Pages

Monday, July 15, 2013

Janji setia dalam suka dan duka, untung dan malang, sehat dan sakit...

Di depan gereja Stella dan Dion bertemu, setelah hampir satu minggu mereka dipisahkan. Lucu sekali melihat mereka berdua saling terpukau dan kemudian berpelukan.... anak sekarang... bebas mengekspresikan perasaannya.
Tidak peduli kursi di dalam gereja masih banyak yang kosong, the show must go on....




Di iringi lagu.....

Going to The Chapel of Love

Goin' to the chapel and we're gonna get married

Goin' to the chapel and we're gonna get married
Gee, I really love you and we're gonna get married
Goin' to the chapel of love

Spring is here, the sky is blue, whoa oh oh

Today's the day we'll say, "I do"
And we'll never be lonely anymore because we're

Goin' to the chapel and we're gonna get married
Goin' to the chapel and we're gonna get married
Gee, I really love you and we're gonna get married

Birds all sing as if they knew
Goin' to the chapel of love


Bells will ring, the sun will shine, whoa oh oh
We'll love until the end of time
And we'll never be lonely anymore because we're

Goin' to the chapel and we're gonna get married
Goin' to the chapel and we're gonna get married
Gee, I really love you and we're gonna get married
I'll be his and he'll be mine
Goin' to the chapel of love

Yeah, yeah, yeah, yeah
Goin' to the chapel of love
Yeah, yeah, yeah, yeah

Goin' to

Dinyanyikan dengan indah oleh Konco Kenthel Choir.
Cincin pernikahan
Salib, Rosario, Alkitab, dan Lilin

Dan keseluruhan acara kami serahkan kepada Rm. Petrus Sajiyana, Pr. dan Pdt. Martana Pancahadi yang akan memberkati dan memberikan sakramen pernikahan kepada Stella dan Dion.


ngekek dan ngikik mendengar kotbah Pdt. Martana
Bersumpah setia... "Ya...kami sanggup!"

cincin pengikat janji

Pemberkatan oleh Romo dan bapak Pendeta
apa yang dirasakan?  "legaaaaaa....." kata mereka
Sungkem ke bapak-ibunya Dion

Sungkem ke bapak-ibunya Stella

sungkem ke Eyang Harso
Ungkapan rasa lega, bahagia dan dipenuhi rasa syukur kepada Tuhan yang telah melancarkan acara pemberkatan pernikahan ini.... dan kami ungkapkan dalam foto bersama keluarga dan kerabat dekat yang ternyata telah memenuhi kursi gereja selama acara berlangsung....


Kami sekeluarga bersama eyang Suharso...
Kel besar Suharso
Keluarga Sukirman
Kel Soekoer
Kel bude Wit

Sebelum merayakan kelegaan, kegembiraan, kebahagiaan dan rasa syukur yang tak terhingga dalam acara resepsi... ternyata masih ada satu acara adat lagi yang harus dijalani, yaitu temon atau panggih. Acara tersebut dilaksanakan di Sambi Resort n Spa.

Mengucap Janji.... (Persiapan)

Hari yang dinanti, sekaligus ingin segera dilewati... karena persiapan panjang yang melelahkan membuat kami semua ingin segera melewati hari ini dengan selamat. Kegelisahan karena hujan bulan Juni yang tidak biasa, tidak mengurangi semangat kami untuk berdandan. Doapun tak henti dipanjatkan....berilah terang...

Paes, Ibu Indi kembali beraksi
sentuhan terakhir
Harum mewangi semerbak melati berbaur dengan wangi pandan yang menjadi gelung pengantin... memenuhi kamar pengantin. Indah... memukau... hiasan yang serba wangi gemerlap.....

Stella pun siap



Dan kamipun siap.......


Tuhan Maha Baik.... saatnya kami bersiap berangkat menuju Gereja Pakem... hujan pun berhenti. Hingga kami berempat masuk ke dalam mobil dan melaju selama 15 menit perjalanan. Di perjalanan hujan turun lagi dengan lebat hingga kami tiba di depan gereja. Masih sepi.... namun tepat jam 14 acara pemberkatan pernikahan harus dimulai...

