Pages

Tuesday, May 17, 2022

bye bye Moon.... hello Sunshine

 Masih cerita tentang bersepeda. Setiap kali kami sampai di rumah yang selalu membuat kami exciting adalah melihat data perjalanan kami di HP. Berapa kilometer yang dicapai, berapa kecepatannya, berapa jam, berapa kalori yang terbuang. Kemudian melihat pencapaian kilometer selama seminggu, sebulan dan total sejak awal mula kami bersepeda. Tentu saja data yang kumiliki belum sebanyak milik suamiku. 

Persiapan bersepeda ternyata banyak, selain celana panjang dan kaos/sweater lengan panjang tentunya. Tutup kepala, biar keringat yang turun di dahi tidak mengganggu pandangan. Masker, walaupun tidak kupakai sampai hidung, karena akan membuat kabut di kacamataku sehingga mengaburkan pandanganku. Jam, yang mendeteksi detak jantung. HP, untuk mendata rute perjalanan dan tentu saja untuk berjaga-jaga kalau dibutuhkan, juga untuk mengambil foto. Kaos tangan dan sepatu kets. Cek lampu sepeda sudah dinyalakan apa belum. Lampunya sudah di charge apa belum. Ban sudah aman terisi angin apa belum. Ribet banget ternyata. 

Di usia yang sudah "umur" sudah pasti sering terjadi kelalaian.

Lupa pakai masker, jadi deg-degan waktu berpapasan dengan polisi yang berpatroli di bulan puasa. Lalu, sibuk merangkai-rangkai jawaban kalau nanti ditanya. Ternyata aku lolos dari perhatian polisi. Jadi aman. Tapi tidak aman dari binatang sawah kecil-kecil yang menabrak wajah.

Lupa nggak pakai kaos tangan, biarlah.... lanjut teruuuuusss.

Lupa ngecharge lampu sepeda, biarlaaah... toh ada suamiku yang mengikuti di belakang dengan lampu yang cukup terang. Kami selalu berangkat pagi-pagi sebelum jalanan jadi ramai.

Lupa nggak pakai sepatu kets... hahaha... jadilah pakai sandal jepit, seperti kebiasaan kalau keliling kompleks hanya pakai sandal jepit.

sandal jepit... kekonyolan faktor "U"

Lupa cellular phone nggak di ON. Karena kalau di rumah pakai WIFI, kalau keluar rumah harus di ON supaya bisa mendata perjalanan.

Yang paling sedih kalau data perjalanan hilang. Sampai rumah rasanya perjalanan tadi sia-sia. Suatu hari kami mencoba rute baru yang di peta sepertinya kok tidak terlalu jauh. Setelah masuk desa Demak Ijo, ternyata jalan yang kami lihat di peta kecil dan masih jalan tanah. Karena ragu-ragu melewatinya, kami memilih jalan satunya yang lebar dan beraspal. Ternyata penuh perjuangan melewatinya karena jalannya naik dan berkelok-kelok. Hingga akhirnya bisa sampai ke jalan besar yang menurun terus. Perjuangan yang lumayan buatku. Dalam hati, aku berharap "wah pasti dapat kilometer banyak nih, sesuai dengan perjuangan pagi ini. Bisa nambah kumpulan kilometerku". 

Pikiran inilah yang menambah semangatku untuk menyelesaikan perjalanan ini hingga sampai ke rumah. Tapi betapa kecewaku, sangat kecewa karena ternyata HPku tidak mencatat perjalanan heboh ini dengan baik. Aku tidak tahu kenapa??? sediiih dan rasanya jadi lebih lelah dari biasanya. Kata suamiku yang HPnya bisa mencatat perjalanan kami, perjalanan tadi 19 kilomater lebih. Tambah kecewa dan sedihlah aku. Yang tercatat hanya 2,28 km. Dan entah kenapa kok berhenti disitu.

Seharian itu aku merasa sangat kelelahan. Mungkin juga karena kecewa dan sedih sehingga energi yang keluar semakin banyak. Esok harinya aku tidak bersepeda. Baru bersemangat lagi hari berikutnya. Kali ini aku memutuskan untuk tidak peduli dengan angka-angka dan data-data yang terekam di HPku. Biarlah... syukur ke rekam, enggak juga nggak papa. Aku ingin menikmati perjalananku dengan sungguh-sungguh melihat dan memandang alam sekitar saja. 


Tadi pagi saat akan berangkat aku disapa "selamat tinggal" oleh bulan yang sudah mulai turun ke kaki langit. Sinarnya yang mulai meredup seakan menyapa, mengucapkan "selamat tinggal, sampai ketemu lagi". Dan saat aku mengayuh pedal sepeda, udara pagi yang sejuk dan bersih bisa aku rasakan menyusup ke pori-pori kulitku. 

bye bye moon.... see you

Disepanjang jalan yang masih sepi dan gelap aku melihat para pekerja menyapu sisi-sisi jalanan. Hingga jalan aspal kelihatan hitam bersih dan berkilat.Warung sayuran mulai ramai dikunjungi orang-orang yang menitipkan dagangan dan juga pembeli yang memilih belanjaan. Ketika memasuki desa Manjung, centra produksi soun mulai beraktivitas setelah libur lebaran. 

Desa Manjung sebagai centra produksi soun berawal tahun 1950 diprakarsai bapak Slamet Somo Suwito. Karena berkembang baik maka penduduk sekitar ikut membuat dengan bantuan bapak Slamet. Walaupun produksinya mulai menurun karena banyak merek soun import, namun desa ini masih dikenal sebagai penghasil soun. Soun menjadi bahan pelengkap soto, atau bisa juga dimasak menjadi soun goreng dan oseng soun. Bahan baku dalam pembuatan soun adalah tepung aren yang merupakan hasil pengolahan dari batang aren yang sudah diproses menjadi tepung. Bahan baku ini diproduksi di Desa Bendo Kecamatan Tulung Kabupaten Klaten.



Dini hari memasuki kawasan indutri soun desa Manjung

Tepung aren dicampur air, dipanaskan
dan diaduk terus hingga kental


Bahan yang sudah mengental di cetak memanjang
 seperti bakmi kecil-kecil. Kemudian ditampung
 dalam kotak panjang dan dijemur diterik matahari
kurang lebih 3 jam

soun dijemur dengan tatanan rapi

Setelah kering soun di gantung
untuk memudahkan ditimbang dan
diikat dan kemudian di packing dan
siap didistribusikan ke seluruh Indonesia.

