Pages

Friday, March 29, 2019

10.254 miles, 22 states, in 63 days

14. "I'm not deaf"
kurang lebih seperti ini gambaran di ICU
Kenangan akan Daniel benar-benar membangkitkan kembali ingatan Yongkie di tahun 1987 ketika harus operasi tumor di dada. Dia harus menjalani prosedur yang panjang, berbagai pemeriksaan yang membosankan, hingga operasi yang harus dilalui 6 sampai 7 jam. Untunglah dokter menyatakan 95% tumor bisa diangkat dengan sukses. Yang 5% kecil sekali sehingga tidak mungkin dihilangkan dengan cara operasi. Satu-satunya jalan hanya dengan kemoterapi.
Setelah operasi dan sadar kembali yang diingatnya dia berada di ruang ICU dengan berbagai alat dan tabung yang bergantungan di tubuhnya yang kurus. Kabel berseliweran untuk memantau detak jantungnya di monitor. Rasanya seperti monster yang dihidupkan dengan alat-alat teknologi modern.
Dimulutnya ada pipa yang menjadi alat bantu pernafasan hingga membuatnya tidak bisa berbicara. Hanya bisa mengangguk dan menggeleng kalau perawat menanyakan sesuatu. Pasti pertanyaan yang mudah untuk dijawab dengan ya dan tidak.
Malam itu Pokie datang menjenguk. Ekspresi wajahnya langsung kelihatan campuran panik dan tegang. Tapi Pokie wanita yang tangguh dan kuat. Dia tidak menangis.
Untuk berkomunikasi Yongkie diberi papan tulis kecil dan spidol, sehingga dia bisa menyampaikan keinginannya. Ketika Pokie ada di dekatnya, Yongkie mengambil papan kecil dan menulis dengan perlahan, supaya Pokie bisa membaca tulisannya dan kemudian diberikannya ke dia. Pokie membacanya. Yongkie melihat Pokie menuliskan sesuatu di papan kecil itu. Oh... my... gosh.. batin Yongkie. Dengan lugunya Pokie menunjukkan jawaban yang dia tulis di papan tersebut ke Yongkie.
Yongkie mengambil lagi dan menuliskan dengan huruf kapital semua. I AM NOT DEAF
Pokie tertawa ngakak sampai terdengar di luar kamar, sehingga perawat masuk dengan tergesa-gesa, "is everything ok?" tanyanya.
Bahkan dalam situasi kritis mereka masih bisa tertawa. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan.

"I am not deaf at that time, but now my right ear is deaf" cerita Yongkie. Lhoh... kok bisa?

14 tahun kemudian th 2011, Yongkie harus menjalani operasi lagi karena ada tumor di telinga kanannya."This is the lowest point in my life" cerita Yongkie mengenang.
Operasi di telinga yang menjadi bagian dari kepala bisa dipastikan akan mempengaruhi seluruh tubuh. Dia harus tinggal di rumah sakit lebih dari satu bulan. Ketika operasi pertama selesai ternyata diketahui ada infeksi di bagian operasi tersebut, sehingga harus dilakukan operasi kedua. Itu berarti harus membuka kembali batok kepalanya untuk membersihkan infeksi. Selanjutnya, selama 3 minggu harus mengkonsumsi antibiotik yang membuatnya harus berada di tempat tidur lebih dari satu bulan. Akibatnya dia tidak bisa berjalan. Otot kaki menjadi lemah dan keseimbangannya hilang.
Sejak itu, Yongkie kehilangan pendengaran telinga sebelah kanan, 100% hilang.

belajar melangkah seperti penguin
Pemulihan di rumah membuat dia tidak bisa bekerja sekitar tiga bulan. Pelan-pelan dia belajar berjalan lagi dengan menggunakan alat bantu berjalan. Satu di lantai atas, satu di lantai bawah.
Berjalan dari lantai atas ke lantai bawah merupakan perjuangan besar. Dulu, berjalan seperti hal normal yang bisa dilakukan tanpa berpikir. Asal melangkah saja. Sekarang, baru disadari kalau kita berjalan ternyata ada tekniknya. Yongkie belajar berjalan seperti anak kecil lagi.
Ada terapis yang melatihnya di rumah. Dia harus kembali belajar bagaimana harus menyeimbangkan tubuh dengan membiarkan berat badan bertumpu di kaki kiri, ketika kaki kanan melangkah. Demikian sebaliknya.
"ooo... ngono tho.." cerita Yongkie sambil tertawa, mengenang saat itu. Dia menggambarkannya seperti penguin kalau berjalan. Dengan melebarkan kaki dan maju selangkah demi selangkah dengan kaki bergantian. Semangat untuk bisa berjalan lagi tidak pernah pudar. Setiap kali melangkah dia menyemangati diri dengan "I can walk... I can walk".


