Pages

Friday, March 22, 2013

Lerem, Leres, Laras, Laris.....



Temanku, tiba-tiba berat badannya turun drastis. 15 kg dalam tiga bulan. Wajahnya layu dan semakin tua. Dulu dia sosok yang sangat ceria dan ceriwis, sekarang jadi pendiam dengan pandangan kosong, seperti mayat hidup. Kehidupan sehari-hari dijalani tanpa gairah... sebuah raut wajah depressi yang tidak mungkin disembunyikan lagi.
Aku menawarkan diri untuk mengajaknya jalan-jalan "pergi yuk... tak antar.. aku yang setir deh.. kita berdua saja... mungkin bisa menghiburmu"... dia mengiyakan... tapi lamaaaa... aku tidak mendengar ajakanku disambutnya.
Hingga suatu hari dia menelpon dan mengajakku pergi. Langsung semua rencana hari itu aku batalkan dan aku dengan penuh semangat menanggapi ajakannya. "kita ke Solo ya...."
Ok... dengan senang hati aku bersiap diri.
Segera aku mengambil buku karyaku, yang diterbitkan tahun lalu. Rencana ingin aku berikan ke seorang Romo di Solo, dan barangkali pertemuan dengan Romo akan memberikan pencerahan hati temanku.
Mobil mungilnya, enak dikendarai dengan lancar ke Solo. Dalam perjalanan, aku biarkan dia bercerita tentang suasana hatinya yang galau, frustrasi, mudah kawatir, dan tanpa gairah hidup. Dia tidak bercerita sebabnya, dan aku tidak memaksa.
Aku hanya punya telinga... dan aku yakin itu saja yang dia butuhkan....

Perjalanan lancar....
Setelah mengantarnya ke suatu tempat yang berkaitan dengan bisnisnya, aku mengajaknya ke gereja tempat Romo bertugas, untuk memberikan bukuku...

Gereja yang besar itu, sedang disibukkan dengan persiapan misa Imlek. Kami bertanya ke kantor sekretariat untuk menemui Romo. Ternyata Romo ada di rumah Paroki. Setelah memencet bel 1x... kami menunggu....
Seorang pria muda keluar. Ketika aku menyampaikan keinginan untuk bertemu Romo, ternyata beliau sedang sakit. "baiklah... saya titip buku untuk beliau saja"... dan aku duduk di kursi untuk menuliskan pesan di buku tersebut... tiba-tiba aku mendengar suara....
"tukang pijet e wis teka...." di susul sosok Romo yang hanya berkaos oblong.... rupanya Romo sedang menunggu tukang pijet, dan kami dikiranya tukang pijet yang dia pesan.
Ketika aku menyapa ternyata beliau sudah melupakanku. dan ketika aku memperkenalkan diri juga temanku.... beliau mengajak kami duduk... baru berucap,
"dulu rambutnya panjang dan hitam...kok sekarang pendek dan putih..." aku meringis
"sudah tua Romo..."

Percakapan bergulir santai.... entah mengapa... pembicaraaan membuahkan sebuah nasehat hidup yang indah... yang dengan segera dicatat temanku, karena takut lupa. Kata-kata tersebut adalah Lerem, Leres, Laras, Laris..... apa itu Romo??

ketenangan
Lerem.... dalam menghadapi persoalan hidup kita harus berusaha untuk Lerem... tenang... gejolak emosi harus dikuasai dulu... baik emosi yang positif maupun yang negatif. Kita tidak boleh membuat keputusan dalam keadaan sangat sedih maupun sangat senang.... karena bisa keliru.... kalau situasi hati sudah lerem.... maka kita bisa mengambil keputusan dengan leres.

lurus menuju tujuan
Leres.... yaitu benar.... walaupun kebenaran ini relatif. Tapi setidaknya keputusan yang diambil bukan dalam suasana hati yang sedang bergolak. Hal ini bisa dilihat dari hasil yang dicapai dari keputusan tersebut... apakah menimbulkan laras....
selaras....
Laras... selaras... harmonis, seimbang... pas... sesuai dengan yang kita harapkan. Laras... juga membuat kita kembali pada posisi semula, tepat dimana seharusnya kita berada... keselarasan hidup nantinya akan menghasilkan laris...

