Pages

Saturday, January 21, 2012

Mr. Bubble

Sudut indah Pantai Ngandong
Tidak ada keceriaan di pantai tanpa adanya mBendol alias Sargen alias Mr. Bubble. Nama terakhir kami yang mengusulkan untuk menggambarkan arti mBendol ke Maryna yang berasal dari Polandia. Mr. Bubble paling suka lihat wanita cantik, apalagi bule cantik yang berbikini mandi di laut, seperti Maryna . Begitu melihat kami ngopi bersama di warung Saipan, salah satu warung makan di Pantai Ngandong, dia langsung bergabung.

Selain nelayan, Mr. Bubble adalah tukang pijat. Pijantannya oke banget buat melepas lelah, atau memperbaiki urat-urat yang keseleo. Mr. Bubble berperawakan kecil, hitam berotot. Selalu tertawa, dan cara berceritanya selalu membuat kami tertawa ngakak. Dia selalu menolak setiap kali kami menawarkan untuk makan bersama.
“saya itu nggak suka makan…” kata Mr. Bubble. Sebelum kami sempat bertanya lanjut karena keanehan jawabannya. Istri Saipan yang bernama Parmi langsung menyahut.
“Nggak suka makan nasi, tapi lainnya mau…” Ternyata Mr. Bubble hanya suka  makan mie. Katanya sehari cukup satu bungkus mie instan. Nafsu makannya gampang sekali hilang. Pagi ini, ketika ada satu bis pariwisata tergelicir dan terbalik di jalan masuk pantai, dia langsung berlari kesana, dengan meninggalkan semangguk mie yang baru dimakan sesuap. Beberapa saat setelah dia kembali lagi, mie hanya kembali disantap beberapa suap kemudian berhenti. Seleranya sudah hilang. Dan dia lebih menikmati menggoda cewek-cewek muda cantik yang berteduh di rumah kami karena hujan angin yang deras tanpa henti sejak pagi.
“istrimu cantik, nDol?”.. tanyaku. Dia tertawa sumringah.
“dulunya, ya menurut saya cantik… tapi… wah sekarang.. ternyata  banyak sekali yang cantik” jawabnya sembarangan. Kami tertawa dan kemudian dia melanjutkan.
“istri saya dulu tak kawini ketika dia masih SMP kok bu… soalnya…yaaaa.. terlanjur hamil” katanya santai. Spontan, kami melotot “hah… kamu nih ngakali anak kecil ya…”…
Mbendol tertawa dan semakin bersemangat dan melanjutkan ceritanya.
“nah, pacar saya sebelumnya, SMA. Kami dilarang… ya udah jalan satu-satunya ya tak buat dia hamil. Eeeehhh… tetep saja nggak boleh. Malah dibawa pergi, trus dikawinkan dengan orang lain. Ya sudah gimana lagi…” aku tidak merasakan rasa sesal, sedih atau prihatin, karena berarti dia memiliki anak dengan wanita lain. Seperti tali yang sudah putus begitu saja.

Sebagai ibu, aku membayangkan bagaimana anak itu sekarang. Apakah bapaknya mencintai dia. Apakah hidupnya layak. Apakah dia mendapatkan pendidikan yang benar, sehingga bisa meraih masa depan yang diinginkannya. Dan apakah dia tahu siapa bapaknya yang sebenarnya. Darah siapa yang mengalir dalam tubuhnya.
Mungkin ini tidak pernah terpikir sejauh itu bagi mBendol. Semua sudah berlalu bertahun-tahun lalu. Toh sudah tidak bisa diraih lagi. Dia sudah merelakan semua, tinggal cerita saja. Dia memilih untuk menapaki hidup ke depan bersama istri dan kedua anaknya.


Belajar dari mBendol, walaupun sembarangan kalau bercerita, tapi aku melihat ketegaran hati dalam melihat persoalan hidup. Hidup harus terus berjalan… tidak perlu menyesali yang sudah lewat. Yang penting, bagaimana dia menjalani hidupnya sekarang ini, saat ini.