RV park Bellingham, "rumah sementara" Fred dan Lynn
Bersyukur sekali pada tahun 2006, 5 tahun sebelumnya, mereka melakukan perjalanan ke Alaska, yang mempertemukan Yongkie dengan Fred dan Lynn. Lynn memberikan pelajaran berharga tentang NO REGRET. Waktu itu secara kebetulan mereka parkir bersebelahan di RV park Bellingham, Washington (negara bagian, bukan Washington DC) dalam perjalanan ke Alaska. Keingintahuan Yongkie melihat ada tabung LPG besar di luar dekat RV di sebelahnya, menjadi awal perkenalan mereka dengan Fred dan Lynn. Tabung LPG diperlukan karena mereka akan tinggal lama di RV park. Mereka berasal dari dari Tucson, Arizona. Setiap musim panas Fred mengajak Lynn ke daerah utara, untuk mencari udara yang lebih segar. Untuk itu dia harus menempuh perjalanan 1700 miles. RV park Bellingham menjadi "rumah sementara" mereka untuk menghindari musim panas di Tucson. Lynn duduk di kursi roda. Ketika Yongkie menyalaminya, dia hanya tersenyum. Ternyata tangan dan kaki Lynn lumpuh. Tenggorokan Yongkie tercekat hingga hanya terdiam. Kaget dan menyesal. Fred benar-benar menjadi penopang aktivitas Lynn sehari-hari.
Fred dan Lynn tidak bermaksud menuju ke Alaska. Maka dia minta Yongkie dan Pokie menceritakan perjalanan mereka. Di tahun tersebut sudah ada internet, jadi Yongkie bisa mengirimkan foto-foto selama perjalanan ke Alaska. Foto-fotonya bisa di nikmati di sini http://www.yongkieandpokie.com/alaska/.


Tahun 2007 mereka menyempatkan diri untuk memenuhi undangan makan malam Fred. Dalam kesempatan ini Lynn membagikan falsafah hidupnya yang memberi kekuatan luar biasa di saat Yongkie berada di tingkat terendah dalam hidupnya tahun 2011, yaitu kehilangan pendengaran dan harus belajar berjalan lagi.

Dulu, Lynn wanita yang sangat aktif. Berkeliling ke Jepang juga Eropa untuk membeli barang-barang seperti pakaian dan perhiasan untuk dijual di Amerika. Sambil bercerita, Fred menyuapinya dengan makanan kesukaannya dan sesekali minum lewat sedotan yang disodorkan Fred dengan penuh kasih dan kesabaran. 
Lynn menasehati Yongkie dan Pokie untuk melakukan segala sesuatu yang mereka sukai. Jangan ditunda, supaya tidak menyesal dan hanya bisa mengeluh "I should do this, I should do that, we should go here or there... etc". Penyesalan kemudian tidak berguna, karena kita tidak bisa kembali ke masa lalu. NO REGRETS, terpateri dalam benak Yongkie.
Lynn sudah melakukan banyak perjalanan dalam hidupnya. Juga menjalani kehidupan yang sangat indah bersama Fred. Cinta yang tulus dan murni tercermin dari bagaimana mereka menjalani hidup dengan kondisi Lynn sekarang. Mereka tetap berpergian dan menikmati dengan rasa syukur dan bahagia. Apa yang terjadi dengan dirinya sekarang tidak pernah disesalinya karena dia sudah melakukan semua yang dia inginkan. Lynn meninggal dunia sehari setelah Natal 2011. Untuk mengenang Fred dan Lynn bisa dilihat di http://www.yongkieandpokie.com/2011/lyn.html
Sepeninggal Lynn, Fred pindah ke Lafayette, Indiana. Tahun 2014 ketika Yongkie dan Pokie naik kereta Amtrak ke Chicago, perjalanan berlanjut ke Lafayette mengunjungi Fred. Kenangan kunjungan ke rumah Fred dapat dilihat di http://www.yongkieandpokie.com/chicago/fred

Apalah artinya kehilangan pendengaran yang ternyata tidak berdampak apa pun dalam kehidupan selanjutnya. Bahkan telinga kirinya menjadi lebih peka sehingga tidak ada masalah sama sekali. Dengan ketekunan dan semangat luar biasa,  akhirnya Yongkie bisa berjalan lagi. Berkat semangat dari Lynn, maka perjalanan terus dilakukan. Kemana pun mereka suka dan bisa dilaksanakan, maka mereka akan mewujudkannya.


Lalu, kembali ke tahun 1988. Kemana mereka meneruskan perjalanan setelah tinggal seminggu lebih di rumah Daniel dan Kimmy di Washingtong DC?


