Apa pendapatmu???
Wednesday, October 19, 2011
Orang penting
Awal bulan ini, anakku mendapat kesempatan kunjungan ke Pabrik Sido muncul di Ungaran. Dari ceritanya yang menggebu-gebu tentang pabrik tersebut (bisa dibaca di blognya www.sparklingjourney.blogspot.com), yang paling menarik bagiku adalah siapa yang meresmikan pabrik seluas 60 ha itu?? tebak siapa???? pasti yang terbanyang adalah orang-orang terkenal, berpangkat, punya kedudukan tinggi di pemerintahan... tapi ternyata yang diberi penghormatan untuk meresmikan pabrik tersebut dan tentunya dia adalah orang penting yang dianggap pantas meresmikannya. Orang itu adalah Mbah Marijan (almarhum).
Menunduk
Di depan pintu "aparteman lucuku", selalu tersedia 2 sandal jepit. Yang kecil berwarna hitam, milikku. Yang bersar berwarna merah, milik suamiku. Pagi itu, aku tergesa ke pasar, karena harus berbelanja sayuran untuk hidangan makan siang karyawan. Ketika sampai jalan besar, aku menunduk, dan baru sadar kalau kaki kiri dan kananku menggunakan sandal jepit yang berbeda. Satu hitam, satu merah. Dengan malu, sambil celingukan...... kawatir ada yang melihat, aku kembali pulang. Setelah menukar sandal, baru aku berangkat lagi ke pasar.
Beruntung aku menunduk, jadi tahu kalau sandalku beda. Coba aku berjalan tegak, tanpa tengok kanan kiri, apalagi menunduk. Bisa jadi aku jadi bahan tertawaan orang di sepanjang jalan... atau di dalam pasar... maluuuuunnyaaaa....
Sering kita terlalu cepat protes ketika seseorang menegur kita, mengingatkan, mengkritik, atau menggunjingkan kita. Bawel banget nih orang.... Emang gue pikirin??? atau it's not your bussiness.. OK!!....
Emang sebel sih, kalau jadi gunjingan orang... apalagi orang tersebut tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Belum lagi bumbunya semakin gurih sekali buat di cicipi sana sini.....
Apa salahnya kita menunduk sebentar... jangan-jangan emang bener omongan orang itu. Jangan-jangan masukan mereka pas buat kita.... baru deh.. kalau pendapat mereka salah dan sudah berbumbu sedaaaap... kita abaikan saja... EGP!!....
Beruntung aku menunduk, jadi tahu kalau sandalku beda. Coba aku berjalan tegak, tanpa tengok kanan kiri, apalagi menunduk. Bisa jadi aku jadi bahan tertawaan orang di sepanjang jalan... atau di dalam pasar... maluuuuunnyaaaa....
Sering kita terlalu cepat protes ketika seseorang menegur kita, mengingatkan, mengkritik, atau menggunjingkan kita. Bawel banget nih orang.... Emang gue pikirin??? atau it's not your bussiness.. OK!!....
Emang sebel sih, kalau jadi gunjingan orang... apalagi orang tersebut tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Belum lagi bumbunya semakin gurih sekali buat di cicipi sana sini.....
Apa salahnya kita menunduk sebentar... jangan-jangan emang bener omongan orang itu. Jangan-jangan masukan mereka pas buat kita.... baru deh.. kalau pendapat mereka salah dan sudah berbumbu sedaaaap... kita abaikan saja... EGP!!....
Sunday, October 16, 2011
Hari Minggunya Zulu
Setiap dua minggu sekali Zulu mandi. Dulu, biasanya dimandikan sendiri. Ternyata butuh waktu 2 jam memandikannya dan harus ditangani 2 orang. Memandikannya pun ternyata ada cara yang khusus. Akhirnya kami memilih memanggil orang yang kerjanya memandikan anjing, namanya pak Mardi dan istrinya.
Minggu ini, Zulu sudah kucel dan waktunya mandi. Pak Mardi yang sudah biasa datang tetap saja di gonggong, karena Zulu nggak suka mandi. Tapi, pak Mardi pinter merayu, hingga akhirnya Zulu mau juga digiring keluar dapur dan dirantai diluar.
