Pages

Saturday, February 18, 2012

Kunyanyikan untukMU…


Kalau suster yang bernyanyi, pasti bukan lagu rock, lagu cinta yang mendayu, atau lagu goyang dangdut ala Ayu Ting Ting. Tapi sebuah lagu untuk mengiringi misa. Lagu yang syairnya penuh cinta dan syukur kepada Tuhan.
Dua hari ini suster-suster asik berlatih musik dan bernyanyi. Ada frater yang melatih mereka bermain gitar dan orgen. Mendadak, susteran yang biasanya sunyi senyap, mengumandangkan lagu-lagu merdu dengan iringan gitar dan orgen. Ada apa gerangan?
Bukan hal biasa sebenarnya. Hanya sebuah tantangan yang di lontarkan kepada suster-suster untuk mengiringi misa dengan lagu dan musik yang mereka bawakan sendiri. Tantangan yang indah, dan suster-suster menyambutnya dengan sukacita. Menyenangkan berada diantara mereka yang penuh semangat belajar memetik gitar sambil bernyanyi…
Betapa hatiku
Berterimakasih... Yesus
Kau mengasihiku
Kau memiliki
Hanya ini Tuhan persembahanku
Segenap hidupku, jiwa dan ragaku
S'bab tak kumiliki harta kekayaan
Yang cukup berarti 'tuk ku persembahakan
Hanya ini Tuhan permohonanku
Terimalah Tuhan persembahanku
Pakailah hidupku, sebagai alatMu
Seumur hidupku

Pertobatan Suster Santi


Kalau anak berseteru dengan orangtuanya, itu biasa. Yang luar biasa adalah anak dan orangtua bisa seiya sekata, kompak dan bersatu! Adakah yang seperti ini?? Rasanya lebih sulit menemukannya, dari pada menemukan kasus perseteruan anak dan orangtua.
Masih ingat lagu…. “rokerrrr… juga manusiaaaa…”… aku akan senang menyanyikannya dengan… “susteeeerrr juga manusiaaaa…”. Mengapa? Karena aku mendengar cerita suster Santi yang berseteru dengan ibunya. Tidak penting apa permasalahannya, karena memang hal ini wajar terjadi pada siapa saja. Komunikasi yang amburadul. Ibu merasa sudah pernah muda, sedang anak belum pernah menjadi orangtua, atau ibu khususnya.
Tuhan tidak tinggal diam. Suster Santi disempurnakan melalui pengalaman yang luar biasa. Suatu hari, ada bayi 4 bulan yang ditinggalkan di susteran begitu saja oleh ibunya. Suster Santi mendadak menjadi ibu. Segala upaya dia lakukan untuk merawat bayi tersebut. Panik melanda ketika bayi tersebut tidak mau berhenti menangis. Semalaman dia tidak bisa tidur…
“dede… kenapa??? Jangan menangis terus… suster tidak tahu harus bagaimana…” tapi si bayi tidak peduli. Dalam keputusasaan, suster membujuk si kecil “ayolah de… berhentilah menangis sebentar saja, supaya suster bisa berdoa di kapel”. Dan si kecil diam… tapi setelah doa di Kapel selesai… si kecil menangis lagi… tanpa henti hingga keesokan harinya…
Akhirnya, suster membawanya ke Puskesmas. Suster bahkan tidak tahu bagaimana menggendong bayi. Dia membawanya seperti membawa bendera pusaka saat upacara bendera!! Sungguh menegangkan!. Ternyata bayi ini kembung perutnya. Yang waktu itu dikira suster bayi ini gemuk…. Yah… suster bahkan tidak tahu sama sekali bahwa bayi 4 bulan mesti diberi susu tiap 2 jam sekali. Dia memberinya susu sehari hanya 3 kali seperti orang dewasa.
Pengalaman merawat bayi, membuat Suster sadar bagaimana dulu ibu merawatnya. Pengalaman ini membuatnya bersimpuh di kaki  ibu untuk minta maaf. Titik pertobatan yang merubah semua pandangan suster tentang ibunya. Dan suster juga disempurnakan sebagai seorang ibu, bagi 60 anak asuhnya kini.
Di akhir cerita Suster berkata dengan penuh kebanggaan “akhirnya saya berhasil membedakan tangisnya. Tangis karena lapar, haus, pipis atau berak, atau tangis manja….” Dan dia melanjutkan “anak itu sekarang sudah 5 tahun, setiap saya datang, baru turun dari sepeda motor, dia akan berlari bersama anak-anak kecil lainnya…… oma dataaaaaaang… dan mereka memelukku dari belakang, dari depan, samping… menyenangkan sekali..”
Kisah suster Santi membuat mataku berkaca-kaca.

Melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar


Papan di depan susteran bertuliskan:
Susteran PPYK
Putri-Putri Yesus Kristus
Komunitas
St. Theresia Kanak-Kanak Yesus
Bangunan susteran terkesan sederhana. Suster Santi, adalah wakil kepala, mengatakan bahwa memang susteran tidak boleh dibangun bagus dan mewah. Ini pesan pendiri Susteran PPYK, yaitu Suster Melanie, yang sudah meninggal. Mengapa sederhana? Supaya menyatu dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya, dan supaya mereka tidak sungkan untuk berkunjung ke susteran.
Tujuan susteran didirikan di tempat terpencil seperti ini, untuk mendekatkan diri pada masyarakat sekitar. Bersatu dengan orang-orang kecil, sederhana, terlupakan. Siapakah mereka? Para lansia, anak-anak kecil yang terbuang, remaja yang gamang menghadapi masa depannya, dan siapa saja yang datang dengan hati yang kosong, hampa dan miskin.
Mereka memiliki 60 anak asuh, dari bayi hingga klas 3 SMA atau SMAK. Setelah mereka lulus, tidak ada kewajiban sama sekali untuk membalas jasa baik mereka.
“anggap mereka anak-anak yang kalian lahirkan, rawat dan besarkan hingga mereka mampu berdiri sendiri” itulah pesan Suster Melanie.
Cinta yang besarlah, yang membuat mereka mampu melakukan ini semua dengan penuh ketulusan dan suka cita. Tidak ada yang sulit, ketika semua dilakukan dengan cinta.
Mengasuh 60 anak dengan memberi mereka tempat, makan dan pendidikan.
Mengunjungi Mbah Jo, Mbah Sudi.. dengan berjalan kaki.
Ikut terlibat di dapur umum untuk para korban merapi. Naik truk bersama para tentara ke tempat-tempat pengungsian.
Menanam 11.000 pohon dan memeliharanya di lereng-lereng Merapi, supaya bertambah hijau. Termasuk menanam berbagai tanaman sayur dan buah untuk Mbah Sudi.
Menyediakan tempat retret untuk siapa saja yang ingin memperbaharui spiritualitasnya.
Dan… menyediakan kamar untuk orang seperti aku, yang sekedar ingin mengetahui lebih dekat kegiatan mereka dan aku disambut dengan tangan dan hati yang terbuka… Tuhan Maha Agung.

