Pages

Tuesday, April 30, 2013

Ketika...



Ketika...
mata meratapi malam, yang menelan senja tanpa perasaan...
meninggalkan bayangan gelap menutup segala angan
kurapikan hariku dalam desahan panjang
sehari bakal tinggal kenangan...

Ketika...
kepalaku bersandar letih diantara jemari...
menatap... menembus langit-langit mencari mimpi...
hingga aku berserah pada ibu bumi yang hangat
malam panjang akan merengkuhku dalam dekapannya

Ketika...
hari esok tak mampu kutuang dalam tulisan maupun harapan
bolehkah aku mengintip di celah hatiMu ?
masihkah aku ada tertulis dalam lembar buku harianMu?
dan...
namaku Kau hias dengan goresan cinta penuh warna


(Foto: Sofian Tatang)

Wednesday, April 17, 2013

Teman kecil Zulu...

Chico beranak lagi.... mengherankan...
setelah 13 tahun sepertinya rahimnya menjadi subur. Pertama chico hanya melahirkan 1 anak, kemudian karena kegenitannya, dia melahirkan 4 anak, sekarang tinggal 1. 2 diantaranya mati, sedangkan yang satu hilang. Katanya pergi bermain ke kampung dan lupa jalan pulang.... ada-ada saja!.
Sekarang dia melahirkan 3 anak lagi....
Masih kecil dan menjadi mainan Zulu. Awalnya zulu mengira itu kucing, sehingga pernah ribut dengan chico, induknya. Rame sekali......
Ah... jadi cerita anjing nih...
kebetulan mereka yang lagi seru dibicarakan... bukankah lebih baik dari pada membicarakan keburukan orang lain.... hihihi....



Saturday, April 13, 2013

Mengasah Budi

Mengikuti misa pagi dengan bersepeda menjadi kegiatanku setiap pagi. Ada kegembiraan hati, setiap kali alarm berbunyi... mandi dan mengayuh sepeda, dengan keranjang berisi  dompet dan buku doa. Jam 5.15 di pagi hari, langit masih sedikit gelap, angin semilir dingin menerpa wajah, sementara roda menggeliding dengan desisnya yang lembut.
Gereja pagi cukup banyak peminatnya. Kebanyakan orangtua dan beberapa anak sekolah yang rajin dikala musim ulangan dan ujian. Doa memang menjanjikan banyak hal....
Aku senang dengan suasana tenang di pagi hari. Kalau aku datang lebih awal, bisa sambil melamun mendengarkan musik instrumen lembut yang membuai pikiran hingga tertata dalam ketenangan.

Hanya inikah yang aku dapat selama mengikuti misa pagi? ternyata tidak...

Kaki berbalut sapu tangan.
Aku selalu duduk di kursi setelah pintu masuk. Supaya bisa cepat keluar begitu misa selesai. Mendahului semua umat, supaya bisa mengayuh sepeda ketika jalanan masih sepi. Maklum belum mahir sekali bersepeda.
Karena duduk di baris depan , aku selalu mendapatkan pembagian hosti pertama kali. Biasanya dalam doa singkat, aku menunduk dan memandangi kaki-kaki umat yang lewat di depanku setelah mereka menerima hosti.
Pagi ini ada satu hal yang menyentuh hati. Ada sepasang kaki tua tanpa alas. Lebih menyedihkan lagi salah satunya dibalut sapu tangan. Pasti kaki ini sedang sakit. Spontan aku mendongakkan kepala melihat siapa pemiliknya. Ibu sepuh itu, sering aku lihat setiap pagi. Sangat sepuh dan mungil. Tidak biasanya beliau tanpa alas kaki. Aku bertanya-tanya dalam hati... apa yang terjadi? dan tumbuh rasa belas kasihan....
Misa selesai dan aku bergegas keluar... seperti biasa.... tapi.... kali ini gerak kaki di hantui sepasang kaki tua yang dibalut sapu tangan. Setelah mencoba menuntun sepeda separoh halaman gereja, aku berhenti. Aku ingin bertemu ibu sepuh itu. Di dompetku hanya ada satu lembar uang 20 ribu. Aku ingin memberikannya kepada beliau. Entah untuk membeli sandal atau berobat.
Dan aku menanti beliau, diantara umat yang sudah mulai berhamburan keluar gereja. Setelah menunggu beberapa saat... kok beliau belum kelihatan. Sementara gereja mulai sepi. Penasaran, aku kembali ke gereja, mengintip di antara jendela... dan aku melihat beliau masih duduk dalam khusuknya doa. Setelah menanti sesaat, aku memutuskan untuk masuk dan duduk di sampingnya. Aku menunggu sampai beliau  membuat tanda salib, tanda doanya selesai....
"kenging menapa bu?" tanyaku sambil menunjuk ke kakinya. Dia tersenyum lembut "kenging minyak panas, sampun sae kok jeng...sampun garing".... Aku bukan seseorang yang bisa berbasa-basi, maka dengan cepat ku sisipkan uang ke dalam genggaman tangannya yang keriput.... "kagem berobat bu.." ada siratan terkejut di wajahnya yang tua dan sederhana... tapi kemudian berganti wajah penuh syukur "maturnuwun sanget"..... kemudian aku bergegas keluar.... dan kukayuh sepedaku dengan hati ringan... ada sebersit kebahagiaan yang nilainya lebih dari 20 ribu. Kelegaan karena berbagi... dan kebahagiaan karena sudah menuruti suara hati....