Bis terbalik atau copet!!!???

Memang nggak nyambung ya..?? apa hubungannya bis terbalik dan copet?

Siang itu, cuaca memang tidak bersahabat bagi para pengunjung pantai. Sabtu adalah hari sibuk bagi para penghuni Pantai Sundak dan Ngandong. Aku menghitung ada 15 bis yang datang dan pergi. Mobil pribadi memenuhi parkiran, bahkan ada 2 tenda besar didirikan disitu. Ternyata ada rombongan sebuah perusahaan di Jogja yang berlibur bersama karyawan dan keluarganya. Acaranya, ndangdutan semalam suntuk. Pantai menjadi penuh. Kami akhirnya, duduk-duduk di rumah sambil ngobrol. Menikmati nyamikan dan kopi, sambil melihat orang lalu lalang di depan rumah.

Sayang, hujan turun sejak pagi. Banyak yang nekad tetap berlarian dan mandi di pantai. Sekalian basah.
Tapi, ada juga yang menyesali hujan, dan berteduh di rumah kami. Pada saat itulah, kami mendengar suara berdebum keras. Dan semua orang berlarian ke arah suara. Tujuannya, di jalan masuk ke Pantai Sundak yang memang sempit dan curam.
Suamiku berlari, bersama arus banyak orang yang tidak mempedulikan hujan. Aku dan Seska, memilih diam di tempat. Selain hujan, begitu banyak orang sudah berkumpul ke satu arah yang sama. Walaupun penasaran, kami memilih untuk mendengar ceritanya saja.

Tiba-tiba ada ibu yang berlari berlawanan arah… sambil berteriak,
“copet…copet…. ono copet!!”  hah… spontan aku dan Seska berpandangan. Lhoh... kok copet?? Suaranya kok begitu keras?? Apa copetnya di gebukin?? Sabar…. sabar kita tunggu beritanya.
Dan benar… walaupun hujan, suamiku kembali dengan santai. Sebelum kami sempat bertanya, dia sudah bercerita. Mungkin melihat ekspresi wajah kami yang penuh tanya.
“bis terbalik…” lhoh… lha kok tadi copet?? Akhirnya aku dan Seska tertawa. Baru setelahnya kami bertanya lebih lanjut.
“gimana ceritanya mas? Ada korban? Kok tadi bilangnya copet…copet…”
Suamiku yang super kalem, menjawab santai.
“Ada dua bisa berpapasan. Satu mau masuk, yang satu mau keluar. Itu… di tanjakan yang sebelah atas. Nah karena nggak cukup, yang mau keluar mengalah… saat dia mundur… tergelincir dan terbalik masuk selokan. Nggak ada korban kok. Tapi kayaknya ada ibu yang tangannya patah. Tapi sudah ditolong. Yang lainnya ga papa….” Jelasnya. Trus copetnya???
“oooo… ya mungkin ada yang mengingatkan… awas copet!... kan banyak yang menggunakan kesempatan seperti itu untuk mengambil barang-barang penumpang” jelasnya lebih lanjut.
Aaahh… ya masuk akal kalau tadi ada yang teriak copet…copet….
Yaaah… memang susah… bagi para korban… bisa jadi, sudah jatuh… tertimpa tangga pula!.

Bukan rahasia lagi, korban bencana alam, bisa menjadi penghasilan bagi banyak orang. Pendapatan terselubung berkedok belas kasih. Sebetulnya sama saja dengan copet. Hanya ini copet elite!!. Tapi aktivitasnya sama. Sayang sekali, mental seperti ini yang berkembang ketika bencana alam terjadi. Heboh di saat ada gempa bumi, gunung meletus, tsunami, banjir, tanah longsor. Begitu dana mengucur, dicopet sana sini. Dan setelah sisanya diberikan… selesai sudah… bagaimana selanjutnya… terserah Anda… persis seperti iklan deodorant. Ah sudahlah…. Tuhan yang tahu… aku tidak ingin membahasnya lebih lanjut…