Semangat para penyapu jalan, penjual di warung, pekerja di pabrik soun dan juga para petani yang mengolah sawah menyalurkan energi dalam diriku. Aku semakin bersemangat mengayuh sepeda sambil memanjakan mata dengan pemandangan alam di pagi hari yang indah. Sawah menghijau kekuningan dan matahari yang mengintip, menyemburatkan sinar oranye di cakrawala. Paduan warna indah ciptaanNya. Hingga hatiku menyapanya dengan riang... hello sunshine. Tak disangka dalam waktu kurang lebih satu jam antara sapaan "bye bye moon.... hello sunshine" aku mendapatkan pengalaman yang luar biasa indah juga penuh semangat. Rasa syukur sebagai panjatan doa kepada Sang Pencipta. Terimakasih atas karunia di pagi hari yang membawa kedamaian hati dan ketentraman pikiran.


hello... Sunshine


Note: tulisan ini terinspirasi chating di dini hari dengan sahabat SMA ku Baskoro. Dari sharingnya kalau bersepeda dia selalu sambil memanjatkan doa, hingga puluhan kilometer ditempuh tak terasa. Berkat yang didapat adalah kesehatan, kedamaian dan ketentraman. Dan itu benar. Thanks ya Bas untuk sharingnya.

Friday, April 15, 2022

Se"conthong" Kacang Rebus

    Ternyata baru di usia menjelang 63 tahun, aku bisa menikmati bersepeda. Masih terkenang dulu masa kecil di Jogyakarta, mungkin umur 6 th lebih aku baru bisa naik sepeda roda dua. Waktu itu ibu langsung menghadiahiku kacang rebus yang dibeli diujung jalan. Penjual kacang, pisang dan ketela rebus itu selalu mangkal di bawah tiang listrik. Rasanya sudah mendapat apresiasi yang luar biasa dengan membawa pulang se conthong (daun pisang yang dilipat seperti kerucut) kacang rebus. Ketika klas 2 SD pindah ke Semarang, kami tinggal di perumahan, sehingga kalau main sepeda hanya di lingkungan kecil. Menjelang SMP sudah tidak bisa bersepeda lagi karena rumah kami di atas bukit kecil, hingga cukup berbahaya untuk bersepeda. Sejak saat itu aku berhenti naik sepeda.

Ini rumah kelahiranku, dulu namanya jalan Cemorojajar no 19.
Di halaman inilah aku pertama kali bisa naik sepeda

Masa kecil anak-anakku, bapaknya yang kebagian tugas mengajar naik sepeda. Aku sempat ikut kalau ada sepeda kecil yang kakiku bisa menyentuh tanah untuk menjaga keseimbangan supaya jalannya tidak meliuk-liuk. Akhirnya anak-anak semua lancar naik sepeda bahkan sepeda motor, dan aku tetap tidak lancar bersepeda.

Sekarang aku tinggal di Klaten dan cucuku ternyata mengubah segalanya. Menemaninya bersepeda roda tiga keliling kompleks membuatku ingin juga belajar naik sepeda lagi. Walaupun sering diejek anak-anak kecil di kompleks karena kelihatan sekali kalau aku tidak trampil mengayuhnya. Suami dan mantuku sudah bersepeda kemana-mana. Berpuluh kilometer. Aku masih belum tergerak. Hingga dua bulan lalu suamiku memberi kejutan dengan sepeda baru. Dia pilihkan sendiri, dengan pertimbangan kalau aku tidak mau, sepeda akan dia pakai sendiri.

Sepeda kecil cantik itu menggodaku untuk mencobanya berkeliling kompleks. Awalnya hanya 5 kali putaran. Kemudian naik sedikit demi sedikit 10 kali, 15 kali, 20 kali dan akhirnya 25 kali. Kurang lebih 6 km setiap hari. Lama-lama bosan juga berputar-putar terus di kompleks. Apalagi sering mendapat komentar,

"udah kelar belom?"

"masih berapa putaran lagi?"

"belum selesai juga?" hahaha.... lama-lama tetangga jadi menaruh perhatian karena aku biasa berputar-putar sekitar 45 menit setiap hari. Masing-masing tetangga sudah bersiap mengantar anak sekolah dan berangkat ke kantor.

Awal naik sepeda keliling kompleks

"Ayo kita coba sepedaan keluar kompleks" ajak suamiku suatu hari setelah hampir sebulan aku berputar-putar dalam kompleks. Baiklah, mari kita coba. Karena aku masih panik setiap kali ada motor atau mobil lewat, maka kami berangkat pagi hari, paling lambat jam 5 pagi. Semula hanya berkeliling pasar Gayamprit sebelah utara perumahanku. Lumayan, hanya 4.5 km tapi jalannya naik turun. Cukup berkeringat juga. Beberapa kali rute ini menjadi jelajah kami bersepeda setiap pagi, walaupun saat aku belok ke rumah, suamiku akan melanjutkan bersepeda yang lebih jauh lagi. 

Rute yang sama membuat bosan. Ayo kita cari lagi yang lebih jauh dan seru. Jaraknyapun mulai bertambah. Menjadi 8 km, ketika melewati dusun Karanglo yang indah dengan pohon mirip cemara di kanan kiri dan pemandangan sawah yang luas terbentang. Tercium udara segar aroma sawah dan pohon. Pemandangan hijaupun menjernihkan mata.

Kukayuh sepedaku makin jauh dan jauh. Bosan rute lama, kami mencari rute baru. Tak terasa sekarang hampir setiap hari kami berdua mengayuh sepeda sepanjang 12,6 km. Suamiku akan melanjutkan hingga 20 km dengan berkeliling kota Klaten. 

Desa Karanglo, indah nuansa sawah di pagi hari.

Aku bukan penggowes. Aku hanya senang bersepeda keliling desa. Aku juga lebih suka berangkat pagi-pagi saat jalan masih sepi, udara segar dan menikmati pemandangan alam di saat matahari baru bersinar redup di cakrawala.

Beberapa pengalaman bersepeda didesa-desa sering membuatku tertawa sendiri.

Suatu kali aku tidak melihat kalau ada kabel melintang miring di jalan. Entah kabel apa. Tahu-tahu sepedaku meliuk liuk tak terkendali, walaupun pelan. Campuran kaget dan panik akhirnya aku malah menjatuhkan diri ke rerumputan dengan gaya slow motion hahahaha... gaya yang menyelamatkanku dari kaki terkilir. Untung masih bisa berdiri dan mengayuh sepeda lagi sekitar 4 km.

