Pages

Saturday, April 13, 2013

Mengasah Budi

Mengikuti misa pagi dengan bersepeda menjadi kegiatanku setiap pagi. Ada kegembiraan hati, setiap kali alarm berbunyi... mandi dan mengayuh sepeda, dengan keranjang berisi  dompet dan buku doa. Jam 5.15 di pagi hari, langit masih sedikit gelap, angin semilir dingin menerpa wajah, sementara roda menggeliding dengan desisnya yang lembut.
Gereja pagi cukup banyak peminatnya. Kebanyakan orangtua dan beberapa anak sekolah yang rajin dikala musim ulangan dan ujian. Doa memang menjanjikan banyak hal....
Aku senang dengan suasana tenang di pagi hari. Kalau aku datang lebih awal, bisa sambil melamun mendengarkan musik instrumen lembut yang membuai pikiran hingga tertata dalam ketenangan.

Hanya inikah yang aku dapat selama mengikuti misa pagi? ternyata tidak...

Kaki berbalut sapu tangan.
Aku selalu duduk di kursi setelah pintu masuk. Supaya bisa cepat keluar begitu misa selesai. Mendahului semua umat, supaya bisa mengayuh sepeda ketika jalanan masih sepi. Maklum belum mahir sekali bersepeda.
Karena duduk di baris depan , aku selalu mendapatkan pembagian hosti pertama kali. Biasanya dalam doa singkat, aku menunduk dan memandangi kaki-kaki umat yang lewat di depanku setelah mereka menerima hosti.
Pagi ini ada satu hal yang menyentuh hati. Ada sepasang kaki tua tanpa alas. Lebih menyedihkan lagi salah satunya dibalut sapu tangan. Pasti kaki ini sedang sakit. Spontan aku mendongakkan kepala melihat siapa pemiliknya. Ibu sepuh itu, sering aku lihat setiap pagi. Sangat sepuh dan mungil. Tidak biasanya beliau tanpa alas kaki. Aku bertanya-tanya dalam hati... apa yang terjadi? dan tumbuh rasa belas kasihan....
Misa selesai dan aku bergegas keluar... seperti biasa.... tapi.... kali ini gerak kaki di hantui sepasang kaki tua yang dibalut sapu tangan. Setelah mencoba menuntun sepeda separoh halaman gereja, aku berhenti. Aku ingin bertemu ibu sepuh itu. Di dompetku hanya ada satu lembar uang 20 ribu. Aku ingin memberikannya kepada beliau. Entah untuk membeli sandal atau berobat.
Dan aku menanti beliau, diantara umat yang sudah mulai berhamburan keluar gereja. Setelah menunggu beberapa saat... kok beliau belum kelihatan. Sementara gereja mulai sepi. Penasaran, aku kembali ke gereja, mengintip di antara jendela... dan aku melihat beliau masih duduk dalam khusuknya doa. Setelah menanti sesaat, aku memutuskan untuk masuk dan duduk di sampingnya. Aku menunggu sampai beliau  membuat tanda salib, tanda doanya selesai....
"kenging menapa bu?" tanyaku sambil menunjuk ke kakinya. Dia tersenyum lembut "kenging minyak panas, sampun sae kok jeng...sampun garing".... Aku bukan seseorang yang bisa berbasa-basi, maka dengan cepat ku sisipkan uang ke dalam genggaman tangannya yang keriput.... "kagem berobat bu.." ada siratan terkejut di wajahnya yang tua dan sederhana... tapi kemudian berganti wajah penuh syukur "maturnuwun sanget"..... kemudian aku bergegas keluar.... dan kukayuh sepedaku dengan hati ringan... ada sebersit kebahagiaan yang nilainya lebih dari 20 ribu. Kelegaan karena berbagi... dan kebahagiaan karena sudah menuruti suara hati....

Beras 5 kg...
Misa pagi kali ini, sedikit terusik oleh seorang umat yang rupanya sedikit terganggu jiwanya. Kebetulan dia duduk di depanku. Dia kadang bergerak-gerak gelisah sambil merentangkan tangannya, meregangkan tubuh. Kadang berkomentar agak keras tanpa jelas apa yang dikatakannya. Karena dia ada di depanku, aku jadi sedikit terganggu mengikuti misa. Hingga akhirnya misa selesai, dan Romo menutup dengan sebuah pengumuman. Bahwa pada waktu paskah, terkumpul banyak beras di pastoran. Mereka sudah membagikan ke orang-orang yang kurang beruntung, tapi ternyata masih sisa. Maka kami diminta bantuannya untuk membagikan ke orang-orang di sekitar kita yang pantas untuk mendapatkannya.
Aku teringat Srintil yang baik hati. Maka menjadi penghiburan bagiku setelah gagal mengikuti misa dengan baik, untuk ikut membagikan rejeki bagi orang lain yang membutuhkan.
Beras sudah di timbang, 5 kg setiap kantong plastik. Karena aku naik sepeda, maka aku hanya mengambil satu kantong.
Dengan pede, aku letakkan beras sekantong di keranjang depan sepedaku, Dan dengan pede pula kukayuh sepeda pulang. Ternyata lumayan berat juga, sehingga sepedaku sering meliuk kekiri dan kekanan.
Beberapa meter sebelum sampai ke gerbang rumah, aku melihat Srintil baru mengantar kue entah  kemana.
Dengan helaan nafas lega aku tiba dengan selamat sampai di rumah. Srintil menyusul beberapa saat kemudian. Ketika aku mengantarkan beras ke rumahnya, dia kaget "ooo... pantes bu Lilik naik sepedanya miring kekanan... kekiri..." katanya tertawa, dengan wajah tersirat rasa terimakasih dan haru. Segera disusul dengan ucapan terimakasih berkali-kali.

hhhhmmm... andai aku bisa melakukan hal-hal kecil seperti ini setiap hari.... seperti doa yang didaraskan bersama setelah kami semua menerima komuni....

Tuhan, semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur, memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai. Sebab dengan memberi aku menerima, dengan mengampuni aku diampuni, dengan mati suci, aku akan bangkit lagi untuk hidup selama-lamanya. Amin (PS.221)



No comments:

Post a Comment