Malamnya… walaupun masih hujan, pesta dangdut yang diadakan para penghuni tenda di tepi pantai tetap berjalan meriah hingga larut malam. Sementara para nelayan berupaya untuk mengembalikan posisi bis yang terbalik. Jelas tidak mungkin. Kami sudah mengingatkan... tapi mereka tidak putus asa “namanya usaha membantu pak… kami coba semampunya”. Usaha yang sudah jelas sia-sia baru berhenti jam 2 pagi. Tapi mereka puas karena sudah mencoba. Baru esok harinya ada mobil derek datang, dan siang hari, bis sudah bisa dibawa kembali ke Solo oleh pemiliknya.

Semangat para nelayan yang tidak mau berpangku tangan melihat kesusahan orang lain, justru lebih menyentuh hati. Mereka hanya punya tenaga dan niat baik. Sikap gotong royong, bahu membahu dan persaudaraan yang kental menyatukan mereka untuk selalu melakukan sesuatu bersama-sama. Walaupun tidak berhasil, setidaknya sudah mencoba. Sikap yang pantas di acungi jempol!!.

sreeek.....sreeeek.....sreeeek.......

Pergi ke Pantai Ngandong, Sundak tidak ada batasan waktu. Itulah untungnya kalau sudah mengenal penduduk di sana. Mau tiba jam berapa pun tidak masalah. Kami tidak pernah menyebutkan jam berapa kami akan tiba. Cukup menyebutkan harinya saja.
Kali ini, kami bertiga, aku, suami dan Seska sahabat kami berangkat dari Wedi-Klaten, menjelang jam 21.00, tidak perlu terburu-buru.
“tidak ada deadline….”… kataku santai. Yang penting semua pekerjaan sudah diselesaikan. Persiapan perbekalanku untuk 10 hari disana harus dipersiapkan sungguh-sungguh. Juga keperluan zulu. Dari makanannya, tempat makan dan minum, obat bulu dan talinya yang baru dibeli tadi siang. Selama ini zulu tidak pernah diikat. Tapi, di tempat baru, kami tidak mau ambil resiko.

Kali ini, kami tidak melewati route biasa yang melalui Kalasan. Tapi langsung dari Wedi, ke arah Bayat… yang kemudian bisa langsung sampai di alun-alun Wonosari.
Karena lapar, kami mampir dulu di mie jawa Wonosari yang terkenal enak. Zulu pun bisa berjalan-jalan sebentar, setelah dia ribut terus selama perjalanan.
Tiba di Pantai Ngandong, jam 1 malam. Suasana gelap dan sepi. Tapi genset Saipan masih menyala, sehingga rumah kakakku terang benderang.
Setelah membangunkan Saipan untuk minta kunci kamar, kami menata tempat tidur dan terlelap hingga pagi.

Kebiasaan bangun pagi jam 4.30, membuat mata sudah tidak bisa dipejamkan lagi. Bersama zulu, kami berjalan-jalan ke pantai, setelah sebelumnya memesan kopi ke Parmi, istri Saipan. Seska masih tertidur nyenyak. Ternyata sudah 1,5 tahun aku tidak berkunjung kesini. Terakhir Juli 2010. Cukup  banyak perubahan yang mengarah ke perbaikan kehidupan para nelayan.

sreek..sreek..sreek
Sepulang dari berjalan-jalan…. Duduk di rumah Saipan sambil ngopi menjadi kenikmatan yang sulit ditemui di kota. Selain suara debur ombak… ada suara lain yang menarik….sreeek…sreek… sreeek….
Beberapa orang menyapu tempat parkir di depan rumah  Saipan. Pantas pantai ini sekarang bersih. Setiap pagi disapu sehingga membuat siapa pun yang parkir disini merasa nyaman. Kenyamanan selalu ada harganya. Dengan upaya ini, mereka bisa menarik retribusi parkir.
Lumayan juga untuk tambahan penghasilan mereka.