Pertama-tama pak Mardi menyisir dan memotong rambutnya yang gimbal, terutama di belakang telinga. Setelah acara potong rambut selesai, telinga Zulu ditutup dengan kapas, dia siap dimandikan. Lihat, berapa banyak shampoo yang dibutuhkan untuknya. Selain di shampoo, Zulu juga dibersihkan kutunya, kemudian diberi obat. Tapi kalau kutunya sudah terlalu banyak, kami biasanya memanggil dokter. Nanti sore Zulu akan disuntik obat kutu. Dokter keliling ini juga mudah dihubungi. Tinggal di sms, dokternya akan datang.
Selesai acara mandi, Zulu di keringkan dengan handuk, kemudian di hair dryer. Perlu waktu lama dan harus benar-benar kering. Kalau nggak , bulunya cepat bau. Acara mengeringkan ini paling tidak disukainya. Selain lama, juga mungkin terlalu panas buat dia. Zulu menggongong terus. Bayangkan suaranya yang barito mengumandang sampai kemana-mana.
Akhirnya.... selesainya sudah. Zulu yang ganteng dan wangi... siap bergaya untuk di foto.
| potong rambut yang gimbal dulu |
| ayo merem, biar ga kemasukan shampoo |
| di blow dulu..... |
| Zulu yang ganteng dan wangi.. siap berpose |
Tuesday, October 4, 2011
Ulang tahun ke 52
| Rumah di jln cemorojajar 19-Jogja |
Kami berkeliling, dan setiap sudut rumah itu masih dilestarikan. Tidak banyak perubahan yang berarti. Cerita yang muncul adalah ingatan yang paling berkesan ketika kami tinggal disana.
Kakakku masih ingat, bagaimana kami berempat (anak-anak yang paling kecil waktu itu), paling senang meluncur di depan kamar mandi. Lantainya sengaja diberi air sabun biar licin. Ketika aku kemarin melihat tempat itu lagi... ternyata memang cukup luas untuk empat anak kecil bermain disitu.
Ada lantai, yang mbakku masih ingat dengan jelas, kami berdua suka main bekelan di situ. Lantai itu istimewa, karena kalau kami melempar bola, suaranya aneh. Lucu banget!.
| Kami mengenang setiap sudut rumah |
Pohon sawo, di halaman belakang sudah tidak ada. Dulu, kalau malam ada suara "gedebug"... sawo jatuh.. keesokannya, kami berebut untuk mengambilnya.
Bahagianya aku, di hari ulangtahunku, bisa berkumpul bersama keluarga. Ada kehangatan merayap di hati, menikmati kemanjaan yang mereka berikan ke aku. Di usia, semuanya di atas tengah baya, sikap sayang mereka ke aku, adik terkecilnya masih terasa hingga kini.
Dan hadiah terindah lainnya adalah ketika ternyata ini semua... yang mentraktir adalah anak-anakku. Woow.... hadiah terindah dari hasil keringat mereka.
Terimakasih Tuhan.. untuk perasaan bahagia yang tertumpah di hari ini.
Saturday, October 1, 2011
Secangkir teh dengan senyum
Cangkir lucu ini hadiah natal dari anak perempuanku beberapa tahun lalu. Sudah lupa tepatnya kapan, tapi yang jelas dari 6 set sekarang tinggal 3 karena pecah. Jadi pasti sudah lama sekali cangkir ini menemani pagi hariku dengan senyumnya yang cerah.
Setiap kali melihatnya, aku pasti ikutan tersenyum. Betapa mudahnya, membuat orang lain tersenyum. Tinggal membuat kopi atau teh... dan senyum kita ikut merekah bersama cangkir lucu ini.
Tapi kalau hati sedang galau, sedih, marah, kecewa.... tidak ada istimewanya memandang cangkir ini. Semua bagai tertutup mendung. Hati tidak mampu melihat sinar yang sebetulnya selalu ada, tapi tidak terlihat.
Doa pagi, membawa suasana damai, menghatar ketenangan untuk menyambut hari ini dengan gembira. Dan senyum di cangkir tehku, mengajakku untuk tersenyum untuk orang-orang yang aku sayangi.
Selamat pagi semua, keep Smile....
Have a nice weekend
Setiap kali melihatnya, aku pasti ikutan tersenyum. Betapa mudahnya, membuat orang lain tersenyum. Tinggal membuat kopi atau teh... dan senyum kita ikut merekah bersama cangkir lucu ini.
