Pages

Sunday, August 14, 2022

Berhenti

 Bersepeda ke arah utara selalu menjadi pilihan selama ini karena relatif lebih aman. Terutama buat aku yang belum mahir banget bersepeda. Tiap kali berhenti sebentar di perempatan selalu berasa mau jatuh. Berkali-kali diajari suami supaya aman kalau berhenti, tapi nggak bisa mahir juga. Karenanya kalau ada pertigaan atau perempatan kecil aku lebih suka pelan-pelan mengayuh sambil melihat situasi aman atau tidak.

Karena mulai bosan dengan rute yang itu-itu juga selama hampir 6 bulan akhirnya aku diajak untuk mencoba rute ke selatan. Tapi itu berarti harus melewati traffic light Bendo Gantungan yang cukup lebar. Perempatan tersebut merupakan jalur utama Jogya-Solo. Bisa dibayangkan kendaraan yang melewatinya padat, termasuk kendaraan besar seperti truk, bis bahkan truk container. Menyeramkan. Masak nggak dicoba?? kan ada traffic light. Jadi pastilah aman kalau mengikuti aturan lalu lintas.

Tapi... tahu sendiri aku tuh belum bisa berhenti dengan mulus tiap kali bersepeda. Walaupun berangkat pagi hari, sebelum jam 5, tapi lalu lintas diperempatan sudah ramai. Pagi itu, aku sudah bersiap dan berdoa supaya pas lewat perempatan lampu hijau, jadi nggak perlu berhenti. Sayangnya begitu aku keluar kompleks (tempat tinggalku dekat dengan traffic light Bendo Gantungan), aku melihat lampu mulai hijau. Maka ngebutlah aku supaya bisa mengejar lampu hijau. Sayangnya begitu hampir sampai, aku melihat lampu mulai kuning mau berubah menjadi merah. Ada satu sepeda motor yang nekat terus. Dan aku mengikutinya supaya tidak perlu berhenti. Pikirku, cukuplah waktunya kan masih kuning... tapiiii... namanya juga sepeda, lebih lambat kan dari sepeda motor. Di tengah perempatan, jalur sebelah kanan mulai hijau dan ada mobil membunyikan klakson beberapa kali melihatku melintas di tengah jalan.

Traffic light Bendo Gantungan Klaten di jalur
Jogya-Solo yang tidak pernah sepi

Aku mempercepat kayuhan dan selamat sampai seberang. Aku membayangkan suamiku yang tertinggal di lampu merah pasti "tratapan". Akhirnya suamiku berhasil menyusulku. Dia diam saja, tidak menegur atau memarahi. Tapi aku sudah merasa malu dengan tindakanku yang "ngawur" dan membahayakan tadi. Walaupun tidak marah atau menegur tapi kemudian di setiap perempatan dia selalu mendahului untuk memberi aba-aba dengan tangannya berhenti atau terus. 

Kenapa sih susah berhenti??

Entah kenapa aku merasa tiap kali berhenti keseimbanganku kurang bagus. Selalu oleng. Bahkan sampai sekarang aku belum bisa lepas tangan, walaupun hanya satu tangan. Kalau dijalan pingin tengok kanan-kiri selalu jadi miring ke kiri atau ke kanan jalannya. Tiap kali mau mulai jalan, posisiku harus sudah ada di atas sadel. Kalau mengayuh sambil berdiri kemudian baru duduk di sadel, aku belum bisa lancar. Selalu meliuk-liuk kekiri-kanan. Aaahh... aku kalah trampil dengan cucuku. Karena dia bisa lompat dari sepeda sambil sepeda masih jalan. Dan dia bangga sekali memamerkan keahliannya ke aku.

Puji Tuhan bisa sampai desa Gantiwarno, di hantar 
bulan yang mulai menjauh dan samar-samar

Dulu ketika anak-anak masih balita dan kami berlibur di Pangandaran, kami menyewa sepeda untuk mencari warung untuk makan siang. Karena anak-anak masih kecil, mereka tandem dengan bapaknya, dan aku bersepeda sendiri. Kalau sepeda sudah berjalan aku bisa mengendalikannya dengan baik. Tapi ya hanya jalan lurus ke depan. Jalan ngelonyor sendiri nggak melihat kanan kiri, tiba-tiba suami dan anak-anak sudah ada disampingku. Mereka tertawa semua.

