Pages

Wednesday, February 13, 2019

Ketika Hening Diletakkan

Kisah 19 - Menghantar Pulang
Pukul 8 pagi semua siap berangkat ke Bandung. Mobil jenazah paling depan, ada Hendra dan beberapa teman dari Semarang. Inda, Bapak, Ibu dan Sari menggunakan mobil dinas yang kemarin dibawa dari Bandung. Sopirnya dari RS. Pantiwilasa yang sudah biasa mengikuti mobil jenazah yang biasanya dikemudikan dengan kencang. Dibelakangnya menyusul mobil yang berisi adik-adiknya.

Mobil jenazah meraung dan melaju kencang. Tidak pernah berhenti. Mendapat prioritas di lampu merah dan bisa didahulukan di tempat-tempat yang penuh kendaraan. Mobil Inda melaju ketat di belakangnya, supaya bisa ikut menerobos lampu merah dan kerumunan. Tidak peduli lagi, apa yang dirasakan di dalam mobil. Semua pasrah. Diam. Badan melompat-lompat walaupun sudah terikat seat belt.
Sari... sariku sayang. Kasihan sekali kamu nak... Inda merintih dalam hati.
Perjalanan yang sangat cepat tapi terasa lambat buat semua penumpang. Akhirnya pukul 2 siang lebih mereka mulai memasuki Bandung. Apa pun yang terjadi, pasrah. Inda sudah tidak bisa berpikir, hanya berbisik ke ibu,
"Titip Sari bu. Biar dia di rumah saja. Kasihan dua hari ini perjalanan jauh"
"Iya, Sari dengan ibu. Kamu kuat nak... ibu tahu kamu kuat" ibu memeluknya dengan erat.

Pemandangan yang tak terlupakan adalah melihat jajaran krans bunga duka cita yang menyambut dari jalan hingga masuk depan kompleks rumah dinas. Inda seperti robot. Mengikuti protokol apa yang harus dilakukan. Ada yang datang memeluknya, menangis. Ada yang menyalaminya dengan genggaman erat penuh simpati. Dia tidak ingat siapa. Hati dan pikirannya begitu kosong. Semua sudah dipersiapkan. Dari ITB maupun dari kantornya. Belakangan dia tahu kalau mobil polisi yang mengiringi jenazah ke pemakaman adalah bapak dari salah seorang anak buahnya.
ITB menyediakan 2 bis untuk para pelayat yang ingin menghantar hingga ke makam.

Jenazah Hendra di sholatkan di mesjid kemudian baru dibawa ke pemakanan di Cibarunei. Untuk sampai kesana harus melalui jalan tol. Adik Hendra bersiap di gerbang tol untuk membayar semua kendaraan yang akan menghantar hingga makam, dihitung ada sekitar 60 mobil. Luar biasa.
Upacara pemakaman berjalan lancar dan khusuk. Jenazah dimasukkan ke liang lahat dan tanah mulai menutupinya. Bunga bertaburan di atasnya.
Setelah semua selesai, Inda mempersilahkan kalau ada yang ingin menyampaikan sesuatu untuk Hendra. Salah satu teman seniman Hendra, menyampaikan pesan terakhir. Cukup panjang sehingga Inda tidak bisa mengingatnya. Hanya kalimat teakhir yang diingatnya. Bahkan selalu diingatnya, karena kata-kata tersebut sungguh menguatkan hati dan memberikan kesejukan.

 “ saya iri sama kamu Hen. Kamu tidak pernah madon, berjudi, mabok, maling, nipu. Asyiklah hidup kamu. Kamu mencintai Indamu abis banget. Lalu Sari, ratu dimatamu, ratu dihatimu. Berbahagialah Inda dan Sari mu punya suami setia dan ayah sepenuh cinta”

Hampir magrib semua pelayat  mulai meninggalkan makam. Seluruh keluarga masih tinggal untuk beberapa saat. Pandangan semua mengarah ke Inda. Mereka hanya akan meninggalkan makam kalau Inda sudah siap. Ditatapnya gundukan penuh bunga hingga menutupi nisan. Inda berjongkok sebentar. Menyentuh tumpukan bunga,
"selamat malam kekasih, selamat tidur abadi" bisiknya sangat pelan. Tak seorangpun mendengar.

Kembali ke rumah. Lunglai, letih dan lelah. Banyak tamu di rumahnya, datang dan pergi. Inda tidak ingin peduli. Bahkan ingin menjauh sebentar dari Sari. Semua terlalu cepat. Sangat sulit dipahami. Dihempaskannya badan di tempat tidur. Kosong. 
Tiba-tiba menyadari bahwa sejak dari Semarang dia belum mandi, belum makan, tidak tidur sekejapnya di perjalanan dan juga tidak menangis.
Dadanya sesak dan perih, tapi tidak bisa menangis.

Bersambung...