Sreeek…. Sreeek…sreeek…. Walaupun setiap hari angin menerpa dedaunan dan menyebarkan kotoran di halaman parkir… tapi ini justru penghasilan bagi mereka. Ada pekerjaan dan ada penghasilan.  Bagi yang bertugas menyapu hari itu, berarti restribusi parkir untuk mereka. Cukup adil, dan bermanfaat.
Tempat bersih, dan mendapat hasil.

9 malam...10 hari...

Pantai Ngandong-Sundak
Banyak yang bertanya-tanya, ketika aku memutuskan untuk tinggal di Pantai Ngandong, bagian dari pantai Sundak. Apalagi ketika aku bilang "semingguan lah disana..." ngapain???.
Aku ketawa, "bisa lebih malah... kalau krasan.. hahaha".
Beberapa teman dan saudara yang sudah pernah ke Pantai Ngandong, merasa iri, karena aku bisa menggunakan waktuku lama di sana. Bahkan ada yang mau menyusul di hari aku pulang nanti. Tapi, diantara teman-teman yang aku pamiti, karena aku bakalan hilang dari peredaran, sangat heran.
"itu tempatnya di mana sih?? masak nggak ada sinyal sama sekali?? emang tersembunyi banget ya tempatnya??"

Saipan, sekarang
Mengapa tempat ini menjadi pilihanku?
Aku sudah mengenal tempat ini 27 tahun lalu. Ada seorang anak pantai, Saipan namanya. Waktu itu masih berumur 10 tahun. Saipan adalah anak laut yang mencuri hati kami, sehingga sejak itu kami sering berkunjung ke pantai ini. Tempat ini hanya butuh 1,5 jam dari tempat tinggalku. Kami mengenal semua nelayan dan sudah seperti keluarga. Kebetulan kakakku memiliki rumah sederhana, seperti halnya rumah nelayan lainnya
Memang agak sulit mendapatkan sinyal. Tapi, ada baiknya di saat ingin sendiri, Hp tidak bisa dihubungi atau menghubungi orang lain. Tapi benarkah demikian?

Baiklah...
Khusus untuk teman-teman yang ingin tahu dimana aku berada selama 9 malam 10 hari. Akan aku berikan gambaran yang sangat jelas dimana tempatnya.
Kalau sudah sampai Jogjakarta, carilah tanda menuju ke Wonosari. Bisa lewat Kalasan, atau kalau dari arah Solo, bisa lewat Prambanan.
Kalau sudah sampai Wonosari, carilah tanda menuju ke Pantai Baron. Tapi hati-hati... karena dalam perjalanan nanti akan bertemu pertigaan, yang kalau kita belok kiri menuju Desa Tepus. Dari Desa Tepus penunjuk jalan semakan jelas. Ikutilah jalan menuju Pantai Sundak. Pantai Ngandong, bagian dari Pantai Sundak. Letaknya paling ujung, dan agak tersembunyi. Setelah memasuki parkiran Pantai Sundak, pasti akan mudah menemukan Pantai Ngandong. Di sanalah aku berada...

Dan mungkin banyak juga yang penasaran, ngapain aja aku di sana. Kok betah sampai begitu lama, tanpa sinyal, tidak bisa berhubungan dengan teman dan saudara. Trus ngapain aja??
Aku menulis. Banyak cerita yang bisa kubagikan di blog ini. Khusus untuk cerita di Pantai Ngandong-Sundak, akan aku beri label Pantai Ngandong. Selamat membaca dan menikmati hari-hariku selama 9 malam 10 hari.

