Pages

Wednesday, September 26, 2018

Rumah Idaman

Dulu aku mengidamkan rumahku seperti rumah jawa dengan halaman luas dipinggir sawah. Aku membayangkan udara yang segar, halaman luas penuh tanaman rindang dan asrı. Hari tua diisi dengan merawat tanaman. Bahkan ada sebagian yang ditanami sayuran dan buah-buahan. Sehingga bisa dinikmati sendiri. Ternyata mimpiku masih belum bisa diwujudkan. Jadi ya sudah biarkan berlalu...

Hari Minggu, setelah mengantar anakku ke bandara, aku kebingungan mau kemana. Flightnya jam 8 pagi. Jadi jam 7 pagi aku sudah keluyuran di Jogya mencari tempat sarapan yang bisa buat nongkrong, ngopi dan menulis.
Ternyata kepagian. Tempat-tempat yang aku pilih buka paling awal jam 9 pagi. Akhirnya setelah berputar-putar aku memutuskan untuk pulang ke Klaten. Diperjalanan mendekati Prambanan aku ingat ada tempat yang enak dan nyaman namanya Warung Kopi Prambanan. Akhirnya aku putuskan untuk mampir ke sana. Barangkali sudah buka.

Tidak disangka perjalanan ke sana terhambat macet cukup lama di Prambanan. Kali ini aku menikmati jalanan macet dengan harapan sampai di warung kopi sudah buka. Ternyata masih tutup juga. Tapi aku melihat para karyawan sudah datang untuk persiapan.

Aku putuskan untuk turun dan bertanya buka jam berapa? bukanya baru jam 10. Waktu itu baru jam 8.45. Lalu aku bertanya lagi, apakah boleh duduk-duduk sambil menunggu warungnya buka? dengan ramah mereka mempersilahkan aku masuk.

Kanan, menjadi tempat favorit ku untuk menulis

Rumah idamanku

Aku memilih tempat yang bisa untuk menyendiri dan menulis.
Warung Kopi Prambanan ternyata sangat luas. Mungkin 2000 m2. Semua bangunan berbentuk limasan dan bekas kandang sapi. Ditata dengan apik, rapi dan asri. Rumah limasan jawa yang cukup besar tempatnya di paling belakang. Ada kolam ikan dengan suara gemericik air. Juga ada kicauan burung yang merdu. Sayang sekali mereka ada dalam sangkar. Akan lebih indah lagi seandainya mereka bebas terbang dari pohon ke pohon dengan celotehan ceria.

Jam 10 aku ditawari menu. Berasa di rumah sendiri... surga banget. Menjelang siang tamu semakin banyak. Karena keramaian mulai membuatku tidak nyaman, maka aku putuskan untuk pulang. Ketika pulang aku kembali bertanya, apakah boleh aku datang lagi seperti tadi sebelum buka. Mereka dengan senang hati menerimaku. Bahkan aku boleh datang dari jam 8 pagi. Bersamaan dengan karyawan yang mempersiapkan segala sesuatunya.

Rumah idaman, ternyata menjadi kenyataan. Aku tidak perlu memiliki, tidak perlu memelihara dan mengelolanya. Seminggu sekali ketempat ini sudah cukup bagiku. Makanan yang tersedia juga makanan rumahan. Berbagai macam oseng-oseng. Daun Papaya, bunga pepaya dan jantung pisang. Ada aneka botok. Telur dadar dan tempe goreng. Juga aneka sambal kesukaanku. Bukankah ini sudah lebih dari cukup.

Tidak semua mimpi kita harus menjadi kenyataan dengan memilikinya. Semua sudah tersedia, tinggal bagaimana kita menikmatinya. Bahkan dengan adanya gojek dan grab kita berasa punya mobil dan sopir pribadi. Semuanya dimudahkan tanpa harus memiliki. Yang penting, selalu bersyukur atas berkah yang melimpah dari Tuhan.






Friday, September 21, 2018

Kunci

Anak lelakiku tiba-tiba membuat kejutan lagi. "ma... nih tak kasih hadiah ulang tahun lagi" hah apa?? dan dia menyerahkan kunci. Bukan kunci mobil baru. Tapi kunci rumah. Dihadiahi rumah? bukaaan.. ini kunci rumah yang hilang seminggu lalu. Dia temukan di sela-sela jok mobil.