Bersambung

Thursday, March 28, 2019

10.254 miles, 22 states, in 63 days

13. "I print your one year salary in just minutes"


Foto ini saya ambil di internet
Uang selalu membuat kita penasaran darimana asalnya. Kebetulan Washington DC menjadi tempat pencetakan uang, namanya
Bureau of Engraving and Printing (BEP). BEP bertanggungjawab atas design dan percetakan mata uang di Amerika. Di tahun 1862, BEP mulai beroperasi mencetak uang dollar dengan proses yang sangat sederhana di Washington, DC. Pada tahun 1991, Pabrik uang dollar Amerika yang kedua dibangun di Fort Worth,Texas. 
Ini menjadi tempat favorite kunjungan mereka. Walaupun terbuka untuk umum, namun banyak sekali peraturan yang harus di taati. Yang sudah pasti tidak boleh membawa kamera dan video. Tour melihat bagaimana US dollar dicetak tidak bisa diabadikan. Bahkan untuk kelengkapan proses pencetakan uang,  mereka hanya bisa melihat melalui video.

"I print your one year salary in just minutes", tulisan ini ada di dekat mesin cetak. Tergantung gajinya setahun berapa, bisa jadi hitungan detik, atau beberapa menit untuk yang penghasilannya tinggi. Yang jelas keamanan untuk mencetak uang ini sangat ketat. Petugas yang mencetakpun sudah tentu tidak bisa mencetak untuk dirinya sendiri... hahaha. Apa nggak stress ya, melihat uang begitu banyak yang menjadi kebutuhan seluruh negara Amerika? sementara dia harus menunggu satu tahun untuk mendapatkan uang yang dicetak hanya dalam beberapa menit saja.

Seminggu lebih di Washington DC membuat mereka bisa berkunjung ke berbagai tempat bersejarah. Yang paling sulit menggambarkan Museum Smithsonian yang terdiri dari 19 museum dan galeri serta Taman Zoologi Nasional. 17 dari koleksi ini berada di Washington D.C., dengan sebelas di antaranya berada di National Mall. Sisanya berada di New York City dan Chantilly, Virginia.


The White House, cukup dari luar saja
Capitol Hill
lebih dari 58.000 nama korban perang Vietman
tertulis dalam tembok ini
Makam JF. Kennedy

Tinggal di rumah Daniel dan Kimmy benar-benar menjadi kenangan indah yang tak terlupakan. 20 tahun kemudian, di th 2008 mereka mendengar Daniel sakit. Maka Yongkie menyempatkan berkunjung kembali ke Washington DC bersama dengan Monique dan Martin suaminya. Monique adalah teman satu SMA juga dan tinggal di New Jersey. Waktu itu Pokie tidak ikut karena sedang berkunjung ke Indonesia. Pertemuan dengan Daniel dan Kimmy bisa dilihat di 
www.yongkieandpokie.com/eastcoast/ec1.html

Sayang sekali, pertemuan di tahun 2008 tersebut menjadi pertemuan terakhir dengan Daniel. Daniel dipanggil Tuhan dan dibebaskan dari sakit yang dideritanya 18 bulan. Kenangan kepergian Daniel bisa di lihat di disini  http://www.yongkieandpokie.com/dan

Kisah kepergian Daniel membangkitkan lagi kenangan Yongkie ketika dia harus menjalani operasi tumor di dada tahun 1987. Yang akhirnya membuat dia membuat kaul mengunjungi seluruh negara bagian USA. Ada kisah yang lucu tapi juga kisah yang membuat dia merasa ada di titik terendah dalam hidupnya ketika harus menjalani operasi tumor lagi di tahun 2011. Kali ini tumornya ada di telinga sebelah kanan. 

Bersambung



Tuesday, March 26, 2019

10.254 miles, 22 states, in 63 days

12. Mommy Dee

Philadelphia ke Lewistown
Tinggal di negeri orang bukan hal yang mudah. Jauh dari keluarga dan sering merasa kesepian. Menemukan keluarga baru menjadi suatu hal yang sangat berharga. Ketika mereka membuka toko sandwich, tersedia juga hot dog, ice cream dan minuman soda. Ada pelanggan, wanita setengah baya bernama Dee. Kalau datang selalu memesan jumbo hot dog dan diet coke. Setiap datang tidak hanya sekedar makan dan minum, tapi juga mengobrol. Seringnya bertemu dan saling bercerita membuat mereka semakin akrab. Yongkie dan Pokie memanggilnya "mommy Dee", karena rasanya aneh sebagai orang timur kalau memanggil orang yang lebih tua hanya dengan menyebut namanya saja, walaupun ini hal biasa bagi mereka. Sementara mommy Dee menganggap mereka sebagai "chinese kids" nya. Mereka sering diundang untuk perayaan Thanks Giving dan Christmas dirumahnya.

Orangtua Mommy Dee tinggal di Lewistown yang masih di negara bagian Pensylvania. Untuk itu mereka harus kembali ke utara lagi menempuh 163 miles. Tapi mereka sudah berjanji untuk berkunjung ke orangtua mommy Dee yang mereka anggap sebagai adopted grandma and grandpa. Selain itu menjadi kehormatan bagi mereka yang diundang ke pertemuan keluarga besar mommy Dee.
Mereka disambut dengan sikap kekeluargaan yang hangat dan ramah. Disini, Yongkie dan Pokie menginap dua malam yang membuat mereka semakin mengenal keluarga besar mommy Dee.
Sayang sekali foto pertemuan dengan keluarga besar mommy Dee tidak berhasil ditemukan. Hanya ada foto bersama grandma dan grandpa.

