka berteman sejak SMP, tapi sudah lama tidak bertemu. Tentu saja Inda tidak berani menerimanya. Selama ini hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Peristiwa ini membuat Inda mulai menyadari sesuatu. Hubungan dia dan Hendra bertahun-tahun sudah berlalu tanpa kepastian. Inda sendiri tanpa sadar menutup diri terhadap pria lain yang mendekatinya. Seakan waktu sudah terbuang sia-sia. Sementara usia semakin bertambah. Mulai muncul kesadaran baru, mempertanyakan hal yang selama ini tidak pernah terpikirkan. Sebetulnya hubungan dia dan Hendra mau dibawa kemana?

Apakah kita hanya akan menghitung bintang tanpa merencanakan masa depan?

bersambung