Beras 5 kg...
Misa pagi kali ini, sedikit terusik oleh seorang umat yang rupanya sedikit terganggu jiwanya. Kebetulan dia duduk di depanku. Dia kadang bergerak-gerak gelisah sambil merentangkan tangannya, meregangkan tubuh. Kadang berkomentar agak keras tanpa jelas apa yang dikatakannya. Karena dia ada di depanku, aku jadi sedikit terganggu mengikuti misa. Hingga akhirnya misa selesai, dan Romo menutup dengan sebuah pengumuman. Bahwa pada waktu paskah, terkumpul banyak beras di pastoran. Mereka sudah membagikan ke orang-orang yang kurang beruntung, tapi ternyata masih sisa. Maka kami diminta bantuannya untuk membagikan ke orang-orang di sekitar kita yang pantas untuk mendapatkannya.
Aku teringat Srintil yang baik hati. Maka menjadi penghiburan bagiku setelah gagal mengikuti misa dengan baik, untuk ikut membagikan rejeki bagi orang lain yang membutuhkan.
Beras sudah di timbang, 5 kg setiap kantong plastik. Karena aku naik sepeda, maka aku hanya mengambil satu kantong.
Dengan pede, aku letakkan beras sekantong di keranjang depan sepedaku, Dan dengan pede pula kukayuh sepeda pulang. Ternyata lumayan berat juga, sehingga sepedaku sering meliuk kekiri dan kekanan.
Beberapa meter sebelum sampai ke gerbang rumah, aku melihat Srintil baru mengantar kue entah  kemana.
Dengan helaan nafas lega aku tiba dengan selamat sampai di rumah. Srintil menyusul beberapa saat kemudian. Ketika aku mengantarkan beras ke rumahnya, dia kaget "ooo... pantes bu Lilik naik sepedanya miring kekanan... kekiri..." katanya tertawa, dengan wajah tersirat rasa terimakasih dan haru. Segera disusul dengan ucapan terimakasih berkali-kali.

hhhhmmm... andai aku bisa melakukan hal-hal kecil seperti ini setiap hari.... seperti doa yang didaraskan bersama setelah kami semua menerima komuni....

Tuhan, semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur, memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai. Sebab dengan memberi aku menerima, dengan mengampuni aku diampuni, dengan mati suci, aku akan bangkit lagi untuk hidup selama-lamanya. Amin (PS.221)



Friday, March 22, 2013

Lerem, Leres, Laras, Laris.....



Temanku, tiba-tiba berat badannya turun drastis. 15 kg dalam tiga bulan. Wajahnya layu dan semakin tua. Dulu dia sosok yang sangat ceria dan ceriwis, sekarang jadi pendiam dengan pandangan kosong, seperti mayat hidup. Kehidupan sehari-hari dijalani tanpa gairah... sebuah raut wajah depressi yang tidak mungkin disembunyikan lagi.
Aku menawarkan diri untuk mengajaknya jalan-jalan "pergi yuk... tak antar.. aku yang setir deh.. kita berdua saja... mungkin bisa menghiburmu"... dia mengiyakan... tapi lamaaaa... aku tidak mendengar ajakanku disambutnya.
Hingga suatu hari dia menelpon dan mengajakku pergi. Langsung semua rencana hari itu aku batalkan dan aku dengan penuh semangat menanggapi ajakannya. "kita ke Solo ya...."
Ok... dengan senang hati aku bersiap diri.
Segera aku mengambil buku karyaku, yang diterbitkan tahun lalu. Rencana ingin aku berikan ke seorang Romo di Solo, dan barangkali pertemuan dengan Romo akan memberikan pencerahan hati temanku.
Mobil mungilnya, enak dikendarai dengan lancar ke Solo. Dalam perjalanan, aku biarkan dia bercerita tentang suasana hatinya yang galau, frustrasi, mudah kawatir, dan tanpa gairah hidup. Dia tidak bercerita sebabnya, dan aku tidak memaksa.
Aku hanya punya telinga... dan aku yakin itu saja yang dia butuhkan....