Karena ada sepeda dengan keranjang di depan, kadang aku mampir beli sayur di warung, sementara suamiku melanjutkan perjalanan ke rute yang lebih jauh lagi. Dalam perjalanan pulang, ada mobil yang membunyikan klakson berkali-kali. Aku memang sedikit ke tengah karena ada lubang cukup dalam di depan. Karena panik, aku memilih nekad melewati lubang bukannya berhenti di pinggir. Alhasil sepeda dan aku terlompat juga tas sayurku terlempar dari keranjang. Ya ampuuunnn... padahal mobil yang melewatiku kecil lho... harusnya bisa mepet kekanan. Untung di belakangku tidak ada kendaraan lain, jadi aku bisa menyelamatkan tas sayurku.

Di bulan puasa, yang paling membuatku kawatir ketika melewati anak-anak yang memenuhi jalanan setelah saur. Mereka melempar-lempar mercon kecil. Kadang ada juga mercon yang lumayan besar tapi di lempar ke sawah. Beberapa hari ini, selalu ada mobil polisi yang berkeliling desa untuk menertibkan anak-anak ini. Jadi sekarang semakin aman dan nyaman bersepeda dari desa ke desa.



Baiklah, karena 'hidupku juga penting', maka aku menuliskan kisahku sebagai apresiasi untuk diriku sendiri. Dari belajar naik sepeda 'lagi' hingga kilometer yang kutempuh sedikit demi sedikit hingga hari ini bisa menempuh 15,81 km.

Jadi... ayuk kita beli se conthong kacang rebus!!


Sunday, September 15, 2019

Semangat Ibu-Ibu Buruh Tandur

Bangun pagi hari ini memberikan pencerahan yang luar biasa buatku. Seperti biasa aku belanja sayuran di seberang rumah, dimana bapak sayur menggelar dagangannya sejak jam 5.30. Di benak masih bingung nanti mau belanja apa. Belum ada ide mau masak apa. Jadi mau lihat-lihat dulu apa yang ada, siapa tahu muncul ide.
Dari seberang tidak biasanya pak sayur dikerubut ibu-ibu naik sepeda sampai sibuk sekali melayani mereka. Karena aku belum punya ide mau belanja apa, jadi memilih untuk menunggu sampai ibu-ibu selesai belanja.
Mengamati mereka baru aku sadar kalau ibu-ibu ini memang tidak biasa yang aku temui setiap pagi. Mereka berombongan sekitar 10 orang, bersepeda, bercaping dan sebagian besar tidak beralas kaki. Tergelitik untuk ingin tahu, maka aku bertanya pada seorang ibu yang sudah selesai belanja tapi masih menunggu teman-teman untuk bersama-sama melanjutkan perjalanan.

"saking tindak pundi to bu?" (dari mana bu?) tanyaku penasaran. Kalau mereka berbelanja berarti sudah dalam perjalanan pulang. Agak mengherankan juga karena sepagi ini mereka sudah pulang.
"sakajane ajeng tandur, ning mboten estu bu. Sawahe dereng wonten toyane" (harusnya mau tandur, tapi nggak jadi karena sawahnya belum diairi) jawab ibu itu yang kemudian disahut ibu yang lain,
"padahal nggih pun janjian. kok mboten disiapke sawahe, tiwas adoh-adoh le nyepeda" (padahal sudah janjian, kok nggak disiapkan sawahnya. Udah nyepeda jauh nih)
"wonten pundhi sawahe?" (dimana sawahnya?) tanyaku lagi.
"ler rel sepur" (utara rel kereta api) waduuh itu memang jauh banget. Sekitar lebih dari 6 km dari tempat ini. Padahal rumah mereka masih ke selatan lagi. Kasihan.
"niki dijanji tanggal 5 ken tandur. nek mblenjani melih, pun kulo mboten purun nek ken tandur teng mriko" ( ini mereka janji tanggal 5 disuruh tandur. Tapi kalau mereka ingkar janji lagi ya besok kalau nyuruh tandur, aku nggak mau lagi) kata salah satu ibu yang menyahut dengan kesal.
"idea-idep olah raga bu" (anggap aja olah raga bu) sahut ibu lainnya dengan tertawa.

Rata-rata mereka belanja diatas 20 ribu. cukup untuk mendapatkan sayuran dan beberapa jajanan. Juga bumbu untuk menyajikan masakan seluruh keluarga. Hari ini mereka tidak mendapatkan penghasilan setelah bersusah payah bersepeda. Tapi yang menyentuh hati adalah komentar salah satu ibu yang penuh semangat dan penuh syukur.
"deloken iki. Duit 50 ewu wis entuk akeh, malah isih ono susukke" (lihat nih, uang 50 ribu sudah dapat banyak, malah masih ada kembaliannya) katanya sambil tertawa.

Aku tertampar di pagi hari.
Gila banget... mereka mengayuh sepeda dipagi hari hanya berbekal harapan hari ini mendapat pekerjaan dan mendapatkan upah. Ketika harapan tidak terwujud mereka masih bisa menyikapinya dengan pikiran positif. Mereka ibu-ibu sederhana tapi penuh semangat hidup dan rasa syukur yang berlimpah. Betapa seringnya aku mengeluh soal harga yang mahal. Kecewa karena sesuatu yang terjadi tidak sesuai harapan. Capek dan kehilangan semangat. Memaki karena orang-orang berbuat seenaknya dengan kita dan mengeluh karena merasa tidak dihargai.

Lihatlah mereka....

Dari jerih payah merekalah, kita nikmati nasi kemebul setiap hari. Kaki-kaki mereka tertanam dalam tanah lembek. Punggung membungkuk menanam padi dengan kerapian yang indah dipandang. Tangan-tangan terampil dengan kerapian memberi kehidupan setiap batang padi dalam tanah yang subur. Betapa seringnya kita memuji hamparan sawah hijau yang indah. Melupakan tangan-tangan keriput dan hitam kena sengatan matahari. Kaki-kaki tanpa alas yang mengayuh sepeda untuk datang dan pergi.



Hari ini ketika nasi hangat beraroma sedap tersedia di meja makan beserta lauk pauk yang mengundang selera, aku ingat ibu-ibu buruh tandur dan semangat mereka yang luar biasa. Tanpa mereka aku tidak bisa menikmati nasi yang manis beraroma ini.
Terimakasih tak terhingga kepada mereka yang telah ikut berpartisipasi pada hidangan kita setiap hari. Semoga Tuhan memberikan rejeki, kesehatan dan semangat yang tak pernah padam. Amin.





