Pages

Tuesday, August 23, 2011

Simbok dan Simbah

Wajah ceria para simbok dan simbah
Minggu lalu, kami teman-teman SMP Maria Goretti Semarang, reuni untuk pertama kali. Jadi, sudah 37 tahun kami tidak bertemu. Bayangkan, pastilah butuh waktu dan energy ekstra buat mengingat-ingat ini siapa ya??? dulu kamu klas berapa?? rumahmu dimana?? waduuuuh... tambah mumet...
Akhirnya, ya sudah... kita berkenalan lagi, untuk yang sama sekali tidak mampu kita ingat. Untuk yang kemudian bisa ditelusuri kenangan bersamanya, barulah pembicaraan menjadi lebih mengasikkan.
Sambil menikmati buka bersama yang beraneka, kami ngobrol. Memang dari semua yang hadir, 23 orang, menjadi terbagi dalam beberapa kelompok.
Beberapa teman yang aku kenal kemudian berkumpul menjadi satu. Materi pembicaraan, apa lagi kalau bukan soal anak, juga cucu. Diantara kami ada yang sudah punya cucu 4 orang, dan ada lagi 2 orang. 
Kalau bicara soal anak, rasanya nggak habis-habis....
Dari soal pendidikan, pergaulan, kelulusan, mencari kerja, calon mantu, dan juga kehidupan mereka setelah menikah, termasuk momong cucu...

Satu diantara temanku yang sudah memiliki cucu dua orang, berbisik:
"Lik, kalau kamu menyangka urusan orang tua bakalan selesai kalau anak-anak sudah menikah, itu salah... setelah mereka menikah pun, ternyata kita tetep mikir..."
"wah... kalau gitu, nggak bakalan selesai sampai mati ya... " kata temanku yang lain...
"ya iya lah... kan kita ini Simbok.... mesti nombok.... kalau jadi Simbah... mesti nambah..." kata temanku dan kami tertawa ngakak...

Simbok...nombok. Nombok itu bahasa Jawa, maksudnya kita membuat pengeluaran lebih besar dari yang seharusnya.... "wah tombok aku..." begini biasanya orang berkomentar. Sepintas bisa saja ini dianggap sebagai sesuatu yang negatif. berarti gak ikhlas ya membesarkan anak-anak sampai mereka menikah?? Pasti bukan begitu maksudnya. Tombok, karena memang simbok/ibu/orangtua... mengeluarkan biaya untuk kelangsungan hidup anak-anaknya sampai mereka mandiri, tanpa mengharapkan apa-apa. Sudah menjadi kewajiban. Kalau kita mengeluarkan uang untuk membeli sesuatu, sudah jelas ada barangnya. Mengeluarkan biaya untuk kelangsungan hidup anak-anak, yang ingin dicapai adalah harapan. Harapan, anak-anak bisa menyelesaikan pendidikan, mendapat pekerjaan, memiliki pendamping yang sesuai hingga berbahagia lahir dan batin. Sulit sekali di ukur bukan?? tapi ini sudah menjadi kewajiban orangtua. Hanya berharap, mereka bisa memiliki kehidupan yang lebih baik dari orangtuanya, lebih bermakna dan berbahagia lahir maupun batin. Waduuuh... tinggi sekali harapannya ya.... dan anak-anak menikah punya anak... dan kami, khususnya ibu-ibu menjadi Simbah.

Simbah...nambah. Menurut pengalaman temanku yang sudah bercucu, ternyata orang tua masih ikut memikirkan, dan menambah ini itu dalam kehidupan mereka. Bukannya ini hal yang wajar ya?? kalaupun misalnya, anak-anak kita yang sudah menikah benar-benar sudah mandiri, tidak memerlukan bantuan materiil dari orangtuanya, mereka tetap membutuhkan bantuan moril. Entah sekedar nasehat bagaimana mendidik anak-anak mereka. Atau mungkin beberapa nasehat seputar perkawinan mereka. Pastilah orangtua/Simbah menjadi pelarian paling utama. Lhah.. mau kemana lagi?? Seandainya, mereka masih membutuhkan bantuan materiil, untuk mengawali kehidupan baru mereka, ya pasti Simbah ini juga tidak akan tega melepaskan begitu saja, kalau memang mampu melakukannya.

Bagiku, menjadi simbok, maupun simbah... entah nombok, entah nambah... bukankah semuanya ini untuk orang-orang yang kita cintai. Rasanya lebih berat, kalau kita tidak bisa memenuhi kebutuhan anak-anak. Memang dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan untuk menghantarkan anak-anak... rasanya sampai tidak sempat memikirkan diri sendiri. Inilah seninya, seni hidup. Hidup tidak ada yang sempurna. Kita pernah menjadi anak. Sekarang kita menjadi orangtua, dan melakukan hal yang sama dilakukan orangtua kita kepada anak-anaknya.
Simbok nombok, simbah nambah.... sekedar celotehan ibu-ibu setengah baya, untuk saling menguatkan satu sama lain. Diluar itu, baik ibu, bapak, simbah, eyang, oma, opa... punya ketulusan luar biasa untuk anak-anak dan cucunya. Sebuah cinta tanpa syarat...

No comments:

Post a Comment