Perjalanan lancar....
Setelah mengantarnya ke suatu tempat yang berkaitan dengan bisnisnya, aku mengajaknya ke gereja tempat Romo bertugas, untuk memberikan bukuku...

Gereja yang besar itu, sedang disibukkan dengan persiapan misa Imlek. Kami bertanya ke kantor sekretariat untuk menemui Romo. Ternyata Romo ada di rumah Paroki. Setelah memencet bel 1x... kami menunggu....
Seorang pria muda keluar. Ketika aku menyampaikan keinginan untuk bertemu Romo, ternyata beliau sedang sakit. "baiklah... saya titip buku untuk beliau saja"... dan aku duduk di kursi untuk menuliskan pesan di buku tersebut... tiba-tiba aku mendengar suara....
"tukang pijet e wis teka...." di susul sosok Romo yang hanya berkaos oblong.... rupanya Romo sedang menunggu tukang pijet, dan kami dikiranya tukang pijet yang dia pesan.
Ketika aku menyapa ternyata beliau sudah melupakanku. dan ketika aku memperkenalkan diri juga temanku.... beliau mengajak kami duduk... baru berucap,
"dulu rambutnya panjang dan hitam...kok sekarang pendek dan putih..." aku meringis
"sudah tua Romo..."

Percakapan bergulir santai.... entah mengapa... pembicaraaan membuahkan sebuah nasehat hidup yang indah... yang dengan segera dicatat temanku, karena takut lupa. Kata-kata tersebut adalah Lerem, Leres, Laras, Laris..... apa itu Romo??

ketenangan
Lerem.... dalam menghadapi persoalan hidup kita harus berusaha untuk Lerem... tenang... gejolak emosi harus dikuasai dulu... baik emosi yang positif maupun yang negatif. Kita tidak boleh membuat keputusan dalam keadaan sangat sedih maupun sangat senang.... karena bisa keliru.... kalau situasi hati sudah lerem.... maka kita bisa mengambil keputusan dengan leres.

lurus menuju tujuan
Leres.... yaitu benar.... walaupun kebenaran ini relatif. Tapi setidaknya keputusan yang diambil bukan dalam suasana hati yang sedang bergolak. Hal ini bisa dilihat dari hasil yang dicapai dari keputusan tersebut... apakah menimbulkan laras....
selaras....
Laras... selaras... harmonis, seimbang... pas... sesuai dengan yang kita harapkan. Laras... juga membuat kita kembali pada posisi semula, tepat dimana seharusnya kita berada... keselarasan hidup nantinya akan menghasilkan laris...

Laris... laku keras... pasti untungnya banyak. Keuntungan yang didapat bukan melulu dari sisi materi, tapi juga spiritual. Keuntungan seorang Romo misalnya, pasti bukan dari sisi materi, tapi dalam pelayanan spiritual. Bagi yang berbisnis... keputusan yang leres, karena diambil dalam situasi yang lerem, akan menimbulkan keselarasan dan ke"laris"an dalam usahanya, dan pastilah keuntungan secara materi akan diperoleh....

Tiba-tiba temanku mengambil tissue "saya tak nangis dulu ya Romo...."
Kami terdiam, dan membiarkan dia terisak sebentar....

Aku memecah kesunyian, mengalihkan pembicaraan dengan bertanya... "berapa lama Romo bertugas di Papua...." pembicaraan menjadi santai kembali dan Romo bercerita bahwa dia merasa aneh karena dalam tugasnya selalu dipindah setelah 4 tahun. 4 tahun di Seminari Mertoyudan, 4 tahun di Kolese de Britto, 4 tahun di Wonogiri, dan di Papua 4,5 tahun.
"sebagai manusia biasa... saya kadang merasa frustrasi, karena 4 tahun tidak cukup untuk berkarya yang sungguh-sungguh memberikan hasil. Bukankah manusia membutuhkan pencapaian dalam setiap langkah hidupnya....."
Lalu... bagaimana Romo mengatasi hal ini.....?
"yaaaah.... Tuhan tidak menilai kita dari apa yang kita capai... Tuhan hanya ingin melihat bagaimana kita mencintaiNya..."....... dan semua terdiam... sunyi...