Senang gantungan kuncinya ketemu. Kenang-kenangan dari seorang sahabat.
Seminggu lalu kunci satu-satunya masuk rumah hilang. Dulu pernah ketinggalan di luar dan di simpan tetangga. Kebiasaan kalau menutup pintu dari dalam bukan di kunci tapi digerendel. Jadi kunci bisa ketinggalan di luar tanpa disadari.
Semua sudut sudah diobrak-abrik nggak ketemu. Tetangga juga nggak melihat. Gawat! kalau diambil orang bisa-bisa dia bisa masuk rumah dengan mudah kalau rumah pas kosong.

Keputusan kilat adalah mengganti kunci. Seharusnya sudah aman kan ya, kalau kunci sudah diganti. Ternyata pikiran konyol masih terus mengganggu. Bagaimana kalau orang yang ambil terus suatu ketika mencoba masuk rumah? apa yang harus aku lakukan? bagaimana kalau aku di rumah sendirian? apa dipasangi CCTV biar tahu kalau ada orang yang mencoba membuka pintu... dst... dst.. pikiran dipenuhi hal-hal negative yang melelahkan. 

Kenapa masih memikirkan hal-hal yang bikin pusing. Kan kunci sudah diganti. Orang mau masuk juga nggak bisa. Kekawatiran yang tidak masuk akal. Tapi kalau pikiran lagi mbulet sendiri gak karuan kadang susah dikuasai.

Jadi ketemunya kunci rumah ini memang hadiah ulang tahun yang indah (heran... ulang tahun kali ini hadiahnya lebih awal). Setidaknya pikiran negative hilang. Ujung-ujungnya merasa konyol ketika kunci ini ketemu. Aku sudah membuang waktu dengan melontarkan pikiran-pikiran negative pada seseorang yang ternyata tidak ada. 

Hadiah kunci yang hilang ini, yang akhirnya aku buang juga karena sudah tidak bisa digunakan, ternyata membuang juga semua kekawatiran yang tidak beralasan. Terimakasih ya nak, sudah menemukan kuncinya dan membuatku lega dan tenang kembali.

Thursday, September 20, 2018

Kembali lagi


Kalau angin bisa menerbangkan satu peristiwa,
mungkin itu yang terjadi, karena aku tidak lagi punya cerita.

Kalau panas bisa membuat cerita menguap entah kemana...
mungkin itu pula yang terjadi, karena ceritaku tak membekas, sirna.

Mengapa tidak lagi ada kisah yang indah untuk diceritakan
tidak ada lagi rasa yang bisa kubagikan
tidak ada lagi kata-kata indah yang bisa kutulis

Tuhan,
Engkau dimana?
bukankan semua ini menjadi cerita ketika Engkau ada...
atau Engkau sudah meninggalkan aku?
aku tersesat ditengah belantara rasa...

💙💙💙💙

Inilah yang aku rasakan hingga 4 th aku tidak menulis. Berkubang dalam berbagai kesibukan hari demi hari. Sampai aku lupa bagaimana menulis. Bagaimana mengungkapkan sesuatu.
Hingga beberapa bulan lalu aku mulai rindu. Rindu menulis. Rindu bercerita. Tapi laptop terlanjur aku sisihkan untuk pekerjaan lain.
Dan aku mulai menulis dimana ada halaman kosong. Tulisanku tersebar dimana-mana. Asal ada buku kosong aku menulis dan menulis lagi. Ada kebahagiaan, kelegaan pikiran hingga mulai muncul berbagai cerita dalam pikiran yang segera ingin dituang.

Lalu aku ingin beli laptop. Menjelang ulang tahunku yang ke 59. I want to love myself, I want to reward myself and I want to seize my day by writing. Semangat sekali dan membayangkan aku duduk dengan laptop, menulis segala hal yang ingin aku tulis.

Ketika hal ini aku sampaikan anakku, ternyata dia panik. Dan dengan wajah yang penuh penyesalan dia berkata "btw... kami sudah beli laptop buat mama. Mestinya untuk surprise di hari ulang tahun mama nanti". Haaaahhh.... aku terharu... padahal aku sudah menyiapkan dana sendiri untuk beli laptop. Nggak jadi surprise jadinya... hahaha.