Tapi kalau hati sedang galau, sedih, marah, kecewa.... tidak ada istimewanya memandang cangkir ini. Semua bagai tertutup mendung. Hati tidak mampu melihat sinar yang sebetulnya selalu ada, tapi tidak terlihat.Doa pagi, membawa suasana damai, menghatar ketenangan untuk menyambut hari ini dengan gembira. Dan senyum di cangkir tehku, mengajakku untuk tersenyum untuk orang-orang yang aku sayangi.
Selamat pagi semua, keep Smile....
Have a nice weekend
Monday, September 26, 2011
Sepotong Mangga
Sekarang lagi musim buah mangga. Buah yang manis dan segar untuk di santap setelah makan siang. Seperti biasa, setelah makan, aku mengambil satu buah mangga dari kulkas. Cukup satu untuk berdua. Dan aku mulai mengupasnya di satu sisi bagian mangga kemudian aku membaginya 2. Pasti potonganku tidaklah sempurna, karena yang satu kecil dan satunya lagi besar. Aku menawarkannya ke suami, dan dia mengambil bagian yang kecil dan aku diberinya bagian yang besar.
Pasti sudah ribuan kali dalam perkawinanku yang berusia 27 tahun, aku mengupas mangga untuk kami berdua maupun untuk seluruh keluarga. Tapi kenapa kali ini lain??
Perbedaan pendapat dalam kehidupan suami-istri adalah biasa. Banyak yang bilang, suami-istri harus beradaptasi seumur hidup. Tidak boleh berhenti, tidak boleh putus asa, harus terus berupaya supaya perkawinan menjadi langgeng sampai kaken-ninen.
Kenyataannya, memang tidak mudah mengerti dan memahami pasangan masing-masing.
Sepotong mangga, membuatku mengerti dan memahami. Mengapa suamiku mengambil bagian yang kecil, dan memberiku bagian yang besar?? pasti bukan sekedar mengalah, tapi memang karena dia ingin memberikan yang terbaik dan terbesar untukku.
Aku sering melakukan hal yang sama, ketika suamiku yang mengupas mangga. Aku juga selalu mengambil bagian yang kecil, dan menyisihkan yang besar. Sekedar ungkapan terimakasih karena sudah mengupaskan mangga untukku. Kami melakukan hal yang sama, ingin memberikan yang terbaik dan terbesar yang mampu kami berikan.
Peristiwa kecil ini membuat aku sadar. Aku lebih sering melihat, bagaimana aku rela mengambil yang kecil, untuk memberikannya yang besar. Sementara aku tidak memperhatikan bahwa dia juga melakukan hal yang sama untukku. Memberiku yang besar, dan mengambil bagian kecil untuk dirinya sendiri.
Aku selalu berkutat pada perasaan bahwa aku sudah melakukan yang terbaik terus menerus, hingga membutakan mataku untuk melihat apa yang dia lakukan untukku. Sikap seperti ini berkembang menjadi lebih buruk lagi, ketika aku mengharapkan dia melakukan hal yang sama kepadaku, dengan ukuran yang aku tentukan. Pasti tidak mudah bagi dia untuk melakukan hal yang sama persis seperti yang aku lakukan. Hingga rasanya harapanku tidak pernah terpenuhi. Lama-lama pengorbanan yang semula dilakukan dengan tulus hati, menjadi beban yang semakin berat setiap hari. Bertumpuk-tumpuk, dan semakin membutakan mata dan juga hatiku untuk melihat apa yang dilakukannya untukku.
Kini aku memilih untuk menikmati potongan besar yang diberikan suamiku kepadaku. Menikmati setiap hal yang dilakukan untukku, sebagai bagian terbesar yang dia berikan untukku. Berterimakasih untuk semangat kerjanya, untuk membangun mimpi ke depan, untuk mendampingi setiap peristiwa dalam perjalanan perkawinan kami, dan untuk setiap ucapan terimakasih atas semua yang aku lakukan untuknya. Dan tindakan sekecil apapun yang dia lakukan ... menjadi berkah yang besar untukku.
Terimakasih Tuhan, untuk membuka mata dan hatiku hingga mampu menikmati kelimpahan berkahmu, dalam setiap langkahku. Amin.