Tuesday, February 12, 2019

Ketika Hening Diletakkan

Kisah 18 - Perjalanan Pulang

Yeeeyy... ayo jalan-jalan jauh ya nak...
Kamis pagi semua sudah siap untuk perjalanan ke Semarang. Mereka mampir dulu ke rumah ibu Hendra. Sampai disana, Inda dan Sari diminta turun dulu di rumah ibu. Hendra ingin ngajak ibu jalan-jalan dulu keliling Bandung seperti biasa. Inda sama sekali tidak keberatan, karena sejak ada Sari, Hendra tidak bisa mengajak ibu jalan-jalan setiap hari seperti dulu. Jadi dibiarkannya mereka berdua pergi menjalin ikatan ibu dan anak yang sangat penting buat Hendra.
Siang hari mereka berdua baru tiba kembali ke rumah. Rupanya mereka sudah makan siang bersama. Inda menikmati makan siang di rumah yang sudah disediakan bibi. Lama tidak menikmati masakah bibi, yang dulu menjadi menu sehari-hari lebih 2 th tinggal disitu.

Setelah beristirahat, mereka berpamitan. Sudah menjelang sore. Udara lebih segar dibandingkan perjalanan siang hari. Bagus untuk Sari, apalagi sore hari biasanya tidur, jadi akan lebih nyaman dalam perjalanan.
Dalam perjalanan ke Semarang, Hendra mengeluh capek dan ingin beristirahat. Inda mengusulkan untuk menginap atau apalah, yang penting bisa beristirahat.
"aku cuma pingin berhenti sebentar. Cari pohon yang rindang, jadi bisa tidur sebentar di mobil. Nggak usah menginap." kata Hendra. Di daerah Tegal, Hendra menghentikan mobil dan tidur. Inda tidak tidur, karena ada Sari yang juga tertidur nyenyak di belakang.
Inda menatap wajah Hendra yang dalam pandangannya "kok beda", tidak seperti biasanya. Tapi dia segera menepiskan kesan tersebut dari pikirannya.

Tengah malam mereka baru tiba di Semarang. Langsung beristirahat. Tidak ada yang istimewa. Semua berjalan seperti biasa. Pagi ngobrol dengan bapak dan ibu sambil sarapan. Membicarakan tentang rumah sebelah yang akan dijual. Tapi baru obrolan ringan belum mengambil keputusan akan dibeli atau tidak.
Bapak dan ibu juga sibuk dengan cucu cantik mereka Sari. Inda bahkan bisa bersantai karena Sari ada di tangan ibu dan adiknya yang sekarang sudah menjadi dokter di RS. Pantiwiloso dan tinggal serumah dengan bapak ibu.
Siang itu Hendra berpamitan, ingin jumatan di Mesjid Demak. Bapak yang sibuk dengan Sari tidak menyadari kalau Hendra sudah berangkat.
"Hendra mana?" tanya bapak ke Inda.
"Jumatan ke Mesjid Demak pak" jawab Inda santai.
"ah.. tahu gitu bapak ikut menemani" jawab bapak menyesal. Inda mencoba menghubungi Hendra, tapi sudah cukup jauh perjalanan. Kalau kembali ke Semarang takut terlambat ke masjid.

Selesai Jumatan, Hendra menelpon dengan suara yang ceria dan bahagia.
"tahu nggak In, ternyata lonceng yang aku buat dengan tatanan batu bata itu mirip dengan yang ada di Mesjid Kudus". Oya?? lho.. kok sampai Kudus? Tapi Inda senang mendengar suara Hendra ceria, bersemangat.

Siang menjelang sore Hendra tiba kembali di rumah. Tanpa mandi, langsung menggendong Sari. Memeluknya dan mendekapnya kesana kemari, sampai akhirnya Sari tertidur. Setelah menidurkan Sari baru Hendra mengajak Inda, bapak ibu dan adik membongkar oleh-oleh dari Demak dan Kudus.
Ada belimbing dan berbagai rasa jenang kudus yang terkenal. Hendra mengupas belimbing untuk Inda. Juga memotong jenang, minta Inda mencicipi semua rasa yang dibelinya.
Sore yang indah berlalu tanpa terasa. Menjelang malam Inda memutuskan untuk tidur lebih dahulu. Menidurkan Sari membuatnya ikut mengantuk. Tidak ada firasat apa pun, bahwa sore itu adalah sore terakhir kebersamaannya dengan Hendra.

Pagi hari, seperti biasa Inda terbangun dan membangunkan Hendra untuk sholat subuh. Inda terkejut melihat Hendra sudah bangun tapi dengan posisi sujud disamping Sari, dan nafasnya kelihatan sesak.
"kenapa Hen.." tanya Inda kawatir. Hendra tidak menjawab tapi langsung ke kamar mandi yang ada di kamar itu juga. Keluar dari kamar mandi Inda melihat wajah Hendra yang bersinar dan kelihatan tampan sekali. Kaget dan terkesiap dengan pemandangan itu, Inda membimbing Hendra kembali ke tempat tidur. Ketika menyelimutinya, kakinya sedingin es. Inda kawatir dan kaget melihat kondisi Hendra yang melemah tidak berdaya. Langsung dia berteriak hingga membangunkan seisi rumah.