Masih ada bekas luka operasi di dada Yongkie
adopted grandpa and grandma


Lewistown - Washington
Bahagia memiliki keluarga baru, hingga rasanya masih ingin tinggal, tapi perjalanan mereka masih panjang. Kembali ke arah selatan menuju Washington DC. Ada keluarga baru yang ingin dikunjungi. Keluarga Daniel dan Kimmy. Mereka berdua teman SMA di Semarang. Sudah 10 tahun mereka tidak bertemu. Waktu itu mereka baru dikaruniai putra pertama yaitu Jonathan. 
Kembali tinggal bersama sebuah keluarga, memberi suasana baru yang menyegarkan. Setidaknya libur tidur di tent trailer. Semula mereka berencana untuk tinggal 3 malam di rumah mereka. Tapi Daniel mengatakan kalau di Washington DC banyak tempat yang layak untuk dikunjungi, seperti Bureau of Engraving and printing, The Smithsonian Museums, Lincoln Memorial, The White House, Vietnam Memorial, Makam JF. Kennedy dan The Capitol Hills. 
Begitu banyaknya tempat yang ingin dikunjungi, hingga akhirnya mereka tinggal di rumah Daniel dan Kimmy lebih dari seminggu. 


Pokie, kakak Daniel, Kimmy, baby Jonathan,
Daniel dan Yongkie.
"no Kimmy... he is not my son" kata Yongkie
Setelah bertemu keluarga besar mommy Dee di Lewistown dan berkumpul teman lama lebih dari seminggu semakin membuat mereka merasa memiliki keluarga lagi. Keluarga bukan hanya yang sedarah dan sedaging, tapi semua orang yang menerima kita dengan tangan terbuka dan ketulusan hati.

Bersambung

Sunday, March 24, 2019

10.254 miles, 22 states, in 63 days

11. Surprise untuk Pokie.


Buckeley Lake, Ohio ke Niagara Falls, NY

Setelah semalam menginap di Buckeye Lake,  Ohio, keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan ke Niagara Falls yang masuk ke negara bagian New York. Niagara Falls adalah nama air terjun yang juga menjadi batas internasional antara provinsi Ontario, Canada dengan negara bagian New York, US.


Ketika tiba di negara bagian New York, Yongkie ke Visitors Center untuk menanyakan beberapa hal, maklum belum ada internet. Ketika masuk ke ruangan, hanya ada beberapa orang yang antri, sehingga dia segera mendapatkan giliran. Sapaannya sungguh mengagetkan,
“Next....what do you need!”
Astaga!. Apa nggak ada kalimat yang lebih ramah ya? seperti,
"Hi.. how are you today? can I help you?" toh antrian nggak banyak. Sedikit beramah tamah, apa salahnya. Yongkie menggerutu dalam hati. Tapi kemudian menyadari kalau dia bukan di negara bagian selatan lagi. Rasanya rindu dengan keramahtamahan negara bagian selatan.

Setelah membuka tent trailer, mereka bersantai menikmati pemandangan di sekitar. Tujuan ke negara bagian New York yang sangat ingin dilihat adalah Niagara Falls yang sangat terkenal. Walaupun tadi sedikit kecewa dengan sambutan di visitors center, tapi harus stay positive. Yongkie ingin membuat kejutan untuk Pokie dengan mengajaknya makan malam di Canada. Karena Niagara Falls menjadi bagian dari Amerika dan Canada, maka hanya tinggal menyeberang mereka sudah bisa merasakan makan malam di Canada. Keren khan!?
Siang itu Yongkie minta Pokie untuk tidak menyiapkan makan malam. 
"mau makan malam dimana?" tanya Pokie
"surprise!" jawab Yongkie sambil senyum-senyum membayangkan makan malam di Canada, yang hanya tinggal 25 miles saja.

Setelah mandi mereka mengendarai mobil, dan meninggalkan tent trailer di RV Park. Mereka menuju jalan yang menghubungkan Amerika dan Canada. Hingga sampai di tempat check point untuk pemeriksaan imigrasi, ada polisi yang meminta mereka untuk turun dari mobil.
Mereka turun dan mendekati jendela untuk menunjukkan green card kepada petugas imigrasi di balik loket. Mereka masing-masing menyodorkan green card.
Setelah memeriksa green card, polisi itu berkata,
"welcome to Canada, but you're not!" sambil tangannya menunjuk ke Yongkie.
Yongkie tidak boleh masuk ke Canada, tapi Pokie boleh. Lhoh.. kok bisa??
Ternyata mereka tidak bisa menerima temporary green card milik Yongkie.
Akhirnya, dengan menggerutu mereka berdua kembali ke Amerika dan malam itu menikmati makan malam di McDonald terdekat. Gagal bikin surprise Pokie.