"mamaaaa.... warung makannya sudah kelewatan.... hahahaha" haduuuh... konyol sekali,  kenapa susah berhenti ya.

Aku jadi ingat saat dulu ketika didampingi bapak dan aku yang pegang stir mobil. Tiap kali di jalan ramai dimana ada becak dan sepeda berseliweran, bapak selalu bilang,

"kalau dijalan ngadepin becak atau sepeda kamu harus ngalah!"

"kenapa??"

"karena kamu kalau berhenti tinggal injak rem, mau jalan tinggal injak gas. Mereka kalau berhenti dan memulai jalan lagi pakai tenaga, dan itu berat".

Benar juga. Berhenti. Stop dulu. Diam dulu. Tidak akan sama bagi setiap orang.

Ketika seluruh dunia harus stop dulu, diam dulu, berhenti dulu karena pandemi covid, tiap orang akan menanggapinya dengan berbeda. Ada yang santai, ada yang berat, ada yang sudah tidak tahan lalu nekat keluar rumah (kayak aku nekat melewati traffic light). Berhenti dan memulai lagi dari awal selalu berat. Bagi perusahaan yang terhenti karena pandemi harus berjuang lebih keras untuk memulainya lagi.

Berhenti sebentar memang perlu untuk mengikuti aturan. Berhenti untuk beristirahat ketika badan sudah terlalu lelah. Berhenti sebentar dari rutinitas untuk mendapatkan angin segar atau inspirasi baru. Berhenti, berhentilah juga sebentar untuk mendengarkan, untuk melihat hal-hal baru, untuk mencium udara segar, untuk menyentuh dan menikmati air, udara, tanah basah habis hujan dengan kaki telanjang.

Boleh berhenti berdoa nggak?? pertanyaan muncul tiba-tiba. Hhmmm..... gimana yaa??

Menurutku, berdoa itu hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Tidak bisa kita menghakimi seseorang berdoa atau tidak hanya dilihat dari kehidupan sehari-hari beragama. Ketika berucap terimakasih kepada Sang Pencipta menurutku adalah doa. Berhenti atau tidak terserah masing-masing. Karena hanya masing-masing orang yang bisa merasakan relasi indah bersamaNya saat merasakan berkatNya, perlindunganNya, pendampinganNya dan penyertaanNya sepanjang hidup kita.

Dan menurutku juga, dalam berdoa, aku berhenti sebentar dalam menyampaikan permohonan khusus kepadaNya. Berhenti untuk,

Menguji kepercayaan dan kesabaran, bahwa Tuhan akan mengabulkan permohonan kita di saat dan waktu yang tepat.

Menguji kepasrahan, bahwa permohonan kita bisa dikabulkan juga bisa tidak, apabila tidak sesuai dengan kehendakNya.

Menguji keyakinan, bahwa hanya Tuhan yang bisa menyelesaikan semua persoalan manusia yang sudah tidak mungkin kita selesaikan. We do the best, God do the rest.



Wednesday, August 3, 2022

Aku Kayaaa...

 Setiap pagi mengantar Mosha sekolah, setelah parkir kami harus berjalan masuk ke gang menuju sekolahnya. Setiap kali masuk gang, mata Mosha selalu melirik ke kiri ke penjual mainan yang sudah menggelar aneka mainan di jalan. Lirikannya terhenti karena kami tiba di depan gerbang sekolah. Setelah menyapa selamat pagi ke bu guru, dia mengulurkan tangan ke mesin pendeteksi suhu tubuh dan hand sanitizer kemudian berjalan masuk ke kelas. Dan aku meninggalkannya untuk 3.5 jam bersekolah TK B.

Pulang sekolah yang menjemput mbak Rina karena dia lebih suka dijemput naik motor. Katanya bisa melihat ular mati, tikus mati di jalan (?). Aneh juga ketertarikannya. 