Bapak dulu perawat, ibu bidan, sedangkan adiknya dokter. Semua membuat pertolongan pertama, membantu pernafasan. Sementara adik iparnya mempersiapkan mobil. Tanpa pikir panjang mereka membawanya ke Rumah Sakit Telogorejo yang paling dekat.
Berlari dan berlari, semua dilakukan dengan cepat. Peralatan untuk membantu pernafasan segera dipasang. Tapi Hendra sudah tidak bisa menarik nafas.
Semua lunglai dan kaget. Terduduk diam. Masing-masing dengan perasaannya sendiri. Inda baru menyadari kalau mereka semua pergi tanpa ganti baju tidur bahkan tanpa alas kaki.
Pikirannya cukup waras untuk segera melakukan sesuatu. Hendra harus segera dibawa ke Bandung untuk dimakamkan hari itu juga, sesuai dengan agama Islam.

Semua harus cepat. Keputusan harus segera diambil. Rencana untuk membawa jenazah dengan pesawat di alihkan ke mobil jenazah. Karena prosedur menggunakan pesawat lebih rumit dan tidak bisa dipastikan jam keberangkatannya. Sebagai dokter di RS. Pantiwiloso, adik Inda segera mengusahakan mobil jenazah.
Inda menghubungi kantor cabang Semarang untuk mengabarkan kepergian Hendra. Juga mengabari salah satu teman dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.

Sari... Sari.. dimana Sari... ooohhh... ada ibu yang menemani.
Tiba-tiba ada rombongan dari kantor cabang Semarang yang membawakan baju dan sandal. Inda tidak tahu kapan mereka melihat kondisinya. Kapan mereka pergi berbelanja. Tahu-tahu mereka ada.
Semua harus cepat, supaya Hendra tiba di Bandung tidak terlalu sore.
Tidak ada kesempatan untuk menyadari apa yang terjadi. Lunglai tapi harus kuat. Harus tabah, harus waras. Semua harus bisa dihadapi dengan tenang.
Sebelum di sucikan Inda mendekati Hendra yang tertidur nyenyak. Memeluk dan meletakkan kepala di dadanya. Mengecup kening dan kedua pipinya. Tidak bisa menangis. Semua dilakukannya dengan hati dan pikiran kosong.


Banyak uluran tangan datang. Membantu menghantar Hendra pulang...

Bersambung...

Monday, February 11, 2019

Ketika Hening Diletakkan

Kisah 17 - Kenangan Terakhir

Sari membawa perubahan dalam diri Hendra. Pelan dan tersamar, tapi Inda bisa merasakan perbedaanya. Kesibukannya hanya berpusat di kampus dan satu pameran di Jakarta. Sepertinya tidak terlalu tertarik untuk pergi. Dia lebih senang di rumah bermain dengan Sari. Bahkan ada satu hari telpon di kantornya tidak berdering seperti biasa. Aneh. Tidak biasanya seperti itu.
"hai.. kok tumben nggak jemput" Inda berinisiatif telpon ke rumah.
"Sari bobo, ngga tega mau bangunin" bisik Hendra di seberang.
"ibu bagaimana? nanti ditunggu-tunggu lho" kata Inda lagi, mengingatkan.
"tadi sudah aku kabari" jawabnya pendek. Baiklah, Inda pulang diantar mobil dinasnya. Mampir sebentar membeli makanan kesukaan Hendra. Tersenyum simpul. Hebat sekali Sari, bisa mengubah kebiasaan yang sudah bertahun-tahun mengakar.

Hendra lebih hangat dan tidak segan-segan menunjukkan rasa sayangnya ke Inda. Memeluk dan mendekapnya sambil nonton TV setelah Sari tidur. Bahkan tidak segan menggandeng tangan atau melingkarkan tangan di bahunya ketika keluar dari kantor Inda. Tangan lainnya menggendong Sari. Menelpon dan mengajak jalan-jalan ibu tidak lagi seketat dulu.
Hendra terlihat segar, sehat dan bahagia. Menikmati hari-harinya dengan keceriaan yang dulu jarang tersirat dalam kesehariannya.
Baju-baju baru yang dibelikan Inda menumpuk karena tidak dipakai. Kali ini Hendra memakainya. Bergantian setiap hari. Sampai ada teman dosen kampus yang berkomentar.
"wah bajunya baru terus, lagi banyak uang ya..."

Hendra juga bercerita, dia lagi pingin nraktir teman-teman dosen.
"ya sebagai ucapan terimakasih. Selama ini mereka sebetulnya mendukung aktivitasku ketika harus pameran kemana-mana" Inda menyetujui. Sangat baik sesekali ngajak mereka makan bareng. Makanan menjadi media terbaik untuk mempererat hubungan.