Sore itu, seperti biasa anakku datang dari kantor. Bilang lapar. Aku tawari bubur kacang hijau nggak mau. Tiba-tiba dia bilang "surprise tetep surprise!" katanya sambil tertawa. Ternyata mereka sudah merencakan sesuatu untuk menyerahkan laptop tersebut. Anak, mantu dan cucuku berkumpul, dan bapaknya datang dari Kaliurang dengan membawa makan malam... woooww...
Kali ini benar-benar mengharu birukan perasaanku. Tangis bahagia... sangat bahagia.

huruf-huruf yang memanggilku untuk merangkainya menjadi cerita
Terimakasih yang tak terhingga untuk perhatian dan cinta kalian semua. Love you all.
Terimakasih Tuhan karena Engkau tidak pernah meninggalkan aku. Engkau selalu ada di keluarga mungilku ini.
Aku kembali menulis lagi di blog ini. 4 th berlalu tidak mengapa. Cerita selalu ada setiap hari.


Monday, September 1, 2014

Menuju Tua

Sebentar lagi umurku 55 th. Banyak yang bilang aku masih kelihatan muda.... terimakasih. Padahal aku tidak ada usaha khusus biar kelihatan muda. Heran juga kenapa aku tidak banyak keriput di wajah. Mungkin ini karunia, karena aku tidak banyak melakukan perawatan wajah.
Rambutku sudah banyak ubannya. Aku cat deep burgundy biar tidak terlalu hitam. Kalau ku cat hitam bisa tambah kelihatan muda lagi.. hihihi...
Kadang lama tidak kucat hingga aku punya 3 warna rambut. Hitam, putih dan deep burgundy (yang karena catnya tidak berkualitas jadi sering luntur).

Terserahlah... upaya mau kelihatan muda juga tidak akan menghambat bertambahnya umur.
Banyak teman sedang mempersiapkan masa pensiun, sementara aku masih bekerja setiap hari. Sampai kapan ya terserah aku. Mungkin kalau perusahaan sudah tidak membutuhkan kehadiranku lagi dan anak-anak sudah sepenuhnya mandiri.
Aku juga masih disibukan dengan berbagai pesanan renda yang menjadi hobbi sekaligus pengisi waktu luang. Lalu apa yang kurasakan menuju tua?

Aku ingat suatu hari bertanya ke bapak (alm). waktu itu beliau usianya sekitar 65 th.
"rasanya tua apa pak" tanyaku santai.
Beliau diam sejenak kemudian menjawab "nggak terasa apa-apa. Pikiran rasanya muda terus, baru ingat tua kalau sudah merasa gampang capek" simpel banget jawabnya, dan itulah yang aku rasakan sekarang.

Pikiran masih pingin ini itu, bersemangat melakukan ini itu. Tiba-tiba saja lutut sakit, jalan sempoyongan. Masuk angin dan lain-lain.
Tapi kadang pikiran juga mulai "aneh" menurut anak-anak. Pertanyaan yang diulang-ulang padahal sudah dijawab. Menulis salah. Menjawab tidak sesuai pertanyaan. Lupa. Salah meletakkan ini itu dsb...dsb... mulai menyebalkan buat yang muda.

hhhhhmmm jadi ini rasanya proses menua. Kadang jadi bahan tertawaan karena kekonyolan yang aku lakukan. Kadang jadi sindiran karena emosi yang tidak beralasan. Tapi juga tanggapan penuh pemakluman dan maaf setiap saat aku bilang "maklum wis tuwo".
Jadi ingat, dulupun aku sering tertawa tiap melihat ibu dan aktivitasnya. Beliau lucu sekali, padahal usianya 56. Nah akupun hampir seusia beliau.

Masih beruntung aku punya hobbi merenda yang mulai dikenal dan disukai orang. Sehingga menjadi aktivitas yang menghibur menuju tua.



Dan mungkin di hari tua nanti aku seperti ini.... hihihihi


Tuesday, July 22, 2014

Dibalik gambar

Walaupun tempat tinggalku di desa, tapi tidak menghalangi teman-teman untuk datang. Entah kenapa banyak yang ingin berkunjung. Padahal alamatku tidak jelas. Kalau mau datang harus dipandu sejak masuk Klaten. Kecuali sudah membawa GPS, pasti sampai.
Sabtu lalu Roy dan Wida datang berkunjung ke kantor. Hanya mengisi waktu luang sebelum menghadiri acara perkawinan saudaranya.

Cukup banyak waktu untuk ngobrol, makan siang dan keliling desa. Dan mampirlah di Rowo Jombor. Sebuah pemandangan yang indah. Sebuah rawa yang sudah dilengkapi dengan berbagai restoran apung yang menyajikan masakan ikan. Sayang di hari puasa, tidak ada yang buka. Siang itu kami hanya berkeliling rawa, melihat pemandangan dari berbagai sudut.