Jam 11.15 Mosha sudah tiba di rumah. Setelah makan siang dia akan mengeluarkan berbagai mainan kesukaannya sambil menunggu teman-temannya datang di sore hari untuk bermain bersama. Karena jam menunggunya cukup lama, maka orangtuanya membelikan berbagai mainan yang mengembangkan kreativitasnya seperti magnet, marble, berbagai media untuk menggambar, playdough yang harganya cukup mahal bagi kami. Kami biasa memberikan hadiah yang sungguh bermanfaat sebagai hadiah di hari besar, seperti ulangtahun dan natal. Karenanya mahal sedikit tidak mengapa supaya bisa awet dan bisa dimainkan lebih dari 1 tahun. 

Bosan? tentu saja. Kadang dia dengan polosnya bertanya,

"kita mainan apa lagi mimo? aku tidak tahu lagi.." lalu aku ikutan bingung mau mainan apa lagi. Sebetulnya bisa mainan apa saja, tapi nampaknya dia sudah tidak berminat. Ujung-ujungnya menggambar, membuat sesuatu dari kertas origami, atau membuat pudding kesukaan dia dengan cetakan macam-macam bentuk.

Suatu hari, Mosha pulang sekolah dengan wajah super ceria. Dengan ceriwis dia bilang kalau tadi dibelikan mainan mbak Rina. Sebuah kitiran plastik yang kalau di tarik ke atas bisa melayang-layang. Aku kaget karena mbak Rina yang membelikan.

"berapa harganya, mbak?"

"cuma 2000 rupiah kok bu, nggak papa saya belikan aja. Nggak papa to bu".

"nggak papa mbak, Mosha seneng sekali tuh" kami berdua memperhatikan Mosha memainkannya dengan gembira. Berteriak ceria kalau kitiran plastiknya bisa melayang lama di udara. Lari kesana kemari menangkapnya dan menerbangkanya lagi. Yang mengagetkan kata-kata yang keluar diantara teriakan ceria bahagianya.

Mainan peer seperti ini 3.500 rupiah

Kitiran plastik seperti ini 2.000 rupiah

"Aku kayaaaa... mimo!!" aku terpana. Kaya? hanya dengan mainan 2000 rupiah dia merasa begitu kaya dan sungguh membuatnya bahagia. Betapa mudah dan murah perasaan kaya dan bahagia yang dia rasakan.

Memang benar kata orang Jawa tentang pepatah "kebo nyusu gudel". Anak-anak bisa mengajarkan banyak hal pada orang yang lebih tua. Bahagia dan perasaan kaya bukan dilihat dari nilai uang yang banyak dan berlimpah. Dengan 2000 rupiah Mosha sudah begitu bahagia dan merasa kaya. Dia sangat menyukai mainannya, sehingga ketika dia pamerkan ke bapaknya kemudian kitiran tersangkut di eternit, dia ngotot saat itu juga harus diambil. Mainan itu menjadi sangat berharga baginya.

Anak-anak tidak mengerti barang-barang branded, nilai uang, mahal itu yang seperti apa. Yang mengetahui hal semacam itu hanya orangtuanya yang kemudian mengajarkan pada anaknya. Padahal anak-anak punya kemurnian hati untuk merasakan bahagia secara tulus dan apa adanya. Kadang aku juga mendengar obrolan anak-anak yang selalu menyebutkan harga mainannya.

"sepedaku mahal lho, kata mamaku harganya satu juta duaratus ribu"

"tas mainanku ini harganya seratus ribu lho"

"punyaku harganya lima ribu" jawab Mosha tidak mau kalah, asal-asalan menyebut angka, padahal dia tidak tahu lima ribu dan seratus ribu itu besar mana, hahaha....

Suatu kali kami mendengar obrolan anak-anak yang sedang bermain di teras rumah.

"kata mamaku kamu tuh sebenarnya kaya lho Mosh"

"iyaaa, aku kadang bisa kayak putri... kadang kayak superhero...." jawabnya polos sekali. Kami tertawa terpingkal-pingkal menguping obrolan mereka. Tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi temannya mendengar jawaban Mosha.