Malam itu, sambil berpelukan nonton TV, Hendra berkata,
"ada liburan Isa Almasih, kita ke Semarang yuk. Itu hari Jumat. Ambil cuti sehari, kita bisa agak lama di Semarang"
"hah... tiba-tiba banget. Aku Sabtu ada rapat koordinasi. Memang diambil pas hari libur, biar nggak keganggu kerjaan. Gimana?' jawab Inda masih kaget dengan ide mendadak yang dilontarkan Hendra.
"sudah lama nggak ke Semarang. Pingin pamer Sari ke bapak ibu. Kan sudah lumayan besar untuk diajak pergi jauh,"
"Lagi pula pingin lihat rumah sebelah bapak ibu. Kata ibu mau dijual. Lumayan besok buat masa pensiun, jadi dekat bapak ibu." lanjut Hendra.
"ya ampuun Hen.. pensiun masih lama banget. Lagian kayak lagi kaya aja. Mau beli rumah" kata Inda sambil tertawa.
"Jual aja mobil kijangku itu." hah... mulai ngaco rupanya. Melihat ekspresi Inda, Hendra melanjutkan.
"iya gapapa. Misalnya nanti nggak suka dengan rumah itu, ya buat tabunganmu aja".
Inda mengabaikan usulan Henda soal menjual mobil untuk membeli rumah di Semarang. Pikirannya langsung dipenuhi rencana ke Semarang. Berarti dia harus mengambil cuti 1 hari untuk Kamis, Jumat tanggal merah libur Isa Almasih, Sabtu bisa kembali ke Bandung untuk Rapat Koordinasi.

Karena hanya bertiga, Hendra menyiapkan mobil dinas Inda, dirancang supaya Sari bisa tidur di belakang dengan nyaman. Jendela mobil bagian belakang dipasangi gorden supaya Sari tidak kepanasan. Semangat dan bahagia menyambut perjalanan pulang.
ayo nak... kita ke tempat eyang kakung dan eyang putri
Bersambung

Sunday, February 10, 2019

Ketika Hening Diletakkan

Kisah 16 - Ketika Hening Diletakkan


Hendra bergulat dalam kegelisahan batin. Menyadari sesuatu yang selama ini diabaikan. Dia mengajarkan ketulusan dan keikhlasan hingga titik pasrah yang total kepada Tuhan dalam diri Inda. Tapi dia sendiri belum sampai ke titik tersebut.
Hendra kembali memutar balik segala hal yang dilakukannya terhadap Inda. Melibatkannya dalam beban hidupnya sejak kuliah hingga menyeretnya bersatu dengannya menjadi tulang punggung keluarga.
Memintanya hidup bersama keluarganya 2 tahun lebih, hanya karena ketidak tegaannya membayangkan Inda sendirian di rumah mercusuar kecil yang sudah dibeli Inda sendiri. Semuanya untuk menentramkan dirinya selama dia pergi. Bagaimana dengan Inda? dia tidak pernah memikirkan perasaannya.

Inda selalu diminta untuk memahami ibu dan adik-adiknya, tapi tidak meminta mereka memahami Inda.
Ketika tinggal bersama keluarganya, Inda pernah bercerita kalau sakit panas dingin sampai tidak bisa berangkat ke kantor. Dan tak seorangpun isi rumah yang mengetahuinya.
"lhah.. kenapa nggak bilang ke ibu kalau sakit, pasti kan dirawat" jadi Inda yang salah.

Inda berusaha datang ke pamerannya di Jakarta sepulang kantor, naik travel sendirian. Dan malam itu juga kembali ke Bandung tanpa Hendra karena masih sibuk menyelesaikan pameran. Ketika Inda mengeluh, kenapa tidak minta adiknya untuk menemaninya. Dia menjawab,
"kalau kamu nggak pingin datang, ya nggak usah datang"
Ya Tuhan, betapa jahatnya. Hendra terpukul mengingat ini semua.

Dia tidak membelanya ketika Inda menjadi bahan cerita lucu, karena suatu ketika dia ketinggalan di rumah sendirian, terkunci. Waktu itu semua sibuk ketika adik Hendra menikah. Hendra menjadi ketua panitia sehingga sibuk dengan berbagai persiapan. Inda waktu itu masih berdandan, ketika semua menganggap rumah sudah kosong dan menguncinya dari luar. Waktu itu belum ada HP, jadi Inda hanya pasrah menunggu keajaiban. Kebetulan teman adiknya kembali ke rumah karena ada yang ketinggalan. Barulah Inda bisa keluar dan ikut menghadiri pesta perkawinan. Saat itu menjadi cerita yang seru dan lucu. Dan Hendra diam saja.

Ketika Inda kesulitan memahami karya-karyanya, Hendra menganggap dia  berpikiran terlalu lurus tidak peka dan tidak berperasaan. Haaaah... apa yang aku lakukan. Kejam sekali aku menyebut dia tidak berperasaan. Akulah yang tidak berperasaan!!

