Pages

Sunday, June 26, 2011

Kue Hermin dari Vatikan

Roti Hemin dari Vatikan

by Lilik Kardiani on Tuesday, April 28, 2009 at 10:37am

Ketika aku ditawari teman untuk membuat roti Hemin dari Vatikan, aku langsung setuju. Apalagi syaratnya aku belum pernah buat. Karena memang roti itu hanya bisa dibuat once in a lifetime, jadi aku malah jadi exciting banget. Anehnya ketika aku bilang "ok... besok tak ambil..." temanku bilang "nggak bisa mbak, harus sekarang... biar doanya nggak putus".... wah ini bener-bener unik.
Akhirnya sore itu, pulang dari Klaten aku makan dulu karena sudah kelaparan, trus langsung kerumahnya. Nggak nyangka bentuk adonan kuenya itu kental seperti susu kental manis kalengan... lhoh apa nggak bau kalau di olah selama 9 hari.. apalagi gak boleh dimasukkan ke kulkas... "yah.. ini uniknya, nyatanya punyaku juga gak bau tuh...." kemudian dia mengeluarkan kue hemin yang sudah dimasak. Rasanya lumayan enak juga...
Memasak adonan ini, harus penuh dengan ketelatenan dan doa. Begitu aku mendapatkan adonanya, malam itu juga aku harus mulai berdoa novena hati kudus pada jam yang sama. Aku pilih jam 10 malam. Bisa dipastikan jam 10 itu aku sudah ada di rumah.
Doa yang diucapakan selama 9 hari adalah doa Padre Pio dan Novena Hati Kudus Yesus.
Adonan tersebut selain hanya boleh dibuat sekali seumur hidup, tidak boleh kena tangan dan harus ditempatkan di tempat kaca ditutup plastik, diletakkan di ruangan dengan suhu ruangan yang ada dan mengaduknya dengan kayu.
Hari pertama dan kedua didiamkan saja.
Hari ketiga dan keempat diaduk pakai kayu sekali saja sehari.
Hari kelima, ditambah gula segelas, tepung 2 gelas dan susu segelas.. setelah diaduk rata didiamkan lagi.
Hari ke 6 sampai dengan ke 9 hanya diaduk sekali dengan kayu sehari sekali.
Pada hari kesepuluh, kembali adonan ditambah gula segelas, tepung 2 gelas dan susu segelas..kemudian setelah diaduk rata, dibagi 4 bagian. 3 bagian lainnya dibagikan ke kerabat atau teman yang belum pernah menerima roti hemin dan mau mengolahnya.
Yang satu bagian ditambah telur 3 butir, gula 1/2 gelas, mentega 1/4 gelas dan backing pawder 2 sendok teh.
Bakar di oven dengan panas 250 derajat selama 25 menit.... jadi deh!...

Nikmati rotiHemin yang penuh berkat ini untuk seluruh keluarga....

Yang luar biasa adalah ketika teman anakku datang, dan dia mengatakan sudah pernah mengolah roti ini ketika SMA, itu berarti sudah 7 tahun lalu... bagaimana mungkin adonan itu tidak bau??? tapi ada juga yang punya pengalaman adonan itu bau karena terlewat satu hari mengaduknya.... aneh ya....

Bagiku ini adalah berkah. Dan doa kitalah yang utama....

Saturday, June 25, 2011

kriuuuukkk....kriuuuukk

Duduk di lantai bersandar tembok,
Di depan handukku di jemur di kursi…
Garis- garis di handuk sejajar dengan bayangan
Matahari di sore hari.
Iseng…
Kuamati gerakannya naik perlahan
Ternyata cukup jelas diamati dengan kasat mata

Betapa cepatnya hari berlalu…
Usia beranjak semakin senja
Anak-anak tumbuh dewasa

Kunikmati kerupuk
Kriuuukk… kriuuukk
Sambil mendengar celoteh anakku
Tentang mimpinya untuk membalas budi
Kepada kami, orangtuanya

Dengan menjaga kesehatan kami
Dengan mendukung apa pun keinginan kami
Dan selalu memastikan bahwa kami bahagia

Airmataku mengambang
Kukatup bibirku erat
Dan air mata mengalir
Menghangati tenggorokanku..

Celotehnya semakin riang… bergairah
Memimpikan kerewelan dan kepikunan kami
Nantinya…

Kunikmati kerupuk
Kriiuuukk… kriuuuukkk
Dan tenggorokanku semakin tercekat..