Friday, August 9, 2019

Aku adalah aku

Menjadi Mimo (panggilan cucuku ke aku) mengingatkanku masa dulu ketika anak-anak masih kecil. Cucuku Mosha baru 3 tahun. Karena lima hari dalam seminggu bersamanya, aku bisa melihat pertumbuhannya dari hari ke hari. Kini memasuki usia yang oleh orang Jawa di sebut kemratu-ratu. bersikap layaknya ratu, princes atau apalah sebutannya, yang jelas menjadi sosok bocah yang mulai ingin menjadi perhatian. Kadang muncul karakter "milikku milikku". Untung Mosha tidak sampai "milikmu milikku", karena memang ada yang seperti itu. Mosha hanya posesif dengan barang-barang miliknya.
Kalau nonton Disney Yunior, ada Princes Sofia yang menjadi idolanya. Helm harus yang ada gambar Princes Sofia. Juga tempat minum dan sepatu. Ada baju tutu (bahasa jawa=mekruk) yang sangat disukainya karena seperti Princes Sofia. Setiap hari dipakai, bergaya menyebut dirinya Princes Sofia. Jadilah bajunya mbah ringgo (kumbah garing dinggo) atau curingkai (cuci kering pakai). Bahkan pernah belum sempat disetrika sudah minta dipakai.

Dari usia 2 tahun, seminggu tiga kali masuk sekolah junior playgroup. Tahun ini Mosha mulai masuk playgroup yang masuknya lima hari seminggu. Mosha bukan anak yang bisa dipaksakan untuk masuk sekolah setiap hari. Jadi kami ikuti saya maunya, toh baru 3 tahun.
Aku ingat dulu ketika anakku di TK kecil tidak mau sekolah sampai 3 bulan, gara-gara ditakuti ular oleh temannya. Waktu itu aku tidak kawatir karena ada juga anak yang masuk langsung TK besar juga tidak apa-apa. Kenyataanya anakku tumbuh dengan baik-baik saja dan sekolahnya lancar.

Menghadapi Mosha yang kadang mau masuk sekolah, kadang tidak, aku juga santai saja. Biasanya aku ajak bermain di rumah. Menggambar, melukis, membacakan buku. Kadang minta lembar tugas sekolah untuk dikerjakan di rumah. Juga bermain-main dengan teman-teman sekompleks.
Kalaupun mau masuk sekolah, maunya juga yang aneh-aneh.

helm Sofia kesukaannya
Suatu kali dia maunya pakai helm dan tidak mau dilepas walaupun di dalam kelas. Dari berangkat sampai pulang helm dipakai terus.

Hari lain Mosha mau sekolah tapi pakai kacamata hitam ibunya. Baiklah sayang... tidak apa-apa.. hahaha... Mosha cantik kok pakai kacamata. Guru-guru juga santai saja melihat penampilannya yang selalu beda.
kacamata ibu yang dia pilih untuk dipakai
kemana-mana
Lain hari, sekolah dengan rambut dijepit tutup sikat gigi. Dilepas tidak mau. Dia bangga sekali bisa menjepitkan sendiri di rambutnya. Nggak papa sayang... walaupun mimo malu juga dilihat teman-temannya dengan pandangan aneh.
Ada yang melihat tutup sikat gigi terjepit
di rambunya?
Dan di hari lain, Mosha mau sekolah kalau pakai sepatu ibunya. Sepatu dengan hak 5 cm. Sudah dibujuk-bujuk tetap saja pede dengan sepatunya. Kali ini aku kawatir dia jatuh. Jadi aku mengantarnya ke sekolah dengan menenteng sepatunya, untuk berjaga-jaga kalau dia mau ganti.
Tentu saja penampilannya ini menjadi perhatian orangtua dan pengantar teman-temannya. Mereka senyum-senyum, tertawa dan gemes melihat gayanya.
Guru-guru memberi dukungan, yang penting mau berangkat sekolah. Bahkan ada orangtua yang berbisik sambil senyum-senyum "anak saya tadi berangkat sekolah nggak mau mandi". Ada lagi yang bercerita kalau anaknya mau sekolah tapi harus pakai baju tidur... hahaha.. ternyata aku tidak sendirian.
Tentu saja Mosha dengan sepatu besar dan tinggi itu membuat dia tidak nyaman berjalan jadi akhirnya minta pulang. Menuju parkiran kendaraan, benar dia jatuh. Mosha tidak menangis dan akhirnya mau ganti sepatunya sendiri.
Baju Sofia dan sepatu ibu
Ada-ada saja Moshaku ini. Tapi aku sangat menghargai keinginannya menjadi diri sendiri. Dare to be different. Inilah aku. Biarkan aku mencoba sesuatu. Biarkan aku menjadi diri sendiri.
Baiklah Mosha... Mimo akan mendukungmu menjadi dirimu sendiri, dengan mencoba banyak hal dan belajar dari pengalaman. Seperti halnya dia berusaha dan bersusah payah memakai celana sendiri. Walaupun terbalik tapi berhasil. Dan dengan bangganya Mosha minta difoto dengan gaya khasnya dilengkapi kalung yang dipakai untuk penghias rambut. Cocok sekali dengan tulisan di kaosnya. "Seperti halnya dirimu, aku juga tidak mau dibanding-bandingkan dengan anak lain".

"I always love you Mosha" dan hatiku dipenuhi kebahagiaan ketika Mosha menjawab,
"I love you Mimo" dengan suaranya yang lucu menggemaskan.

Wednesday, April 10, 2019

Awet Muda

Anakku memasuki usia angka 3 sudah merasa tua. Lalu aku bilang begini,
"mama gak sabar nunggu masuk angka 6 tahun ini" kataku. Dan mereka memandangku dengan aneh.
"kan kalau umur 60 th dapat discount 20% kalau naik kereta api. Lumayan khan?!" mereka tambah memandangku dengan aneh.
Kalau menjadi tua, memang kenapa toh?. Kan sudah hukum alam, kalau tambah umur ya tambah tua. Masak mau muda terus. Tapi ya banyak yang nggak pingin dibilang tua. Kalau nggak, pasti obat awet muda nggak laku. Operasi plastik bisa tutup.
Untuk kelihatan muda, orang bahkan rela ditarik kulit wajahnya kesana kemari biar tetep kencang. Perawatan kulit wajah yang dikembalikan jadi kulit bayi, dengan syarat nggak boleh kena matahari. Krim yang dipakai harus ini itu. Harganya juga selangit!. Mau awet muda itu mahal.