di kapal Maid of the Mist
Keesokan harinya baru mereka berkunjung ke Niagara Falls. Menaiki kapal Maid of the Mist. Kapal ini mengarungi sungai sekitar air terjun Niagara. Benar-benar bisa menikmati air terjun dari dekat. Bisa dibayangkan pasti basah kuyup. Masing-masing penumpang memakai jas hujan warna biru yang disediakan kapal. Jas hujannya waktu itu bukan model yang sekali pakai, jadi bisa dibayangkan bagaimana baunya.
Kedatangan ke Niagara Falls berawal dari sapaan yang kurang ramah di visitors center, kecewa karena tidak bisa makan malam di Canada, dan tour dengan kapal Maid of the Mist juga bukan sesuatu yang menyenangkan. 
Pengalaman ini justru membuat mereka ingin suatu waktu mengulangi lagi. NEVER STOP DREAMING!.
Setelah 27 tahun, harapan ini bisa terpenuhi. 13 September 2015 mereka berhasil mengunjungi Niagara Falls di Canada. Memenuhi surprise makan malam untuk Pokie yang tertunda 27 tahun. Dan kali ini, ketika mereka menaiki kapal Maid of the Mist sekali lagi, jas hujannya sudah sekali pakai. Tiap penumpang selalu mendapat baru. Pengalaman indah kali ini dilengkapi dengan foto digital yang diambil dengan kepiawaian Yongkie dalam mengabadikannya. Semua bisa dinikmati di http://www.yongkieandpokie.com/toronto/niagara.html

Dari Niagara Falls, New York, mereka melanjutkan perjalanan ke Philadelphia, negara bagian Pennsylvania. Jalanan datar, tapi berkelok-kelok dengan pemandangan hijaunya pepohonan di kanan kiri. Cukup memberikan pemandangan indah sepanjang perjalanan 414 miles hingga Philadelphia.

Kesukaan Yongkie pada kereta api membuat mereka beristirahat sebentar di Strasburg. Kenapa sih, Yongkie suka banget kereta api? Lalu dia bercerita, waktu kecil dulu tinggal di Semarang, rumahnya dekat dengan Stasiun Kereta Api Poncol. Ada kebiasaan kalau makan selalu diajak ke stasiun sambil lihat kereta api. Lama-lama dia tidak mau makan kalau tidak diajak ke stasiun melihat kereta api. Kereta api menjadi kecintaannya hingga sekarang. Dimanapun dia berada selalu menyempatkan diri melihat kereta api. Yang luar biasa, Yongkie membangun stasiun Poncol sendiri untuk mengenang masa kecilnya. Bisa dilihat disini http://www.yongkieandpokie.com/poncol/poncol.html

Banyak orang bilang love yourself"I do love myself," batin Yongkie,  maka di saat pensiun dan ulangtahun ke 55 dia menghadiahi diri sendiri untuk pergi ke Chicago, naik kereta api. Sepertinya sepele, tapi naik kereta selama 2 malam 3 hari (17-19 Mei 2015) itu hadiah terindah yang sudah dirancang sejak ada Ulang tahun ke 40 Amtrak, kereta api antar negara bagian tahun 2011. Perayaan ulang tahun Amtrak ini membuat gairahnya untuk menjelajah negara bagian dengan naik kereta menjadi berkobar. Pilihan ke Chicago karena perjalanan kereta api ini paling panjang dan tidak berhenti. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dalam perjalanan ini mereka dengan tidak sengaja bertemu Hendrik Nangoi dan istrinya Rosa, teman SMA di Loyola Semarang. Kok bisa?? hanya Tuhan yang tahu. Karena mereka sama sekali tidak merencanakan pertemuan ini. 
Cerita dan foto selengkapnya bisa di klik disini http://www.yongkieandpokie.com/chicago/amtr

Strasberg, dimana ada kereta api,
 ada Yongkie
Jadi sekarang terjawab sudah mengapa banyak foto kereta api dalam perjalanan ini. Banyak pengalaman masa kecil yang menghilang begitu saja ketika sudah dewasa. Anehnya kecintaan Yongkie pada kereta api tidak pernah padam, bahkan semakin dihidupkan dari waktu ke waktu dengan mengikuti perkembangan kereta api hingga sekarang ini.
Kembali ke tahun 1988, akhirnya mereka tiba di Philadelphia. Menginap semalam di RV park, beristirahat setelah perjalanan panjang.