Pasti sudah ribuan kali dalam perkawinanku yang berusia 27 tahun, aku mengupas mangga untuk kami berdua maupun untuk seluruh keluarga. Tapi kenapa kali ini lain??
Perbedaan pendapat dalam kehidupan suami-istri adalah biasa. Banyak yang bilang, suami-istri harus beradaptasi seumur hidup. Tidak boleh berhenti, tidak boleh putus asa, harus terus berupaya supaya perkawinan menjadi langgeng sampai kaken-ninen.
Kenyataannya, memang tidak mudah mengerti dan memahami pasangan masing-masing.
Sepotong mangga, membuatku mengerti dan memahami. Mengapa suamiku mengambil bagian yang kecil, dan memberiku bagian yang besar?? pasti bukan sekedar mengalah, tapi memang karena dia ingin memberikan yang terbaik dan terbesar untukku.
Aku sering melakukan hal yang sama, ketika suamiku yang mengupas mangga. Aku juga selalu mengambil bagian yang kecil, dan menyisihkan yang besar. Sekedar ungkapan terimakasih karena sudah mengupaskan mangga untukku. Kami melakukan hal yang sama, ingin memberikan yang terbaik dan terbesar yang mampu kami berikan.
Peristiwa kecil ini membuat aku sadar. Aku lebih sering melihat, bagaimana aku rela mengambil yang kecil, untuk memberikannya yang besar. Sementara aku tidak memperhatikan bahwa dia juga melakukan hal yang sama untukku. Memberiku yang besar, dan mengambil bagian kecil untuk dirinya sendiri.
Aku selalu berkutat pada perasaan bahwa aku sudah melakukan yang terbaik terus menerus, hingga membutakan mataku untuk melihat apa yang dia lakukan untukku. Sikap seperti ini berkembang menjadi lebih buruk lagi, ketika aku mengharapkan dia melakukan hal yang sama kepadaku, dengan ukuran yang aku tentukan. Pasti tidak mudah bagi dia untuk melakukan hal yang sama persis seperti yang aku lakukan. Hingga rasanya harapanku tidak pernah terpenuhi. Lama-lama pengorbanan yang semula dilakukan dengan tulus hati, menjadi beban yang semakin berat setiap hari. Bertumpuk-tumpuk, dan semakin membutakan mata dan juga hatiku untuk melihat apa yang dilakukannya untukku.
Kini aku memilih untuk menikmati potongan besar yang diberikan suamiku kepadaku. Menikmati setiap hal yang dilakukan untukku, sebagai bagian terbesar yang dia berikan untukku. Berterimakasih untuk semangat kerjanya, untuk membangun mimpi ke depan, untuk mendampingi setiap peristiwa dalam perjalanan perkawinan kami, dan untuk setiap ucapan terimakasih atas semua yang aku lakukan untuknya. Dan tindakan sekecil apapun yang dia lakukan ... menjadi berkah yang besar untukku.
Terimakasih Tuhan, untuk membuka mata dan hatiku hingga mampu menikmati kelimpahan berkahmu, dalam setiap langkahku. Amin.
Sunday, September 25, 2011
Andai besok aku mati....
Suci
Ketika mereka menyanyikan lagi "selamat ulang tahun"... aku kaget.. karena lagu tersebut dinyanyikan dengan nada yang tidak jelas. Barulah aku sadar... mereka bahkan tidak tahu bagaimana indahnya irama. Ada 2 anak kecil yang bisa "bergaya" ketika kami memotretnya. Gayanya, tetap membuat kami trenyuh. Betapa menderitanya mereka.... benarkah demikian?
Aku bertanya pada diri sendiri... benarkah mereka menderita? sakit? kesepian? sedih?... Ada anak yang terpaksa harus diikat tangannya, karena tangannya akan memukul kepalanya terus kalau bebas bergerak. Ada yang tiba-tiba memukulkan kepalanya di tembok. Dan, ada yang hanya terbaring lunglai... hingga ajal menjemput. Sudah ada 4 anak yang meninggal di panti asuhan tersebut, karena memang cacat tubuh dan mentalnya tidak bisa membuat mereka berusia panjang.
"Tuhan tidak akan mencobai umatNya di luar kemampuan" ........tidak berlaku untuk mereka. Kitalah yang sedang dicoba olehNya. Seberapa jauh kita sudah berbuat untuk mereka?? seberapa jauh kita menggunakan kemampuan kita untuk membantu mereka hingga kita benar-benar bisa berkata "aku tidak mampu lagi..."... sudahkah kita mencoba???