Aku ini, sering dibilang muda, karena memang nggak tahu kenapa kerut di wajahku itu kok nggak banyak. Jadi beruntunglah aku tidak perlu keluar uang untuk operasi plastik atau beli krim ini itu. Rambut yang nggak bisa bohong, karena sudah ubanan lumayan banyak. Karena mau bergaya, maka rambut aku semir. Bukan warna hitam, karena rasanya aneh, sudah tua kok rambutnya hitam. Jadi aku pilih warna aneh saja sekalian. Pernah aku semir ungu tua, tapi seringnya deep burgundy.
Lama-lama males nyemir rambut. Jadi aku biarkan saja tumbuh selang seling putih. Jadi abu-abu.

Suatu hari, ketika mengantar cucuku sekolah, aku menunggu di luar bersama ibu-ibu. Seperti biasa terjadi pembicaraan basa basi.
"nunggu siapa bu?" tanyaku
"anak saya TK bu, nah ibu anaknya klas berapa?" tanya salah seorang ibu.
"ooo.. saya nunggu cucu saya, masih di yunior playgroup" jawabku. Tiba-tiba ada ibu lain yang nyeletuk,
"aaah.... dulu pasti kawin muda ya.. masih muda kok sudah punya cucu" katanya sambil tertawa mengejek. Haahh.... kaget juga dengan komentarnya. Walaupun senang juga dikira muda, tapi buntutnya yang nggak enak.
"saya sudah tua kok. Umur saya hampir 60 th. Wajar khan kalau sudah punya cucu" jawabku santai. Mereka jadi terdiam.

Ternyata tampak muda, bisa dikomentari miring juga. Jadi sebenarnya kenapa kita mesti bersusah payah pingin kelihatan muda. Kalau memang sudah tua ya biarlah rambut jadi putih, kalau memang sudah saatnya keriput ya biar saja keriput. Semakin kawatir kelihatan tua malah jadi tua beneran.
Semakin bertambah umur yang tidak bisa dihindari kepikunan kita. Mau nggak mau jadi pelupa. Sudah dicatat, catatannya ketinggalan. Kayaknya sudah dibawa, lupa naruhnya dimana.
Baru-baru ini aku jadi bahan tertawaan warga di perumahan anakku. Konyol juga sih.
Waktu itu aku menjaga cucuku di rumahnya hingga sore dan bermaksud pulang naik grab. Setelah pesan grab aku mempersiapkan diri sambil memperhatikan mobil grab sampai dimana lewat GPS. Ketika aku lihat sudah mulai masuk perumahan, aku pamitan cucuku dan keluar rumah. Di depan ada mobil berhenti dan jendela dibuka, spontan aku menyapa,
"grab pak" tanyaku
"bukan" jawab si bapak sambil tertawa. Tiba-tiba suster anakku keluar dan berbisik,
"ibu, itu bapak sebelah rumah" Haah ... aku blingsatan malu. Untung grab yang sebenarnya segera datang jadi aku bisa segera kabur.
Kekonyolanku jadi bahan tertawaan ibu-ibu seperumahan lewat group mereka. Anakku menegur,
"mama tuh lho, masak bapak sebelah dikira grab. Mana mobilnya X-trail" katanya.
"lah mana mama tahu itu bapak sebelah, kan nggak pernah ketemu. Lagi pula mobil X-trail itu kayak apa mama juga nggak hapal" jawabku. Apa kalau mobil X-trail nggak bisa buat nge grab?

Tapi ya banyak cerita tentang kepikunan orang yang mulai tua. Ketika aku cerita ke kakakku yang usianya hampir 70 th, dia malah ketawa ngakak. Dia tinggalnya di Amerika. Suatu hari nonton American Idol. Tiba-tiba dia menggerutu sendiri ketika jurinya berkomentar.
"kenapa sih komentarnya pakai bahasa Inggris?" Langsung anak, mantu dan suaminya berpaling ke dia. Melongo sebentar kemudian ketawa ngakak.
"lah mama ini gimana, kan TV Amerika" hahahahaha... dasar pikun.
Yah begitulah yang bakalan terjadi dan akan kita alami bersama. Menjadi bahan tertawaan yang muda-muda. Kami pun dulu sering mentertawakan orangtua kita.
Jadi ingat ketika aku bercerita tentang sesuatu ke bapakku dan menyebutkan kata "masa kini". Bapak dengan polosnya bertanya,
"lha sakini ki sopo?"... lhoh.. ngakaklah aku waktu itu
"maksudku masakini pak, bukan mas Sakini".

Circle of life. Lahir, anak, remaja, dewasa, orangtua, mati, lahir baru, anak.. dst. sudah sewajarnya. Mau dipoles muda, kayak remaja kinclong dan kinyis-kinyis, pikiran yang menua dan mulai pikun tetap saja nantinya tidak bisa disembunyikan lagi. Bukan melarang untuk berupaya menjadi awet muda, tapi yang lebih penting menyadari kalau usia tetap saja bertambah tidak bisa dihentikan.
Anak-anak sekarang maunya serba cepat dan instan. Didukung teknologi yang berubah cepat setiap saat. Jadi orangtua, belum paham ini sudah ganti yang baru. Baru membuat satu langkah mereka sudah berlari satu kilometer. Jadi mesti legowo kalau dibilang "telmi" (telat mikir).
Walaupun sebentar lagi usia masuk kepala 6, sebetulnya belum bisa dibilang tua dalam hal pengalaman hidup. Pembelajaran hidup terus berjalan. Bisa belajar dari yang muda, juga dari yang lebih tua, karena tidak seorang pun dari kita sempurna hidupnya. Yang penting bagaimana mengisi setiap hari yang kita miliki dengan hal-hal baik. Hal-hal yang baik itupun susah didefinisikan yang bagaimana. Jadi bertambahnya umur justru makin banyak yang harus dibenahi dari dalam diri sendiri, dari pada hanya membenahi penampilan supaya awet muda.


