Pages

Thursday, August 4, 2011

I Love You

Rasa-rasanya, aku belum pernah sekalipun mendengar bapak atau ibuku mengatakan kata “I love you…”, “aku tresno karo kowe, bu…” atau “aku mencintaimu, bu..”. Mungkin tidak biasa mengungkapkan perasaan masing-masing. Atau itu cukup diucapkan sekali saja, untuk menyakinkan mereka berdua siap mengarungi hidup bersama sepanjang hayat. Setelah itu, kata “cinta” mewujud dalam perbuatan dan tindakan setiap hari dalam kehidupan perkawinan mereka, hingga kematian memisahkan dan mempersatukan mereka kembali.

Cinta dan Benci
Kata “cinta” sekarang sering diobral. Mudah sekali diucapkan, tapi jauh dari wujud cinta itu sendiri. Jadian, putus…. Jadian, putus…. Menjadi hal biasa. Panggilan sayang yang lebay… “cinta…”, “yayang…”, “honey bunny…” (yang dengan lucu-lucuan bisa diterjemahkan dengan panggilan “kelinci madu…” hahaha…. Ada-ada saja…). Sesungguhnya, semua ini menunjukkan kemajuan dalam hal komunikasi. Mengungkapkan perasaan dengan leluasa tanpa beban. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Semua begitu mudah lepas begitu saja dalam ungkapan kata-kata. Sayangnya, manusia tidak hanya punya perasaan cinta, tapi juga benci. Begitu cintanya habis di obral… tinggal benci yang tersisa. Nah, yang ini juga mudah sekali diobral. Ketika mau menikah… waduh… ungkapannya semua indah. Tapi begitu mau cerai… semua perasaan benci, jengkel, marah… membludag tak terbendung….
Kalau melihat atau membaca berita-berita selebriti yang baru pacaran, mau menikah, menikah dan kemudian cerai… itu gambaran umum yang terjadi dewasa ini. Hanya karena mereka selebriti, kisahnya bisa dijual dan menjadi tontonan orang banyak. Tapi, juga bisa ditiru orang banyak. Kata cinta, tidak lagi sakral. Kata benci bukan lagi tabu diucapkan. Orang Jawa khususnya, dulu lebih suka menyimpan segala sesuatu dalam hati, diungkapkan dalam perbuatan. Bisa positif tapi juga bisa negative. Kalau yang dilakukan adalah perbuatan karena cinta, pasti menyenangkan dan indah, penuh kejutan. Tapi kalau yang diungkapkan dalam perbuatan adalah ungkapan perasaan benci… ini yang merepotkan. Pasti banyak kejadian yang mengejutkan dan menyesalkan. Repot sekali…. Terlalu diobral… maknanya luntur. Terlalu disimpan… bisa menjadi bom waktu…
Kebenaran dan Ketulusan
Ketika ada sms masuk dari anak lelakiku “suddenly, I miss you mommy…” aku terharu.. dan air mataku mengalir begitu saja. Atau ketika aku sakit, anak perempuanku sms ke tantenya yang seorang dokter, kemudian pergi berjalan kaki ke apotik membeli obat, aku juga terharu… dan menangis. Sederhana, tapi mampu menyentuh hatiku.

Hati, memiliki kelembutan yang mampu menangkap kebenaran dan ketulusan sebuah ungkapan perasaan. Ketika seseorang mengatakan “cinta…” dan reaksi kita justru “masak??.., gombaaal…, yang bener??...”ada keraguan dan ketidak percayaan yang tersirat. Benarkah cinta itu ungkapan yang benar dan tulus?? Perlu pembuktian dalam perbuatan. Kalau kata cinta yang kita ungkapkan masih diragukan, ya buktikanlah dalam perbuatan. Kalau kita tidak mampu membuktikannya, tanyakan pada diri sendiri “benarkah aku mencintainya??”… jangan-jangan tidak, atau mungkin belum cukup disebut cinta. Atau mungkin, hati kita kurang peka terhadap perasaan cinta… karena mungkin kita tumbuh dalam lingkungan yang tanpa cinta. Sehingga hati menjadi beku, tidak mudah tersentuh.
CintaNya
“Kalau Tuhan mencintaiku, mengapa aku menderita?.., mengapa Dia tidak mengabulkan doaku, mengapa Dia meninggalkan aku..??”. Tuhan, Allah kita tidak mengobral cintaNya lewat sms, telpon, email atau alat komunikasi apapun yang kita miliki. Dan Dia juga tidak  mengungkapkannya dengan kata-kata. CintaNya adalah perbuatan. CintaNya tulus, dan murni sehingga hanya bisa dirasakan hati yang lemah lembut. Lalu mengapa kita menderita? Pertanyaan ini harus dikembalikan kepada diri kita sendiri. Ya.. mengapa aku merasa menderita? Karena keinginanku tidak tercapai. Keinginannya apa? Mudah atau tidak dikabulkan? Jangan-jangan keinginan kita kurang sesuai, atau mungkin memang butuh waktu sehingga butuh kesabaran… “sudah sabar… menthok!” aku sering protes begitu. Masak? Masih kurang kayaknya…. Butuh kesabaran untuk menjadi sabar (ini ungkapan Indra Herlambang).
Cara Dia mencitai kita, sungguh luar biasa. Kita hanya bisa memahami cintaNya, ketika kita mampu menyangkal diri. Mengabaikan keinginan diri, dan memberikan porsi yang lebih besar pada kehendakNya. Menerima segala sesuatu dengan ikhlas akan membebaskan diri kita dari penderitaan. Penderitaan akan membuahkan rasa syukur yang membawa kedamaian dalam hati. Dan dalam hati yang damai kita merasakan cintaNya yang luar biasa… indah.
Tuhan, Allah kita mengajarkan kepada kita untuk mengobral cinta dengan perbuatan. Mulailah dengan melakukan perbuatan cinta melalui hal-hal kecil dan sederhana. Melayani orang-orang yang kita cintai dengan suka cita dan rela. Nikmati semuanya dengan gembira, seperti orang yang sedang jatuh cinta. Jatuh cinta kepadaNya, jatuh cinta pada kebenaran, hidup dan cinta itu sendiri. Hhhhmmm… rasanya sudah lama aku tidak bersenandung… bernyanyi… maka ku klik winamp… dan yang mengalun lagunya Matt Wertz…. Everything’s Right…


Selamat pagi…
Semoga Tuhan melembutkan hatimu,
merekahkan senyummu,
dan menggerakkankan bibirmu untuk bernyanyi…



No comments:

Post a Comment