24 Juni 2011
17:17
Di kamar kost anakku,
Terimakasih nak.. untuk mimpimu yang indah…
Mimpi itu saja sudah cukup

Thursday, June 16, 2011

Sepeda Kehidupan


Pagi itu, aku melakukan perjalanan ke Semarang dari Wedi-Klaten, hanya berdua dengan kakakku. Dia kakak lelaki nomor dua dan usianya sudah 65 tahun. Menduda 16 tahun dan sudah tidak berniat menikah lagi. Setiap kali ditanya, apa nggak pingin menikah lagi? Dia selalu menjawab “wah.. nanti malah repot aku ngga bisa sepedaan lagi…”. Ketiga anaknya sudah menikah, dan dia memilih untuk hidup sendiri ditemani ketiga anjingnya.

Emosi

Aku tergelitik untuk ingin tahu, apa yang paling berat dalam kegiatan bersepeda? Dengan enteng dia menjawab “emosi”… maksudnya?? “emosi itu yang paling menguras energy…”. Nah apa saja yang bisa membuatnya emosi? Kakakku menjelaskan dengan penuh semangat.
Pertama, kalau tiba-tiba ada yang menyalip kita dengan sepeda yang lebih jelek kualitasnya dari milik kita… langsung emosi.. kok bisa?? Masak kalah sepedaku dengannya??
Kedua, kalau yang menyalip kita ternyata usianya lebih tua dari kita… emosi langsung memuncak… masak kalah kuat dengan orang yang lebih tua dari kita. Apalagi kalau sepedanya lebih jelek… wah emosi memuncak… hahaha… dia memang lucu kalau cerita.
Ketiga, kalau teman seperjalanan kita agak jauh di depan kita, ada rasa takut ketinggalan. Apalagi kalau kita ada ketergantungan dengan dia, misalnya teman tersebut yang paling pintar memperbaiki sepeda kalau terjadi sesuatu. Memang sih ada HP, tapi sering nggak terdengar, maklum sudah tua semua… hehehe
Keempat, kalau ada jalan naik turun yang nggak selesai-selesai… awalnya penuh semangat.. lama-lama emosi… kok nggak lurus-lurus ya  jalannya. Akhirnya bisa frustasi juga…
Lhoh… kok sepertinya menggambarkan kehidupan kita ya….??

Sepeda kehidupan

Naik sepeda seperti menjalani hidup. Ketika kita melihat orang yang lebih tua kok lebih sehat dan bersemangat… jadi emosi juga, masak sih aku kalah dengannya. Atau melihat yang usianya lebih muda sudah sukses dan makmur hidupnya. Juga ketika kita melihat orang yang lebih menderita dari kita tapi hidupnya bahagia. Aneh….
Ketergantungan dengan orang lain, juga membuat kita tergelitik emosinya. Ada perasaan takut kehilangan, takut ditinggalkan… kehilangan percaya diri.. minder dan hal ini benar-benar bisa menguras energy kita.
Menjalani kehidupan yang naik turun tajam dan nggak berhenti-henti juga membuat kita emosi dan putus harapan. Kapan sih bisa tenang dalam menjalani hidup ini. Pingin bisa menikmati hidup yang lurus, nyaman, tentram dan damai.
Aku jadi ingat di salah buku tulisan Bondan Winarno… ada cerita orang yang sering mengeluhkan berbagai persoalan yang dihadapinya. Ingin sekali  merasakan kehidupan yang tentram damai tanpa persoalan. Temannya yang bijak membawanya berjalan-jalan untuk menunjukkan tempat dimana kita bisa terbebas dari berbagai persoalan dan.. dia diajak ke suatu tempat yaitu  KUBURAN…. Hahaha….