Friday, April 5, 2019

Dibalik Cerita Bersambung


Setahun lalu telinga kiriku berdenging dan sangat mengganggu. Setelah diperiksa secara medis, aku hanya diberi obat. Katanya butuh waktu lama untuk bisa sembuh. Resep sudah aku kopi 3 kali dan rajin minum vitamin untuk otak. Tidak ada perubahan sama sekali. Iseng bertanya ke mbah Google, kenapa telinga berdenging?. Ternyata gejala ini disebut Tinnitus. Ada faktor usia atau juga bisa karena stress.
Stress? apa aku stress? rasanya kok biasa saja, tapi siapa tahu?. Penasaran, akhirnya aku ke psikolog yang kebetulan suaminya terapis. Berdua mereka mewawancarai aku dan dengan terapi bisa membuka peristiwa lama yang tidak disadari menjadi luka batin.
Ada pertanyaan menarik,
"ibu sekarang kegiatannya apa?" tanya mereka.
"kebetulan ada kerjaan merenda dan membuat macrame. Kadang ya momong cucu". Tiba-tiba dia berkata,
"nah ini yang bikin ibu stress. Merenda dan macrame!" katanya seperti menemukan sesuatu.
"lhoh... masak?? kan aku suka sekali merenda dan macrame" kataku tidak percaya.
"bukan bu, itu hanya pengalihan tapi tidak mengobati. Apa lagi kesukaan ibu yang lain?"
"apa yaaa?... " lama aku mengingat "menulis??" jawabku ragu-ragu.
"nah, itu yang tepat. Ibu menulis aja. Itu aktivitas yang bisa mengurangi stress. Karena ibu punya potensi untuk bicara jujur tentang apa yang ibu rasakan".

Menarik sekali khan?!. Dan aku menulis lagi, setelah 4 tahun berhenti menulis di blog. Menulis menjadi aktivitas untuk diriku sendiri. Kalau tulisanku bisa menjadi inspirasi atau hiburan bagi pembaca, itu bonus untukku.
Pada awal aku menulis, dengingan di telinga kadang hilang, kadang datang. Tapi aku yakin, kalau bisa hilang walaupun hanya beberapa hari, pasti nantinya bisa hilang selamanya, berarti sembuh. Hingga hari ini, dengingan di telinga sudah jarang sekali muncul.

Aku dan Rini
Aku dan Rini, Semarang 2019
Aku biasa menulis tentang diriku sendiri. Tentang peristiwa yang terjadi dan apa yang aku pikirkan tentang hal tersebut. Menyenangkan bisa kembali menulis. Seperti menulis buku harian tapi dengan tema tertentu. Hingga suatu hari aku tertarik dengan cerita Rini yang hanya sepotong-sepotong dalam sebuah reuni di Baturaden baru-baru ini. Kisah hidupnya menarik dan banyak peristiwa yang membuat kami terpesona mendengarnya waktu itu.

Tidak mudah meyakinkan Rini untuk mau bercerita dan ceritanya aku tulis. Hingga aku mencoba menuliskan sepotong cerita tentang dia. Dan komentarnya "waduuh kok jadi bagus". Dan aku bersemangat.
"bagaimana? mau dilanjutkan?" tanyaku. Dan gayung bersambut. Muncullah cerita bersambung "Ketika Hening Diletakkan". Kami mulai berkomunikasi lewat email dan wa setiap hari. Dan dia mulai mencoba mengingat kisah cintanya.
Menulis kisah cinta Rini benar-benar mengolah rasa. Ikut merasakan jatuh cinta, kecewa, jengkel, sabar dan tidak sabar, marah dan sedih dan bisa ikut berurai air mata ketika menulis.
Imajinasi mengalir begitu saja. Setelah draf disetujui baru aku upload di blog dan menjadi cerita bersambung yang dinantikan pembaca.

Yang paling sulit menulis kisah no 16 tentang pergumulan batin Hendra. Rini memberikan info sangat sedikit. Dan aku harus berimajinasi sendiri untuk melihat apa yang membuat perubahan sikap Hendra. Dalam kebuntuan aku bernyanyi bak Lady Gaga dalam film A Star is Born yang berjudul Shallow "...tell me something.. Boy.." (Boy = Hendra) ... hahaha... dan anehnya, mengalirlah kisah no 16 dengan lancar. Seakan ada yang menuntunku untuk menulis. Pengalaman yang luar biasa dan membuatku merinding.
Kesulitan lain memahami tentang karya Hendrawan. Rini dengan santainya mengirimkan katalog hasil karyanya. Jujur sama sekali aku nggak paham. Aku hanya memahami garis besarnya saja. Aneh juga buatku ketika bisa menjadikannya puncak cerita di no 16, tema yang pas dengan judulnya.
Semua ilustrasi aku ambil dari pinterest. Ada yang bisa diambil bebas. Tapi kalau ada yang aku suka tapi harus ada keterangan sumber, baru aku cantumkan sumbernya. Selain harus "metani" gambar juga membayangkan ilustrasi apa yang pas untuk setiap kisahnya.
Asik sekali menjadi sibuk. Aku bekerja untuk diriku sendiri. Bersyukur Rini bersedia menjadi sumber cerita. Terimakasih Rini, untuk hari-hari penuh email dan WA.
Inilah komentar Rini tentang proses penulisan Ketika Hening Diletakkan.
-----------
Berawal dari ikutan nimbrung cerita saat santai dengan teman-teman semasa SMA di Baturaden. Jujur baru pertama kali ini saya banyak ngomong tentang hal-hal pribadi kepada audience yang tidak semua  mengenal saya secara dekat.  Lebih tepatnya saat itu saya merasa “naif” = lugu yang cenderung bodoh 😂 
Nyesel sih enggak cuma malu. 

Pas mbak Lilik bilang mau nulis tentang ocehan saya, adanya cuman bengong antara iya, enggak, iya, enggak... Karena mbak Lilik ahlinya bikin tulisan, blognya keren. Saya cuma cerita sedikit, dia bisa menjadikannya 1 episode. Ibarat saya nulis 1 cm ditangan mbak Lilik jadi 1 meter ajaib lah. Terheran heran kok bisa ya? kalimat-kalimat yang ditulisnya itu muncul dari mana, wong cerita hidup saya nggak istimewa, cenderung dagelan. Malah yang nggak berkenan pasti saya dibilang sombong. 

Akhirnya saya memilih iya ...mbak Lilik bukan orang yang iseng dan catatan di blog nya bisa menginspirasi banyak orang. Rasa nano-nano (campur aduk) dihati bisa saya rem. Pada saat saya mulai di interogasi mbak Lilik,  pastilah perasaan masa lalu  bersama Hendrawan mulai bermunculan. Rasanya ingin dia hidup kembali. 