Rangkaian kesadaran memberondong hati dan pikiran Hendra.
Inda rela meninggalkan pekerjaanya selama 2 bulan untuk mendampinginya ketika sakit di Jepang. Mengisi waktunya sendiri ketika harus ditinggal ke kampus. Menjalani hari-harinya dengan gembira sebagai ibu rumah tangga. Atau menikmati Kyota yang indah dengan naik sepeda. Semua dilakukannya dengan tulus hati.
Inda mendukung kariernya sepenuh hati dan total. Dengan biaya sendiri dia berangkat ke Denmark untuk menemaninya. Tabungannya terkuras untuk membiayai karya-karyanya. Hendra mengakui dia adalah donatur utama dalam menciptakan karya seni yang luar biasa.

Tamu itu datang tiba-tiba. Mereka berdua kebetulan ada dirumah. Inda mempersilahkannya masuk. Ternyata tamu itu menawarkan berlian. Dengan keahliannya membujuk Inda untuk membeli. Kebiasaan di kantor kalau menerima tamu, pasti ada bumbu basa-basi supaya tidak kaku.
"iya ya, bagus-bagus. Tapi enggak sekarang mbak, lain kali saja" kata Inda. Rupanya kata "iya ya" ini menjadi senjata buat merayunya lagi. Kali ini yang ditatap Hendra.
"bagaimana pak? bapak nggak ingin membelikan ibu?" waktu itu Hendra nampak gelagapan. Inda memahami situasi dan lebih tegas menolak.
Ketika tamu penjual berlian sudah pergi. Hendra marah.
"In, kalau kamu bersikap seperti itu di depan tamu tadi, berarti kamu tidak menghargai suamimu karena tidak mampu membelikanmu berlian" lhoh.. waktu itu terjadi perdebatan cukup keras. Inda menjelaskan bahwa itu semua basa-basi dan penjual berlian selalu menggunakan berbagai cara supaya dagangannya laku.
Hendra sungguh tidak paham. Dia marah dan tersinggung karena tidak bisa membelikan berlian untuk Inda. Harga dirinya sebagai pria dan suami digoyahkan. Tapi kemarahannya ke Inda itu keterlaluan. Marah terhadap diri sendiri yang dilontarkan ke orang lain. Itu jahat Hen... kata suara hatinya semakin keras.

Menelponnya setiap hari, itu bukan cinta. Itu posesif!. Suara hatinya makin keras terdengar, seolah tidak ingin dibungkam lagi. Kamu hanya ingin memilikinya, tapi tidak memberikan kebebasan. Kamu mati-matian belajar tentang cara mendengarkan. Tapi kamu tidak mendengarkan orang yang paling kaucintai selama ini. Kamu bicara soal keikhlasan, tapi lihat! kamu bahkan membelenggunya dengan pemikiranmu sendiri.

CUKUP. Tegas Hendra pada dirinya sendiri. Ya aku mengakui bahwa selama ini sebetulnya aku malu dan minder dengan segala yang ada dalam diri Inda. Kesabaran, kesetiaan, ketulusan, keikhlasan yang sudah dia miliki sejak dulu. Bukan aku yang membuatnya menjadi begitu baik hatinya.

oooh Tuhan.. apa yang sudah aku lakukan?
Rangkaian peristiwa masa lalu yang muncul begitu saja, membuat Hendra lunglai dalam penyesalan. Malam itu dipandanginya dua buah hatinya, Inda dan Sari. Tenggorokannya tercekat, airmata tertelan dalam kepedihan yang sulit diungkapkan. Betapa egoisnya dia selama ini. Dia sudah menghancur leburkan kepentingan pribadi Inda, sementara kepentingannya sendiri dilambungkan menembus jarak bumi.

Ketika Hening Diletakkan
Cukup.
Cukup sudah loncengnya berdentang
hingga gemanya terdengar kemana-mana.
Sudah saatnya lonceng diturunkan
Biarkan menyatu dengan bumi dimana hening diletakkan.

Bersambung...

Saturday, February 9, 2019

Ketika Hening Diletakkan

Kisah 15 - Karunia Terindah


 Sulit menggambarkan bagaimana perasaan mereka ketika bayi mungil cantik itu ada dalam pelukan. Sari menjadi panggilan sayang. Wajahnya yang cantik lucu belum bisa menggambarkan mirip siapa. Bapak atau ibunya. Seperti komentar setiap orang yang datang berkunjung,
"mirip siapa ya?"
"mirip bapaknya, tapi juga mirip ibunya" ya iyalah.. kan memang perpaduan berdua.

Sari, Sari dan Sari sungguh merubah hidup mereka. Hendra seperti orang jatuh cinta. Seluruh perhatian, cinta dan kasih sayang tercurah ke bayi mungilnya. Disiapkannya box bayi dengan lampu di bawahnya, mengusir udara Bandung yang dingin. Semua peralatan bayi sudah disiapkan sebelum Sari tiba di rumah.
Sari menjadi ratu, menyisihkan Inda dan ibunya. Inda sering mentertawakan kelakuan Hendra yang kadang berlebihan.
Bibi yang menjaga Sari bercerita. Ketika Inda berangkat ke kantor dan Hendra juga bersiap berangkat ke kampus, mengendarai mobilnya keluar pagar. Tiba-tiba berhenti. Dia kembali masuk hanya untuk menggendong Sari berkeliling rumah. Seakan tidak ingin berpisah sekejap pun.