Kaya, bagi orang dewasa dinilai dari apa yang mereka miliki. Rumah, mobil, baju, tas, sepatu, kemana saja mereka pergi, apa yang mereka makan dll. Semakin mahal harganya semakin kaya mereka. Sebenarnya sebutan kaya ukurannya bisa menjadi tidak jelas. Bahkan ketika seseorang bisa membeli mobil dan rumah tiba-tiba langsung mendapat predikat OKB (orang kaya baru). Padahal banyak yang lebih kaya, lebih kaya lagi dan lebih lebih kaya lagi. Kalau kekayaan menjadi persaingan pasti tidak akan ada habisnya.

Kata "kaya" juga bisa menyesatkan. Coba bayangkan, banyak orang mengejar kekayaan dengan berbagai cara, bahkan dengan cara yang tidak benar, hanya ingin mendapatkan predikat "kaya". Padahal kaya itu sendiri tidak punya ukuran. Karena manusia tidak pernah puas, maka kekayaan akan dikejar terus tanpa batas, hingga sampai pada batas kemampuan manusia untuk mencapainya.

Jadi menurutku, seseorang berhak merasa kaya saat dia memiliki barang yang mereka inginkan dan mampu mereka beli, merasa nyaman hidupnya, merasa bahagia dan menikmati hidupnya sesuai kemampuannya untuk meraih. Terlebih lagi mampu berbagi dengan orang yang sungguh-sungguh membutuhkan.





Tuesday, May 17, 2022

bye bye Moon.... hello Sunshine

 Masih cerita tentang bersepeda. Setiap kali kami sampai di rumah yang selalu membuat kami exciting adalah melihat data perjalanan kami di HP. Berapa kilometer yang dicapai, berapa kecepatannya, berapa jam, berapa kalori yang terbuang. Kemudian melihat pencapaian kilometer selama seminggu, sebulan dan total sejak awal mula kami bersepeda. Tentu saja data yang kumiliki belum sebanyak milik suamiku. 

Persiapan bersepeda ternyata banyak, selain celana panjang dan kaos/sweater lengan panjang tentunya. Tutup kepala, biar keringat yang turun di dahi tidak mengganggu pandangan. Masker, walaupun tidak kupakai sampai hidung, karena akan membuat kabut di kacamataku sehingga mengaburkan pandanganku. Jam, yang mendeteksi detak jantung. HP, untuk mendata rute perjalanan dan tentu saja untuk berjaga-jaga kalau dibutuhkan, juga untuk mengambil foto. Kaos tangan dan sepatu kets. Cek lampu sepeda sudah dinyalakan apa belum. Lampunya sudah di charge apa belum. Ban sudah aman terisi angin apa belum. Ribet banget ternyata. 

Di usia yang sudah "umur" sudah pasti sering terjadi kelalaian.

Lupa pakai masker, jadi deg-degan waktu berpapasan dengan polisi yang berpatroli di bulan puasa. Lalu, sibuk merangkai-rangkai jawaban kalau nanti ditanya. Ternyata aku lolos dari perhatian polisi. Jadi aman. Tapi tidak aman dari binatang sawah kecil-kecil yang menabrak wajah.

Lupa nggak pakai kaos tangan, biarlah.... lanjut teruuuuusss.

Lupa ngecharge lampu sepeda, biarlaaah... toh ada suamiku yang mengikuti di belakang dengan lampu yang cukup terang. Kami selalu berangkat pagi-pagi sebelum jalanan jadi ramai.

Lupa nggak pakai sepatu kets... hahaha... jadilah pakai sandal jepit, seperti kebiasaan kalau keliling kompleks hanya pakai sandal jepit.

sandal jepit... kekonyolan faktor "U"

Lupa cellular phone nggak di ON. Karena kalau di rumah pakai WIFI, kalau keluar rumah harus di ON supaya bisa mendata perjalanan.

