Pages

Thursday, March 28, 2019

10.254 miles, 22 states, in 63 days

14. "I'm not deaf"
kurang lebih seperti ini gambaran di ICU
Kenangan akan Daniel benar-benar membangkitkan kembali ingatan Yongkie di tahun 1987 ketika harus operasi tumor di dada. Dia harus menjalani prosedur yang panjang, berbagai pemeriksaan yang membosankan, hingga operasi yang harus dilalui 6 sampai 7 jam. Untunglah dokter menyatakan 95% tumor bisa diangkat dengan sukses. Yang 5% kecil sekali sehingga tidak mungkin dihilangkan dengan cara operasi. Satu-satunya jalan hanya dengan kemoterapi.
Setelah operasi dan sadar kembali yang diingatnya dia berada di ruang ICU dengan berbagai alat dan tabung yang bergantungan di tubuhnya yang kurus. Kabel berseliweran untuk memantau detak jantungnya di monitor. Rasanya seperti monster yang dihidupkan dengan alat-alat teknologi modern.
Dimulutnya ada pipa yang menjadi alat bantu pernafasan hingga membuatnya tidak bisa berbicara. Hanya bisa mengangguk dan menggeleng kalau perawat menanyakan sesuatu. Pasti pertanyaan yang mudah untuk dijawab dengan ya dan tidak.
Malam itu Pokie datang menjenguk. Ekspresi wajahnya langsung kelihatan campuran panik dan tegang. Tapi Pokie wanita yang tangguh dan kuat. Dia tidak menangis.
Untuk berkomunikasi Yongkie diberi papan tulis kecil dan spidol, sehingga dia bisa menyampaikan keinginannya. Ketika Pokie ada di dekatnya, Yongkie mengambil papan kecil dan menulis dengan perlahan, supaya Pokie bisa membaca tulisannya dan kemudian diberikannya ke dia. Pokie membacanya. Yongkie melihat Pokie menuliskan sesuatu di papan kecil itu. Oh... my... gosh.. batin Yongkie. Dengan lugunya Pokie menunjukkan jawaban yang dia tulis di papan tersebut ke Yongkie.
Yongkie mengambil lagi dan menuliskan dengan huruf kapital semua. I AM NOT DEAF
Pokie tertawa ngakak sampai terdengar di luar kamar, sehingga perawat masuk dengan tergesa-gesa, "is everything ok?" tanyanya.
Bahkan dalam situasi kritis mereka masih bisa tertawa. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan.

"I am not deaf at that time, but now my right ear is deaf" cerita Yongkie. Lhoh... kok bisa?

14 tahun kemudian th 2011, Yongkie harus menjalani operasi lagi karena ada tumor di telinga kanannya."This is the lowest point in my life" cerita Yongkie mengenang.
Operasi di telinga yang menjadi bagian dari kepala bisa dipastikan akan mempengaruhi seluruh tubuh. Dia harus tinggal di rumah sakit lebih dari satu bulan. Ketika operasi pertama selesai ternyata diketahui ada infeksi di bagian operasi tersebut, sehingga harus dilakukan operasi kedua. Itu berarti harus membuka kembali batok kepalanya untuk membersihkan infeksi. Selanjutnya, selama 3 minggu harus mengkonsumsi antibiotik yang membuatnya harus berada di tempat tidur lebih dari satu bulan. Akibatnya dia tidak bisa berjalan. Otot kaki menjadi lemah dan keseimbangannya hilang.
Sejak itu, Yongkie kehilangan pendengaran telinga sebelah kanan, 100% hilang.

belajar melangkah seperti penguin
Pemulihan di rumah membuat dia tidak bisa bekerja sekitar tiga bulan. Pelan-pelan dia belajar berjalan lagi dengan menggunakan alat bantu berjalan. Satu di lantai atas, satu di lantai bawah.
Berjalan dari lantai atas ke lantai bawah merupakan perjuangan besar. Dulu, berjalan seperti hal normal yang bisa dilakukan tanpa berpikir. Asal melangkah saja. Sekarang, baru disadari kalau kita berjalan ternyata ada tekniknya. Yongkie belajar berjalan seperti anak kecil lagi.
Ada terapis yang melatihnya di rumah. Dia harus kembali belajar bagaimana harus menyeimbangkan tubuh dengan membiarkan berat badan bertumpu di kaki kiri, ketika kaki kanan melangkah. Demikian sebaliknya.
"ooo... ngono tho.." cerita Yongkie sambil tertawa, mengenang saat itu. Dia menggambarkannya seperti penguin kalau berjalan. Dengan melebarkan kaki dan maju selangkah demi selangkah dengan kaki bergantian. Semangat untuk bisa berjalan lagi tidak pernah pudar. Setiap kali melangkah dia menyemangati diri dengan "I can walk... I can walk".