Pembiacaraan yang singkat dan penuh makna ini, membuat aku dan temanku terpana....
Banyak hal yang harus direnungkan nantinya.... terutama dalam menjawab pertanyaan "sejauhmana kita membalas cintaNya?"
Betapa seringnya kita berkutat dengan persoalan diri kita sendiri. Sibuk dengan persoalan, harapan, galau, kawatir, kecewa, sedih, marah...dsb.... hingga lupa satu hal yang sangat diinginkan Sang Pencipta.... sudahkah kita mencintaiNya??

sudahkah aku mencintaiMu
Mat 25:36 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

Saturday, March 16, 2013

Naik sepeda keliling desa...

sepedaku dengan keranjang di depan
Aku belum ahli naik sepeda. Mungkin karena dulu waktu kecil rumah kami sedikit naik ke bukit di daerah candi Semarang. Sehingga aku tidak mungkin naik sepeda. Karena lama tidak latihan, sudah terlanjur tua mau naik sepeda lagi jadi nggak pede.

Setelah tinggal di Wedi-Klaten, aku tertarik naik sepeda. Sebelumnya aku lebih suka jalan kaki kesana kemari. Ada sepeda kecil milik keponakanku ketika dia SD dipinjamkan ke aku untuk belajar... memalukan juga, karena sering dilihatin orang di jalan.... anakku meledek "iya ma.. kayak pertunjukan ledek kethek...." asyeeem... itu pertunjukan keliling dimana moyetnya suka disuruh naik sepeda kecil... hahahaha.....

Setelah sedikit bisa, aku ingin memiliki sepeda yang lebih besar.. dengan keranjang kecil di depan. Saat menonton film... ada yang naik sepeda, sepertinya asik sekali bersepeda dengan ada keranjang kecil di depan, bisa untuk meletakkan bawaan.

Dan Tuhan mengabulkannya. Anakku mendapat hibahan sepeda dari bossnya. Sepeda kecil dengan keranjang di depan. Langsung sepeda itu diberikan ke aku....

Kemarin sore... ditemani anakku, kami keliling desa... walaupun dia kawatir melihat aku mengayuh sepeda kekiri dan kekanan... tapi dia tetap setia menjagaku dari belakang...

Sore yang cerah, matahari mulai malas bersinar, meninggalkan sinar ceria di balik bukit-bukit nan jauh.... sawah masih terbentang luas.. bagai hamparan karpet hijau yang empuk dan lembut... jalan-jalan desa, walaupun sempit namun sudah halus beraspal... membuat roda-roda sepeda kami berputar tanpa suara....

Sore yang indah... akhirnya menghantar kami pulang.... terengah.. tapi senang....
"bahagia itu sederhana..."