Rupanya Roy jatuh cinta dengan pemandang itu, hingga bertekad untuk datang lagi besok untuk melihat kegiatan disana yang konon kalau pagi ada banyak pedangan gerabah bersepeda berurutan membawa dagangan ke kota. Pasti pemandangan yang indah.

Maka malam itu, kami sepakat untuk berangkat pagi-pagi Jam 4. Tapi, tidak perlu kaget kalau akhirnya kami berangkat jam 5.30, karena ketiduran. Namun begitu kami tetap semangat.
Rowo Jombor, dipagi hari. Dipenuhi kabut dan udara masih dingin. Matahari muncul pelan menembus kabut... cantik. Bangunan bernuansa abu-abu memberikan pemandangan yang asing, seperti berada di suatu tempat yang belum pernah aku kunjungi. Walaupun para pedagang gerabah sudah tidak terlihat lagi, tapi pemandangan di sekitar sangat indah.






Puas mengabadikan pemandangan, kami diusik rasa lapar. Pilihannya adalah soto mbok Dele yang cukup terkenal di Klaten. Perjalanan sengaja dilewatkan dari desa ke desa, menikmati pemandangan yang tidak biasa di kota. Hal yang mungkin biasa bagi kami, menjadi tidak biasa bagi Roy dan Wida.

Terbukti, ketika kami menikmati soto mbok Dele, Roy sibuk mengabadikan dapurnya yang tradisional. Dengan perapian dari kayu, dan asap mengepul alami menyusup sela-sela lobang di atasnya.
Aku bukan seseorang yang pintar mengambil gambar. Tapi melihat hasil bidikan lensanya membuatku heran. Betapa indahnya hal-hal yang dilihat biasa sehari-hari. Selalu ada keindahan di balik setiap pemandangan yang diambil hanya dalam frame yang kecil.

inilah yang membuat soto mbok Dele laris!
Mungkin justru karena mata kita mampu menangkap lebih luas dan lebar, hal-hal kecil tidak terperhatikan.
Seperti halnya hidup ini. Semakin luas dan lebar kita memandang hidup, kita bisa melupakan hal-hal kecil yang sebetulnya indah dan pantas disyukuri setiap waktu.
Trimakasih Roy dan Wida yang sudah berkunjung. Dalam perjalanan singkat aku belajar melihat hidup dengan rangka yang lebih kecil dan melihat keindahan di baliknya.

NB: foto-foto Roy Husada.

Thursday, July 10, 2014

The Power of "yo wis"

Butuh latihan hidup untuk bisa mengucapkan kata "yo wis" dengan ikhlas. Setelah itu baru kita menggunakan kacamata positif untuk memandang semua situasi untuk mencari jalan keluar ke depan.

Bulan lalu, saudaraku mengatakan kalau tempat dimana aku menggunakan lokasinya untuk kantor dan gudang akan dipakai untuk usaha jahitan. Kantor terpaksa aku pindahkan ke lokasinya karena kantor lamaku kupakai untuk tinggal setelah rumah di Jogya aku jual.
3, 5 tahun sudah aku tinggal disini dan menjadikan tempat ini zona nyamanku. Ke workshop tinggal buka pintu. Nungguin kerjaan bisa 24 jam.

Awalnya kami terkejut juga, karena rencana membangun usaha jahitan akan dimualai 2 minggu lagi. Sebetulnya kami masih diijinkan untuk menempati lokasi lain, tapi gudang tidak punya tempat lagi. Perubahan selalu membuat kepanikan. Lalu, tergoda untuk berpikir yang tidak-tidak. Wah kenapa begini dan kenapa begitu.
Baiklah... yo wis.. ayo kita pakai kacamata positif.


Pertama ini hak mereka kalau mau dipakai untuk usaha barunya. Toh mereka sudah bermurah hati untuk membiarkan kami memakainya selama 3,5 th.
Lalu, apa solusinya? aku harus pindah, mencari kontrakan rumah. Dimana? kami ingin di dekat tanah kami di sebelah selatan workshop kami, kira-kira 3 km. Kenapa disana? ya karena tanah tersebut rencana untuk perluasan usaha kami, jadi sekalian saja mencari rumah yang dekat dengan tanah tersebut, supaya besok kalau kami membangun usaha disitu tidak jauh tempatnya.
Kami sepakat dan siang itu setelah makan siang, kami mampir ke tanah tersebut sekaligus mencari rumah yang dikontrakkan.