Kompetisi

Aku berkomentar..” lha ngapain emosi toh mas… kan bersepedaan gitu  bukan kompetisi toh”… dia ketawa… “ya iya… Cuma kok ya masih sering emosi juga kalau pas di jalan”. Rasanya, pengalaman bersepeda kakakku, seperti halnya pengalaman menjalani kehidupan. Hidup juga bukan kompetisi. Seperti halnya bersepeda. Tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Kalau hidup dinilai dari materi duniawi. Mudah sekali ditemukan siapa orang terkaya di dunia. Tapi, benarkah dia pemenang dalam kehidupan ini???
Setiap kali kita bersepeda, pasti ada tempat yang dituju. Apapun cara yang ditempuh. Apapun rintangan yang kita hadapi di perjalanan, yang penting sampai ke tujuan dengan selamat.
Lalu, tujuan hidup kita apa?? Aku pernah tidak bisa menjawab ketika seseorang menanyakan pertanyaan ini ke aku. Kemudian dia mengatakan bahwa tujuan hidup kita ya “kematian”. Maksudnya, bukan terus kita mati saja, bunuh diri… selesai!!... bukan itu…
Kita semua pasti akan mati. Kapan, bagaimana…??? Tidak ada yang tahu. Yang jelas pasti akan sampai kesana juga. Tidak bisa dihindari, dan tidak bisa ditawar..
Yang penting, bagaimana kita mempertanggung jawabkan hidup kita ini kepadaNya??.. mungkin… (karena aku belum pernah mati.. jadi ya ini kemungkinan saja)… Tuhan akan bertanya “Lik… kamu ngapain aja di dunia?? Sudah jadi ibu yang baik?? Sudah jadi istri yang baik? Sudah menjadi seseorang yang baik?? Sudahkah talenta yang kuberikan kamu kembangkan dengan baik dan berlipat hasilnya??”… mungkin begitu..
Setiap manusia memiliki peran sendiri dalam hidupnya. Bukankah hidup seperti panggung sandiwara. Kita tidak perlu memusingkan kenapa mereka begini, begitu… yang penting apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain dengan peran yang sedang kita lakonkan. Mungkin itu maksudnya kata “dilakoni”, yang bisa diartikan “dijalani”… tapi juga bisa diartikan “di lakon (peran)kan”.

Di lakon(peran ) kan dan dijalani

Aku minta tips ke kakakku… bagaimana menghadapi rasa frustasi ketika meniti jalan yang naik-turun nggak brenti-brenti… pasti melelahkan dan menguras energy yang luar biasa. Dia menjawab… “ya dijalani saja… kalau melihat ke depan masih naik turun dan melelahkan, ya menunduk saja…” Menunduk dalam kehidupan kita bisa menggambarkan bagaimana kita berdoa, merefleksi diri dan berserah kepadaNya.  Tiba-tiba dia tertawa ngakak… lhoh….kenapa???
Ternyata dia ingat.. ketika dia menunduk sambil bersepeda, ada mobil berhenti ditabrak… hahahaha….
Menunduk ya menunduk… tapi harus tetap waspada. Walaupun kita sudah berdoa, kita juga tetap harus waspada. Dengan berdoa kita melatih kesabaran, mempertajam naluri, bersikap rendah hati terhadap sesama dan kepadaNya. Begitu banyak tantangan dan godaan di sekitar kita yang membuat kita lalai. Kewaspadaan diperlukan supaya kita bisa ke tujuan dengan selamat. Hingga tiba saatnya,mempertanggungjawabkan hidup kita kepadaNya.