Kebiasaan menjemput ibu, kemudian ke kantor Inda, berkeliling Bandung dan makan malam bersama masih berjalan. Bedanya, ada Sari dalam pelukan. Dibawa kemana-mana.
Hendra menjadi kerasan di rumah. Kalau ada tugas keluar kota, diusahakan pagi berangkat, pulang petang. Waktu buat Sari menjadi sangat berharga baginya. Keterikatan dengan bayi mungil tak berdaya memberi ikatan kuat untuk merasakan kepasrahan, kepercayaan, semeleh total dalam dekapannya.

Hendra dalam pencarian "sejatining urip" banyak berguru ke berbagai sumber. Sumber tradisional dan modern, hanya untuk tahu dimana dia berada dan apa yang harus dilakukan untuk sampai pada titik semeleh dan memberikan ruang yang luas kepada Sang Khalik untuk berkarya.
Sari yang nampak damai dalam tidurnya, polos dan suci. Menyerahkan hidupnya dalam pelukan tangan Hendra. Di tangannya sendiri. Seakan Hendra diberi kekuasaan penuh terhadapnya. Kekuasaan untuk mencintai dan mengasihi.
Apa artinya pengembaraannya selama ini, kalau jawaban yang dia cari ada dalam diri bayi bernama Sari. Mencintai dan mengasihi Sari hanyalah belajar diam, hening dan mendengar. Seorang ibu memiliki sifat naluriah untuk memahami bayinya, karena mereka memang sudah terikat sejak dalam kandungan melalui tali pusar. Sebagai bapak keterikatannya bersumber hanya pada awal mula bayi itu ada.
Setelah banyak belajar dari para "eyang" yang menuntunnya untuk memahami makna kehidupan, kini Hendra sebagai bapak belajar dari putri kesayangan dan ratu dihatinya, Sari. Dalam hening dia mendengar suara tangis yang berbeda-beda. Memberikan tanda haus atau lapar, ketidak nyamanan karena popok basah. Atau sekedar belajar berinteraksi dengan sekitar melalui celotehnya yang lucu. Rasa haru mengalir hangat di hatinya.

Mengikuti pertumbuhan Sari dari hari ke hari melahirkan rasa yang berbeda. Bertahun-tahun dia bergelut dengan benda mati. Dihidupkannya dalam karya seni yang diakui di dalam dan luar negeri. Kini di pelukannya ada ciptaan Tuhan yang hidup. Tumbuh dan semakin hari semakin mencuri hatinya. Dari bayi yang sepenuhnya bergantung pada orangtuanya, hingga mulai belajar berguling, duduk, merangkak dan berjalan. Kemandirian sedikit demi sedikit muncul seiring pertumbuhannya. Dari bibirnya yang mungil, semula hanya ada tangis, hingga senyum tanpa suara. Kemudian menjadi celotehan tanpa arti. Suatu saat nanti, akan menjadi ketrampilan menyampaikan sesuatu, bahkan berdebat dengan orangtuanya. Hendra tidak sabar menantikan saat itu tiba.

Saat ini dia baru bisa menatap matanya yang bulat bening. Mata Inda.
Tiba-tiba hatinya berdegub kencang. Mata Inda, mata Sari. Mereka sama. Kenapa aku tidak menyadarinya selama ini? Inda sudah sejak remaja dia kenal, mengapa baru sekarang dia memahaminya?
Bertahun-tahun dia bergulat dengan benda mati untuk mencari harmoni kehidupan. Menggali ilmu yang bisa menggabungkan hal-hal duniawi dan spiritual. Tapi dia melupakan hal yang penting, yaitu hidup itu sendiri. Hidup yang sekarang baru dia sadari lewat mata Inda dan Sari, yang bening, lugu dan tulus. Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan selama ini?


Bersambung...

Friday, February 8, 2019

Ketika Hening Diletakkan

Kisah 14 - Mengasah Nurani

Berkat ketekunannya, Inda diangkat menjadi pimpinan di kantor cabang Bandung. Hanya setahun tinggal di rumah mercusuar, mereka pindah ke rumah dinas. Rumah yang besar dengan halaman yang luas memberi keleluasaan bagi Hendra dalam berkarya. Pameran kadang di warnai pementasan yang melibatkan teman-teman sekompleks, bahkan juga warga sekitar. Hendra mudah sekali bergaul dan berteman dengan siapa saja. Seakan memiliki kepekaan untuk melibatkan diri dalam berbagai kegiatan sosial.

Suatu hari, tiba-tiba Hendra membelokkan mobilnya bukan ke arah pulang.
"lhoh... kita mau kemana?" tanya Inda heran.
"nggak tahu nih.. kita ikuti aja" jawab Hendra tenang.
Tiba-tiba mobil berhenti di sebuah Panti Asuhan. Seperti di arahkan ke suatu kegiatan yang sudah disiapkan sebelumnya. Bergabung dengan anak-anak panti asuhan, Hendra mengajar mereka menggambar. Selanjutnya menjadi hal rutin yang dilakukannya. Kebaikan hati seperti ini lah yang menyentuh hati Inda.