Tuhan sungguh Maha Besar. Bagaikan melihat mukjijat, ketika kami berhenti di depan tanah kami, ternyata di seberang jalan ada rumah dengan tulisan besar DIKONTRAKAN berikut no HP. Bagaikan melihat jalan lapang di depan, kami segera menghubungi. Terjadilah kesepakatan kapan kami bisa bertemu untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut.

Tiga hari kemudian. kunci sudah di tangan. Segala waktu yang ada kami gunakan untuk membersihkan rumah tersebut. Ternyata rumah itu luas. Dua lantai. Bagian bawah bisa kami gunakan untuk garasi dan gudang. Cukup besar untuk memindahkan isi gudang kami. Lantai atas untuk rumah tinggal kami.
Sungguh ajaib. Semua seperti sudah disedikan bagi kami.

Dalam waktu seminggu, tempat tinggal sementaraku di tengah workshop sudah berpindah ke rumah baru. Dan kantor kami pindahkan ke kamarku. Semua pas dan tepat waktu.

Rumah tinggalku sekarang menjadi zona nyamanku yang baru. Ruangannya cukup luas untuk ditata kembali. Setiap sudut memiliki ciri khas masing-masing. Dan tempat paling nyaman buatku adalah tempat tidur di depan TV. Disebelahnya ada rak berisi penuh dengan benang dan berbagai buku renda. Disinilah surgaku. Tempat aku menonton TV sambil merenda. Atau TV yang ganti menontonku karena aku ketiduran di depannya hehehe....

Ada balkon tempat kami biasa ngopi di pagi dan sore hari. Bila bulan purnama tiba, muncullah dia dibalik cakrawala, dan dedauan di depanku. Cantik.

tempat ngopi menanti senja hari
 Pada dasarnya, manusia selalu terusik oleh perubahan. Sangat manusiawi juga kalau kita bereaksi terhadap hal tersebut. Kecewa, sedih, marah dll. Tapi reaksi semacam ini tidak boleh berlangsung lama, apalagi mengambil tindakan di saat situasi hati belum tenang. Terimalah. YO WIS. dan pikirkan jalan keluar dengan pikiran yang jernih dan hati yang bersih. Pasti jalan keluar akan kita dapatkan.

YO WIS, adalah sikap menerima dengan ikhlas, tanpa syarat.

Saudara yang akan membangun usaha jahitan, heran melihat kami dengan cepat menyelesaian masalah kami. Kami juga terlihat gembira tanpa mengeluh apa pun. Semua berjalan lancar. Bahkan pada akhirnya dia menyesal membuat rencana tersebut hingga membuat dia kehilangan kami karena tidak lagi tinggal di workshop.
Hidup adalah pilihan. Apa pun pilihan kita selalu ada resiko yang mengikuti. Tidak semua rencana bisa terlaksana seperti yang kita harapkan. Masing-masing membuat pilihan dan masing-masing harus mau menerima resikonya.

Hidup itu indah, ketika menggunakan kacamata positif untuk memandangnya. Berkahnya muncul dalam setiap peristiwa dan setiap hal yang kita hadapi. Itulah sebabnya rencanaNya selalu indah. Dan YO WIS menjadi kekuatan kita untuk melangkah maju.

indah pada waktunya

Tuesday, July 8, 2014

Lengan panjangmu... Bapak....

Dini hari jam 01.15, 6 Juli 2014, aku terbangun oleh dering suara HPku. Setengah sadar aku mengangkatnya. Nama Emmy, putri tertua bapak Gadi Djou muncul di layar. Ketika gambar telpon kutekan, langsung kudengar suaranya menyusul kata "hallo" ku. "Mbak.. ke Jogya ya... bapak sudah pulang" dengan suara bergetar menahan tangis. Hah... kaget!... dan aku cuma bisa bilang "ya..ya..ya". Emmy masih di Maumere. Yang mendampingi bapak hanya kedua adiknya dan mama.

Masih bingung dan tidak tahu berbuat apa, aku mulai terbangun dan mencoba membuat rencana untuk ke Jogya. Sebentar kemudian, putrinya yang di Belanda menelpon, memastikan aku sudah mendengar berita ini atau belum. Ternyata Bapak meninggal pukul 23. 30, 5 Juli 2014. Tepat sebulan setelah merayakan ulang tahun perkawinan yang ke 49.