Monday, June 13, 2011

Error Day

masa depanku
Hari Minggu... seharian aku error...
Pagi-pagi ketika aku buat 3 cangkir kopi, buatku, mas Totok dan Mirta.. tiba-tiba Mirta komentar " itu emang ngaduknya berkali-kali toh ma..." lho kenapa?? ternyata aku ngaduknya bolak-balik dari satu cangkir ke cangkir satunya dan diulangi lagi. Masak sik??? isih ngenyel... Mirta cuma mesam mesem...
Selesai masak dan bersih-bersih.. aku dan Mirta ke Jogja, mau nyari kost untuk dia. Mirta kembali ke Jogja, karena dia dapat pekerjaan di Jogja sebagai PR... jadi dia sudah kembali lagi ke pekerjaan yang sangat dia sukai.
Beruntung sekali, semua berjalan lancar... kayaknya lancar-lancar aja... gak ada yang error...
Karena pagi gak sempat ke gereja. aku mau ikut misa di Gereja Wedi. katanya kalau sore jam 4. karena berangkatnya cuma jalan kaki aku biasanya berangkat 20 menit sebelumnya. Mas Totok masih menyelesaikan pekerjaan, sementara Mirta pusing karena kecapekan dan kepanasan di Jogja. Yowes aku berangkat sendiri aja.
jam 3.30 aku sudah selesai mandi. mestinya jam 3.40 aku sudah berangkat ke Gereja... tapi entah kenapa..kok diotakku yang tak ingat, aku nanti berangkat jam 4.10. jadi setelah selesai dandan, aku malah ngerenda sambil nunggu waktu...
Mirta nanya.... "lho gak jadi ke gereja to ma??" aku ya jawab santai... nanti jam 4.10.. trus ngerenda lagi...
Tiba-tiba mas Totok masuk... setelah hampir jam 4.10.... 'lho gak sido mangkat to???" aku masih nyantai juga.... bentar lagi... mas Totok tambah heran..lha kan gerejanya jam 4..??!! hah... aku kaget, malu, nyesel.... campur aduk... piye tho???? kok bisa di otak yang nyantel berangkat jam 4.10, sementara gereja mulai jam 4.... error tenan!!... yah telat dah... gak jadi ke Gereja... padahal wis terlanjur dandan...
ya sudah nonton TV aja. waktu itu yang dilihat Trans... ada iklan Big Movie yang main Angelina Jolie.. gak tahu judulnya. Tiba-tiba aku ingat sesuatu trus nyeletuk "coba lihat Trans TV.."... Mirta ngelihat aku sambil heran terus ngakak... "mama ki piye toh... lha ya ini trans TV....' masih dodol lagi aku nanya ..."nah yang satunya apa???"... ya ampuuun ternyata trans 7... hahaha....
haduuuh... kok error terus ki kenapa ya???
aku jadi ingat ibuku... dulu kami sering mentertawakan ibu, karena komentarnya yang aneh dan lucu... kalau gak salah ya usianya waktu itu 50 an lebih lah. Panggil nama suka salah-salah. Pernah suatu kali ibu menerima telpon dari temannya.... komentarnya cuma "oya... ho oh... begitu... trus... " kata-kata pendek.. gak jelas gitu. kami yang ada di dekatnya penasaran ibu ini telpon sama siapa?? otomatis kami focus ke ibu yang baru telpon... tiba-tiba ibu berkata menutup pembicaraan... "ya sudah bu mujaher... terimakasih..." langsung kami sponton cekakakan.... ibu ini telpon sama siapa?? kok bilangnya bu mujaher (nama jenis ikan).... ibu dengan polosnya bilang..."bu Jumahir.." kami tambah cekakakan sampai sakit perut. ibu dengan polosnya cuma bilang waduuuuh... tersinggung ga ya.....???

Masih cerita tentang ibuku. Suatu hari beliau minta antar ke dokter mata, karena sudah mulai kesulitan membaca. Setelah tahu ukuran mata ibu ternyata sudah plus, maka beliau kami antar ke optik untuk mencari kaca mata yang cocok. Akhirnya dipilih satu frame kaca mata yang cocok, setelah mantap dicoba ibu komentar " kok podo wae... gak ono bedane..." hahaha... ya ampuuun ibuuu... lha wong belum ada kacanya... kan cuma frame tok.... hahaha...

Sekarang, rasanya aku sudah sampai juga di masa itu... salah sebut, salah panggil, dan sering melakukan hal-hal yang bikin ketawa anak-anak. harus punya kerendahan hati untuk menjadi bahan tertawaan anak-anak. lha wis gimana lagi.... sampun ngunduri sepuh... hehehe...
malam hari.. masih nekad ngerenda.... walaaaah... salah satu deret.. jadi mesti di dedel lagi...
langsung mirta komentar " udah ma tidur aja... seharian ini udah error terus..."

Oya.. Mirta sempat kawatir lihat aku, trus telpon Tito... malah komentarnya "itu biasa kok mbak... ibu temenku malah lebih parah... ceritanya, ibu temennya lihat foto anaknya trus komentar "dik, ini kamu foto dimana??" anakknya heran... "lho ma... itu kan foto di rumah kita??".. ibunya dengan kalem menjawab "oooo... pantes kok tempatnya familiar..." hahahaha... ternyata ada juga yang error.....
yowes... kumatikan lampu dan tidur aja...

Tuesday, May 31, 2011

Gudeg Ketela

Di dekat rumahku ada orang jualan gudeg. Baru mulai sejak lebaran kemarin. Gudegnya enak. Cuma 2 jam buka langsung habis. Heran juga, wong Jogja kok ya gak bosen-bosennya makan gudeg. Sudah enak, murah lagi.

Ternyata ketela yang direbus bersama opor ayam itu ada ceritanya. Ketela itu sengaja di taruh di panci paling bawah, sebagai alas ayam yang direbus dengan santan berbumbu opor. Tujuannya, biar ayamnya gak gosong. Kalau gosong, pasti yang kena ketelanya. Tapi kalau nggak gosong, ketelanya ya enak, dan kalau ada yang suka Cuma dijual murah… bonuslah!.

Merenungkan hidup perkawinan. Aku melihat ketela itu sebagai cinta dalam rumah tangga. Cintalah yang mendasari kehidupan kita. Seperti ketela mendasari ayam biar nggak gosong.