Laris... laku keras... pasti untungnya banyak. Keuntungan yang didapat bukan melulu dari sisi materi, tapi juga spiritual. Keuntungan seorang Romo misalnya, pasti bukan dari sisi materi, tapi dalam pelayanan spiritual. Bagi yang berbisnis... keputusan yang leres, karena diambil dalam situasi yang lerem, akan menimbulkan keselarasan dan ke"laris"an dalam usahanya, dan pastilah keuntungan secara materi akan diperoleh....

Tiba-tiba temanku mengambil tissue "saya tak nangis dulu ya Romo...."
Kami terdiam, dan membiarkan dia terisak sebentar....

Aku memecah kesunyian, mengalihkan pembicaraan dengan bertanya... "berapa lama Romo bertugas di Papua...." pembicaraan menjadi santai kembali dan Romo bercerita bahwa dia merasa aneh karena dalam tugasnya selalu dipindah setelah 4 tahun. 4 tahun di Seminari Mertoyudan, 4 tahun di Kolese de Britto, 4 tahun di Wonogiri, dan di Papua 4,5 tahun.
"sebagai manusia biasa... saya kadang merasa frustrasi, karena 4 tahun tidak cukup untuk berkarya yang sungguh-sungguh memberikan hasil. Bukankah manusia membutuhkan pencapaian dalam setiap langkah hidupnya....."
Lalu... bagaimana Romo mengatasi hal ini.....?
"yaaaah.... Tuhan tidak menilai kita dari apa yang kita capai... Tuhan hanya ingin melihat bagaimana kita mencintaiNya..."....... dan semua terdiam... sunyi...

Pembiacaraan yang singkat dan penuh makna ini, membuat aku dan temanku terpana....
Banyak hal yang harus direnungkan nantinya.... terutama dalam menjawab pertanyaan "sejauhmana kita membalas cintaNya?"
Betapa seringnya kita berkutat dengan persoalan diri kita sendiri. Sibuk dengan persoalan, harapan, galau, kawatir, kecewa, sedih, marah...dsb.... hingga lupa satu hal yang sangat diinginkan Sang Pencipta.... sudahkah kita mencintaiNya??

sudahkah aku mencintaiMu
Mat 25:36 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

Saturday, March 16, 2013

Naik sepeda keliling desa...

sepedaku dengan keranjang di depan
Aku belum ahli naik sepeda. Mungkin karena dulu waktu kecil rumah kami sedikit naik ke bukit di daerah candi Semarang. Sehingga aku tidak mungkin naik sepeda. Karena lama tidak latihan, sudah terlanjur tua mau naik sepeda lagi jadi nggak pede.

Setelah tinggal di Wedi-Klaten, aku tertarik naik sepeda. Sebelumnya aku lebih suka jalan kaki kesana kemari. Ada sepeda kecil milik keponakanku ketika dia SD dipinjamkan ke aku untuk belajar... memalukan juga, karena sering dilihatin orang di jalan.... anakku meledek "iya ma.. kayak pertunjukan ledek kethek...." asyeeem... itu pertunjukan keliling dimana moyetnya suka disuruh naik sepeda kecil... hahahaha.....

Setelah sedikit bisa, aku ingin memiliki sepeda yang lebih besar.. dengan keranjang kecil di depan. Saat menonton film... ada yang naik sepeda, sepertinya asik sekali bersepeda dengan ada keranjang kecil di depan, bisa untuk meletakkan bawaan.

Dan Tuhan mengabulkannya. Anakku mendapat hibahan sepeda dari bossnya. Sepeda kecil dengan keranjang di depan. Langsung sepeda itu diberikan ke aku....

Kemarin sore... ditemani anakku, kami keliling desa... walaupun dia kawatir melihat aku mengayuh sepeda kekiri dan kekanan... tapi dia tetap setia menjagaku dari belakang...

Sore yang cerah, matahari mulai malas bersinar, meninggalkan sinar ceria di balik bukit-bukit nan jauh.... sawah masih terbentang luas.. bagai hamparan karpet hijau yang empuk dan lembut... jalan-jalan desa, walaupun sempit namun sudah halus beraspal... membuat roda-roda sepeda kami berputar tanpa suara....

