Pages

Saturday, February 18, 2012

Pertobatan Suster Santi


Kalau anak berseteru dengan orangtuanya, itu biasa. Yang luar biasa adalah anak dan orangtua bisa seiya sekata, kompak dan bersatu! Adakah yang seperti ini?? Rasanya lebih sulit menemukannya, dari pada menemukan kasus perseteruan anak dan orangtua.
Masih ingat lagu…. “rokerrrr… juga manusiaaaa…”… aku akan senang menyanyikannya dengan… “susteeeerrr juga manusiaaaa…”. Mengapa? Karena aku mendengar cerita suster Santi yang berseteru dengan ibunya. Tidak penting apa permasalahannya, karena memang hal ini wajar terjadi pada siapa saja. Komunikasi yang amburadul. Ibu merasa sudah pernah muda, sedang anak belum pernah menjadi orangtua, atau ibu khususnya.
Tuhan tidak tinggal diam. Suster Santi disempurnakan melalui pengalaman yang luar biasa. Suatu hari, ada bayi 4 bulan yang ditinggalkan di susteran begitu saja oleh ibunya. Suster Santi mendadak menjadi ibu. Segala upaya dia lakukan untuk merawat bayi tersebut. Panik melanda ketika bayi tersebut tidak mau berhenti menangis. Semalaman dia tidak bisa tidur…
“dede… kenapa??? Jangan menangis terus… suster tidak tahu harus bagaimana…” tapi si bayi tidak peduli. Dalam keputusasaan, suster membujuk si kecil “ayolah de… berhentilah menangis sebentar saja, supaya suster bisa berdoa di kapel”. Dan si kecil diam… tapi setelah doa di Kapel selesai… si kecil menangis lagi… tanpa henti hingga keesokan harinya…
Akhirnya, suster membawanya ke Puskesmas. Suster bahkan tidak tahu bagaimana menggendong bayi. Dia membawanya seperti membawa bendera pusaka saat upacara bendera!! Sungguh menegangkan!. Ternyata bayi ini kembung perutnya. Yang waktu itu dikira suster bayi ini gemuk…. Yah… suster bahkan tidak tahu sama sekali bahwa bayi 4 bulan mesti diberi susu tiap 2 jam sekali. Dia memberinya susu sehari hanya 3 kali seperti orang dewasa.
Pengalaman merawat bayi, membuat Suster sadar bagaimana dulu ibu merawatnya. Pengalaman ini membuatnya bersimpuh di kaki  ibu untuk minta maaf. Titik pertobatan yang merubah semua pandangan suster tentang ibunya. Dan suster juga disempurnakan sebagai seorang ibu, bagi 60 anak asuhnya kini.
Di akhir cerita Suster berkata dengan penuh kebanggaan “akhirnya saya berhasil membedakan tangisnya. Tangis karena lapar, haus, pipis atau berak, atau tangis manja….” Dan dia melanjutkan “anak itu sekarang sudah 5 tahun, setiap saya datang, baru turun dari sepeda motor, dia akan berlari bersama anak-anak kecil lainnya…… oma dataaaaaaang… dan mereka memelukku dari belakang, dari depan, samping… menyenangkan sekali..”
Kisah suster Santi membuat mataku berkaca-kaca.

No comments:

Post a Comment