Pages

Wednesday, August 3, 2022

Aku Kayaaa...

 Setiap pagi mengantar Mosha sekolah, setelah parkir kami harus berjalan masuk ke gang menuju sekolahnya. Setiap kali masuk gang, mata Mosha selalu melirik ke kiri ke penjual mainan yang sudah menggelar aneka mainan di jalan. Lirikannya terhenti karena kami tiba di depan gerbang sekolah. Setelah menyapa selamat pagi ke bu guru, dia mengulurkan tangan ke mesin pendeteksi suhu tubuh dan hand sanitizer kemudian berjalan masuk ke kelas. Dan aku meninggalkannya untuk 3.5 jam bersekolah TK B.

Pulang sekolah yang menjemput mbak Rina karena dia lebih suka dijemput naik motor. Katanya bisa melihat ular mati, tikus mati di jalan (?). Aneh juga ketertarikannya. 

Jam 11.15 Mosha sudah tiba di rumah. Setelah makan siang dia akan mengeluarkan berbagai mainan kesukaannya sambil menunggu teman-temannya datang di sore hari untuk bermain bersama. Karena jam menunggunya cukup lama, maka orangtuanya membelikan berbagai mainan yang mengembangkan kreativitasnya seperti magnet, marble, berbagai media untuk menggambar, playdough yang harganya cukup mahal bagi kami. Kami biasa memberikan hadiah yang sungguh bermanfaat sebagai hadiah di hari besar, seperti ulangtahun dan natal. Karenanya mahal sedikit tidak mengapa supaya bisa awet dan bisa dimainkan lebih dari 1 tahun. 

Bosan? tentu saja. Kadang dia dengan polosnya bertanya,

"kita mainan apa lagi mimo? aku tidak tahu lagi.." lalu aku ikutan bingung mau mainan apa lagi. Sebetulnya bisa mainan apa saja, tapi nampaknya dia sudah tidak berminat. Ujung-ujungnya menggambar, membuat sesuatu dari kertas origami, atau membuat pudding kesukaan dia dengan cetakan macam-macam bentuk.

Suatu hari, Mosha pulang sekolah dengan wajah super ceria. Dengan ceriwis dia bilang kalau tadi dibelikan mainan mbak Rina. Sebuah kitiran plastik yang kalau di tarik ke atas bisa melayang-layang. Aku kaget karena mbak Rina yang membelikan.

"berapa harganya, mbak?"

"cuma 2000 rupiah kok bu, nggak papa saya belikan aja. Nggak papa to bu".

"nggak papa mbak, Mosha seneng sekali tuh" kami berdua memperhatikan Mosha memainkannya dengan gembira. Berteriak ceria kalau kitiran plastiknya bisa melayang lama di udara. Lari kesana kemari menangkapnya dan menerbangkanya lagi. Yang mengagetkan kata-kata yang keluar diantara teriakan ceria bahagianya.

Mainan peer seperti ini 3.500 rupiah

Kitiran plastik seperti ini 2.000 rupiah

"Aku kayaaaa... mimo!!" aku terpana. Kaya? hanya dengan mainan 2000 rupiah dia merasa begitu kaya dan sungguh membuatnya bahagia. Betapa mudah dan murah perasaan kaya dan bahagia yang dia rasakan.

Memang benar kata orang Jawa tentang pepatah "kebo nyusu gudel". Anak-anak bisa mengajarkan banyak hal pada orang yang lebih tua. Bahagia dan perasaan kaya bukan dilihat dari nilai uang yang banyak dan berlimpah. Dengan 2000 rupiah Mosha sudah begitu bahagia dan merasa kaya. Dia sangat menyukai mainannya, sehingga ketika dia pamerkan ke bapaknya kemudian kitiran tersangkut di eternit, dia ngotot saat itu juga harus diambil. Mainan itu menjadi sangat berharga baginya.

Anak-anak tidak mengerti barang-barang branded, nilai uang, mahal itu yang seperti apa. Yang mengetahui hal semacam itu hanya orangtuanya yang kemudian mengajarkan pada anaknya. Padahal anak-anak punya kemurnian hati untuk merasakan bahagia secara tulus dan apa adanya. Kadang aku juga mendengar obrolan anak-anak yang selalu menyebutkan harga mainannya.

"sepedaku mahal lho, kata mamaku harganya satu juta duaratus ribu"

"tas mainanku ini harganya seratus ribu lho"

"punyaku harganya lima ribu" jawab Mosha tidak mau kalah, asal-asalan menyebut angka, padahal dia tidak tahu lima ribu dan seratus ribu itu besar mana, hahaha....

Suatu kali kami mendengar obrolan anak-anak yang sedang bermain di teras rumah.

"kata mamaku kamu tuh sebenarnya kaya lho Mosh"

"iyaaa, aku kadang bisa kayak putri... kadang kayak superhero...." jawabnya polos sekali. Kami tertawa terpingkal-pingkal menguping obrolan mereka. Tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi temannya mendengar jawaban Mosha.

Kaya, bagi orang dewasa dinilai dari apa yang mereka miliki. Rumah, mobil, baju, tas, sepatu, kemana saja mereka pergi, apa yang mereka makan dll. Semakin mahal harganya semakin kaya mereka. Sebenarnya sebutan kaya ukurannya bisa menjadi tidak jelas. Bahkan ketika seseorang bisa membeli mobil dan rumah tiba-tiba langsung mendapat predikat OKB (orang kaya baru). Padahal banyak yang lebih kaya, lebih kaya lagi dan lebih lebih kaya lagi. Kalau kekayaan menjadi persaingan pasti tidak akan ada habisnya.

Kata "kaya" juga bisa menyesatkan. Coba bayangkan, banyak orang mengejar kekayaan dengan berbagai cara, bahkan dengan cara yang tidak benar, hanya ingin mendapatkan predikat "kaya". Padahal kaya itu sendiri tidak punya ukuran. Karena manusia tidak pernah puas, maka kekayaan akan dikejar terus tanpa batas, hingga sampai pada batas kemampuan manusia untuk mencapainya.

Jadi menurutku, seseorang berhak merasa kaya saat dia memiliki barang yang mereka inginkan dan mampu mereka beli, merasa nyaman hidupnya, merasa bahagia dan menikmati hidupnya sesuai kemampuannya untuk meraih. Terlebih lagi mampu berbagi dengan orang yang sungguh-sungguh membutuhkan.





No comments:

Post a Comment