Sore yang indah... akhirnya menghantar kami pulang.... terengah.. tapi senang....
"bahagia itu sederhana..."

rumah untuk mengeringkan tembakau

bukit dikejauhan dan anak-anak bersepeda

sepeda petani di tengah sawah

jalan keci beraspal di desa




Friday, February 15, 2013

Tahun Ular

Aku orang Jawa tulen, yang lebih cocok dengan hari-hari Jawa seperti Pon, Wage, Kliwon, Pahing, Legi. Juga bulan Jawa yang kebetulan hanya bulan Suro yang aku ketahui, karena di bulan itu orang tidak boleh menikah. Alasannya apa aku tidak tahu....
Beragamnya kebudayaan di negeri ini, akhirnya juga membuatku mengerti sedikit kebudayaan Cina tentang Shio, Imlek, walaupun sebatas pengetahuan umum saja.
Seperti kalau banyak hujan sebelum Imlek berarti rejeki melimpah bagi yang merayakannya. Juga kami ikutan melihat , kalau tanggal kelahiran kami Shionya apa. Entah cocok entah tidak, apa salahnya cuma mengetahui saja.
Jadi berdasarkan tanggal kelahiran keluarga kami ada shio Ayam, Babi, Kerbau dan Naga. Sering iseng juga melihat bagaimana ramalan shio kami setiap tahun. Walaupun tidak percaya seratus persen, tapi kadang ada kegembiraan juga kewaspadaan ketika ramalan menunjukkan keberuntungan juga kebuntungan.
Nah, tahun ini, tahun ular menurut orang Cina. Jujur aku belum melihat ramalan untuk tahun 2013 ini. Cukup tahu bahwa di keluarga kami ada yang ber Shio Naga, yang menurut orang Cina, shio yang paling bagus, pasti semua akan berjalan baik baik saja... dan ini menyemangati.
Anakku yang bershio naga, tahun ini memutuskan untuk pulang for good!. Setelah bekerja 2 tahun di perusahaan yang bidangnya sama dengan usaha kami, akhirnya dia memutuskan untuk pulang. "kenapa harus bekerja untuk orang lain, kan lebih baik bekerja untuk perusahaan sendiri, yang sudah dirintis orangtuaku sekian lama"....
Awalnya, kami sebagai orangtua sempat kawatir dengan niatnya yang sudah bulat ini. Apalagi dia minta tahun ini akan pulang. Tapi akhirnya, kami mengerti.... dia harus didukung 100%.
Wajarlah... di saat-saat menjelang kedatangannya, kami sering berdiskusi... di saat kami ragu, dia menguatkan, begitu pula disaat dia ragu, kami menguatkan.
Inilah yang kami lakukan menjelang kedatangannya.
Semalam, dalam obrolan panjang melalui HP, dia bercerita bahwa disaat-saat menjelang dia pulang, dia banyak bertemu teman-teman yang memiliki misi sama. Meneruskan dan mengembangkan usaha bapaknya....
Mereka adalah anak-anak muda yang masih berenergi, bersemangat dan memiliki visi misi ke depan dengan pandangan generasi muda saat ini, yang sudah tidak terjangkau kami lagi.
"aneh ya Ma... disaat aku membuat keputusan ini, tiba-tiba aku bertemu teman-teman yang memutuskan untuk meneruskan usaha orang tuanya... jadi tambah semangat!"
Tiba-tiba... cling! aku ingat... ini tahun ular.....
yah... dari semua hewan di shio... hanya ular yang berganti kulit... orang Jawa bilang "nglungsungi" meremajakan kembali....
entah benar entah salah, aku ingin membuat pemahaman sendiri... inilah tahun dimana semua diremajakan kembali... mulai dari awal dengan semangat muda, dan ditangani sendiri oleh anak-anak muda seperti anak-anakku yang saat ini baru berusia 27 dan 24 tahun.
Kami sebagai generasi tua, harus rela melepas... membiarkan gagasan dan upaya mereka menggantikan dan memajukan usaha kami...
Kami yakin, ditangan anak-anak muda yang berbakat, bersemangat, berpengetahuan dan berenergi.... usaha kami akan menjadi lebih baik....
Dalam berwirausaha pun ajaran Ki Hajar Dewantara bisa dijalankan....
"tut wuri handayani"... mendorong dan memotivasi dari belakang
"ing ngarso sun tulodo" ... menjadi suri tauladan dan
"ing madyo mbangun karso" ... berbaur dan berinovasi

Tuhan, bimbinglan anak-anakku... lindungilah, ajarilah, tuntunlah, berilah kekuatan dalam setiap langkah yang mereka ambil dan kaitkan hati kami dalam kasihMu yang Maha Besar. Amin.