Thursday, January 19, 2012

Bapak.. dalam kenangan



Akhirnya aku melihat bapak menangis. Bapak duduk di tempat tidur dalam kamar, setelah melihat jenazah ibu di kamar tamu. Bapak yang tegar, kuat, pelindung bagi seluruh keluarga luruh dalam kesedihan. Separoh jiwanya hilang, mimpi di hari tua bersama ibu sirna, terbangun dalam kenyataan yang tak terduga. Ketika kami, anak-anaknya mendekapnya bersama-sama, semakin membuat hatinya terluka.
Bapak hanya berguman lirih “seharusnya, aku yang pergi lebih dahulu”. Dan di makam, beliau langsung memesan tanah di sebelah ibu untuknya kelak. Kelak?? Kapan??

Ibu tidak mungkin tergantikan. Walaupun aku dan mbakku berusaha semampu kami untuk memberikan yang terbaik, tak mungkin menandingi kehadiran ibu 40 tahun bersamanya. Aku mencoba menyiapkan sarapan pagi, diet khusus untuk diabetesnya. Yang kudapat adalah sarapan pagiku, berupa pesan yang menggores hati “kamu harus siap, karena bapak juga tidak akan lama lagi pergi” duuuuh…
Seminggu setelah ibu meninggal, bapak sudah kembali masuk kantor. Penghiburan dan pengalihan kesedihan yang paling mungkin bapak lakukan, dari pada larut dalam kesedihan. Tapi hati tidak mungkin berbohong. Tercermin dari kesehatan bapak yang semakin turun dari hari kehari-kehari. Kesehatan yang tidak mungkin dipulihkan lagi. Walaupun bapak ingin, walaupun kami semua berusaha keras untuk menjaga kesehatannya. 

Setelah setahun kepergian ibu, semua seperti berjalan normal. Tapi tidak baginya. Apalagi tiga bulan setelah bapak pensiun. Tinggal di rumah tanpa ibu, semakin membuatnya kehilangan semangat hidup. Hingga suatu hari bapak pingsan dan mengalami prakoma. Ternyata gula darahnya mencapai 550. Dalam sehari, entah berapa insuline yang disuntikkan ke dalam tubuhnya untuk mengembalikan kesadarannya. Beberapa hari di rumah sakit, tidak membuat bapak sehat. Ketika pulang, selain diabetes, bapak menderita liver. Dua hal yang bertentangan. Aku kuwalahan memberikan diet yang seimbang. Ketika gula darahnya membaik, livernya memburuk. Demikian sebaliknya.
Hingga, tiga bulan kemudian, bapak pingsan. Aku tahu, kali ini harapanku semakin tipis. Di saat menunggu ambulance datang. Aku tidur di sampingnya, mendekapnya, menghantarnya dalam doa, dan berbisik… “bapak, maafkan semua kesalahanku selama ini”. Dalam kelemahannya dia mengangguk. Dan ketika kakakku datang bersama istrinya, beliau berpesan untuk menggantikan peran bapak dan ibu bagi adik-adiknya dan “nggak usah menangis…” mungkinkah???
Bapak pergi malam itu juga, hanya beberapa jam setelah tiba di rumah sakit.

Selama ini, aku hidup dalam gelembung yang diciptakan bapak. Perlindungan dan pendampingan yang membuat hidupku terasa nyaman dan tenteram, tak tersentuh berbagai persoalan. Karena semua persoalan sudah bapak selesaikan. Kami, terutama aku yang semasa kecil sakit-sakitan, bab hidup dalam karantika bebas virus.
Ketika bapak pergi… gelembungpun pecah. Serta merta kehidupan nyata terbentang luas dalam kehidupanku. Kehidupan yang harus aku jalani walaupun dengan terseok-seok, tanpa tangan kuat dan kukuh yang selama ini menggenggamku. Namun, bapak ternyata tidak pernah meninggalkan aku. Gelembung kasihnya yang besar melindungi hatiku. Hingga tetap kuat bertahan dalam menjalani hidupku. Aku mampu menangkis berbagai persoalan yang melukai hati. Dan aku mampu menjalani hidup ini dengan perlindungan kasihnya yang tetap kukuh dan kuat mendekap hatiku.
Terimakasih bapak, untuk semua yang bapak lakukan untukku. Tahun-tahun sudah berlalu, tapi aku tidak pernah merasa ditinggalkan. Bapak selalu ada dan tetap ada di hatiku selamanya. Semoga Tuhan juga memberikan hidup damai yang kekal bersama ibu, adik dan kakak yang sudah bersatu di surga. Amin.