Cinta lah yang mau berkorban supaya apa yang diperjuangkan dalam rumah tangga tercapai. Seperti ketela yang mau dikorbankan supaya ayamnya bisa utuh dan bagus disajikan.

Ketela itu bahan yang sederhana, seperti juga cinta. Sederhana dan mau berkorban untuk tujuan yang baik. Kalaupun cinta itu kemudian dihargai, ya itu Cuma bonus, berkah.

Dalam kehidupan perkawinan harus ada yang mau menjadi ketela, supaya tujuan perkawinan bisa diraih. Kalau tujuan ini tercapai, ya sudah… berarti ketela sudah menjalankan perannya dengan baik. Ayam boleh bangga karena dialah yang diminati pembeli, harganya lebih mahal dan rasanya tentu saja lebih enak. Tapi ayam memang tidak boleh lupa, bahwa tanpa ketela, bisa-bisa dia gosong dan tidak laku dijual.

Setiap anggota keluarga, masing-masing bisa menjadi ketela, memberikan cinta dan pengorbanan dalam ukuran dan standart masing-masing, demi tujuan bersama.

Beruntung aku menikah di akhir tahun. Sehingga setiap tahun aku bisa merefleksi diri, sejauh mana tujuan perkawinanku tercapai? Dan apa yang harus kami perjuangkan lagi?

(Permenungan 25 Th perkawinan, 31 Desember 2009)

00:00

Jam 00:00

alarmku berbunyi... seperti biasa
mengingatkanku untuk menarikan jari di butir-butir rosario
00:00... yang ini berlalu penuh kelegaan..
melewati satu tanggal yang dengan ikhlas aku lewati
dan tinggal di hari-hari laluku...
menjadi kenangan yang terkunci rapat dalam sudut akal budiku.
00:00... terimakasih Tuhan..
untuk kekuatan yang Kau berikan
untuk melepaskan rangkaian kata yang telah kubuat
untuk keberanian menyimpannya.. tanpa pernah terkirim
untuk langkah baru yang ringan tanpa beban
dan untuk memahami sejimpit rencanaMu...
selamat datang dini hari,
selamat datang mimpi baru...

(dalam gelap malam, aku melihat keindahan sebersit sinar)
18 Maret 2011..12:50

Huntara (Hunian Sementara) Sudi Moro Muntilan

Capek… tapi menyenangkan…
Setelah beberapa bulan terakhir ini aku disibukkan dengan diri sendiri, yang mau tidak mau terkena imbasnya Gunung Merapi, tiba saatnya aku membuka jendela dan melongokkan kepala keluar. Ada apa di luar sana?...