Tuesday, July 2, 2013

Menuju Hidup Baru... (Malam Midodareni)

Malam midodareni, adalah malam dimana bidadari turun dan juga para leluhur yang datang membawa restu untuk calon pengantin. Ada yang mengadakan misa bagi yang beragama katolik. Kali ini kami memutuskan untuk doa bersama saja, supaya bisa diikuti seluruh tamu yang beraneka ragam agama. Ada Kristen, Katolik juga Muslim.
Anakku tidak boleh keluar kamar pengantin selama acara midodareni. Tapi tamu wanita boleh masuk ke kamar pengantin dan bertemu dengannya.

Keluarga besar besan datang dengan membawa seserahan yang banyak banget. Dari perhiasan, baju, sepatu, kain, tas, peralatan make up, juga berbagai macam makanan dan tidak ketinggalan pisang sepasang.

Acara dimulai dengan meneriman seserahan secara simbolik, sementara lainnya sudah diletakkan di atas meja. Setelah itu doa bersama dan kemudian dilanjutkan dengan makan malam. Setelah itu ada ulih-ulih, yaitu kami memberikan beberapa makanan untuk dibawa pulang. Yang selalu tidak boleh ketinggalan adalah pisang raja sepasang. Ini bukan pisang raja biasa. 2 pasang tersebut harus berjumlah genap dan sama. Tidak mudah mencarinya di pasar. Untung kami bisa mendapatkannya. Jumlahnya masing-masing 16 biji. Karena pengantin kan nantinya berpasangan terus sepanjang hidup mereka.

suasana malam di Sambi

bersama Eas Trisiwi dan Christine yang memimpin doa


rombongan besan dan calon pengantin pria datang


membawa seserahan yang gak habis-habis
seserahan

siap mengikuti acara
menyerahkan seserahan secara simbolik
Christine memimpin lagu

Eas Trisiwi memimpin doa
dilanjutkan dengan acara ramah tamah

Mas Totok dan calon mantu, menikmati nasi bakmoy yang hangat
menyerahkan ulih-ulih
Sebelum pulang tamu wanita boleh menengok calon pengantin putri di kamar pengantin

bersama sahabat setia di kamar pengantin
tamu wanita berkunjung ke kamar pengantin
pengecualian untuk bapak calon mertua


tamu pun pulang

Kembar 3: Tito, Dion, mas Pongky
 Setelah acara selesai, kami masih terjaga hingga melewati pukul 00:00... semoga acara inti esok hari berjalan dengan lancar...



Thursday, June 27, 2013

Menuju Hidup Baru... (siraman di calon pengantin pria)

Pihak pengantin pria juga menjalani ritual siraman, namun tidak selengkap pengantin putri. Setelah Duta Tirta membawa air yang sudah dicampur 7 sumber air dan kembang setaman, mereka baru menjalani ritual yang hampir sama dengan pengantin putri. Berikut foto-foto dari pihak pengantin pria.


Pengantin pria sekeluarga menanti Duta Tirta tiba
Dion, tidak sabar tapi ceria
Duta Tirta tiba dan menyerahkan air ke wakil keluarga
wakil keluarga menyerakankan kepada bapak mempelai pria
Ibu menuangkannya ke gentong

dan bapak mengaduknya
Acara siraman dimulai dengan sungkem kepada orangtua, eyang dan kakak yang belum menikah untuk memohon doa restu.
Mohon doa dan restu ke bapak

Mohon doa dan restu ke ibu

Juga kepada eyang kakung dan putri

Mohon ijin mendahului menikah kepada kakak

menyerahkan pemesing ke eyang, dan pelangkah ke kakak
siap menjalani ritual siraman





bapak menyiram

Ibu kemudian menyiram
 Dilanjutkan para sesepuh...








Bapak menyiram air kendi ke seluruh tubuh

dan memecah kendi supaya pamor pengantin pria memancar

Menggunting rambut yang nantinya disatukan dengan rambut pengantin putri

ceria bersama sahabat