Maaf ya Hendrawan, saya hanya bercerita dari sisi yang saya alami dan rasakan semoga kamu juga akhirnya tahu dari tulisan mbak Lilik  bahwa saya selalu mengasihi dan mencintaimu. Saya tidak pernah mempertanyakan tentang sikap dan tindakan yang kamu lakukan terhadap saya semasa hidup, namun mbak Lilik bisa mengungkapkan dan menghidupkannya dalam tulisan. 

Terima kasih mbak Lilik untuk energi dan emosi yang dilibatkan dalam cerita hidup saya, semoga mbak Lilik bisa terus berkarya dengan tulisan-tulisan yang spectacular lainnya 😘🙏🏻.

Rini
-----------------

Aku dan Yongkie
Aku dan Yongkie, Jakarta 2010
Menulis cerbung tentang kisah perjalanan 10.254 miles, 22 states in 63 days merupakan pengalaman baru yang penuh tantangan, karena perjalanan ini di tahun 1988, 31 tahun lalu dan di Amerika!. Kalau "Ketika Hening Diletakkan", mengolah rasa, ini mengolah data.
Beruntung, Yongkie yang punya cerita juga bersemangat untuk menggali pengalaman dan mengingat kembali kisah yang berkesan selama perjalanan tersebut. Bahkan mendigitalkan kembali foto-foto lama.
Kami bersama-sama saling mendukung dalam mencari data. Tentu saja yang menjadi andalan adalah internet. Yang menjadi hambatan adalah ukuran kacamataku yang sudah minus 8.5 dan plus 3. Kadang masih ingin mencari data ini itu, tapi mata sudah nggak mau diajak kompromi. Biasanya aku langsung duduk di teras melihat pemandangan hijau.
Waktu yang dibutuhkan benar-benar siang malam. Ketika aku di siang hari, Yongkie malam hari, demikian sebaliknya. Betapa seringnya kami saling mengingatkan "wis turu kana..." ketika kami sama-sama bersemangat hingga lupa waktu.
Pernah suatu ketika saking udah ngantuk aku menulis Yong, menjadi Yang... langsung Yongkie menanggapi kok jadi ...saYang... hahahaha... untung Pokie nggak cemburuan.

Tentu saja dengan perbedaan waktu ini, aku sering kehilangan ide menulis, apalagi ada saat beberapa kali aku salah memahami maksudnya. Bolak balik koreksi. Tapi menulis ini just for fun. Tidak ada tekanan sama sekali. Semua dilakukan dengan senang hati.
Untuk selingan aku mengisinya dengan menyelesaikan gorden macrame, atau menghantar cucuku sekolah. Sabtu dan Minggu biasanya aku refreshing dulu ke Kaliurang atau main ke Jogya dengan keluarga, supaya bisa mendapatkan ide untuk menulis.
Walaupun TV sudah dinyalakan tetep laptop jadi pilihan
Sebaliknya ada juga saat dimana ide sudah muncul, tapi laptopku di monopoli Mosha, cucuku untuk nonton Pororo, atau sekedar mencet-mencet keyboard. Untuk cucu semua terkalahkan.
Menulis dibuat mengalir saja. Kadang sudah mantap bahkan draf sudah disetujui Yongkie, tapi aku yang tiba-tiba nggak mantap. Lalu aku revisi lagi. Kadang Yongkie juga dengan santai bilang, "aku lunga sik ke San Fransisco 3 hari ya..." hahaha... atau "aku ke Seattle dulu sehari".

Semula, aku pikir dengan menabung cerita sampai 10 aku bisa mengupload setiap hari seperti ketika aku menulis "Ketika Hening Diletakkan". Ternyata tidak. Begitu banyak data yang harus dicari di internet. Sehingga membutuhkan waktu lebih banyak dalam penulisan. Akhirnya lega rasanya ketika semua bisa selesai.

Berikut adalah tulisan Yongkie yang menggambarkan bagaimana sibuknya dia menjawab pertanyaanku dan menyediakan data-data yang tidak bisa aku peroleh di internet.
----------
It all started when I ask Lilik if she is interested to write a section of my trip to Alaska with a “life lesson” that I learned from the late Lynn Bodle about “no regrets in life” in 2006. When Lilik agreed to my story, I started to gather my thought and to look the websites that I created of my travel. 
But when Lilik questioned me and interviewed me how did I start to like traveling, Lilik opened a can of worms 🐛OMG , I had to think hard more than 30 years of first traveling of 22 states, 10,254 miles and 63 days. 
I searched my photo albums and go from there, I basically remember where to go, but precisely I have to look at the photo albums. 
No digital pictures back then, all I have is 3 x 5 prints, a total of three albums. 
I have a challenge, how can I digitized these photos to the best I can ? I had been thinking for 2 to 3 days, and finally I kind of figure it out the how too. 
Yongkie tried so hard to digitized the photos
Taking pictures of old photographs is not easy, the camera and the prints has to be the same and parallel otherwise the distortion is visible. I made a temporary contraption that consists of 2 yogurts cans and a cutting boards. Then I had to deal with reflections from the prints since old pictures mostly were printed on glossy surfaces. So I try to find old cardboard that has a darker non reflective surface and started to place it on top of the whole contraption to eliminate the glares. 
I used my smartphone to capture the old images, then process it through Photoshop program to achieve ultimate quality. I then make a website and Lilik can capture the images that she can use. 
Another challenge is the terms that I use to describe my journey to Lilik, many times the meaning is construed differently. So I have to explain it very clear so the meaning is what I intended. 
The distance does not make any different since we use both email and WhatsApp to communicate. Lilik always sends me the DRAFT makes sure it makes sense and the story flow is correct. As of this writing ✍️ we think it is half way done, we do this with no deadline and we do it in relaxing atmosphere. 
Lilik is good to make the story flowing from point A to point B, many friends have contacted me on how good Lilik writes the story.
I thank you as well, because you asked, I have two more websites, one is Hawaii 1997 and 1988 trip. So thank you for that and keep on writing ✍️. Bravo, one more time.

Yongkie  
----------------
Buat Rini dan Yongkie, tidak ada kata yang bisa aku rangkaikan lagi selain TERIMAKASIH.
Untuk waktu, tenaga dan segala upaya merekam kembali kenangan masa lalu. Aku akan merindukan 
pengalaman ini bersama kalian berdua.
Semoga tulisan ini sungguh menjadi kenangan kita dalam merangkai dan menjadikannya cerita 
bersambung di blogku. Dan bagi yang membaca terimakasih sudah meluangkan waktu dan memberi 
semangat untuk terus menulis. Semoga bisa mendapatkan inspirasi dan manfaat dari tulisanku.