Candle Light Dinner

Hari terakhir di susteran membuatku mengemas pakaian dengan sedih. Setelah pagi tadi mengikuti misa dan mengikuti adorasi 1 jam di kapel, kini saatnya untuk pergi. Suster Hendrick datang ke kamar kami, dan bertanya “sudah pernah ke jembatan Kali Kuning?”. Aku jadi ingat, hari pertama aku disini, aku berjalan-jalan sendiri menuju jembatan Kali Kuning. Tapi, aku jadi malu sendiri ketika melihat sepasang remaja sedang berpacaran. Hingga akhirnya aku kembali pulang. Suster mentertawakanku. Memang disana tempat orang berpacaran.
“ayo kita kesana lagi… indah sekali tempatnya” aku, Leah dan Suster akhirnya berjalan kaki ke Jembatan Kali Kuning, yang hanya 500 m dari susteran. Dalam perjalanan Suster yang memegang kameraku, asik mengambil gambar apa saja yang membuat dia tertarik, dan kami berdua menjadi modelnya. Ketika Suster kawatir kalau terlalu banyak gambar yang dia ambil, aku menenangkannya “jangan kawatir, ambil saja sesuka Suster, bisa muat sampai 1000 gambar kok…” dan beliau senang sekali.
candle light dinner??
Kali Kuning yang sudah dipenuhi batu-batu besar, tetap membawa pesona dan romantisme yang membuat orang ingin berpacaran di sana. Jadi, memang sewajarnya kalau menjadi tempat para remaja memadu kasih. Sepasang remaja, akhirnya memilih menyingkir pulang ketika kami datang. Apalagi ada suster bersama kami. Takut dosa mungkin… hahaha…
Leah yang penuh ide cemerlang tiba-tiba banyak terdiam… “I’am thinking…” katanya dengan raut muka penuh senyum seperti biasa…
cat walk
Ketika kami tiba di sekitar batu-batu besar, duduk diatasnya sambil menikmati gemericik suara sungai.. tiba-tiba dia berseru “we can make candle light dinner, here… it’s sooo… romantic!!”… katanya ceria… dan gagasan liarnya semakin mengembara. Sebuah acara amal untuk korban Merapi!.... Candle light dinner di atas batu, dengan sajian fashion show… dengan jembatan sebagai cat walknya…. Wooow…. Amazing!!..
Sebuah ide cemerlang untuk bisa diwujudkan!. Siapa tertarik untuk bergabung??? Tentu saja dengan catatan tidak hujan…!

Friday, February 17, 2012

Kuat bertahan

Orang menyebutnya “wingit”… angker
Dan mereka takut mendekat
Aku menyebutnya “kokoh”
Bahkan ranting-rantingnya pun masih bercabang utuh
Akarnya, bagai cakar raksasa menancap kuat
tak tergoyahkan…
Panasnya lahar dan debu
Menghempas keras semua kehidupan.
Dia tetap tegak, tanpa hijau daun
Megah… tak ingin menyerah!
Aku menyebutnya “inspirasi”
Dan aku ingin sepertimu…
Kuat… bertahan…

Rumah Malam Hari

Aku bisa merasakan bagaimana kehilangan rumah. Sebulan sebelum Merapi meletus rumahku laku terjual. Aku berencana untuk tinggal di daerah Pakem. Tapi karena gunung Merapi meletus, semua mimpi hanyut terbawa lahar dan debu. Demikian juga dengan mereka. Tidak mudah untuk tinggal di tempat yang baru. Apalagi semua itu bukan sesuatu yang kita harapkan. Tapi apa mau dikata….

kandang ayam
Bersyukur, bahwa begitu banyak uluran tangan untuk para korban gunung Merapi. Banyak didirikan shelter bambu yang bisa menjadi tempat tinggal sementara bagi mereka. Dari pada tinggal di pengungsian terus. Mereka membutuhkan kehidupan yang wajar bagi satu keluarga. Memulai kehidupan lagi sambil menunggu kesempatan untuk bisa memperbaiki rumah mereka kembali.  Mereka juga diberi fasilitas untuk memelihara ternak, seperti kambing, sapi, ayam dan ikan.

Banyak orang bertanya, “mengapa harus kembali? Mengapa tidak pindah di tempat yang lebih aman?” Adakah pilihan yang baik untuk mereka? Atau mereka memang ingin kembali, karena merasa disinilah tempatnya. Dan mereka tidak peduli lagi bagaimana kalau terjadi letusan lagi. Bagaimana dengan masa depan anak-anak mereka? Kalau pertanyaan ini aku lontarkan, mereka tidak mampu menjawab. Seakan-akan memang di depan sana, tidak ada yang pasti untuk bisa dipilih.

kolam ikan
Shelter home, menjadi hunian lenggang di siang hari. Mereka hanya menempatinya malam hari. Dari pagi hingga malam, mereka kembali ke lereng merapi. Berjualan berbagai souvenir dan makanan. Menjadi ojek yang menawarkan jasa untuk mengantar pengunjung kemanapun mereka ingin pergi. Menyewakan motor trail untuk melewat medan yang keras dan terjal. Dan untuk rombongan ada jeep yang siap menjalani off road bersama pengunjung ke Lava Tour.
kandang sapi

Dan malam hari… mereka kembali ke rumah. Rumah untuk beristirahat, menatap hari esok yang tak pasti. Cukuplah hari ini saja untuk di syukuri. Hari esok menjadi rancangan Tuhan Yang Mahakuasa. Tempat berlindung dan mengadu segala resah dan lara hati.