"Tuhan punya rencana indah untuk setiap orang"
Di sekitar kita, apabila kita mau membuka mata dan hati, begitu banyak orang yang miskin, terhina, disingkirkan, sedih, kesepian, terlupakan, sakit, hidup dalam ketidak adilan dll. Akhir-akhir ini juga banyak bencana alam, kematian, kehilangan harta benda, ketakutan, kekawatiran.
Dimanakah kita berada? jauuuuh... mereka ada di benua lain, negara lain, kota lain, daerah lain... apa peduliku? atau dia ada di dekat kita tapi kita tidak peduli? "emang gue pikirin.... aku juga lagi susah!"....
Tapi, mereka tetap ada untuk menguji cinta kita kepadaNya.
Bisakah kita merasakah indahnya berbagi berkah, berbagi waktu, berbagi perasaan dengan mereka?. Atau sedikit menyisipkan doa untuk mereka? Keindahan rencanaNya, bukan sebuah pertanyaan dan harapan supaya mereka mendapatkan keindahan hidup, melainkan bagaimana kita menikmati keindahan dengan memberi dan berbagi dalam bentuk apapun juga kepada mereka.
Ah.. betapa mudahnya aku bicara, betapa indahnya kalimat yang aku buat... "well said"... apa artinya?
Andai besok aku mati...
Apa yang bisa aku ceritakan kepada Tuhanku.. apabila Dia bertanya "apa yang sudah kamu lakukan untukKu??"
Dengan malu aku hanya bisa menjawab.
Aku hanya 2 kali berkunjung ke panti asuhan cacat ganda, dengan sumbangan yang ala kadarnya.
Aku lebih sering berdoa untuk diriku sendiri dari pada mereka.
Aku memang sudah menghantar anak-anakku untuk hidup mandiri, semoga saja cukup untuk mereka meniti hidupnya.
Aku meluangkan sedikit waktuku untuk memasak bagi karyawanku. Sedikit berbagai makanan dan kue untuk orang-orang di sekitarku. Kadang menghantar kue untuk ibu mertua dan saudaraku. Mengunjunginya sesekali, dan menemani ibu ketika sakit. Mengirim sms, menulis email untuk menyapa teman-teman.
Duuuh... kenapa aku semakin malu melihat jawabanku. Betapa banyak hal terlewatkan....
Pantaskah aku menghujat Tuhanku...? mengapa dia membiarkan bencana terjadi, mengapa ada anak-anak cacat ganda, mengapa ada yang terlahir di daerah miskin, yang membuat mereka tidak memiliki pilihan untuk hidup baik?
Mengapa aku tidak bertanya pada diri sendiri, menudingkan jari ini ke diri sendiri?
Bukan bertanya mengapa Tuhan tidak berbuat sesuatu kepada mereka? tapi mengapa aku tidak berbuat sesuatu untuk mereka?
Kesempatan
Kalau mereka tidak punya kesempatan untuk hidup baik, karena cacat ganda sejak lahir, karena bencana, karena terlahir di tempat yang sangat miskin.... kita PUNYA!!.
Aku terlahir utuh, tanpa cacat... dengan pikiran yang memampukanku untuk melakukan banyak hal. Seharusnya semua kulakukan tidak hanya untuk diri sendiri, tapi untuk membantu mereka yang tidak punya kesempatan untuk itu.
Semoga di usiaku yang sudah lebih dari setengah abad ini, aku diberi jalan untuk melakukan lebih dari yang sebelumnya. Menggunakan kesempatan yang ada untuk lebih banyak berbagi dengan orang lain, dalam bentuk apapun juga.
Dan semoga aku tidak mati besok... supaya aku tidak memberikan jawaban yang memalukan karena selama ini aku belum melakukan tugasku dengan baik...
Note:
Penghormatan tertinggi aku haturkan untuk para pengasuh anak-anak cacat ganda di seluruh dunia. Selamat atas kesuksesan mereka mengisi hidupnya dengan melayani, mencintai, dan merawat orang-orang yang tidak memiliki kesempatan dan pilihan hidup.
Subscribe to:
Posts (Atom)