Tuesday, February 5, 2013

Ruang Tamu Knock Down

Yang tidak ada di rumahku adalah Ruang Tamu. Karena hanya terdiri satu kamar tidur, satu dapur menjadi satu dengan ruang makan, dan satu kamar mandi... dan letaknya ada di tengah workshop kami.
Trus kalau ada tamu bagaimana? ya tergantung tamunya...
Kalau keluarga dekat bisa duduk-duduk santai di dapur, atau bahkan ngobrol santai di kamar. Kalau tamu bisnis kami terima di kantor.. dan tamu biasa lain bisa sekedar duduk-duduk di joglo depan milik tetangga yang sering kami pakai untuk ngobrol dan ngopi di sore hari.
Kali ini yang datang adalah tamu istimewa, yang tidak mungkin kami sambut di kedua tempat tersebut.
Beruntung tamunya datang pada hari Minggu, jadi tidak ada kegiatan kerja di workshop kami. Maka kami buatlah ruang tamu dadakan... alias ruang tamu knock down....
Tempatnya di ruang cat yang beratapkan tenda.
Sehari penuh kami menata dan membersihkan ruangan....
Hasilnya adalah ruang tamu yang nyaman dengan bunga anggrek yang ikut menyambut, dengan bunganya yang lebat....
menata hidangan

Anggrek berbunga

Suasana ruang tamu

Kursi tamu seadanya
 Semoga penyambutan di ruang tamu knock down diterima di hati....

Seusai tamu pulang... sesuai namanya ruang tamu knock down, maka kami membongkarnya kembali dan ruang kembali dipersiapkan menjadi ruang cat untuk digunakan bekerja keesokan harinya....

Berbekal niat baik, kreativitas dan sikap apa adanya, kita bisa menghargai dan menghormati orang lain - lilik soekoer

Sunday, January 6, 2013

Tangan-Tangan kasihNya

Tangan-Tangan yang baik, tulus dan ikhlas
Awal tahun baru 2013. Malam tahun baru adalah hari perkawinanku ke 28. Justru di hari yang indah, suami tiba-tiba tensinya 180/110. Waktu itu kami sedang berkumpul keluarga besar suami di Semarang. Beruntung, ada 4 dokter dalam keluarga yang kemudian menanganinya dengan sangat baik dengan penuh perhatian dan kasih. Walaupun kami harus pulang mundur satu hari, tapi ini semua demi kesehatannya.
Tanggal 2 Januari kami memaksa diri pulang setelah tensi turun menjadi 150/90. Itupun dengan segala senang hati adik suami yang tinggal di Jogyakarta mengikuti perjalanan kami pulang ke Wedi - Klaten. Hanya untuk memastikan kami selamat sampai di rumah. Sungguh sebuah sikap yang menyentuh hati.
Tanggal 3 dan 4... perhatian mereka belum mereda. Pantauan tensi terus dilakukan setiap hari dalam jarak jauh. Hingga tanggal 5 aku sendiri yang sakit. Tensi malah drop menjadi 100/60. Akhirnya pagi itu kami berdua ke dokter di Klaten. Setelah minum obat, kami kembali ke aktivitas yang tidak bisa ditinggalkan..
Aneh juga hasil lab yang kami lakukan...
Kesehatan kami berlawanan:
tensiku rendah, tensinya tinggi
gulaku tinggi, gulanya normal
asam uratku tinggi, dia rendah
kolesterolku rendah, kolesterol dia tinggi....
hadeww... trus bagaimana menata dietnya???
anakku tertawa "mama papa emang cocok... saling mengisi".... hahaha bener juga.