Tuhan, semoga hujan yang turun tidak terlalu deras dan berangin. Sehingga air tidak masuk kerumah kami… melalui dinding-dinding bambu yang menjadi satu-satunya pelindung tubuh kami. Dan semoga esok hari Engkau memberi kelimpahan berkah sehingga kami bisa menjalani hari-hari kami dengan gembira dan penuh suka cita…

I like... and I don't like...

Seharian hujan di lereng Merapi. Membuat kami tidak bisa melakukan apa-apa. Selain nongkrong di warung di parkiran Glagahsari, 3 km dari gunung Merapi, kami hanya bisa berada di dalam mobil. Glagah sari menjadi tempat yang tepat untuk memandang puncak Merapi dari dekat. Sayang tertutup kabut tebal dan hujan yang sangat deras.
Udara yang dingin membuat kami lapar. Tapi perjalanan pulang ternyata tidak mudah. Jalan yang tadi kami lalui sudah longsor terkena air hujan. Akhirnya kami harus berputar dan mencari jalan lain. Tidak terasa sudah jam 3 siang… cacing di perut mulai protes keras!! Lapeeeeeeerrrr……
“mau makan apa nih???” Tanya mas Kris, relawan yang bener-bener rela mengantar kami kesana-kemari.
“soto… atau bakso…pokoknya yang panas!” kataku…. Leah setuju. Dia seneng sekali makan soto. Tapi, memang dia senang semua masakan Indonesia. Dan mas Kris membawa kami ke sebuah warung soto, tempat teman-teman club jeep nya berkumpul.
Hujan masih turun, dan semangkok soto yang mengepul membuat cacingku bersorak gembira. Segera ludes tanpa sisa…. enak!. Leah bilang “the best soto I ever eat”…. Mungkin karena lapar dan dingin, jadi rasanya memang luar biasa enak!!.
Leah, si bule cantik ini, memang menarik perhatian. Ibu penjual soto, sampai mau duduk di depan kami untuk mencoba mengobrol, walaupun dengan bahasa Jawa kromo, dan aku menerjemahkannya untuk Leah. Datanglah kedua anaknya mendekat. Fian 6 th, da Erwina 10 th.
Mata indahnya yang berbinar ingin sekali bercakap-cakap dengan Leah, tapi malu. Aku mencairkan suasana dengan mengajarnya bernyanyi ABC… dia mengikutinya dengan cukup baik. Erwina klas 4 SD, jadi sudah ada pelajaran bahasa Inggris. Tiba-tiba Erwina menghilang. Spontan aku menggerutu “welah… diajari kok malah lunga..”
Ternyata, beberapa saat kemudian Erwina kembali membawa buku pelajaran bahasa Inggris. Dia menunjukkan ke Leah. Leah sangat antusias menanggapinya. Dan berlangsunglah kursus bahasa Inggris kilat, sambil menunggu hujan reda.
Leah melatih pengucapan…. I like…. Diikuti pengucapan setiap gambar yang ditunjuk di bukunya. Erwina mengikutinya dengan sangat baik dan lancar. Ketika Leah mengajarkan I don’t like…. Erwina selalu salah menyebutkan. Berkali-kali ditekankan pada kata don’t  tapi tetap saja lupa….
Mata Erwina yang berbinar penuh semangat, keberaniannya untuk belajar dan berbicara dengan Leah, membuat kami terkesima. Leah tergelitik untuk menjadi relawan di sekolahnya, mengajar bahasa Inggris. Bukankah bahasa Inggris sangat penting mereka kuasai, mengingat sekarang banyak turis yang berkunjung untuk memadang gunung Merapi dari dekat.
Erwina dan Fian… dua bocah cilik dengan mata binarnya dan senyum ceria, membuat kami ingin kembali…