Pages

Sunday, February 12, 2012

Kamar Romo

Semoga ini bukan salah penempatan. Ketika seminggu lalu aku datang ke Susteran PPYK, Putri-Putri Yesus Kristus di Kali Kuning, lereng gunung Merapi, mereka menunjukkan kamar untuk retret pribadi dimana aku nantinya boleh tinggal, selama 5 hari. Kamar-kamar itu berderet-deret, setiap kamar bisa diisi lebih dari 3 orang. 
“Apakah aku boleh minta kamar sendiri?”, karena aku memang ingin menikmati kesendirian. Sambil tersenyum ramah, suster menunjukkan beberapa kamar yang bisa ditempati sendirian. Walaupun sederhana, aku langsung senang dan memilih satu kamar yang cukup dekat dengan ruang tamu. Tidak terlalu jauh di belakang.
Pagi ini, akhirnya aku tiba di sini. Siap untuk tinggal bersama para suster yang bersahaja. Udara cerah dan hangat menyambutku. Juga keheningan di ruang tamu, yang kosong. Aku mencoba melongok ke dapur, karena mendengar ada aktivitas di sana.
“selamat pagi Suster, saya ibu Lilik, yang tempo hari ingin menginap di sini” suster walaupun sedikit kebingungan, tapi tetap tersenyum ramah. Lalu aku melanjutkan bahwa aku sudah bertemu dengan suster Hendrik yang mengepalai rumah ini,  tempo hari. Barulah suster tersenyum riang, “kalau begitu aku panggilkan suster Hendrik”.
Aku kembali ke ruang tamu. Merasa ada sesuatu yang tidak beres. Memang benar, ketika aku datang minggu lalu untuk menyatakan ingin tinggal di sini hari Kamis sampai Senin, tidak ada pernyataan hitam di atas putih. Ketika kemudian sorenya aku menelpon suster Tris sebagai suster kepala ternyata beliau baru sibuk. Yang menerima telpon waktu itu, adalah suster Santi. Konfimasi yang aku sampaikan rupanya belum menyakinkan sehingga, aku diminta telp lagi besok sore.
Keesokan hari, aku mencoba menghubungi, tapi baik suster Tris, maupun suster Santi baru tidak ada di tempat. Hhhmmmm…. Baiklah. Upaya terakhir adalah mengirimkan sms. Aku hanya memberi kepastian saja bahwa aku akan datang hari Kamis. Dan disini lah aku sekarang. 

Yah, rupayanya mereka belum siap menerima kedatangan aku, sehingga kamar belum disiapkan.
“tidak apa-apa suster, saya bisa menunggu kok… “ dan aku kembali duduk di ruang tamu, sambil berkali-kali mengatakan “tidak apa-apa” menanggapi permintaan maaf yang terus menerus diucapkan suster. Beberapa saat kemudian, datanglah dua orang suster. Ternyata salah satunya adalah suster Santi, yang berperawakan tinggi dan ramah…
Setelah menyatukan komunikasi yang simpang siur, akhirnya aku dibimbing suster ke kamar yang sudah disiapkan untukku. Anehnya, aku diajak ke dalam rumah tempat suster-suster tinggal, bukan yang kemarin aku lihat. Kalau kemarin ke kanan, ini ke ke kiri. 

Kemudian ada pintu bertuliskan “Maaf dilarang masuk, kecuali para suster, terimakasih”… lhoh… gimana nih.. kok malah aku diajak masuk ke rumah suster. Aku mengikuti dengan heran, tapi ya sudahlah…. Setelah belok beberapa kali, aku ditunjukkan ke sebuah kamar, yang menurutku jauh lebih baik dan bersih dari yang kemarin. Terlalu bagus untukku…. Letaknya persis di depan kapel. 
Setelah memasukkan barang-barang, suster meninggalkanku. Tiba-tiba aku melihat keranjang plastik hijau, dan di atasnya ada tulisan dengan spidol hitam “Kamar Romo”. Hah… jadi yang kupakai ini kamar Romo??
Ketika aku bertanya ke suster, “bagaimana kalau romo datang?” beliau hanya tertawa. Ternyata ada tempat lain lagi untuk Romo yang biasa datang untuk mengadakan misa setiap sabtu sore dan senin pagi. Terimakasih suster… untuk tempat yang begitu terhormat bagiku.

No comments:

Post a Comment