Yang paling sedih kalau data perjalanan hilang. Sampai rumah rasanya perjalanan tadi sia-sia. Suatu hari kami mencoba rute baru yang di peta sepertinya kok tidak terlalu jauh. Setelah masuk desa Demak Ijo, ternyata jalan yang kami lihat di peta kecil dan masih jalan tanah. Karena ragu-ragu melewatinya, kami memilih jalan satunya yang lebar dan beraspal. Ternyata penuh perjuangan melewatinya karena jalannya naik dan berkelok-kelok. Hingga akhirnya bisa sampai ke jalan besar yang menurun terus. Perjuangan yang lumayan buatku. Dalam hati, aku berharap "wah pasti dapat kilometer banyak nih, sesuai dengan perjuangan pagi ini. Bisa nambah kumpulan kilometerku". 

Pikiran inilah yang menambah semangatku untuk menyelesaikan perjalanan ini hingga sampai ke rumah. Tapi betapa kecewaku, sangat kecewa karena ternyata HPku tidak mencatat perjalanan heboh ini dengan baik. Aku tidak tahu kenapa??? sediiih dan rasanya jadi lebih lelah dari biasanya. Kata suamiku yang HPnya bisa mencatat perjalanan kami, perjalanan tadi 19 kilomater lebih. Tambah kecewa dan sedihlah aku. Yang tercatat hanya 2,28 km. Dan entah kenapa kok berhenti disitu.

Seharian itu aku merasa sangat kelelahan. Mungkin juga karena kecewa dan sedih sehingga energi yang keluar semakin banyak. Esok harinya aku tidak bersepeda. Baru bersemangat lagi hari berikutnya. Kali ini aku memutuskan untuk tidak peduli dengan angka-angka dan data-data yang terekam di HPku. Biarlah... syukur ke rekam, enggak juga nggak papa. Aku ingin menikmati perjalananku dengan sungguh-sungguh melihat dan memandang alam sekitar saja. 


Tadi pagi saat akan berangkat aku disapa "selamat tinggal" oleh bulan yang sudah mulai turun ke kaki langit. Sinarnya yang mulai meredup seakan menyapa, mengucapkan "selamat tinggal, sampai ketemu lagi". Dan saat aku mengayuh pedal sepeda, udara pagi yang sejuk dan bersih bisa aku rasakan menyusup ke pori-pori kulitku. 

bye bye moon.... see you

Disepanjang jalan yang masih sepi dan gelap aku melihat para pekerja menyapu sisi-sisi jalanan. Hingga jalan aspal kelihatan hitam bersih dan berkilat.Warung sayuran mulai ramai dikunjungi orang-orang yang menitipkan dagangan dan juga pembeli yang memilih belanjaan. Ketika memasuki desa Manjung, centra produksi soun mulai beraktivitas setelah libur lebaran. 

Desa Manjung sebagai centra produksi soun berawal tahun 1950 diprakarsai bapak Slamet Somo Suwito. Karena berkembang baik maka penduduk sekitar ikut membuat dengan bantuan bapak Slamet. Walaupun produksinya mulai menurun karena banyak merek soun import, namun desa ini masih dikenal sebagai penghasil soun. Soun menjadi bahan pelengkap soto, atau bisa juga dimasak menjadi soun goreng dan oseng soun. Bahan baku dalam pembuatan soun adalah tepung aren yang merupakan hasil pengolahan dari batang aren yang sudah diproses menjadi tepung. Bahan baku ini diproduksi di Desa Bendo Kecamatan Tulung Kabupaten Klaten.



Dini hari memasuki kawasan indutri soun desa Manjung

Tepung aren dicampur air, dipanaskan
dan diaduk terus hingga kental


Bahan yang sudah mengental di cetak memanjang
 seperti bakmi kecil-kecil. Kemudian ditampung
 dalam kotak panjang dan dijemur diterik matahari
kurang lebih 3 jam

soun dijemur dengan tatanan rapi

Setelah kering soun di gantung
untuk memudahkan ditimbang dan
diikat dan kemudian di packing dan
siap didistribusikan ke seluruh Indonesia.