RV park Bellingham, "rumah sementara" Fred dan Lynn
Bersyukur sekali pada tahun 2006, 5 tahun sebelumnya, mereka melakukan perjalanan ke Alaska, yang mempertemukan Yongkie dengan Fred dan Lynn. Lynn memberikan pelajaran berharga tentang NO REGRET. Waktu itu secara kebetulan mereka parkir bersebelahan di RV park Bellingham, Washington (negara bagian, bukan Washington DC) dalam perjalanan ke Alaska. Keingintahuan Yongkie melihat ada tabung LPG besar di luar dekat RV di sebelahnya, menjadi awal perkenalan mereka dengan Fred dan Lynn. Tabung LPG diperlukan karena mereka akan tinggal lama di RV park. Mereka berasal dari dari Tucson, Arizona. Setiap musim panas Fred mengajak Lynn ke daerah utara, untuk mencari udara yang lebih segar. Untuk itu dia harus menempuh perjalanan 1700 miles. RV park Bellingham menjadi "rumah sementara" mereka untuk menghindari musim panas di Tucson. Lynn duduk di kursi roda. Ketika Yongkie menyalaminya, dia hanya tersenyum. Ternyata tangan dan kaki Lynn lumpuh. Tenggorokan Yongkie tercekat hingga hanya terdiam. Kaget dan menyesal. Fred benar-benar menjadi penopang aktivitas Lynn sehari-hari.
Fred dan Lynn tidak bermaksud menuju ke Alaska. Maka dia minta Yongkie dan Pokie menceritakan perjalanan mereka. Di tahun tersebut sudah ada internet, jadi Yongkie bisa mengirimkan foto-foto selama perjalanan ke Alaska. Foto-fotonya bisa di nikmati di sini http://www.yongkieandpokie.com/alaska/.


Tahun 2007 mereka menyempatkan diri untuk memenuhi undangan makan malam Fred. Dalam kesempatan ini Lynn membagikan falsafah hidupnya yang memberi kekuatan luar biasa di saat Yongkie berada di tingkat terendah dalam hidupnya tahun 2011, yaitu kehilangan pendengaran dan harus belajar berjalan lagi.

Dulu, Lynn wanita yang sangat aktif. Berkeliling ke Jepang juga Eropa untuk membeli barang-barang seperti pakaian dan perhiasan untuk dijual di Amerika. Sambil bercerita, Fred menyuapinya dengan makanan kesukaannya dan sesekali minum lewat sedotan yang disodorkan Fred dengan penuh kasih dan kesabaran. 
Lynn menasehati Yongkie dan Pokie untuk melakukan segala sesuatu yang mereka sukai. Jangan ditunda, supaya tidak menyesal dan hanya bisa mengeluh "I should do this, I should do that, we should go here or there... etc". Penyesalan kemudian tidak berguna, karena kita tidak bisa kembali ke masa lalu. NO REGRETS, terpateri dalam benak Yongkie.
Lynn sudah melakukan banyak perjalanan dalam hidupnya. Juga menjalani kehidupan yang sangat indah bersama Fred. Cinta yang tulus dan murni tercermin dari bagaimana mereka menjalani hidup dengan kondisi Lynn sekarang. Mereka tetap berpergian dan menikmati dengan rasa syukur dan bahagia. Apa yang terjadi dengan dirinya sekarang tidak pernah disesalinya karena dia sudah melakukan semua yang dia inginkan. Lynn meninggal dunia sehari setelah Natal 2011. Untuk mengenang Fred dan Lynn bisa dilihat di http://www.yongkieandpokie.com/2011/lyn.html
Sepeninggal Lynn, Fred pindah ke Lafayette, Indiana. Tahun 2014 ketika Yongkie dan Pokie naik kereta Amtrak ke Chicago, perjalanan berlanjut ke Lafayette mengunjungi Fred. Kenangan kunjungan ke rumah Fred dapat dilihat di http://www.yongkieandpokie.com/chicago/fred

Apalah artinya kehilangan pendengaran yang ternyata tidak berdampak apa pun dalam kehidupan selanjutnya. Bahkan telinga kirinya menjadi lebih peka sehingga tidak ada masalah sama sekali. Dengan ketekunan dan semangat luar biasa,  akhirnya Yongkie bisa berjalan lagi. Berkat semangat dari Lynn, maka perjalanan terus dilakukan. Kemana pun mereka suka dan bisa dilaksanakan, maka mereka akan mewujudkannya.


Lalu, kembali ke tahun 1988. Kemana mereka meneruskan perjalanan setelah tinggal seminggu lebih di rumah Daniel dan Kimmy di Washingtong DC?


Bersambung

No comments:

Post a Comment