RV Park di Philadelphia, seperti di tengah hutan
Liberty Bell, Philadelphia
Keesokan harinya mereka mengunjungi Liberty Bell. Liberty Bell adalah lonceng besar dari tembaga yang melambangkan kemerdekaan USA. Diletakkan di Philadelpihia, Pennsylvania. Lonceng ini aslinya dibuat di London, Inggris 1752.
Terjadi keretakan ketika tiba dan dibunyikan pertama kali di Philadelphia. Usaha perbaikan dilakukan dua kali oleh pekerja lokal yatitu John Pass dan John Stow, yang namanya kemudian diukir pada permukaan lonceng.
Lonceng dulunya digunakan untuk memanggil anggota parlemen ke rapat legislatif dan untuk mengingatkan warga untuk pertemuan publik dan proklamasi. Liberty Bell benar-benar retak kembali dan tidak pernah dibunyikan lagi sejak February 1846. 

Tujuan ke Philadelphia sebenarnya untuk mengisi waktu, karena mereka nantinya akan kembali ke utara ke kota Lewistown, dimana mereka mendapatkan undangan untuk berkumpul dengan keluarga besar mommy Dee. Siapakah mommy Dee?

Bersambung

Friday, March 22, 2019

10.254 miles, 22 states, in 63 days

10. Every day is a good day
Kentucky ke Buckeye Lake, Ohio
Dari Kentucky ke Ohio 238 miles. Di Ohio waktu itu rasanya tidak ada tempat yang menarik untuk dikunjungi. Maka mereka memutuskan untuk menginap satu malam saja di RV park Buckeye Lake, sebelum melanjutkan ke Niagara Falls keesokan harinya.
Biasanya waktu yang dibutuhkan untuk membuka tent trailer lebih dari 40 menit. Dari melepaskan kaitannya di belakang mobil, hingga membukanya, dan siap dipakai.
Mereka baru tiba di Ohio menjelang sore. Langit mulai gelap karena mendung, maka diputuskan untuk segera menuju camping ground Buckeye Lake sebelum gelap. 
Setelah membayar biaya menginap semalam, mereka segera menuju ke tempat yang ditunjukkan petugas. Tiba-tiba hanya dalam waktu beberapa menit, langit semakin gelap. Cepat sekali. Masih terkejut melihat suasana yang tiba-tiba menjadi kelam, mereka dikejutkan dengan serangan tentara... NYAMUK!.

Armada nyamuk menyerang dengan membabi buta. Rasa terkejut berubah menjadi panik. Mereka harus segera membuka tent trailer!.
Ya Tuhan!... tanpa ba bi bu lagi, dengan kecepatan luar biasa mereka segera membuka tent trailer, tanpa melepaskan kaitannya dengan mobil. Yang satu mengangkat sisi tempat tidur, yang satunya meletakkan penyangganya. 10 menit, DONE!!.
Mereka segera masuk ke dalam dan congratulation! hahaha... rasanya seperti berlomba dan baru saja melewati garis finish!. 
Bersyukur sekali, saat itu mereka sudah memiliki tent trailer. Tidak terbayangkan kalau mereka masih tidur di tenda. 


Mengenang kembali perjalanan di negara bagian selatan seperti Arkansas, Tennessee dan Kentucky, mereka tersanjung mendapat panggilan "sir" dan "mam". Juga sikap jujur, tulus dan baik hati yang akan terus mereka kenang. Seandainya waktu itu ditanya, apakah ingin pindah ke Tennessee pasti akan dijawab YA! tanpa pikir panjang lagi. Rasanya nyaman tinggal bersama orang-orang yang sangat sopan dan saling membantu. 

Jalan hidup memang tidak bisa diramalkan. Sekembalinya nanti dari perjalanan panjang ke 22 negara bagian, Yongkie mendapatkan pekerjaan di sebuah Bank. 
Maka dia mengambil kursus accounting. Kalau setiap hari Jumat orang biasa mengatakan "have a nice weekend", dia pergi kursus accounting hingga menjadi Financial Analyst.
20 tahun tinggal di Los Angeles yang penuh sesak dan sibuk membuat mereka jengah, dan pada th 1998 mereka memutuskan untuk pindah ke Portland, Oregon.
Kaul untuk mengunjungi seluruh negara bagian Amerika melekat sepanjang hidup. Tahun 2003 mereka melakukan perjalanan pertama setelah pindah ke Portland yaitu ke Vancouver. Kisah perjalanan ini, sudah dengan persiapan lebih baik setelah berpengalaman menjelajah 22 negara pada tahun 1988. Kali ini mereka sudah memiliki RV (Recreation Vehicle). Dan 15 tahun cukup untuk mempersiapkan segala sesuatu dengan lebih baik. Foto perjalanan ke Vancouver bisa di klik 