Semangat para penyapu jalan, penjual di warung, pekerja di pabrik soun dan juga para petani yang mengolah sawah menyalurkan energi dalam diriku. Aku semakin bersemangat mengayuh sepeda sambil memanjakan mata dengan pemandangan alam di pagi hari yang indah. Sawah menghijau kekuningan dan matahari yang mengintip, menyemburatkan sinar oranye di cakrawala. Paduan warna indah ciptaanNya. Hingga hatiku menyapanya dengan riang... hello sunshine. Tak disangka dalam waktu kurang lebih satu jam antara sapaan "bye bye moon.... hello sunshine" aku mendapatkan pengalaman yang luar biasa indah juga penuh semangat. Rasa syukur sebagai panjatan doa kepada Sang Pencipta. Terimakasih atas karunia di pagi hari yang membawa kedamaian hati dan ketentraman pikiran.


hello... Sunshine


Note: tulisan ini terinspirasi chating di dini hari dengan sahabat SMA ku Baskoro. Dari sharingnya kalau bersepeda dia selalu sambil memanjatkan doa, hingga puluhan kilometer ditempuh tak terasa. Berkat yang didapat adalah kesehatan, kedamaian dan ketentraman. Dan itu benar. Thanks ya Bas untuk sharingnya.

Thursday, April 14, 2022

Se"conthong" Kacang Rebus

    Ternyata baru di usia menjelang 63 tahun, aku bisa menikmati bersepeda. Masih terkenang dulu masa kecil di Jogyakarta, mungkin umur 6 th lebih aku baru bisa naik sepeda roda dua. Waktu itu ibu langsung menghadiahiku kacang rebus yang dibeli diujung jalan. Penjual kacang, pisang dan ketela rebus itu selalu mangkal di bawah tiang listrik. Rasanya sudah mendapat apresiasi yang luar biasa dengan membawa pulang se conthong (daun pisang yang dilipat seperti kerucut) kacang rebus. Ketika klas 2 SD pindah ke Semarang, kami tinggal di perumahan, sehingga kalau main sepeda hanya di lingkungan kecil. Menjelang SMP sudah tidak bisa bersepeda lagi karena rumah kami di atas bukit kecil, hingga cukup berbahaya untuk bersepeda. Sejak saat itu aku berhenti naik sepeda.

Ini rumah kelahiranku, dulu namanya jalan Cemorojajar no 19.
Di halaman inilah aku pertama kali bisa naik sepeda

Masa kecil anak-anakku, bapaknya yang kebagian tugas mengajar naik sepeda. Aku sempat ikut kalau ada sepeda kecil yang kakiku bisa menyentuh tanah untuk menjaga keseimbangan supaya jalannya tidak meliuk-liuk. Akhirnya anak-anak semua lancar naik sepeda bahkan sepeda motor, dan aku tetap tidak lancar bersepeda.

Sekarang aku tinggal di Klaten dan cucuku ternyata mengubah segalanya. Menemaninya bersepeda roda tiga keliling kompleks membuatku ingin juga belajar naik sepeda lagi. Walaupun sering diejek anak-anak kecil di kompleks karena kelihatan sekali kalau aku tidak trampil mengayuhnya. Suami dan mantuku sudah bersepeda kemana-mana. Berpuluh kilometer. Aku masih belum tergerak. Hingga dua bulan lalu suamiku memberi kejutan dengan sepeda baru. Dia pilihkan sendiri, dengan pertimbangan kalau aku tidak mau, sepeda akan dia pakai sendiri.

Sepeda kecil cantik itu menggodaku untuk mencobanya berkeliling kompleks. Awalnya hanya 5 kali putaran. Kemudian naik sedikit demi sedikit 10 kali, 15 kali, 20 kali dan akhirnya 25 kali. Kurang lebih 6 km setiap hari. Lama-lama bosan juga berputar-putar terus di kompleks. Apalagi sering mendapat komentar,

"udah kelar belom?"

"masih berapa putaran lagi?"