rumah untuk mengeringkan tembakau

bukit dikejauhan dan anak-anak bersepeda

sepeda petani di tengah sawah

jalan keci beraspal di desa




Friday, February 15, 2013

Tahun Ular

Aku orang Jawa tulen, yang lebih cocok dengan hari-hari Jawa seperti Pon, Wage, Kliwon, Pahing, Legi. Juga bulan Jawa yang kebetulan hanya bulan Suro yang aku ketahui, karena di bulan itu orang tidak boleh menikah. Alasannya apa aku tidak tahu....
Beragamnya kebudayaan di negeri ini, akhirnya juga membuatku mengerti sedikit kebudayaan Cina tentang Shio, Imlek, walaupun sebatas pengetahuan umum saja.
Seperti kalau banyak hujan sebelum Imlek berarti rejeki melimpah bagi yang merayakannya. Juga kami ikutan melihat , kalau tanggal kelahiran kami Shionya apa. Entah cocok entah tidak, apa salahnya cuma mengetahui saja.
Jadi berdasarkan tanggal kelahiran keluarga kami ada shio Ayam, Babi, Kerbau dan Naga. Sering iseng juga melihat bagaimana ramalan shio kami setiap tahun. Walaupun tidak percaya seratus persen, tapi kadang ada kegembiraan juga kewaspadaan ketika ramalan menunjukkan keberuntungan juga kebuntungan.
Nah, tahun ini, tahun ular menurut orang Cina. Jujur aku belum melihat ramalan untuk tahun 2013 ini. Cukup tahu bahwa di keluarga kami ada yang ber Shio Naga, yang menurut orang Cina, shio yang paling bagus, pasti semua akan berjalan baik baik saja... dan ini menyemangati.
Anakku yang bershio naga, tahun ini memutuskan untuk pulang for good!. Setelah bekerja 2 tahun di perusahaan yang bidangnya sama dengan usaha kami, akhirnya dia memutuskan untuk pulang. "kenapa harus bekerja untuk orang lain, kan lebih baik bekerja untuk perusahaan sendiri, yang sudah dirintis orangtuaku sekian lama"....
Awalnya, kami sebagai orangtua sempat kawatir dengan niatnya yang sudah bulat ini. Apalagi dia minta tahun ini akan pulang. Tapi akhirnya, kami mengerti.... dia harus didukung 100%.
Wajarlah... di saat-saat menjelang kedatangannya, kami sering berdiskusi... di saat kami ragu, dia menguatkan, begitu pula disaat dia ragu, kami menguatkan.
Inilah yang kami lakukan menjelang kedatangannya.
Semalam, dalam obrolan panjang melalui HP, dia bercerita bahwa disaat-saat menjelang dia pulang, dia banyak bertemu teman-teman yang memiliki misi sama. Meneruskan dan mengembangkan usaha bapaknya....
Mereka adalah anak-anak muda yang masih berenergi, bersemangat dan memiliki visi misi ke depan dengan pandangan generasi muda saat ini, yang sudah tidak terjangkau kami lagi.
"aneh ya Ma... disaat aku membuat keputusan ini, tiba-tiba aku bertemu teman-teman yang memutuskan untuk meneruskan usaha orang tuanya... jadi tambah semangat!"
Tiba-tiba... cling! aku ingat... ini tahun ular.....
yah... dari semua hewan di shio... hanya ular yang berganti kulit... orang Jawa bilang "nglungsungi" meremajakan kembali....
entah benar entah salah, aku ingin membuat pemahaman sendiri... inilah tahun dimana semua diremajakan kembali... mulai dari awal dengan semangat muda, dan ditangani sendiri oleh anak-anak muda seperti anak-anakku yang saat ini baru berusia 27 dan 24 tahun.
Kami sebagai generasi tua, harus rela melepas... membiarkan gagasan dan upaya mereka menggantikan dan memajukan usaha kami...
Kami yakin, ditangan anak-anak muda yang berbakat, bersemangat, berpengetahuan dan berenergi.... usaha kami akan menjadi lebih baik....
Dalam berwirausaha pun ajaran Ki Hajar Dewantara bisa dijalankan....
"tut wuri handayani"... mendorong dan memotivasi dari belakang
"ing ngarso sun tulodo" ... menjadi suri tauladan dan
"ing madyo mbangun karso" ... berbaur dan berinovasi

Tuhan, bimbinglan anak-anakku... lindungilah, ajarilah, tuntunlah, berilah kekuatan dalam setiap langkah yang mereka ambil dan kaitkan hati kami dalam kasihMu yang Maha Besar. Amin.


Tuesday, February 5, 2013

Ruang Tamu Knock Down

Yang tidak ada di rumahku adalah Ruang Tamu. Karena hanya terdiri satu kamar tidur, satu dapur menjadi satu dengan ruang makan, dan satu kamar mandi... dan letaknya ada di tengah workshop kami.
Trus kalau ada tamu bagaimana? ya tergantung tamunya...
Kalau keluarga dekat bisa duduk-duduk santai di dapur, atau bahkan ngobrol santai di kamar. Kalau tamu bisnis kami terima di kantor.. dan tamu biasa lain bisa sekedar duduk-duduk di joglo depan milik tetangga yang sering kami pakai untuk ngobrol dan ngopi di sore hari.
Kali ini yang datang adalah tamu istimewa, yang tidak mungkin kami sambut di kedua tempat tersebut.
Beruntung tamunya datang pada hari Minggu, jadi tidak ada kegiatan kerja di workshop kami. Maka kami buatlah ruang tamu dadakan... alias ruang tamu knock down....
Tempatnya di ruang cat yang beratapkan tenda.
Sehari penuh kami menata dan membersihkan ruangan....
Hasilnya adalah ruang tamu yang nyaman dengan bunga anggrek yang ikut menyambut, dengan bunganya yang lebat....
menata hidangan

Anggrek berbunga

Suasana ruang tamu

Kursi tamu seadanya
 Semoga penyambutan di ruang tamu knock down diterima di hati....

Seusai tamu pulang... sesuai namanya ruang tamu knock down, maka kami membongkarnya kembali dan ruang kembali dipersiapkan menjadi ruang cat untuk digunakan bekerja keesokan harinya....

Berbekal niat baik, kreativitas dan sikap apa adanya, kita bisa menghargai dan menghormati orang lain - lilik soekoer