Mengalami serangan nyamuk di Ohio mengingatkan pengalaman bertemu Bruce Morton dalam perjalanan ke Vancouver. Mereka bertemu ketika akan naik kapal.
Waktu itu Bruce Morton berusia 85 tahun. Dia bersama seorang wanita yang mereka pikir itu istrinya. "she is my girlfriend" kata Bruce sambil memperkenal CC, nama pacarnya.
Wow... sudah 85 tahun masih punya pacar. Menarik sekali bapak satu ini. Mereka jadi tertarik untuk berguru tentang kehidupan darinya. Bruce akhirnya mengundang untuk minum teh di rumahnya. Bruce Morton tinggal di Qualicum Beach, sebuah kota di Vancouver Island, Canada. Disanalah Yongkie dan Pokie mendapatkan pengalaman dan pembelajaran berharga falsafah hidup EVERYDAY IS A GOOD DAY.
Mereka terkesan sekali dengan kehidupan Bruce Morton dan kembali berkunjung pada tahun 2014. Kisah hidup Bruce akhirnya berhasil ditulis Yongkie di bawah ini.
Foto-fotonya bisa dinikmati dengan klik disini,
http://www.yongkieandpokie.com/olympic/bruce
Tahun 2015 mengunjungi ke rumah sakit karena Bruce Morton mengalami stroke. CC pacar Bruce sudah meninggal dunia di tahun 2012. Kali ini dia hanya ditemani anak perempuan dan cucunya. Foto-foto bisa di klik disini,

Everyday is a good day belum mereka pahami dalam perjalanan di tahun 1988. Namun telah mereka jalani dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tidak mempermasalahkan soal nyamuk, tapi justru bangga pada prestasi membuka tent trailer dalam waktu 10 menit!. Semangat inilah yang membekali mereka untuk perjalanan berikutnya menuju utara ke Niagara Falls. Walaupun banyak peristiwa tidak seperti yang mereka harapkan. Tapi Yongkie tetap ingin membuat surprise untuk Pokie.

Bersambung...

Wednesday, March 20, 2019

10.254 miles, 22 states, in 63 days

9. Alien di restoran




Dollywood-Kentucky 187 miles
Kalau mendengar Kentucky pasti langsung ingat ayam goreng. Memang asalnya dari Kentucky, hanya pusatnya di Louisville. Yongkie tidak berencana melewati Louisville, tapi lebih tertarik ke Homeplace. Tempat dimana kita bisa melihat dengan sesungguhnya kehidupan penduduk dimasa lalu. Begitu memasuki Kentucky terasa sekali perbedaan dengan mendengar logat mereka berbicara. Logat yang kental tidak biasa didengar dan sulit dipahami, walaupun Yongkie dan Pokie sudah tinggal di Los Angeles lebih dari 10 tahun. 

Rumah-rumah di Homeplace, yang mereka kunjungi menggambarkan kehidupan di tahun 1800, 1820 dan 1850. Tergambar dari bentuk rumah, mulai hanya dengan satu kamar, dua kamar hingga menjadi beberapa kamar. Kamar mandi letaknya di luar, oleh sebab itu disebut outhouse.

Setiap rumah diberi keterangan tahun berapa dibangun. Kita bisa masuk untuk melihat isi rumah dan juga penduduk yang berpakaian di jaman itu sedang beraktivitas. Bahkan di luar rumah juga ada kegiatan yang menggambarkan kehidupan sehari-hari. 
Ketika masuk ke rumah tahun 1850, disana ada beberapa wisatawan yang siap mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata. Pemandu wisata mulai menjelaskan bagaimana kehidupan mereka dan kegiatan apa yang mereka lakukan di dalam rumah. Mendengarkan logat bicaranya membuat otak terasa di remas-remas. Hingga 110% Yongkie dan Pokie berusaha untuk mendengarkan dan memahami apa yang dia jelaskan, tapi gagal. Ada perasaan sedih, bodoh dan malu karena tidak bisa mengikuti penjelasan pemandu wisata hingga rasanya sia-sia mengunjungi Homeplace. Atau memang inilah kenyataannya. Bukankah pengunjung diajak ke abad 18, sampai tidak paham bahasa keseharian mereka. Who knows?
Cuma bisa foto, tapi nggak paham apa yang dibicarakan
Mengasah peralatan
Pemandu wisata selesai menjalankan tugasnya mempresentasikan kehidupan di masa itu dan semua pengunjung keluar dari rumah yang kecil, meninggalkan penghuninya yang meneruskan kegiatan mereka di dalam rumah. 
Ada sepasang wisatawan kulit putih setengah baya mendatanginya dan bertanya,
“Son, did you understand what they were talking about?”
Secepatnya Yongkie menjawab  “I barely understand due to the thick accent!”
Kemudian yang pria datang lebih dekat dan berbisik,
“Son....don’t feel bad, I barely understand him either and I am from Boise, Idaho “
Mereka tidak bisa menahan tawa lagi. Benar-benar menggelikan. Tapi membuat mereka senasib dan tidak merasa malu dan bodoh lagi.