Banyak… banyak sekali yang bisa kulakukan dan banyak hal yang belum aku ketahui dan aku lihat. Berkutat sendiri dengan kegiatan merenda dan menulis, hingga satu buku selesai dan beberapa pesanan renda masih dikerjakan…. Akhirnya membuatku bosan juga. pingin melakukan sesuatu yang beda... yang menantang... yang menggembirakan...
Sabtu lalu, ketika menunggu keponakanku, Lea, 10 tahun mengikuti lomba Spelling Bee, aku mendapat telpon yang membangkitkan gairahku untuk melakukan sesuatu.
Aku diminta KDK (Kerabat Desa Kota), sebuah LSM untuk mengajar ibu-ibu merenda di daerah Muntilan. Mereka adalah korban lahar dingin merapi.
Waaaa…. Pasti mau… dengan senang hati.
Senin, selasa… aku sempatkan ke Ungaran untuk memantapkan teknik renda dan langkah-langkahnya. Belajar dari mbakku. Rabu, seharian aku di KDK untuk merancang, membeli bahan, dan menyiapkannya dalam paket-paket kecil. Kamis harus sudah mulai… kami janji datang sekitar jam 2 siang. Saat yang tepat bagi mereka setelah membantu suami mengerjakan sawahnya, atau setelah mereka selesai mengerjakan pekerjaan RT.
Ini pengalaman pertama bagiku…
Siang hari, aku, Sofie, mbak Elly dan mas Jito… meluncur ke Muntilan. Lokasinya, kalau dari Jogja setelah pasar Muntilan, ada jalan ke kiri menuju Sendang Sono. Ikuti saja jalan tersebut, nanti di sebelah kanan jalan, setelah perjalanan kira-kira 4 km dari jalan besar… disanalah cluster bambu didirikan.
Surprise… dan exciting…..
Shelter house, untuk para korban lahar dingin merapi ini, didirikan atas kerjasama para donator, dan dikelola dan diorganisir GP. Ansor . Dengan bantuan para arsitek dari UGM, berdirilah perumahan bambu yang lucu dan indah.
Berdiri diatas sawah, milik kas desa setempat yang disewa selama 5 tahun. Prioritas untuk keluarga yang tidak punya tanah dan rumahnya hilang tersapu lahar dingin. Yang masih memiliki tanah di tempat lain yang aman, mereka diajak untuk membuat batako, dengan bahan pasir merapi… ini banyak banget dan gratis…. Hehe… dibantu alat pencetak batako dan semen, mereka diajak membuat sendiri batakonya sebanyak 3000 batako untuk mendirikan rumah mereka yang baru.
Memberi bantuan, tidak hanya selesai pada saat itu saja. Dipikirkan juga, bagaimana membantu mereka untuk bisa memperoleh penghasilan hingga dapat menata hidupnya kembali setelah diporak porandakan lahar dingin merapi. Salah satu yang bisa kami bantu, memberikan ketrampilan merenda. Ini hanya salah satu alternative ketrampilan tanpa menggunakan mesin.
Cluster bambu ini, dilengkapi  Mushola, yang digunakan untuk berbagai kegiatan dan taman baca, yang belum dibuka hingga kemarin.
Aku sungguh terpesona dengan bentuk rumah bambu yang lucu, katanya harganya 14 juta per unit. Wah… kok jadi sulit menggambarkan suasananya… lebih baik lihat fotonya saja. Aku bisa merasakan bagaimana para perancang rumah ini, menciptakan desain rumah yang lucu dan indah, walaupun dari bambu. Semacam rumah panggung, 6 0 cm dari tanah sawah.2 lantai, 2 kamar tidur dibawah, 1 di atas. ada ruang tamu. kamar mandi di tempat tersendiri. untuk 10 unit rumah ini, ada 8 kamar mandi. semua dari bambu…. bahkan jalan-jalan kecil yang menghubungkan masing-masing rumah  juga dari bambu…. Cantik sekali…. Pasti dirancang dengan hati yang tulus dan rasa kasih untuk memberikan kegembiraan bagi yang sedang berkesusahan.
Dan memang benar… yang aku temui adalah 29 ibu-ibu yang ceria. Bahkan ada satu orang ibu yang lucu, membuat suasana cair, penuh tawa… Ternyata bayangan wajah-wajah muram penuh kesedihan dan tidak bersemangat yang semula aku duga bakal kutemui, nyaris tidak ada. Hanya ada satu orang yang menyingkir pulang, entah kenapa…. Sementara lainnya, dengan semangat belajar merenda. Diawali dengan belajar menggulung benang… yang akhirnya bundet ruwet.. tapi tidak membuat mereka putus asa. Banyak komentar-komentar lucu, gojekan dan saling ejek yang menderaikan tawa… juga ketika belajar membuat rantai pertama… disusul rantai demi rantai. Tanpa terasa,  2 jam kami disana.
Nampaknya mereka tertarik untuk mencoba merenda, semoga. Kami berjanji untuk bertemu setiap Senin dan Kamis
Ketika akhirnya, kami harus pulang, mereka semua menghantar kami dengan tawaran tulus “monggo pinarak… griyo kula ingkang menika…” semua menawarkan untuk disinggahi… pasti belum bisa untuk hari ini… masih banyak waktu…
Ada rasa yang sulit kugambarkan.. ketika kami dalam perjalanan pulang. Bagi Sofie, mbak Elly dan mas Jito, ini sudah biasa. Mereka biasa terlibat dalam penanganan para korban bencana di seluruh Indonesia. Mengadakan berbagai pelatihan pasca bencana supaya mereka dapat menjalani kehidupan lagi dengan normal. Pengalaman mereka begitu banyak warna… indah.
Ketika aku berbagi… berlipat-lipat yang kudapat. Pengalaman, semangat, munculnya berbagai gagasan, teman-teman… dan  wajah-wajah baru…..
Capek… ya aku capek… ditambah campur aduknya rasa… tapi aku merasa senang dan bahagia. Sampai rumah jam 7 malam….. rasanya…hari ini… aku lahir kembali….dengan jiwa dan semangat baru..dan berbagai  pilihan yang bebas kupilih. Semoga dengan bimbinganNya, aku bisa menentukan pilihan yang terbaik yang bisa kulakukan dan berkenan bagiNya.