Setelah kesadaran pulih, dan mata benar-benar melek, aku mulai bangun dan menyiapkan sahur untuk kakakku yang kebetulan menginap di rumah. Setelah itu aku tidak tidur lagi, dan menyiapkan diri untuk berangkat ke Jogya. Karena aku harus membawa mobil sendiri, maka kakaku perempuan berkenan menemani.
Akhirnya, pukul 4 pagi kami berangkat dari Wedi-Klaten ke Rumah Duka Pantirapih Jogyakarta. Jalanan sepi, hingga pukul 4.45 kami sudah tiba. Mama baru saja pulang ke rumah untuk istirahat dan berganti pakaian. Di sana hanya kedua putra dan menantunya.
Bapak masih di ruang jenazah dengan jas tenun Flores seperti tidur nyenyak, masih menunggu suntik formalin, karena masih akan dibawa ke Ende Flores, dan rencana baru hari Selasa, 8 Juli dimakamkan.
Baru kali ini aku tidak merasa takut dan canggung berada disamping jenasah.
Tangannya berkaus tangan putih. Ketika kupegang masih lemas. Aku genggam dengan pelan. Rasanya seperti aku hanya menunggui bapak tidur.
Aku tidak merasa ditinggalkan.
Ketika Bapak sudah di tidurkan dalam petinya yang putih indah... aku memasang bunga-bunga anggrek di dalamnya. Sebentar kusapa "maaf ya bapak, aku pasang bunga disini..." sambil kupasang persis di atas kepala beliau.

Hari itu, Bapak Gadi Djou masih ditempatkan di rumah duka, karena keluarga tidak berhasil untuk mendapatkan pesawat untuk membawanya ke Ende Flores.

7 Juli 2014, pukul 8.00 seluruh keluarga (18 orang) bersama Bapak, berangkat ke Denpasar, untuk kemudian dengan pesawat khusus keluarga terbang ke Ende - Flores.
Di Bandara Adisucipto, semua sudah berkumpul sejak pukul 6 pagi, karena harus mengurus ini itu yang cukup banyak dan ribet juga.

Sambil menunggu jam keberangkatan, kami semua berkumpul di restorant Bandara untuk sarapan. Aku melihat sebuah pemandangan yang luar biasa indah. Disinilah, kami berkumpul selayaknya satu saudara. Tidak ada perbedaan status, apalagi RAS. Aku melihat kami semua makan dan minum bersama-sama. Sulit bagiku untuk mengingat mereka satu persatu, walaupun aku pernah tinggal di Ende 3 minggu lamanya. Mereka biasa makan bersama, comot ini itu, cicip ini itu. Semua saudara, benar-benar satu saudara. Aku dan bapak tidak ada ikatan darah sama sekali. Kami hanya bertetangga ketika aku masih tinggal di Jogya. Tapi bapak memperlakukan aku seperti anaknya sendiri.

Aku merasakan keindahan luar biasa yang ditinggalkan bapak. Benar-benar warisan persaudaraan yang tulus, penuh kasih. Bapak seperti punya lengan yang sangat panjang dan kuat untuk merengkuh kami semua. Dalam satu dekapan persaudaraan yang erat, penuh kasih, perhatian, dan juga ketulusan.

Bapak adalah sosok yang tegas, kuat, berwibawa, keras dalam menghadapi segala sesuatu. Tapi beliau memiliki hati yang sangat lembut hingga membuat dia sering meneteskan air mata. Kelembutan hatinya membuat dia banyak berbuat orang lain.
Beliau adalah pendiri Universitas Flores di Ende. Ketika aku berkunjung ke Ende, beliau mengajakku berkeliling, melihat karyanya semasa beliau menjabat Bupati Ende dalam 2 periode. Bangunan, jembatan dan jalan-jalan. Juga ke Universitas Flores yang megah di atas bukit. Sangat nyaman untuk belajar mahasiswa. Dan beliau lebih senang dan bangga dengan universitasnya "...sekarang bapak membangun manusia..."

Selamat jalan bapak. Kepergianmu begitu tenang dan damai. Bagaikan tidur abadi yang membawamu pulang ke rumah Bapa di Surga.

Terimakasih Tuhan, telah menghadirkan Bapak dalam kehidupanku. Beliau selalu ada dalam suka-dukanya hidupku. Dalam situasi kritis, beliaulah yang datang membantu. Tulus, tanpa pamrih apa pun.... bahkan sebuah ucapan "terimakasih".
tangan Tuhan menyambutmu, bapak