"belum selesai juga?" hahaha.... lama-lama tetangga jadi menaruh perhatian karena aku biasa berputar-putar sekitar 45 menit setiap hari. Masing-masing tetangga sudah bersiap mengantar anak sekolah dan berangkat ke kantor.

Awal naik sepeda keliling kompleks

"Ayo kita coba sepedaan keluar kompleks" ajak suamiku suatu hari setelah hampir sebulan aku berputar-putar dalam kompleks. Baiklah, mari kita coba. Karena aku masih panik setiap kali ada motor atau mobil lewat, maka kami berangkat pagi hari, paling lambat jam 5 pagi. Semula hanya berkeliling pasar Gayamprit sebelah utara perumahanku. Lumayan, hanya 4.5 km tapi jalannya naik turun. Cukup berkeringat juga. Beberapa kali rute ini menjadi jelajah kami bersepeda setiap pagi, walaupun saat aku belok ke rumah, suamiku akan melanjutkan bersepeda yang lebih jauh lagi. 

Rute yang sama membuat bosan. Ayo kita cari lagi yang lebih jauh dan seru. Jaraknyapun mulai bertambah. Menjadi 8 km, ketika melewati dusun Karanglo yang indah dengan pohon mirip cemara di kanan kiri dan pemandangan sawah yang luas terbentang. Tercium udara segar aroma sawah dan pohon. Pemandangan hijaupun menjernihkan mata.

Kukayuh sepedaku makin jauh dan jauh. Bosan rute lama, kami mencari rute baru. Tak terasa sekarang hampir setiap hari kami berdua mengayuh sepeda sepanjang 12,6 km. Suamiku akan melanjutkan hingga 20 km dengan berkeliling kota Klaten. 

Desa Karanglo, indah nuansa sawah di pagi hari.

Aku bukan penggowes. Aku hanya senang bersepeda keliling desa. Aku juga lebih suka berangkat pagi-pagi saat jalan masih sepi, udara segar dan menikmati pemandangan alam di saat matahari baru bersinar redup di cakrawala.

Beberapa pengalaman bersepeda didesa-desa sering membuatku tertawa sendiri.

Suatu kali aku tidak melihat kalau ada kabel melintang miring di jalan. Entah kabel apa. Tahu-tahu sepedaku meliuk liuk tak terkendali, walaupun pelan. Campuran kaget dan panik akhirnya aku malah menjatuhkan diri ke rerumputan dengan gaya slow motion hahahaha... gaya yang menyelamatkanku dari kaki terkilir. Untung masih bisa berdiri dan mengayuh sepeda lagi sekitar 4 km.

Karena ada sepeda dengan keranjang di depan, kadang aku mampir beli sayur di warung, sementara suamiku melanjutkan perjalanan ke rute yang lebih jauh lagi. Dalam perjalanan pulang, ada mobil yang membunyikan klakson berkali-kali. Aku memang sedikit ke tengah karena ada lubang cukup dalam di depan. Karena panik, aku memilih nekad melewati lubang bukannya berhenti di pinggir. Alhasil sepeda dan aku terlompat juga tas sayurku terlempar dari keranjang. Ya ampuuunnn... padahal mobil yang melewatiku kecil lho... harusnya bisa mepet kekanan. Untung di belakangku tidak ada kendaraan lain, jadi aku bisa menyelamatkan tas sayurku.

Di bulan puasa, yang paling membuatku kawatir ketika melewati anak-anak yang memenuhi jalanan setelah saur. Mereka melempar-lempar mercon kecil. Kadang ada juga mercon yang lumayan besar tapi di lempar ke sawah. Beberapa hari ini, selalu ada mobil polisi yang berkeliling desa untuk menertibkan anak-anak ini. Jadi sekarang semakin aman dan nyaman bersepeda dari desa ke desa.



Baiklah, karena 'hidupku juga penting', maka aku menuliskan kisahku sebagai apresiasi untuk diriku sendiri. Dari belajar naik sepeda 'lagi' hingga kilometer yang kutempuh sedikit demi sedikit hingga hari ini bisa menempuh 15,81 km.

Jadi... ayuk kita beli se conthong kacang rebus!!