Thursday, December 29, 2011

Kosong... itu indah

Kosong...
Bagaikan melihat ruangan tanpa isi apa pun. Atau bahkan memandang padang gurun yang sejauh mata memandang hanya pasir. Itu yang aku rasakan....
Hidup bagaikan hamparan padang tanpa harapan, keyakinan, kepercayaan, keinginan.... kosong dan hampa. Dalam sisa kesadaran yang masih ada, aku masih bisa berpikir... apakah aku depressi? apakah aku putus asa? apakah aku sudah seperti mayat hidup?
Tapi, Natal kemarin aku masih bersemangat membungkus bingkisan bersama anak-anak untuk sebuah Panti Asuhan. Memasak, makan bersama... menikmati kebersamaan bersama anak-anak...
Tapi kenapa sekarang kosong....
Bahkan kalaupun aku mau bercerita, aku tidak tahu apa yang harus aku ceritakan. Kepada siapa aku tepatnya harus bercerita.
Sejujurnya aku gelisah dengan perasaan ini...
Hingga pagi ini, aku bercerita kepadaNya. Tentang perasaan yang tidak jelas, tentang kekosongan yang menggelisahkan, tentang ketidak tahuanku akan apa yang aku rasakan.
Dan aku mendapat kiriman sms yang luar biasa indah:

Aku telah memahami:
Supaya Allah dapat bertindak dalam satu jiwa, jiwa itu harus berhenti bertindak atas kemauannya sendiri. Kalau tidak, Allah tidak akan melaksanakan kehendakNya dalam jiwa itu sendiri. (BHSF.1790)

Bagaikan hujan di padang gurun, kalimat itu menyejukkan hati. Mengisi kekosongan dengan sinar yang hangat. Rupanya inilah jawaban dari doaku sendiri, ketika aku tidak tahu apa yang harus perbuat, aku berdoa "kuasailah jiwaku, ya Tuhan". Aku hanya tidak tahu, bahwa kekosongan yang aku rasakan akhir-akhir ini, adalah upayaNya untuk mengusai jiwaku.
Aku bingung karena aku masih ingin bertindak atas kemauan sendiri. Kini aku tahu, semua harus kulepas... dan aku semakin tahu... kosong... itu indah.

Note:
Trimakasih untuk Winarti, yang smsnya menyapaku setiap hari.

Thursday, December 22, 2011

Hari Ibu

Seorang anak bertanya kepada Tuhan: "Tuhan, mengapa ibuku menangis?"
Tuhan menjawab:
"Karena ibumu seorang wanita.
Aku ciptakan dia sebagai mahluk yang istimewa.
Aku kuatkan bahunya untuk menjaga anak-anakku.
Aku lembutkan hatinya untuk memberi rasa aman.
Aku kuatkan rahimnya untuk menyimpan benih manusia.
Aku teguhkan pribadinya untuk terus berjuang saat yang lain menyerah.
Aku berikan rasa sensitif untuk mencinta anak-anakku dalam keadaan apa pun.
Aku kuatkan batinnya untuk tetap menyayangi, meski dikhianati oleh kawan, dan meski disakiti oleh suami dan anak-anaknya.
Ibumu adalah mahluk yang kuat.
Tetapi jika suatu saat, kamu melihatnya menangis, itu karena Aku memberinya airmata yang bisa digunakan sewaktu-waktu untuk membasuh luka batinnya, sekaligus untuk memberinya kekuatan baru..."

Happy Mother's Day
God Bless You forever...

(I love you, mommy.... forever.... miss you sooo much)