Dan hari ini menjadi puncaknya...
suamiku panas dan semua sendinya sakit... gejala penyakit Cikungunya yang baru mewabah di Klaten. Sementara hujan tidak berhenti dari pagi hingga sore...
Akhirnya resep dikirim lewat sms... dan dengan berjalan kaki dan berpayung, aku ke apotik terdekat, tapi semua obat tidak ada. Katanya stok habis.... mungkin begitu banyaknya yang terserang penyakit tersebut.
Sedih dan bingung... akhirnya aku menelpon adik suami yang juga tinggal di Wedi, untuk mengantar mencari obat di apotik lain yang tidak mungkin kutempuh dengan berjalan kaki.
Kebetulan sekali semua obat ada, walaupun jumlahnya tidak mencukupi, tapi setidaknya cukup untuk malam ini. Jadi semua obat akhirnya tersedia.....

Minggu pertama tahun ini begitu melelahkan... namun tanganNya tidak berhenti merengkuhku. Melalui tangan semua saudara... semua menjadi ringan dan lancar.....
Tuhan... semoga seluruh saudaraku selalu dalam perlindunganMu juga. Dan semoga kebaikan hati yang mengawali tahun ini menjadi berkah bagi kami semua.... dan juga semoga hati kami senantiasa disatukan dalam rengkuhan kasihMu yang tiada tara.... mewujud dalam hati yang baik, tulus dan ikhlas.

Friday, December 28, 2012

Surganya hati

Seorang teman di facebook, mas Budi Sarjono menuliskan statusnya sbb:

Swargo kang ginelar, sruwa sruwi sarwo sabar, kata Mbah Kerso (85). Katanya lebih lanjut, sorga itu tempatnya orang sabar, welas asih, mengasihi alam semesta dan sesama umat manusia. Saya setuju!!!

Saya juga setuju banget!
Surga sering digambarkan sebagai tempat yang sangat indah. Dimana kita kalau pingin sesuatu langsung ada. Bahkan misalnya kita pingin buah apel... langsung pohon apel menyajikan buah apel langsung ke kepada kita. Betapa indah dan nyamannya hidup ini?
Surga juga sering dipahami adanya dan bisa dinikmati setelah kita mati. Benarkah??

Bagiku, surga adalah suasana hati kita saat ini, disini, di bumi ini.... di saat kita menikmati rahmat kehidupan yang dikaruniakan Sang Pencipta kepada kita.
Lalu, mengapa kita kadang sulit merasakan surga di dunia ini?
Apa yang mengganggu suasana hati kita? sampai seakan-akan kita berada di neraka?

Perasaan galau, sedih, marah, kecewa, kawatir, iri hati/cemburu, serakah... ingin begini begitu, juga ingin ini itu... semua ingin dicapai dan dimiliki segera.... berarti tidak sabar, menginginkan sesuatu tapi malas... dan juga sikap kasar, keras yang berarti tidak menghormati dan menghargai sesama sebagai mahluk ciptaan Tuhan... dan sebagainya....

Mbah Kerso benar, kalau surga adalah sikap sabar.... welas asih terhadap sesama dan alam semesta.
Sesama dan alam semesta kadang menyenangkan, kadang menjengkelkan bahkan kadang menghancurkan hidup kita.
Welas asih, menjadi bekal kita untuk memahami segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita. Mengapa sesama kita begini, begitu.... mungkin seseorang tidak dengan sengaja atau sungguh-sungguh bersikap buruk atau berusaha keras menghancurkan hidup kita. Mereka hanyalah sesama kita yang mungkin sedang khilaf atau sedang dalam suasana hati yang buruk sehingga tega melakukan hal-hal yang tidak disadari menyakiti dan menghancurkan hati orang lain.
Welas asih berarti menghormati, menghargai, dan memahami orang lain.
Alam semensta juga harus kita hormati keberadaannya. Pernahkan kita berterimakasih kepada matahari yang membuat pakaian kita kering, badan yang hangat, tanaman menjadi segar, juga bumi yang terang... atau selalu mengeluh karena panasnya. Pernahkan kita berterima kasih kepada air yang menghidupi kita, menyegarkan udara dan tanaman... atau hanya mengeluh ketika hujan menghalangi rencana kita dan membawa banjir yang memporak porandakan barang-barang kita. Pernahkan kita berterima kasih kepada udara yang menghidupi kita, atau malah mengotorinya dengan berbagai polusi yang akhirnya merugikan diri kita sendiri.
Sejauh mana kita sudah mencintai dan memelihara bumi ini, dan tidak hanya sekedar mengutuk ketika terjadi gempa atau gunung yang meletus.
Seberapa sering kita memuji alam semesta yang begitu indah yang berarti kita memuji Sang Pencipta.