Dengan adik-adik dan keponakannya, sikapnya tidak berubah. Ketika ada rejeki yang dibelinya mobil Kijang, mobil keluarga. Yang bisa membawa banyak penumpang.
Kalau ada acara pergi ke luar kota, yang paling sibuk adalah Inda dan Hendra. Semua keponakan yang masih kecil-kecil maunya ikut mobil yang besar. Alhasil, semua kursi di belakang di singkirkan. Digelar kasur dilengkapati banyak bantal. Dan yang lucu, Inda harus menyiapkan botol susu dengan isi yang berbeda-beda, sesuai kebiasaan masing-masing. Ramai dengan celoteh anak-anak membawa kehangatan di hati mereka.

Belajar dari Hendra, adalah belajar menghancur leburkan kepentingan diri. Inda mulai terbiasa dengan segala hal yang dia lakukan untuk orang lain. Sedikit demi sedikit mulai paham bahwa hidup yang sesungguhnya tidak bisa dihitung dengan tepat seperti perhitungan rugi-laba. Dengan memberikan hati dan perhatian kepada orang lain, akan memberikan berkah yang tak terduga.

Ketika dulu tugasnya di bagian kredit, Inda pernah mendapat ucapan terima kasih dari salah seorang nasabahnya. Oleh Hendra, dana tersebut dibelikan hasil karya teman-temannya yang bagus dan kebetulan membutuhkan uang. Kemudian hasil karya tersebut diberikan kembali ke nasabah tersebut sebagai kenang-kenangan. Tidak menerima, tidak kehilangan, tapi memberi. Hendra mengajarkan banyak hal dalam mengasah nurani, mendengarkan isi hati.
"Hati yang murni akan mengajak kita berbagi. Melakukan hal-hal yang baik bagi orang lain. Semakin banyak kita berbagi, semakin banyak kita menerima. Jadikan diri saluran berkat dari Tuhan".

 Rumah dinas yang besar sering kedatangan tamu, baik dari dalam maupun luar negri. Kadang hanya sekedar berkunjung. Beberapa ada yang menginap bahkan sampai 3 bulan untuk menyelesaikan karya yang akan dipamerkan.

Inda mengenang saat 2 bulan tinggal di Kyoto Jepang. Merawat Hendra yang sakit. Beruntung dalam waktu 10 hari Hendra sudah sehat dan kembali beraktivitas. Sisa waktu yang masih panjang dinikmatinya sebagai ibu rumah tangga. Saat itu ada komunitas Indonesia yang sering berkumpul berbagi infomasi. Apartemen Hendra juga berpenghuni banyak. Lantai atas terdiri dari kamar berderet-deret. Lantai bawah untuk dapur, ruang tamu, ruang cuci dan kamar mandi. Tapi jumlahnya banyak sehingga tidak perlu antri. Lantai bawah menjadi tempat mereka berkumpul, memasak dan bercerita.
Kamogawa, tempat Inda diam semeleh (ft:Yongkie Hurd)
Kalau Hendra pergi ke kampus, Inda akan berkeliling Kyoto dengan sepeda. Menikmati pemandangan yang indah dan luar biasa bersih. Udara yang dingin sering membuat gigi bergemeletuk ketika bersepeda. Tempat favoritnya adalah Kamogawa, atau Kamo River. Duduk di tepi sungai diam semeleh, memberikan rasa yang tak terlukiskan. Teman-temannya ramah dan sangat membantu. Di saat mereka libur, bersama-sama naik kereta ke Osaka, Nagoya dan Tokyo.
Ketika berkunjung ke rumah Prof. Kawasaki di Shigaraki (sentra keramik di Kyoto), Inda memasak sate ayam dengan bumbu kacang yang tidak pedas. Sebagai gantinya dia diajari memakai kimono lengkap.

Pengalaman indah 2 bulan di Jepang, bergaul dan mengenal teman-teman Hendra, membuat Inda terbiasa menerima mereka di rumahnya. Saling berbagi, saling memberi. Bercanda dan bercerita di sore hari.
Inda mulai terampil menyiapkan segala sesuatunya. Mengatur waktu untuk pergi ke kantor dan menjadi koki gadungan.
"lhoh kok koki gadungan?"tanya Hendra geli.
"iya nih... mesti dimaklum kalau nggak enak ya. Lumayan grogi kalau masak buat banyak orang..." sahut Inda sambil membantu bibi menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak.
"pasti enak!!" kata Hendra sambil mengecup pipinya sekilas. Sejak tinggal di rumah mercusuar hingga pindah ke rumah dinas, Hendra tidak canggung lagi menunjukkan perasaannya. Menggandeng, memeluk dan mencium pipi bukan sesuatu yang mahal lagi.

Di saat senggang mereka juga mengajak semua tamu bepergian keliling Bandung.
Tamu yang tinggal bersama mereka membawa suasana yang hangat dan menyenangkan. Inda merasa kehilangan ketika mereka semua kembali pulang. Dan dalam rumah yang besar hanya tinggal mereka berdua. Sepi melanda...
Bersambung...