Thursday, April 4, 2019

10.254 miles, 22 states, in 63 days

18. Upaya menepati kaulan.


Saksi perjalanan ke 22 negara bagian th 1988
Setelah berkelana menempuh 10.254 miles, ke 22 negara bagian dalam 63 hari, dari 5 September sampai dengan 7 November 1988, akhirnya kembali ke Los Angeles, rumah yang dirindukan. Bendera amerika yang terpasang di kendaraan menjadi saksi. Menghantar mereka sampai kerumah dengan ketangguhannya menghadapi panas, hujan dan angin. 

Tahun 1988 hanya menjadi awal. Kita bisa mengatakan sebagai "mecah telur", hingga kemudian bisa melakukan berbagai perjalanan sesuai dengan tujuan utama mereka mengunjungi 50 negara bagian di Amerika. Tentu saja bukan sesuatu hal mudah dan cepat bisa dilaksanakan. Setelah 31 tahun kaulan ini juga belum selesai. Apa saja upaya pencapaian setelah 1988, bisa dilihat di perjalanan mereka hingga sekarang.


1997 - Hawaii. Kunjungan ke Hawaii tahun itu sebetulnya sudah yang ke 2. Yang pertama tahun 1982 yang mempertemukan dengan Eunice Oshiro yang menjadi teman baik selama di Hawaii dan menyambutnya sebagai keluarga ketika mereka berkunjung kembali tahun 1997. Yongkie dan Pokie tinggal di rumah mereka hingga bisa berkumpul dengan keluarga besar Oshiro.

Mereka juga bertemu saudara mereka, Brian di Hilo yang mengajaknya berkeliling Honolulu. Brian seorang mantan militer, sehingga dia bisa mengajak mereka ke markas militer yang tertutup bagi orang luar. Trip kali ini ke Pulau Hawaii dan Pulau Maui. Silahkan klik disini http://www.yongkieandpokie.com/1997/

2003 - Vancouver Island www.yongkieandpokie.com/2003/vi.html

2004 - Colorado www.yongkieandpokie.com/2004/royal.html


2004 - Pikes Peak Cog Railway www.yongkieandpokie.com/2004/cog.html


2004 - Promontory, Utah www.yongkieandpokie.com/2004/promontory.html


2005 - Mount Rushmore, South Dakota www.yongkieandpokie.com/2005/rush.html


2005 - Black Hill Central Trailer www.yongkieandpokie.com/2005/1880.html


2005 - Devils Tower National Monument www.yongkieandpokie.com/2005/devil.html

Perbandingan luas Alaska dengan benua Amerika
2005 - Alaska adalah negara bagian terakhir dan terbesar di AS. Letaknya tidak tersambung dengan daratan Amerika. Semula daratan ini milik Rusia, baru masuk AS 3 Januari 1959. Luasnya 1.718 juta km2. 
Pemandangan dari Holland America Cruiseline
Untuk menjelajah negara bagian ini mereka melakukan 3 kali kunjungan. Pertama tahun 2005, mereka ikut kapal Holland America Cruiseline. Jangan kaget kalau dalam perjalanan ini mereka jarang berbahasa Inggris tapi berbahasa Indonesia, karena hampir separuh crew dari Indonesia. Awalnya mereka dikira orang Jepang. Crew kapal yang dari Indonesia tertawa senang ketika Yongkie mananggapi mereka dengan bahasa Indonesia. Seperti bertemu saudara di negeri orang. Selalu membahagiakan. Naik kapal selama seminggu rasanya hanya melihat Alaska. Tapi tidak berada di Alaska. Alaska Cruise dapat dilihat di sini www.yongkieandpokie.com/2005/cruise

2006 - Untuk merasa berada di Alaska hanya bisa dilakukan dengan jalan darat, yaitu menyusuri The Alaska Highway. Mereka melakukan perjalanan sepanjang lebih dari 6000 miles selama 42 hari. Perjalanan pulang juga harus melewati jalan yang sama karena memang itulah jalan satu-satunya. Perjalanan panjang ini cukup bisa menjangkau beberapa tempat dan juga di Canada. Perjalanan melalui darat bisa dilihat di www.yongkieandpokie.com/alaska

2018 - 12 tahun kemudian tekad untuk menelusuri Alaska di ulangi lagi dengan menggunakan pesawat dan Kereta api. Kali ini perjalanan mereka terpuaskan. Bisa melihat dan berada di Alaska sebagai negara bagian terluas di US. Perjalanan mereka bisa dinikmati di www.yongkieandpokie.com/arr

2007 - San Juan Island www.yongkieandpokie.com/2007/sanjuan.html


2012 - Mount Rainer Scenic Railroad www.yongkieandpokie.com/2012/mrsr.html


2012 - Boise, Idaho www.yongkieandpokie.com/2012/boise.html


2013 - New England adalah wilayah timur laut AS yang terdiri dari negara bagian Maine, Vermont, New Hampshire, Massachusetts, Connecticut dan Rhode Island. www.yongkieandpokie.com/newengland


2014 - Chicago www.yongkieandpokie.com/chicago


2015 - Toronto, Montreal Canada www.yongkieandpokie.com/toronto


2018 - Seattle, menjadi tempat pertemuan dengan tamu Agung dari Indonesia. http://www.yongkieandpokie.com/2018/aap.html

2019 - San Fransisco http://www.yongkieandpokie.com/2019/caltrain.html


2019 - Seattle http://www.yongkieandpokie.com/2019/seattle.html 

Nebraska, Kansas, Iowa dan Michigan
Dalam kurun waktu 31 tahun, masih ada 4 negara bagian yang belum dikunjungi yaitu Nebraska, Kansas, Iowa dan Michigan. Aku hanya bisa memberi semangat,
"Ayo Yong, kaulan harus ditepati, mumpung masih diberi kesehatan dan waktu. Kalau sudah terlaksana lalu syukuran. Buat tumpeng... kan isih wong Jowo... hahaha".

Cerbung kali ini boleh dibilang sebuah catatan perjalanan selama lebih dari 30 tahun dan belum selesai hingga saat ini. Semoga dengan mengenang kembali perjalanan yang berawal dari kaulan di tahun 1988, memberi semangat untuk menyelesaikannya.



T A M A T