Sebutan "oriental people" bagi mereka ketika di negara bagian Tennessee terasa menyejukkan di hati. Semakin ke utara semakin beda pandangan orang terhadap wisatawan seperti mereka. Tidak semua tentunya, tapi ada beberapa orang yang membuat mereka tidak nyaman memasuki negara bagian Kentucky.
Cracker Barrel lunch

Cracker Barrel dishes
Mereka memasuki restoran Cracker Barrel Old Country Store, untuk menikmati  masakan yang sangat mereka sukai karena dimasak lama hingga bumbunya merasuk. Dan peralatan makannya unik dan cantik. Begitu memasuki ruangan banyak mata memandang. Sesaat mereka masih bisa menikmati ketika menjadi pusat perhatian, namun ketika pandangannya mulai aneh apalagi ketika mereka mulai duduk. Dari hanya sekedar berpaling, hingga ada yang menatap seakan melihat alien datang dari planet.
Walaupun tidak nyaman mereka mencoba menikmati hidangan lezat yang tersedia dan sesekali membalas tatapan mereka, untuk meyakinkan bahwa mereka manusia biasa, bukan alien!.

Tiba-tiba ada seorang wanita kulit putih yang mendatangi mereka dengan tersenyum. Rasanya aneh karena mereka tidak mengenali wanita ini dan baru saja mengalami menjadi alien di restoran.
"I saw you in Graceland a few days ago" katanya wanita itu masih dengan senyum ramah.
Terimakasih Tuhan, ternyata ada yang menyadari kalau mereka manusia bukan alien!.
Mereka berdua membalas sapaan ramah ini dan memperkenalkan diri.
Ternyata dunia begitu kecil, atau memang mereka selalu menjadi pusat perhatian dan mudah diingat. Graceland beberapa ratus miles dari Kentucky, dan mereka masih dikenali.

Sekarang, hal semacam ini pasti sudah jarang terjadi. Banyak perusahaan asing di negara bagian Kentucky. Misalnya Nissan dengan karyawan "oriental people". Di Indonesia pun, dulu kalau ada orang kulit putih masuk kampung selalu disebut "wong londo". Mau dari negara manapun tetap disebut londo. Karena yang dikenal, kalau kulit putih pasti dari Belanda. Sekarang sebutannya menjadi "bule". Awalnya berasal dari kata "bulai" yang artinya kulit putih (KBBI-Kamus Besar Bahasa Indonesia). 
Sebutan bule untuk orang kulit putih di Indonesia sudah biasa. Dan mereka pun juga bisa menerima disebut bule. Tinggal menjelaskan ketika ada pertanyaan, "where are you from?".

Perjalanan berikutnya ke Ohio, menuju ke arah utara. 

Bersambung

Tuesday, March 19, 2019

10.254 miles, 22 states, in 63 days

8. Dolly Parton

Tidak adil rasanya kalau di negara bagian Tennessee dimana Memphis berada hanya berkunjung ke Elvis Presley. Dolly Parton sesama penyanyi terkenal juga memiliki taman yang disebut Dollywood. Kepemilikannya ada di Dolly Parton dan Herschend Family Entertainment. Terletak di Knoxville-Smokey Mountains Metroplex, Pigeon Forge - Tennessee. Di musim khusus seperti Christmas Holiday bisa menyerap pengunjung 3 juta orang. Tiket terbanyak terjual di negara bagian Tennessee. Ada karya seni tradisional dan di hari tertentu Dolly Parton dan keluarga juga musik lokal maupun nasional tampil setiap tahun disini. 



Dollywood juga ada kereta api-Yongki suka banget kereta api
iseng foto dengan pilot helicopter di Pigeon Forge
Heiiii... nggak boleh lihat!
RV park-Dollywood-hijau sejuk
Senang sekali bisa bertemu dan berkenalan dengan banyak orang sepanjang perjalanan ini. Setelah menjelajahi Dollywood yang mirip Disneyland tapi bertema musik country and western di masa lalu, mereka harus menunggu di sebuah toko souvenir di area Dollywood karena hujan sangat deras.
Cuaca masih sangat sulit diramalkan. Ketika pagi tadi langit begitu cerah dan terang, tiba-tiba turun hujan deras. Sambil menunggu hujan reda mereka diajak ngobrol petugas toko yang sangat ramah. Pembicaraan bisa ngalor ngidul, hingga mereka berasa sudah saling kenal lama.
"if you want to buy something in the store, let me know. You can use my Employee Card to get discount fot anything you want to buy" katanya dengan tulus hati.
Ketika akhirnya hujan reda, Yongkie dan Pokie harus kembali ke RV Park. Akhirnya mereka membeli 2 ponco (jas hujan dengan tutup kepala), untuk mengantisipasi musim hujan yang tidak menentu.
"thank you for your kindness" kata Yongkie dengan tulus ke petugas toko tadi.

Kembali ke tent trailer, mereka melihat peta perjalanan berikutnya. Besok, mereka akan melanjutkan ke Kentucky, 187 miles. Kalau di lihat di peta, perjalanan mulai naik ke arah utara. Mulai terasa ada perbedaan budaya dan bahasa ketika mereka nantinya memasuki negara bagian di Amerika utara.

Bersambung