Thursday, February 7, 2019

Ketika Hening Diletakkan

Kisah 13 - Mercusuar

Rumah mungil type 36 itu menjadi mercusuar bagi Hendra. Pengembaraannya mencari jawaban atas kegelisahan hati yang terjebak dalam masa lalu dan masa kini terus digali dan digali. Selain terus mengajar tentang seni keramik yang dia pelajari di Jepang, dia juga mewujudkannya dalam karya. Pengembaraannya untuk mewujudkan seni keramik membuatnya harus pergi beberapa minggu bahkan bulan, ke berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri.
Hendra ingin menggabungkan dua kutub, nilai lama dan nilai baru yang disadari menjadi dua dunia yang membentuknya hingga sekarang ini. Pencariannya membawanya ke kehidupan tradisional di Cirebon, Jogjakarta, Klaten, Bali bahkan suku Asmat Papua.
Nilai baru di himpunnya dari tugas-tugasnya ke luar negeri juga pameran-pameran yang diadakan di berbagai negara.

Pembelajaran tentang pengolahan material, berlanjut ke Filipina. Undangan pameran berdatangan dari berbagai negara. Denmark, Belanda, Jepang tentu saja. Juga di negara-negara seperti Italy, Korea, Turky, Bangladesh dan Kanada.
Kalau kebetulan bisa cuti Inda ikut mendampingi. Inda pernah mendampingi pameran di Denmark. Tapi di tempat-tempat lain terpaksa berangkat hanya bersama tim.
Untuk mendukung karyanya Hendra melakukan pencarian dan pemahaman spiritualitasnya hingga ke Nepal, Kathmandu. Dan menggabungkannya dengan filsafat hidup para sesepuh atau yang selalu dia sebut "eyang". Dari para eyang inilah Hendra menimba religiusitas dasar bersumber pada energi alam semesta, air, tanah, udara dan api.

Dimana pun Hendra berada, lampu yang dinyalakan Inda memancar lewat mercusuar, membuatnya ingin pulang ke pelabuhan hatinya. Apa pun yang dilakukan Inda, membuatnya bersyukur tanpa henti. Ucapan "terimakasih" selalu meluncur dengan tulus dari bibirnya. Dari mengambilkan segelas air putih, menyajikan teh hangat, hingga memasak masakan kesukaannya. Tak tahan Hendra sering memeluknya di tengah Inda memasak.
Inda segalanya bagi Hendra. Setiap Inda memiliki kesempatan untuk hadir dan mendampingi dalam pameran dia akan dengan bangga memperkenalnya "ini Inda istriku sekaligus donatur utamaku". Ungkapan yang membuat Inda merona dan malu. Walaupun memang mengandung kebenaran.

Memahami Hendra bukan hal yang mudah. Bahkan teman-teman sesama seniman menyebutnya berperilaku nyeleneh. Bagi Inda yang bergelut dalam dunia rasional angka dan huruf semakin sulit lagi memahami sepak terjangnya dan juga karya-karya yang kental dengan balutan mistis dan spiritual. Kalau sudah bergumul dalam pembuatan karyanya, seakan sulit ditembus. Sangat total dan merasuk dalam mewujudkan karya seni ciptaanya.
Inda memilih untuk undur diri, dan membiarkan Hendra bergelut dalam dunianya. Kadang merasa nelongso karena terabaikan, tapi toh Inda terus melakukan hal-hal yang mendukung Hendra tanpa henti. Benar kalau dia adalah donatur utamanya. Karena mewujudkan karyanya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Juga biaya pengembaraanya. Kadang ada sponsor, kadang dana dari Fakultas, tapi pasti juga menguras dana pribadi.

"lalu, apa yang membuatmu bertahan, In?" tanya sahabat Three Musketeer semasa kuliah dulu,  ketika berkumpul di Bandung.
"hhhmmm... apa ya?" butuh waktu juga untuk menjawab. Karena memang tidak pernah terpikirkan.
"Hendra kan baik ya orangnya" kata Inda melanjutkan.

"Dia baik, rasanya tidak ada alasan untuk mengeluh. Dia setia. Kalaupun dia melupakanku saat sibuk pameran atau membuat karya, atau harus pergi berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan kesana kesini, ya memang begitulah dia, selalu total. Lagipula, kalau dengar suaranya bahagia karena pamerannya sukses, rasanya semuanya sudah terbayar" ungkap Inda lega. Seakan baru menyadarinya sekarang kalau sebetulnya semua yang dilaluinya baik-baik saja.

Setiap kali Inda melihat hal-hal baik yang dilakukan Hendra, terhadap dirinya, ibu dan keluarga besarnya dan semua orang di sekitarnya yang bahkan kadang tidak dikenal, memberikan energi yang besar untuk menyalakan lampu mercusuar. Membuat Hendra tahu arah pulang ke pelabuhan hatinya.





Bersambung...