Surga adalah suasana hati kita.
Belajar sabar, welas asih dan menghormati sesama dan alam semesta....
Mbah Kerso benar dan sangat bijak. Maturnuwun mbah... untuk mengingatkanku akan arti "jadilah kehendakMu... di atas bumi, seperti di dalam surga". Walaupun membutuhkan proses panjang dan berliku, tapi setidaknya ungkapan mbah Kerso mengingatkanku untuk terus berusaha dan berupaya menjadi lebih baik di hari esok.... semoga Tuhan membimbing tangan kita, memelihara hati, juga menjaga seluruh sikap hidup kita supaya semua sesuai dengan kehendakNya, pemilik hidup kita.

Terimakasih Tuhan untuk cinta yang kau berikan lewat suami dan anak-anakku, lewat semua orang yang berjuang bersama kami, lewat perhatian semua saudara, sahabat bahkan juga orang-orang yang tidak aku kenal sama sekali. Hanya hatilah yang mempersatukan kami dengan tali kasih yang mengikat erat, menyatu untuk memuji namaMu.



Thursday, December 27, 2012

Tahun Kiamat 2012

Tahun 2012 hampir berakhir. Sebentar lagi tahun berganti dan kita semua menyongsong kelahiran tahun baru 2013.
Saatnya merenungkan kembali perjalanan tahun 2012... yang dipenuhi dengan ramalan kiamat. Ada ramalam suku Maya yang membuat banyak orang percaya bumi akan berakhir di tahun ini. NGC bahkan menyiarkan seri Doomday Prapers, yang menggambarkan bagaimana orang menghadapi dan berupaya selamat di hari kiamat. Banyak film yang mereka-reka bagaimana nantinya kiamat akan terjadi. Ada film 2012, Armagedon dan masih banyak lagi khayalan manusia tentang kiamat yang digambarkan begitu mengerikan.
Terakhir, yang terkirim lewat sms, bbm akan ada kegelapan 3 hari pada tanggal 23,24 dan 25 Desember ini.
Tanggal kegelapan 3 hari sudah berlalu. Mendung yang tebal dan hujan di beberapa tempat menyebabkan banjir. Tapi bukan kegelapan seperti yang dibayangkan orang...

Apapun yang akan terjadi, sebetulnya manusia tidak punya kuasa untuk mengetahui. Mungkin ada orang yang memiliki kemampuan untuk melihat masa depan. Tapi dia tidak bisa menentukan kapan tepatnya hal itu akan terjadi.
Kiamat, berarti selesai sudah apa yang ada di atas bumi ini. Kiamat juga bisa terjadi dalam setiap diri manusia, yaitu kematian. Bukankah kematian bagian dari kehidupan.... karena kita hidup maka suatu hari nanti kita akan mati.... kapan dan bagaimana? tidak ada seorangpun yang tahu...

Kalau kita mempercayai ramalan.... lalu dimana kita menempatkan Tuhan yang Maha Kuasa? bukankah kita hanya percaya kepadaNya saja....
Kiamat harus kita persiapkan setiap hari... bukan dengan mempersiapkan segala macam materi yang membuat kita hidup lebih lama... tapi justru mempersiapkan hati dan pikiran yang bersih untuk siap menghadapi kiamat kapan saja.
Kalau kita sungguh mencintai hidup ini... kita seharusnya juga mencintai kematian. Karena keduanya bagai dua sisi mata uang.... semakin besar nilai hidup yang kita buat, semakin besar pula berkah kematian yang kita peroleh...
Bukan caranya bagaimana kematian menjemput.. melainkan hidup baik yang sudah kita jalani selama ini.....

Mari kita bebenah hati dan pikiran... dan biarlah Tuhan Allah pencipta kehidupan membimbing kita di tahun 2013.. untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.... Amin.

Selamat menyongsong tahun baru 2013

Pelangi kasihNya